Bab. 17

Pagi hari, suasana ramai di rumah mama. Bunyi gaduh dan tangisan bocah diluar kamar membuatku terbangun. Rasa kantuk masih menguasai ku, karena aku baru bisa memejamkan mataku saat menjelang pagi.

Aku mengerjapkan mata, masih berusaha mengumpulkan nyawaku. Ada apa ini? mengapa rumah mama mendadak ramai oleh kedatangan sanak keluarga dan tetanggaku. Perasaanku menjadi tak enak dan gelisah.

Perubahan suasana rumah yang berubah menjadi ramai seperti ini, jujur membuatku sedikit tak nyaman.

Ada suara anak bayi menangis, suara anak kecil yang tertawa dan berlarian di dalam rumah. Suara langkah kaki orang dewasa dan juga suara wanita dewasa yang berteriak-teriak memperingatkan anak - anaknya.

Pandangan mataku menjelajah mencari jam. Aku ingin tahu jam berapa sekarang. Mengapa rasanya aku seperti baru saja tertidur. Ya... Ampun. Sudah pukul 10.00 pagi. Aku jadi ingat kembali masa dulu, saat kami masih kecil, omelan mama akan mencapai sepuluh jilid plus halaman tambahan, jika mendapati kami bangun terlambat. Sifat mama memang berbanding terbalik dengan sifat Bapak. Mama memang cerewet namun aku tahu dia penyayang. Sedangkan sifat bapak penyabar dan ikhlas.

Aku berusaha untuk bangun dari pembaringan. Namun, rasa pusing kembali menderaku, membuat tubuhku lunglai. Limbung tak bertenaga.

Aku melirik ke arah jendela kamar. " Gorden biru itu, kenapa dilepas? " aku bertanya lebih pada diri sendiri saat melihat warna gorden berubah menjadi putih.

Setelah nyawaku terkumpul semua, aku memijat sejenak kepalaku yang terasa sakit. Aku menggerutu tak jelas. Pasti Akibat tidurnya larut sekali, sampai membuat aku merasa sedikit demam dan lemah, kurang darah.

Aku lalu duduk dan menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah bantal ku masih terlihat jelas. Aku mengambil kapas dan membersihkan sisa - sisa cream malam yang menempel di wajahku. Jangan salah, menjadi wanita yang lama hidup di kota sebesar Samarinda, mengajarkanku bahwa wajah dan tubuh adalah aset berharga yang harus dijaga dan dirawat biar tak cepat tua dan keriput.

Setelah dirasa cukup, aku melangkah mendekati koper kecil, membukanya lalu mengambil selembar gamis chiffon bermotif bunga kecil yang cantik beserta jilbab warna senada. Tak lupa juga aku mengambil peralatan mandi ku. Aku melangkah sempoyongan hendak keluar kamar.

Namun, saat baru saja tanganku menyentuh handle pegangan pintu kamar mandi, suara kak Darre memanggilku.

"Asma, kamu sudah bangun , dek..? Aku tak menjawab, hanya membuka pintu dan berlalu.

" Oh, sudah bangun rupanya. Mandi, dek. Orang-orang sudah menunggumu! " Aku mencium harum bau masakan yang menusuk indra penciumanku.

Kak Darre sedang menggendong Sifa, putrinya yang masih balita. Tampak kakaknya itu merasa kerepotan karena sifa yang tak pernah bisa diam.

" Sini aku bantu jagain Sifa."

" Nggak usah, dek. Kamu buruan mandi. Yang lain sudah menunggu! " Kak Darre menolak ku.

" Menunggu untuk apa, kak? " tanyaku yang tak faham. Perutku berbunyi tanda minta di isi. Dasar perut tak tahu adat sopan santun. Berbunyi nyaring saat berada tepat di depan kak Darre.

Kak Darre tersenyum penuh arti. " Mandi, dek. Terus sarapan. Nanti pertanyaan mu dijawab sama Kak Mansyah. "

Hah,... apa aku tak salah dengar. Apa ini ada hubungannya dengan perkataan kak Mansyah tadi malam Jika iya, mati aku...!!

Memikirkan hal itu membuat dadaku berdebar-debar dan pikiranku kembali kusut.

" Cepat mandi, dek. Sebelum suasana makin ramai! " desak Kak Darre.

Hah... ramai!! Memangnya ada apa? "

Saat aku melewati dapur menuju kamar mandi, beberapa sanak keluarga dan juga tetangga melempar senyum padaku. Ada yang aneh, mereka tidak bertanya padaku, hanya tersenyum saja. Padahal mereka tahu dengan pasti cerita pelarian ku sepuluh tahun yang lalu.

Dan lagian, ini mama mau ngapain sih. Baru saja kemarin kembali dari rumah kak Lela, sekarang sudah ngadain pesta pake ngundang tetangga segala lagi. Bah....

' Apa mama ngadain pesta untuk menyambut kepulangan ku, kah?' tanyaku dalam hati. Aishhh..... nggak mungkin. Aku berpikir keras.

" Ngapain melamun, dek? " tanya Kak Darre, mengagetkan ku

" Hah..? " Aku yang terkejut bingung harus menjawab apa.

" Apanya, kak? "

" Hais, kamu itu ditanya kenapa melamun, malah balik nanya. Sudah... sudah.... mandi cepat! " Kak Darre menunjuk ke arah kamar mandi, menyuruhku agar segera mandi.

Aku melewati sekumpulan ibu - ibu yang lagi masak dan bertanya. " Ibu - ibu, maaf ya, Ini ada acara apa? " aku mencoba mengorek informasi dari anggota.

" Nanti kak Mansyah saja yang menjelaskan, Kak Mansyah lebih berhak menjelaskan dari kita semua.! " sebuah suara menyahut. Sumpah... pagiku yang adem mendadak panas, Nah... kan!! Apa kubilang. Memilih mendengar ocehannya aku berlalu ke kamar mandi sambil menghadiahkan tatapan tajam dan isyarat jempol ke bawah padanya.

Guyuran air membuat hati dan tubuhku merasa segar. Aku menyelesaikan mandiku dengan waktu yang lumayan lama. Setengah jam, ckckckck. Setelah selesai, aku berniat akan kembali ke kamar.

Aku melangkah cepat sebelum ibu - ibu di sana mencecar ku dengan pertanyaan yang nantinya tak akan sanggup untuk ku jawab.

Setelah selesai memoles bedak tipis - tipis ke wajahku, aku mengaplikasikan lipstik warna nude ungu yang menjadi favorit aku. Aku memakai gamis ku dan terakhir memasang jilbab segi empat yang di belikan oleh Mas Haris, saat belanja di mall Lembu Swana.

Aku berdecak mengagumi paras cantikku. Ciptakan Tuhan yang maha Sempurna atas setiap pahatan di wajahku. Sempat terlintas di benakmu untuk membalaskan dendam ku pada Syafrie, melalui wajah ini.

Aku keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu untuk mencari Kak Mansyah. Ruang tamu ini juga tak kalah ramainya dengan suasana di dapur. Mantan mertuaku juga ada di sana. Wajahnya terlihat serius membicarakan sesuatu dengan Syafrie.

Melihat Syafrie, aku jadi teringat semalam. Setelah bibirnya mengucapkan omong kosong itu, dia pun berlalu meninggalkan diriku dengan wajahku yang memerah seperti kepiting Rebus.

Ayah Syafrie menoleh kepadaku. Pandangan kami bertemu untuk beberapa saat. Ia tersenyum padaku, namun aku tak membalasnya. Aku malas menanggapi dirinya.

.

Membenci anaknya, membuatku juga membenci ayahnya. Pintu kamar terbuka. Aku memutuskan pandanganku dengan ayah Syafrieh. " Kak Lela sudah berdiri tiga langkah di depanku.

" Cari siapa, Asma? " tanyanya.

" kak Mansyah! " jawabku singkat.

" Ohh.. masuklah ! Dia ada di dalam? " Jawabnya sambil menggeser tubuhnya yang semakin hari semakin melar saja.

Aku tersenyum lalu, " Permisi! " Semuanya memberi senyum dan mempersilahkan aku untuk masuk ke ruang kerja Kak Mansyah.

" Masuklah dek! " Kak Mansyah muncul dari balik pintu .

" Ada apa? "

Aku terkejut, namun tak ingin menampakkan nya. " Kak, bisa jelaskan mengapa rumah mama ramai? " Aku bertanya sambil menautkan jariku. Rasa jengah dan malu kembali mendatangi mengingat dia yang memergoki aksi kami berdua tadi malam.

"Duduk sini, dek..!" Kak Mansyah menepuk kursi di sebelah nya.

" Asma. Tentunya kamu bertanya - tanya, mengapa semua itu terjadi. Mungkin semua sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa, Asma. Untuk semua yang terjadi saat ini. " Kak Mansyah menepuk pundakku lembut dan mengusap - usap pucuk kepalaku.

Aku yang duduk tepat di depannya tertunduk . " Dek, kau tahu kan kalau kami semua sangat menyayangi kamu." ucapnya menggenggam tanganku.

" Kakak tidak lagi mempertanyakan tentang kepergian mu selalu selama ini, dek. Kakak hanya ingin bercerita tentang Fadil. Anak laki-laki yang selalu bersama Syafrie. Kau tahu, kan? " Kak Mansyah menggenggam jemariku semakin erat.. Aku mengangguk. Siapa yang tak tahu si Fadil. Bocah laki - laki yang selalu menempel seperti prangko sama Syafrie. Dasar anak manja....

" Dek, di usianya yang menginjak hampir sebelas tahun, sedikit pun ibunya tak pernah menyentuhnya !." mata kak Mansyah menerawang.

Bukan urusanku......

satu lagi fakta yang baru - baru saja ku ketahui dan menjawab semua tanyaku tentang Si Pengkhianat itu selama ini. Pantas saja si bajingan Syafrie dulu ia mati - matian membela wanita itu. Ternyata sudah ada benih yang tumbuh pada anak kepala desa itu melihat umur Fadil yang tak jauh beda dengan umur anakku. Tak perlu aku bertanya lagi kapan dia mulai mendua.

Perih rasa hatiku, dan sebenarnya aku tak ingin mempercayainya, tapi itulah yang terjadi. Ternyata selain menanti anak dariku, dia juga menanti anak dari Kepala Desa itu. Miris sekali jika memikirkan bahwa mungkin saja anak kami akan seumuran dengan Fadil jika aku berhasil melahirkan anak milikku.

Sayang sekali Tuhan belum memberiku izin untuk melihat darah daging ku itu walaupun hanya sekali saja.

Dia terenggut saat pengkhianatan Syafrie menyiram minyak pada amarahku. Dadaku mendadak sesak oleh amarah saat itu.

" Sejak lahir dia tak mengenal ibu, walau Syafrie membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Mungkin lebih besar dari kasih sayang seorang ibu, namun hal itu rupanya tidaklah sama. " Kak Mansyah menatap jauh kedalam bola mataku.

" Fadil anak yang baik. Sangat tahu jika dia tak punya ibu. Sehingga dia tak pernah merepotkan Syafrie dengan kelakuannya. Pernah, suatu hari dia hilang. Syafrie seperti orang gila karena mencarinya. Kami hampir melaporkan hilangnya Fadil ke polisi, namun bocah itu datang dengan membawa sebuah kotak kado untuk ayahnya. Kau tahu ia dari mana, Asma? Kak Mansyah menoleh kepadaku yang ku balas dengan endikan bahu malas, dan masa bodo.

" Ke kota dengan menumpang pada tengkulak yang biasa membeli sayuran pada mama, ntuk sampai ke kota. Dia ingin membelikan sebuah kado untuk ayahnya dengan uang hasil tabungannya. Perkataan Fadil membuat semua orang terharu mendengarnya. Tetapi tidak bagi Syafrie, rasa panik dan cemas yang berlebihan membuat Syafrie kalap. Untuk yang pertama kalinya bagi Syafrie malam itu mendaratkan tangannya ke tubuh Fadil. " Tarikan nafas panjang Kak Mansyah pertanda kejadian itu sangat berpengaruh padanya, tapi tentu saja tidak dengan ku. Aku malah bosan mendengarnya.

Kupikir Kak Mansyah sudah selesai dengan ceritanya tentang anak itu, jadi aku sudah bersiap - siap untuk membuka mulut.

" Malam itu, untuk pertama kalinya juga selama Fadil hidup, dia mencari ibunya. Hal itu membuat kami semua yang mendengarnya menjadi sangat sedih tak terkecuali juga Syafrie. Kami tahu Syafrie menyesal namun semua sudah terlanjur. Hati Fadil sudah terlanjur patah. "

Sudut mata Kak Mansyah terlihat berair. Nyata sekali terlihat oleh ku bahwa kejadian itu sangat berpengaruh besar dalam hidup kak Mansyah.

Hebat.. rasanya aku ingin bertepuk tangan pada Syafrie dan Fadil. Kedua manusia itu, terlihat begitu berpengaruh dalam kehidupan keluarga ku. Mereka dengan congkaknya mengakui mama sebagai mama dan ibu mertuanya, sedang aku, kata mama aku adalah anak yang lupa berbakti. Akh.... mama... teganya!!!!

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

kyknya kembar nih yg satu mati yg hdp si Fadil

2023-05-22

0

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

pusing aku diajak muter

2022-09-21

0

Minaaida

Minaaida

up lagi

2022-05-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 44
46 Bab. 45
47 Bab. 46
48 Bab. 47
49 Bab. 48
50 Bab. 49
51 Bab. 50
52 Bab. 51
53 Bab. 52
54 Bab. 53
55 Bab. 54
56 Bab. 55
57 Bab. 56
58 Bab. 57
59 Bab. 58
60 Bab. 59
61 Bab. 60
62 Bab. 61
63 Bab. 62
64 Bab. 63
65 Bab. 64
66 Bab. 65
67 Bab. 66
68 Bab. 67
69 Bab. 68
70 Bab. 69
71 Bab. 70
72 Bab. 71
73 Bab. 72
74 Bab. 73
75 Bab. 74
76 Bab. 75
77 Bab. 76
78 Bab. 77
79 Bab. 78
80 Bab. 79
81 Bab. 80
82 Bab. 81
83 Bab. 82
84 Bab. 83
85 Bab. 84
86 Bab. 85
87 Bab. 86
88 Bab. 86
89 Bab. 88
90 Bab. 89
91 Bab. 90
92 Bab. 91
93 Bab. 92
94 Bab. 93
95 Bab. 94
96 Bab. 95
97 Bab. 96
98 Bab. 97
99 Bab. 98
100 BAB. 99
101 Bab. 100
102 Bab. 101
103 Bab. 102 Tamat
104 Extra Bab. 103
105 Penutup
106 Bab. Promosi
107 Bab. Promosi 2
108 Bab promosi 3
109 Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 44
46
Bab. 45
47
Bab. 46
48
Bab. 47
49
Bab. 48
50
Bab. 49
51
Bab. 50
52
Bab. 51
53
Bab. 52
54
Bab. 53
55
Bab. 54
56
Bab. 55
57
Bab. 56
58
Bab. 57
59
Bab. 58
60
Bab. 59
61
Bab. 60
62
Bab. 61
63
Bab. 62
64
Bab. 63
65
Bab. 64
66
Bab. 65
67
Bab. 66
68
Bab. 67
69
Bab. 68
70
Bab. 69
71
Bab. 70
72
Bab. 71
73
Bab. 72
74
Bab. 73
75
Bab. 74
76
Bab. 75
77
Bab. 76
78
Bab. 77
79
Bab. 78
80
Bab. 79
81
Bab. 80
82
Bab. 81
83
Bab. 82
84
Bab. 83
85
Bab. 84
86
Bab. 85
87
Bab. 86
88
Bab. 86
89
Bab. 88
90
Bab. 89
91
Bab. 90
92
Bab. 91
93
Bab. 92
94
Bab. 93
95
Bab. 94
96
Bab. 95
97
Bab. 96
98
Bab. 97
99
Bab. 98
100
BAB. 99
101
Bab. 100
102
Bab. 101
103
Bab. 102 Tamat
104
Extra Bab. 103
105
Penutup
106
Bab. Promosi
107
Bab. Promosi 2
108
Bab promosi 3
109
Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!