Setelah menjalankan sholat subuh, aku memutuskan untuk berjalan - jalan di sekitar rumah. Kabut tipis masih terlihat di ambang batas pandangku. Udara pagi yang dingin dan basah oleh titik air hujan sisa semalam menemani langkahku.
Aku merentangkan kedua tanganku dan membiarkan semilir angin membelai kulit halusku yang terbalut gamis chiffon bermotif bunga - bunga pemberian Mas Haris. Segar.
Menghirup udara pagi yang masih bersih dan belum tercemar membawa kesegaran di tubuhku. Subuhku tadi yang sempat panas karena ajakan lelaki perusak hidupku, sedikit padam. Langkahku pelan berjalan menyusuri pematang kecil di depan rumah.
Gemercik air di selokan beradu dengan kicauan burung-burung gereja yang ribut berbagi rezeki dari sang Khalik. Rasanya sudah lama sekali aku tak pernah merasakan suasana pagi seperti ini.
" Udara pagi di desa ini memang kurang baik bagi yang belum terbiasa. Memakai jaket adalah pilihan yang bijak agar kamu tak sakit." Aku terjengkit kaget dan nyaris berteriak saat mendengar suaranya.
Lelaki itu berdiri tak jauh di belakangku. Kedua tangannya terlipat rapat di dada setelah membetulkan kembali letak penutup hoodie di kepalanya.
Acuh, aku tak menggubris keberadaannya. Ku lanjutkan kembali langkahku meninggalkan dia di belakang.
Lelaki itu bergegas menyusulku. " Kau tahu, banyak yang telah berubah di desa kita. " ucapnya kemudian setelah berhasil mengejar langkahku. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Memindai suasana pagi yang sunyi. Tak banyak orang yang berlalu lalanglalang turun ke sawah.
" Di balik bukit itu banyak dibangun vila. Tapi pohon besar tempat biasa kau dan aku dulu duduk berdua masih ada. Pantai di sana sudah tak bagus lagi. Sekarang pantainya kotor oleh sampah. Tapi lebih ramai dari dulu. Kalau kamu mau kesana, aku akan mengantarmu." katanya sambil menunjuk ke arah jajaran hutan bakau yang kemarin ku lihat.
Mengantar kepalamu... aku memaki dalam hati. Hah... mana sudi aku berdua denganmu. Berbagi udara denganmu saja saat ini aku rasanya terpaksa.
Langkah kakiku belum jauh meninggalkan rumah. Aku yang geram menghentikan langkahku. Mengepalkan tangan dan memejamkan mata.
" Berhenti berbicara seolah- olah kita baik - baik saja! " Aku berkata tanpa repot menoleh menatap wajahnya.
Aku merasakan tubrukan kecil di punggung. Kesal, aku berbalik dan menghadiahkan pelototan tajam ke arah lelaki itu. " Aku tahu, kita memang tidak sedang baik - baik saja. Tapi aku sedang berusaha untuk membuat kita kembali baik - baik lagi seperti semula."
" Hmm, jangan bermimpi, bung! " aku mendelik marah. Ingin rasanya aku mencabik mulut lelaki itu. Apa dia pikir bahtera rumah tangga kami yang kandas di pantai bisa berlayar kembali. Perahu yang retak tak akan mungkin bisa di bawa berlayar kembali. Mimpi sajalah dia, hah!! "
" Aku tidak sedang tidur. Jadi mana mungkin aku bermimpi." Lelaki itu menyahut sambil mengendikkan bahu dengan senyuman yang tak lepas dari sudut bibirnya. Senyum yang terlihat seperti mengejekku membuat aku semakin ingin memotong - motong halus bibir yang telah berucap itu.
" Semoga anda tidak lupa alasan aku meninggalkan desa ini! " desisku seraya mendekat dan menengadah. Menatap tajam ke dalam pupil hitam lelaki itu.
Kemarahanku semakin terpicu setelah melihat tingkah polah lelaki itu yang seakan tak pernah menorehkan duka di hatiku.
Bergeming tak berkedip, lelaki itu berucap lirih. " Kau masih membenciku...? Bahkan setelah sepuluh tahun kepergianmu? " Ada luka yang terpancar lewat sorot matanya setelah dia menyelesaikan kalimatnya.
" Katakan satu alasan, mengapa aku harusnya tak membencimu? " Aku menantangnya. Kilatan tajam di mataku harusnya bisa menjawab pertanyaanku.
Awalnya aku tak ingin memperlihatkan rasa benciku padanya. Aku ingin dia tahu bahwa pahitnya luka yang dia torehkan di hatiku telah menempa sepuluh tahun hidup seorang Asma menjadi perempuan tangguh.
Namun menghadapi sikap Syafrie yang seperti ini, membuat kemarahan yang lama padam di hatiku menjadi tersulut kembali.
" Banyak, salah satunya adalah karena membiarkan aku selama sepuluh tahun ini berjuang sendirian.. " Dia menunduk menatapku dalam. Sialnya... jarak kami yang terlalu dekat membuat hidung kami jadi bersentuhan.
Apa? Lelaki ini apa sudah lupa ingatan. Apa perlu ku ingatkan kembali bahwa dialah dulu yang membuangku. Mengapa sekarang berkata bahwa dia berjuang sendirian.
" Tak tahu malu. Orang yang paling tak ingin kutemui itu adalah kamu. Tapi rupanya kesialan tak pernah lari dari hidupku. Asal kau tahu, bertemu denganmu di rumah mama, membuatku menyesali kepulanganku ke desa ini. Aku bahkan mengutuk habis diriku yang pernah menjadi bagian dari hidupmu! Kau sungguh menjijikan, Syafrie. Menjauhlah dariku! " Aku mendorong tubuh lelaki itu. Mencari jalan agar bisa lepas dari sentuhan laki-laki itu.
Aku melangkah pergi meninggalkan Syafrie yang seorang diri terpaku menatap nanar kepergianku.
Fakta bahwa aku masih menyimpan dendam sangat jelas terlihat. Aku sengaja menyisakan potongan luka itu masih berdarah, agar aku tak pernah lupa sakitnya luka pengkhianatan Syafrie yang dia torehkan sepuluh tahun yang lalu.
Aku bersyukur, bahwa dengan menyimpan potongan luka itu membuat aku bisa mengingat betapa kejamnya lelaki itu padaku dulu. Hingga aku enggan untuk sekedar menyebut namanya. Karena membuat darah - darah di setiap pembuluh nadiku menjadi bergejolak oleh angkara murka.
Matahari sudah muncul memamerkan pagi yang indah. Namun aku masih tak juga beranjak dari lukaku. Baju gamisku melambai - lambai di tiup angin. Semilir angin menghantarkan kabar bagi perantau sepertiku tentang cerita desa kami yang merangkak pelan menuju perubahan.
Lucunya, aku yang kembali lagi ke desa ini baru menyadari bahwa hatiku tak ada yang berubah. Masih saja terkapar lemah di lorong waktu oleh ratapan penderitaan yang Syafrie torehkan.
Langkahku kini berjalan melewati sisi jalan raya yang sepi di tapal batas desaku dengan sawah - sawah penduduk.
Aku menatap hamparan sawah di sana. Terlihat beberapa petani yang mulai bekerja mencabuti rumput gulma yang tumbuh di sawah mereka. Terlihat cekatan sekali mereka bekerja. Aku berdoa dalam hati semoga saja mereka tak melihat perdebatan kami.
Syafrie sudah tak lagi mengikutiku. Sepertinya dia tersinggung oleh ucapanku tadi. Apa peduliku?.. Malah aku senang jika dia merasa tersinggung. Itu artinya aku berhasil melukai egonya sebagai laki-laki.
Berdebat dengan laki-laki itu selalu menguras emosi. Tidak dulu, tidak juga sekarang. Aku takut aku khilaf. Mana tahu aku mengambil arit petani yang tergeletak di sana dan mengibaskannya pada Syafrie. Mencincang tubuh lelaki itu sampai halus dan menyebarnya di sawah ini untuk jadi makanan tikus - tikus sawah. Lihatlah.... begitu besar rasa benciku pada laki-laki itu membuatku selalu berpikiran untuk menghabisinya.
" Asma.!" seorang laki-laki bertanya dengan ragu dari atas sebuah mobil Acanza putih. Mobil itu kemudian berjalan pelan dan berhenti. Lelaki di belakang kemudi itu kemudian turun dan berjalan mendekat ke arahku.
" Kamu Asma istrinya Syafrie, kan? " lelaki itu memindai diriku dari ujung rambut sampai ujung Kaki. Aku sampai risih dibuatnya.
" Mengapa selama itu, Asma. Sepuluh tahun kamu berlalu tanpa kabar. Ku pikir jodohmu dan Syafrie selesai sampai di situ saja. Ternyata Tuhan masih bermurah hati menjawab doa - doa sahabatku itu." Dia menatap tak percaya padaku.
Aku ingat, lelaki di hadapanku ini bernama Bayu. Dia adalah sahabat si Syafrie jahanam itu. Lelaki yang mulutnya sebelas dua belas dengan Syafrie. Tajam dan pedas.
" Sahabatku itu pasti bahagia dengan kepulanganmu ini. Terima kasih karena kamu mau kembali. Apakah kamu sudah bertemu Fadil...?"
" Hei, sahabatmu itu tidak sedang sekarat. Tubuhnya sehat walafiat. Segar bugar tak kurus kerempeng seperti dulu. Jadi tak perlu mengkhawatirkan dirinya. Dan lagi pula berhentilah menghubung - hubungkan aku dengan laki-laki yang kau bilang sahabatmu itu. Karena aku tak mengenalnya..! Permisi..! " Aku memotong ucapannya. Dan setelah selesai aku berlalu dari hadapannya. Dia terdiam, tak percaya melihat reaksiku.
" Kamu pergi bertahun-tahun lamanya tanpa memberi kabar. Menghilang begitu saja bagai di telan bumi. Kesalahannya tak pantas mendapat balasan seperti ini. Kau justru lebih jahat darinya. Kalau kamu tahu apa yang telah dia lakukan untuk menebus semua kesalahannya, kau mungkin akan memohon dan bersujud di kakinya untuk meminta pengampunan."
Bah..... rasanya aku ingin tertawa mendengar ucapan Bayu. Aku yang menjadi korban di sini. Aku yang menderita, mengapa dia yang disanjung.
Namun ucapan bayu tak urung, membuat aku menghentikan langkah.
" Sudah ku katakan, aku tak mengenal lelaki yang namanya kamu sebutkan tadi, jadi mana mungkin aku akan bersujud di kakinya dan memohon pengampunan padanya. Aku mengalami hari yang melelahkan semenjak kembali ke desa ini. Jadi aku berterima kasih karena Leluconmu sedikit banyak telah menghiburku. Namun sayangnya, kita tak saling dekat untuk saling mengingatkan." ucapku seraya berlalu dari hadapannya.
" Kau jahat, Asma. Dia telah membayar lunas atas lukamu. Andai saja kau tahu apa yang sudah sahabatku itu lalui selama sepuluh tahun penantiannya menunggumu kembali! " teriak lelaki itu yang tak kuhiraukan.
Amboi... mana sudi aku mencari tahu tentang lelaki itu. Katanya lukaku sudah terbayar lunas oleh Syafrie. Bagaiamana mungkin dia bisa mengatakan hal itu jika pelunasan yang terbaik bagi Syafrie hanyalah kematiannya.
Aku kembali melanjutkan perjalananku. Hamparan rumput di sana sungguh memanjakan mata. Menatapnya bagai menatap hamparan jambrut hijau yang lembut dan mempesona. Aku menjatuhkan diri di atas hamparan rumput gajah yang terhampar di tepi jalan itu.
Entah sudah berapa lama aku di sana. Hatiku jujur saja merasa sedikit terusik dengan perkataan Bayu tentang Syafrie.
Memangnya apa yang sudah kulewatkan selama rentang waktu sepuluh tahun ini?
" Hutang yang mana yang sudah Syafrie bayar lunas atas diriku. Aku yang di buang, aku yang disakiti dan bahkan aku yang dikhianati. Tapi mengapa lelaki itu seolah menjelma menjadi pahlawan yang begitu diagung - agungkan bahkan oleh keluargaku.
Apa dunia sekarang sudah terbalik. Bayu mengatakan bahwa akulah di sini pemeran antagonisnya karena sudah membiarkan lelaki yang sudah membuang diriku begitu saja itu, harus berjuang sendiri.
Apa maksud dari semua ucapan Bayu itu padanya. Aku terdiam kehabisan kata. Sialnya.. air mataku tak mau kompromi. Dia melesak keluar begitu saja membasahi kedua pipiku yang polos tanpa makeup.
Aku menoleh , takut kalo - kalo seseorang berada di belakangku. Aku malu siapa tahu ada seseorang yang sedang memergoki seorang Asma yang sedang menangisi Keterpurukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
mauly
penasaran ada rahasia apa
2023-03-27
0
Hanipah Fitri
masih misteri tabir belum terkuak
2022-09-21
0
rudi hariyono
lanjut thor...
2022-05-22
0