Bab. 3

Aku membuang nafas kasar saat ingatanku pada si penoreh luka kembali hadir mengoyak dinding hati dan jiwaku yang paling dalam.

Tidak.... aku tak boleh lemah. Aku harus kuat, bathinku menyemangati jiwaku yang kini mulai rapuh digerogoti luka masa lalu.

Asma istrinya Syafrie sudah lama mati. Aku sendiri yang sudah membunuhnya dan menguburnya bersama dengan jasad seseorang yang terkubur di halaman samping rumahku. Menguburnya bersama dengan seluruh cinta dan juga segala kebencianku. Semuanya hilang, luruh bersama dengan gugurnya bunga Kamboja yang jatuh di atas tanah makam itu.

Hari ini, aku memang pulang. Tapi kepulanganku kali ini bukan untuk kembali ke masa lalumu, tapi untuk melepasnya dan memulai lagi hidup baru bersama seseorang yang kucintai.

" Nah, kita sudah sampai, Asma! " kata Tah Sappe membuyarkan semua lamunanku.

"Jangan pulang dulu sebelum habis rasa kangenmu sama kampung ini. Oh.. iya. Fadil pasti senang kalau tahu kamu sudah datang. Anak itu sangat merindukanmu." kata tah Sappe kembali menyebutkan nama anak yang sama padaku.

" Iya, Tah, Terima kasih karena sudah mengantar Asma. Sampaikan salamku pada Tah Nure, nanti kalo ada waktu, saya akan sempatkan jalan - jalan ke rumah kita." Aku mencium tangan Tetah Sappe sebagai bentuk salam takjimku kepada beliau sebagai pengganti ayahku.

" Iya, nanti Tetah sampaikan. Assalamu'alaikum! " katanya sambil berlalu melewatiku yang masih berdiri terpaku.

" Waalaikum salam. " aku tersenyum menatap kepergian Tetah Sappe yang makin menjauh.

Lembayung senja telah menghilang berganti dengan pekatnya malam. Aku masih berdiri terpaku di pinggir jalan. Ada keengganan menghinggapi diriku saat mata ini berbalik dan menatap nanar ke sebuah rumah yang seluruhnya di cat dengan warna kuning telur muda.

" Apakah keputusanku untuk pulang ini sudah benar? " aku bermonolog dalam hati.

Langkah kakiku terseok-seok melewati jalan ke rumah mama yang dilapisi batu kerikil kecil - kecil. Aku menyeret koper dan tasku dengan susah payah.

Sialnya..... sepatu high heels yang kupakai beberapa kali tersangkut, membuat aku meringis ketika kakiku terpelecok. Dulu.... halaman rumah kami hanyalah tanah liat yang becek dan basah saat hujan turun. Keadaan memang sudah banyak berubah.

Sepuluh tahun yang lalu, parit kecil didepan rumah kami hanyalah parit biasa yang lebarnya hanya seukuran dua puluh sentimeter. Sekarang, parit itu sudah menjelma menjadi parit besar yang di lapisi semen di kanan kirinya.

Juga tanah lapang di depan rumah yang dulu sering dipakai sebagai tempat kami bermain, kini sudah penuh oleh rumah - rumah penduduk. Tak ada lagi rimbun pepohonan di sana. Hanya yang tersisa pohon kelapa di depan rumah kami saja yang seakan menjadi saksi sejarah akan goresan cerita waktu dalam sejarah kehidupan anak-anak mama.

Aku melihat sekarang di depan rumah kami ada bola lampu yang menerangi jalan depan rumah. Rupanya PLN sudah menyapa desa tempat tinggalku. Memberikan sedikit warna pada peradaban desaku yang suram.

" Brrrr, dinginnya! " aku merapatkan cardigan panjang yang melapisi tubuhku agar dinginnya angin laut malam hari yang mulai hadir menyapa melalui celah pepohonan di belakang rumahku sedikit berkurang.

Aku berdiri persis di depan rumah mama. Terhenyak menatap bangunan rumah mungil itu. Tak ada lagi tiang kayu penyangga rumah, juga dinding - dinding kayu bakau yang melapisi rumah kami dari terpaan panas dan tempias hujan. Semuanya telah berganti menjadi tiang yang terbuat dari cor - coran semen dan pasir, dan dinding rumah yang terbuat dari batako. Rumah gubuk kami telah berubah menjadi rumah beton.

Mama adalah wanita yang sederhana. Beliau menyukai kesederhanaan. Wajar saja kalau rumah ini di cat dengan warna kuning. Bingkai jendela yang berwarna coklat adalah perpaduan warna yang pas sehingga memberi kesan sederhana dan tenteram. Tambahan dua buah kursi rotan di teras depan rumah melengkapi keasrian rumah ini.

Tetah Sappe benar, banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kurun waktu satu dasawarsa yang terlewatkan di desa ini. Aku saja tak akan pernah tahu yang mana rumah mama, seandainya saja tah Sappe tidak mengantarkan aku sampai kemari.

Dengan tangan gemetar, aku mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah yang juga di cat dengan warna coklat itu.

" Assalamu'alaikum... "

" ..................... "

" Assalamu'alaikum.... " aku kembali mengulang mengucapkan salam untuk yang kedua kalinya.

Dadaku berdebar - debar membayangkan ada seseorang yang akan membukakan pintu. Tanganku terasa kebas. Aku memegangi dadaku. Rasanya aku...

" Assalamu'alaikum! " aku mengeraskan suara dari yang semula pelan kini agak keras.

" ......... "

" Ibu syariah tidak ada. Beliau pergi ke kampung sebelah, ada hajatan di rumah anaknya. Cucunya mau di sunat." Tetangga di depan rumah ibuku berteriak memberitahuku. Aku terpaku menatap ke arah seorang pria paruh baya yang memakai peci dan sarung. Sepertinya dia baru saja pulang dari musalla yang letaknya tak jauh dari rumah mama.

" Kampung sebelah? " tanyaku bingung.

" Iya, mbak. Mungkin malam ini nggak pulang kali! " jawabnya.

" Oh, gitu. Tapi kampung sebelah mana? " Sejenak Aku menjadi panik. Aku benar - benar tak tahu harus bagaimana.

" Iya, kampung sebelah, Teluk Pandan. Menantunya baru saja melahirkan, dan salah seorang cucunya juga ada yang mau di sunat." kata orang itu.

" Aduh.... bagaimana ini? " aku berguman pada diri sendiri. Masa aku harus berdiam diri di teras ini sampai besok.

" Mbak nggak usah khawatir. Menantunya yang lain sebentar lagi pasti pulang dari bekerja. Mbaknya nanti sama dia bisa sama-sama pergi menyusul ke sana. Paling juga setengah jam lagi, pasti sudah datang! " katanya lagi.

" Terima kasih, pak! " aku menghadiahinya sebuah senyum. Tak apa, setengah jam lagi tak akan lama, kataku dalam hati.

" Sama - sama, mbak. Kalau mbaknya ada kesulitan, silahkan datang saja ke rumah. Rumah saya yang ini. " katanya sambil menunjuk ke arah rumah di seberang rumah Ibuku.

Aku menganggukkan kepala. " Iya, pak. Terima kasih sekali lagi. Saya akan di sini saja menunggu." jawabku.

" Kalau begitu, bapak tinggal masuk dulu, mbak. " kata pria paruh baya itu seraya meninggalkan halaman rumah mama dan melangkah memasuki halaman rumahnya yang terletak di seberang rumah mama.

Aku mengangguk sopan seraya kembali lagi melempar senyum mengiring kepergiannya.

Kesal karena harus menunggu aku memilih menghempaskan bokongku di kursi rotan yang ada di teras rumah.

Aku mengeluarkan handphone dan earphones dari dalam tasku. Membunuh waktu setengah jam dengan mendengarkan musik tidaklah lama.

Aku membuka aplikasi whatsApp dan membuka chat yang masuk. Ada lebih dari tiga puluh pesan yang masuk ke handphone aku. Sebagian besar dari teman - teman sekantor aku yang menanyakan kapan aku pulang. Hadeuh... baru juga pergi sehari sudah ditanya kapan pulangnya.

Ada juga pesan dari mas Haris, yang menanyakan apakah aku sudah bertemu mama dan keluargaku. Jujur saja, saat ini aku sangat merindukan lelaki dengan tatapan lembut itu.

Aku membalas pesan dari Mas Haris. Aku tersipu malu sendiri saat menyadari kata- kataku mirip anak gadis yang terserang virus cinta. Aku lalu memutar musik dan memasang headset di telingaku. Ingatanku kembali berpendar ke masa lalu.

" Asma, kapan kamu memakai jilbab?" Kak Mansyah, kakak tertuaku menegur diriku yang tidak mau memakai jilbab.

Hanya aku, adik perempuan satu - satunya dalam keluarga ini, yang paling sulit di atur di antara semua saudara - saudara kami.

Anak tertua di keluarga kami adalah kak Mansyah, lalu yang kedua kak Lela, dan ketiga kak Darre. Aku adalah anak ke empat. Sedangkan seorang lagi adik kami adalah si bungsu Alif.

Mama memiliki tiga anak perempuan dan diantara ketiganya, hanya akulah saja saat itu yang tidak mau berhijab.

" Sudah kebal api neraka dia! " kata kak Darre pada kak Mansyah.

" Kau tahu Asma, nanti di akhirat kelak, Bapak, aku, alif, dan juga suamimu yang akan dimintai oleh Allah pertanggung jawaban atas semua kelakuanmu ini!" nasihat kakakku itu dengan wajah gusar.

Aku mendelik kesal. Bukan apa - apa. Aku terlalu sayang untuk tidak memamerkan keindahan mahkotaku yang panjang, hitam, dan bergelombang sampai ke pinggul.

Wajahku lumayan cantik. Manis kata orang. Dengan body semampai dan kulit kuning langsat, membuat aku menjadi salah satu primadona desa di kampung ini. Banyak pemuda yang memilih aku sebagai target incaran mereka.

Namun pilihanku justru jatuh pada pemuda berkulit sawo matang, berhidung mancung dan bermata lentik, Syafrie. Aku tersentak kasar saat ingatanku kembali lagi pada sosok lelaki itu. Ada kemarahan yang membuncah di dadaku.

Aku membuang nafas kasar. Entah mengapa setiap mengingat nama itu, perasaan benci dan dendamku yang lama terkubur mencuat kembali.

Mas Haris, hanya mas Haris seorang saja, lelaki yang bisa mengobati luka hati ini. Aku tak menyangka bahwa hubunganku dengan mas Haris bisa sampai di tahap ini.

Mas Haris membuka mataku, bahwa aku harus menghadapi semuanya. Bukan malah bersembunyi di balik lumpur dendam yang menenggelamkan jati diriku selama ini.

" Dendam tak akan membuat hati kita tentram." itu kata mas Haris ketika memintaku untuk pulang dan aku yang bersikeras tak ingin pulang karena merasa masih sakit hati.

" Belajarlah untuk berdamai dengan masa lalu dan segala penderitaan. Karena apa yang tidak bisa membunuhmu walaupun itu terasa menyakitkan, biasanya akan membuatmu menjadi kuat."

Rasanya aku sudah sangat merindukan lelaki itu.

Terpopuler

Comments

Mr.VANO

Mr.VANO

suka ak mau lanjut sampai selesai

2023-08-28

0

Lina Zascia Amandia

Lina Zascia Amandia

Semangat Kakak, sy aja jarang pembaca. Dan sy tertarik dgn karya Kakak yg terpajang, perahu karam. Ceritanya jujur sy suka yg begini, untaian kata yg Kakak tulis sgt indah dan bagus. Sehingga mampu merasuk ke dlm jiwa, dan bnr2 bisa membayangkan keadaan kampung saat itu. Sy terlalu menghayati kali ya Kak... smgt Kak...

2023-01-22

1

Limi_chan

Limi_chan

mang bagusss

2022-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 44
46 Bab. 45
47 Bab. 46
48 Bab. 47
49 Bab. 48
50 Bab. 49
51 Bab. 50
52 Bab. 51
53 Bab. 52
54 Bab. 53
55 Bab. 54
56 Bab. 55
57 Bab. 56
58 Bab. 57
59 Bab. 58
60 Bab. 59
61 Bab. 60
62 Bab. 61
63 Bab. 62
64 Bab. 63
65 Bab. 64
66 Bab. 65
67 Bab. 66
68 Bab. 67
69 Bab. 68
70 Bab. 69
71 Bab. 70
72 Bab. 71
73 Bab. 72
74 Bab. 73
75 Bab. 74
76 Bab. 75
77 Bab. 76
78 Bab. 77
79 Bab. 78
80 Bab. 79
81 Bab. 80
82 Bab. 81
83 Bab. 82
84 Bab. 83
85 Bab. 84
86 Bab. 85
87 Bab. 86
88 Bab. 86
89 Bab. 88
90 Bab. 89
91 Bab. 90
92 Bab. 91
93 Bab. 92
94 Bab. 93
95 Bab. 94
96 Bab. 95
97 Bab. 96
98 Bab. 97
99 Bab. 98
100 BAB. 99
101 Bab. 100
102 Bab. 101
103 Bab. 102 Tamat
104 Extra Bab. 103
105 Penutup
106 Bab. Promosi
107 Bab. Promosi 2
108 Bab promosi 3
109 Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 44
46
Bab. 45
47
Bab. 46
48
Bab. 47
49
Bab. 48
50
Bab. 49
51
Bab. 50
52
Bab. 51
53
Bab. 52
54
Bab. 53
55
Bab. 54
56
Bab. 55
57
Bab. 56
58
Bab. 57
59
Bab. 58
60
Bab. 59
61
Bab. 60
62
Bab. 61
63
Bab. 62
64
Bab. 63
65
Bab. 64
66
Bab. 65
67
Bab. 66
68
Bab. 67
69
Bab. 68
70
Bab. 69
71
Bab. 70
72
Bab. 71
73
Bab. 72
74
Bab. 73
75
Bab. 74
76
Bab. 75
77
Bab. 76
78
Bab. 77
79
Bab. 78
80
Bab. 79
81
Bab. 80
82
Bab. 81
83
Bab. 82
84
Bab. 83
85
Bab. 84
86
Bab. 85
87
Bab. 86
88
Bab. 86
89
Bab. 88
90
Bab. 89
91
Bab. 90
92
Bab. 91
93
Bab. 92
94
Bab. 93
95
Bab. 94
96
Bab. 95
97
Bab. 96
98
Bab. 97
99
Bab. 98
100
BAB. 99
101
Bab. 100
102
Bab. 101
103
Bab. 102 Tamat
104
Extra Bab. 103
105
Penutup
106
Bab. Promosi
107
Bab. Promosi 2
108
Bab promosi 3
109
Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!