Aku beringsut mundur saat lelaki yang paling kubenci sejagat raya itu mendekatiku. Rasanya atmosfer yang berada dalam ruangan ini sangat panas.
" Kau seharusnya makan, Asma. Lalu setelah itu beristirahat. Tubuhmu perlu makan dan istirahat. Abang sudah menelpon mereka. Mereka tak bisa pulang malam ini. Tadi siang hujan lebat, sehingga jalan yang menghubungkan desa sebelah dengan desa kita tertimbun longsor. Jadi kemungkinan sore baru mereka bisa kembali. " Kata Syafrie memberitahu perihal mama dan saudara - saudaraku.
Sungguh, aku merasa muak. Rasanya ingin sekali aku muntah saat dia menyebutkan dirinya ' Abang'. Rupanya dia masih ingat panggilan sayangku dulu untuknya. Terasa menjijikkan sekali bagiku saat mendengarnya.
" Sekali lagi, Abang Mohon, makanlah.! "
Pria itu meninggalkanku sendiri untuk menikmati makananku. Aku rasa mungkin dia lupa bahwa kebencianku pada dirinya melebihi jagat. Jadi manalah sudi aku memasukkan sesuatu yang berasal darinya. Aku memilih kembali ke kamar untuk beristirahat saja.
Walaupun sudah berada di dalam kamar, namun sialnya mataku tak kunjung jua terpejam. Rasa kantukku mendadak lenyap begitu saja. Ku lirik jam dinding yang berdetak. Pukul 01.00 pagi.
Mataku menelisik ke seluruh ruangan. Kamar ini cukup luas untuk ukuran seorang bocah. Kembali hatiku hancur saat menemukan gambar pria itu di sana. Berada dalam pigura yang sama dengan keluargaku. Tersenyum manis sambil memangku bocah yang wajahnya serupa dengan Syafrie. Sungguh mereka bagaikan pinang di belah dua. Bahkan gaya rambutnya pun sama.
Dadaku serasa di hantam sebuah palu raksasa. Sesak, hancur dan lebur. Aku merasa di khianati. Bagaimana bisa posisi yang seharusnya mereka berikan padaku, ternyata di berikan kepada wanita itu. Tidakkah mereka memikirkan bagaimana perasaanku..? Pikiranku terus mengembara, mencoba mencari jawaban atas semua ini. Bagaimana anak wanita itu ada dalam foto keluargaku? Aku sungguh kehabisan akal untuk berpikir. Bagaimana bisa ya, Tuhan??!
Tanganku bergetar meletakkan kembali pigura. Rasa sakit bekas operasi di perutku membawa kembali ingatanku pada hari yang tersial itu.
" Ini semua bukan salahku, dia saja yang terlalu keras kepala! " desis lelaki itu yang sejak hari itu tak pernah lagi ingin kutemui.
" Keluarlah, Syafrie. Asma tidak butuh kamu saat ini jika kedatanganmu kemari hanya untuk menegaskan itu. Dia butuh dukungan, bukan pembelaan atas perbuatanmu. " Kak Lela, kakak perempuan tertuaku menjawab.
" Tidak, aku mau menunggunya. Dia istriku. Walaupun aku yakin istriku yang lain sedang menangisiku saat ini di kamar pengantin kami.! " ketus Syafrie.
Aku menahan isak tangisku sekuat tenaga agar tak seorang tahu bahwa aku sudah tersadar sedari tadi. Aku memejamkan mata dan memilih menjadi pendengar saja dalam perdebatan mereka. Aku sungguh tak sanggup jika harus bertemu dengan lelaki itu.
" Pulanglah Syafrie! Aku tak yakin Asma mau menemuimu saat ini. Nanti jika keadaan sudah tenang, aku akan mengabarimu." kata Kak Mansyah.
" Tidak bisa, Kak. Dia harus menjelaskan padaku tentang kekacauan yang telah dia perbuat! " Syafrie berkata dengan nada sinis.
" Tolong mengertilah, kami baru saja kehilangan. Lagi pula adikku belum juga sadar.! " kembali Kak Lela berkata kepada Syafrie.
" Mansyah dan Lela benar. Kendalikan dirimu, Syafrie. Lagi pula, ini rumah sakit. Kita tak boleh membuat keributan di sini." Mertua perempuanku ikut bicara.
" Berhenti menyuruhku untuk mengendalikan diri, Bu. Lihatlah semua kekacauan yang telah dia perbuat. Marah dan berniat ingin mencelakai diri sendiri boleh saja, tapi setidaknya dia juga harus memikirkan anak yang dia kandung. Dia egois, bu. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri dan amarahnya serta semua prasangka buruknya. Akibatnya kita semua kehilangan." kata Syafrie dengan penuh emosi.
" Kau menyalahkan adikku? Hai Syafrie, katakan padaku bagaimana harusnya adikku bersikap ketika mendapati suaminya sedang merayakan pernikahannya. Katakan, Bajingan!!!" Kak Darre yang sedari tadi menahan geram tak dapat lagi menahan perasaannya.
" Ini semua terjadi gara - gara kamu. Kami kehilangan Bapak, kami kehilangan keponakan, dan hampir kehilangan saudara kami. Semua ini karenamu, Syafrie. Bajingan seperti dirimu tak pantas menyalahkan saudara kami atas semua hal yang telah terjadi. Andai saja kamu dan hati muliamu itu tak menikahi wanita itu." bentak Kak Darre sambil berdiri menahan amarah.
Tuhan, apa yang terjadi dengan Bapak. Kenapa aku merasa aneh dengan ucapan Kak Darre. Apa yang telah terjadi? Rasa penasaran memaksaku juga untuk akhirnya membuka mataku.
" Bapak kemana, kak? " Serempak mereka semua menoleh kepadaku.
" Asma, kau sadar, sayang? " Ibu mertuaku membelai lembut kepalaku. Aku tak menghiraukan ucapannya. Bagiku dia sama penghianatnya dengan anaknya. Aku membuang wajah.
" Bapak mana, kak? " Aku kembali bertanya pada semua saudaraku.
Kak Darre berjalan mendekatiku. " Bapak baik - baik saja, dek. Cepat sembuh, ya!" Kak Darre berusaha tersenyum menyembunyikan tangis.
" Bapak dimana, kak. Kenapa bapak tidak ada di sini. Aku mau bapak! " Mengapa ada perasaan aneh dalam hatiku. Seperti ada firasat aneh yang mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu pada Bapak.
Aku memaksa untuk bangun, dan melepas selang infus di tanganku. Di ujung ruangan kulihat mama duduk seorang diri sambil menahan isak kesedihan yang tak mampu dia sembunyikan.
Aku memaksa berjalan ke arah mama. Ingin bertanya kepada wanita itu apa yang menyebabkan dia menangis sedemikian pilunya.
Mataku berkaca - kaca. Pikiranku kalut dan pusing. Bau obat yang menyeruak dalam ruangan ini semakin membuatku bertambah pusing.
" Mama, Bapak mana, mah? Aku mau pulang. Aku mau ketemu Bapak! " pintaku dengan air mata yang terus berhamburan keluar.
" Asma, berhenti berbuat yang membuat kami khawatir! " seseorang meraih lenganku.
Aku menoleh ke arah datangnya suara, memandang sinis dan mencibir ke arahnya. Kusentak lenganku dengan kasar agar cengkraman tangannya terlepas dari lenganku. Lalu berkata.
" Berani sekali seorang pengkhianat memegang tanganku, Lepaskan! "
Semua orang yang ada di kamar itu terbungkam. Tak ada yang berani menegur apa yang kulakukan.
" Pergilah, untuk apa kamu berada di sini. Istri barumu mungkin sedang menunggumu sekarang. Bukankah kamu tak ingin melewatkan malam pertamamu dengannya, bukan? " kataku dengan nada mengejek dan meremehkan. Aku sengaja menunjukkan sikap seolah - olah aku merasa jijik padanya.
Sakit hatiku membayangkan dia melewati malam panas bersama wanita itu, membuatku meradang. Namun sekuat tenaga ku tahan juga agar tidak meludah kepadanya. Syafrie tak juga bergeming.
" Pergi....!!! " teriakku histeris. Akhirnya lelaki itu mengalah dan berlalu pergi dari ruangan itu sambil menarik kasar rambutnya.
Suasana kembali hening. Aku menghela nafas.
" Sekarang, tolong jelaskan padaku, di mana bapak. Apa yang telah kalian sembunyikan dariku. Apa yang terjadi pada bapak, Kak? " Napasku memburu karena emosi yang keluar saat kejadian tadi.
" Sabar, dek. Kamu harus banyak istirahat. Kesehatanmu belum benar-benar pulih! " kata Kak Lela membelai kepalaku. Aku terisak di pangkuan Kak Lela.
" Bapak dimana? "
" Istirahatlah, dek! "
" Katakan dulu di mana bapak, baru aku istirahat! " keras kepalaku memang tak ada yang mengalahkan.
" Baiklah, kuatkan hatimu, dek!! " ......
Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan ingatanku pada masa sepuluh tahun yang silam, sirna. Lelaki itu berdiri di depan pintu kamar.
" Bisa kita bicara? Suara berat lelaki itu kembali menghempaskan aku pada kenyataan bahwa kini kami kembali berada dalam satu atap yang sama.
Oh Tuhan, ternyata aku salah. Aku tak sanggup jika harus bertemu kembali dengannya. Aku menutup mataku dan mengepalkan kedua tangan.
Aku menyesali keputusanku kembali ke desa ini. Ternyata aku tak siap jika harus kembali bertemu dan berbicara dengan lelaki itu.
Lukaku yang kukira perlahan lahan sembuh oleh balutan sepuluh tahun waktu tanpa pertemuan dengannya menganga kembali.
Aku menangis meratapi nasib. Terguncang sendiri oleh rasa perih di hatiku. Merasa tertipu oleh nasib... curang nya takdir mempermainkanku. Mereka hidup bahagia... sedangkan aku....mati sekarat dalam penyesalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Limi_chan
kepoooook👍👍👍👍
2022-06-19
0
Kecanduan Baca Novel
next thor, penasaran .
2022-05-20
1
None
ceritanya bagus..alurnya waktu sekarang sekaligus flasback apa yg sebenarnya terjadi..
lanjut thor penasaran dgn flashbacknya
2022-05-20
0