Bab. 16

Aku terdiam, menyadari kekalutanku. Mas Haris masih betah menunggu kebisuanku. Aku tak tahu harus berkata apa padanya.

" Asma, kok diam aja? ngomong dong, sayang..! " Mas Haris memecah kebisuan di antara kami.

" Mas, aku cinta kamu." Akhirnya keluar juga kata - kata sakral itu. Aku tahu, aku salah dengan menjadikan Mas Haris sebagai pelampiasan amarahku. Namun, kekesalanku terhadap Syafrie yang memamerkan kebahagiaan dia dan putranya membuatku luar biasa kesal. Apa dia tak tahu, kekasihku Mas Haris luar biasa sayangnya dia padaku. Jadi aku rasa skor kita satu sama. Namun, mengapa rasanya aku seperti pihak yang mengalami kekalahan telak, ya.

" Aku tahu kalau kau mencintaiku, walau kau tak mengatakannya. Tapi aku senang kau mengatakannya. Terima kasih, kau membuatku bahagia malam ini." kata Mas Haris sambil tersipu malu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tampaknya Mas Haris ingin tertawa namun ditahan.

" Jadi karena itu, kamu bersikap aneh seperti ini. Asma.... Asma. Kamu itu lucu banget. Kupikir apa yang menyebabkan kamu bersikap seperti ini, ternyata hanya karena ingin mengucapkan kalimat sakral itu, toh. Hem.... jadi butuh jarak dan waktu dulu, baru kamu menyadari bahwa kamu sangat mencintai diriku, hahahaha...! " Mas Haris tertawa terbahak - bahak.

Aku mendengus kesal. Kenapa dia menganggap lucu pernyataan cintaku.

" Asma, jangan ngambek dong, sayang. Kamu tahu nggak? Ini adalah hadiah terindah selama kita bersama. Terima kasih, ya. Asma.... hei..! Kamu dengar nggak, sayang? "

" Apa? " sahutku bosan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling sana.

" Denger, nggak? "

" Hhmm.. " Aku malas menanggapi, kembali fokusku menatap layar hapeku.

" Dag.. dig... dug... dag.. dig... dug... " katanya.

" Apanya..? " aku tak faham.

" Suara jantungku, Asma. Nggak peka amat sih...! "

" Oh...! " aku hanya beroh. ria, bermaksud menggodanya.

" Kok cuma oh, sih!" Mas Haris pura - pura marah. " Asma, kamu nggak faham ya, itu suara degup jantung aku yang sangat bahagia karena mendengar pernyataan cinta dari kamu." Mas Haris menepuk - nepuk dadanya.

Aku memutar mata jengah. " Mas, berhenti menggodaku! " aku pasang mode merajuk. Jujur saja, kata - kata Kak Mansyah masih terngiang di telingaku. Dan itu memenuhi isi kepalaku. Pikiranku melanglang buana, menyusuri kemungkinan terburuk yang akan terjadi akibat ancaman dari kata - kata Kak Mansyah.

Mas Haris bahagia, itu sangat terlihat jelas sekali dari wajahnya yang selalu tersenyum selama kami melakukan video call. Dia bercerita banyak hal yang terjadi selama beberapa hari kepulanganku. Dia juga menjelaskan alasan mengapa dia selalu lambat menelponku. Mas Haris juga minta maaf, karena belum bisa memutuskan kapan dia akan menyusulku ke sini. Setelah beberapa saat kami terlibat obrolan, akhirnya kami pun memutuskan untuk menyudahi obrolan, karena Mas Haris juga sudah mengantuk dan dia juga butuh istirahat. Aku menutup telepon sesaat setelah Mas Haris mengucapkan salam dan memberikan ciuman selamat malam dari jauh.

Aku mencintai Mas Haris. Jadi tak apa - apa walaupun Syafrie jungkir balik memamerkan kebahagiaannya dengan wanita itu. Aku jelas tak ambil pusing. Jadi silahkan mau apa saja, aku pastikan, aku siap menerima semua umpan lezatnya untuk memulai pertengkaran kami dan meledakkan amarahku, wahai Syafrie si pengkhianat.

Hem, bagaimana kabarnya si Syafrie. walaupun aku mencoba untuk mengacuhkannya, namun sejujurnya ada puluhan pertanyaan yang mengelilingi benakku seperti, mengapa bisa dia ada di rumah mamaku, sejak kapan dia disini. Dan mengapa keluargaku terlihat tidak membencinya. Yang aku tangkap dengan jelas adalah fakta bahwa keluargaku semuanya menyukai Syafrie.

Lantas, kemana istrinya. Mengapa dia tidak di sini dan menemani Syafrie. Apa mungkin mereka berpisah? Terus... alasan apa yang membuat mereka berpisah dan kenapa bukan istrinya itu yang merawat putra mereka.

Namun, semua pertanyaan iti hanya tinggal saja di otakku, jika aku tak berniat untuk bertanya pada siapa saja yang tahu.

Namun, satu pertanyaan yang begitu menggelitik diriku untuk segera mencari tahu jawabannya adalah mengapa kak Mansyah begitu mudahnya menyuruh kami untuk rujuk kembali? Jika benar dugaanku, Syafrie si Pria sialan itu sudah berpisah dengan istrinya, berarti aku... ?? ?

Tidak.... mereka tidak mungkin berpisah. Dan keluargaku..? Tidak mungkin mereka melakukannya. Apakah mereka tega memintaku untuk menjadi ibu sambung bagi putra Syafrie. Mana sudi aku.... Aku yang baru saja sehari di desa ini, tak akan sanggup untuk kembali lagi pada pria Durjana itu. Mengapa mereka tega sekali, ingin menjadikan aku sebagai tumbal.

Aku menghantup - hangtupkan kepalaku ke dinding tembok berharap rasa kantukku akan hadir.

" Jangan lagi menyakiti diri, karenamu! " Telapak tangan seseorang menyentuh keningku dan menjadikannya pembatas antara kening dan tembok beton tempatku menghantupkan Kepalaku.

Aku mendongak keatas dan mendapati tangannya di dahulu. Aku langsung menghujaninya dengan tatapan tajam.

" Apa maumu datang lagi menemuiku.? " Aku mengejek Syafrie. " Tahukah kamu, bahwa kamu yang diam - diam meninggalkan putramu dan datang ke mari dan menemuiku, terlihat seperti orang yang berselingkuh di belakang istrinya. " aku tersenyum sinis.

" Tidak juga, malahan dia akan senang jika itu kamu." katanya memutus kontak matanya denganku, dan memilih duduk di sebelahku.

Aku mengacuhkannya karena tak cukup tenaga untuk melawannya. " Mengapa masih belum tidur. Tidak mengantuk? " tanyanya yang tak kugubris.

Hening.

" Apa dia sudah terbiasa dengan kamu yang seperti ini? " tanyaku memecah keheningan yang tercipta.

" Maksudmu? " dia mengubah posisinya menghadap ke arahku.

" Kamu yang tidak bisa setia, apa dia tahu..? "

" Aku setia, Asma. Buktinya aku setia menunggumu selama sepuluh tahun. Kamu tidak sedang pura - pura lupa, kan?" Tangan Syafrie menarik turun kerah jaketnya.

" Bagaimana kabarnya? "

" Siapa? " tanyanya tak faham

" Istrimu... "

Kembali hening.

Penasaran, aku melirik yang lewat ekor mataku. Tatapannya sendu seolah sedang menatap sesuatu di kejauhan.

Suara angin berdesir meniupkan udara dingin yang membuat seisi rumah menarik rapat selimut mereka. Suara batuk kadang terdengar dari salah satu penghuni rumah.

Syafrie menoleh ke samping, menatapku. "Asma, menurutmu... apakah kita masih bisa bersatu kembali bersama? " tanyanya dengan ragu

Aku menjawab serentak, " tidak! " jawabku cepat.

" Alasannya? "

" Kau sudah tahu, Syafrie." jawabku tajam.

" Asma, mengapa kita tak mencobanya dulu? "

" Syafrie, mari kita bahagia. Bahagia dengan tidak kembali bersama. Kau tahu, kebencianku padamu sangatlah dalam. Sangat dalam hingga ke sendi - sendi dan sel - sel dalam darahku. Melihatmu saja membuatku habis terbakar oleh api kesumat. " Lihatlah.... betapa sadisnya mulutku mengeluarkan racunnya. Aku tersenyum menyadari betapa kata - kataku tadi sangatlah tajam menghujam ke dalam hati Syafrie.

Namun, Syafrie hanya tersenyum. Setengah mati aku menahan diri untuk tidak menampar mulutnya. " Jangan lupa, sayang. Di dalam tubuh seseorang mengalir darah kita berdua. Darahmu dan darahku. Jadi jangan terlalu membenciku..! " katanya Syafrie menatap aku lekat.

Terima kasih kepada Syafrie karena berhasil membuatku tiba - tiba mual.

Terpopuler

Comments

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

makin puyeng muter terus tapi bikin penasaran

2022-09-21

0

Junengsih Neng

Junengsih Neng

ko tambah di baca terus ko tambah muter muter terus ta jauh jauh jalan di tempat saja itu itu aja yg di obrolkan kapan taunya dari guru ngajinya abang abangnya ta ada yg jelas berapa episode sudah ceritanya itu itu aja

2022-05-29

1

Siti Nurella

Siti Nurella

gak setuju thor klo asma balikan lg sama syafri...

2022-05-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 44
46 Bab. 45
47 Bab. 46
48 Bab. 47
49 Bab. 48
50 Bab. 49
51 Bab. 50
52 Bab. 51
53 Bab. 52
54 Bab. 53
55 Bab. 54
56 Bab. 55
57 Bab. 56
58 Bab. 57
59 Bab. 58
60 Bab. 59
61 Bab. 60
62 Bab. 61
63 Bab. 62
64 Bab. 63
65 Bab. 64
66 Bab. 65
67 Bab. 66
68 Bab. 67
69 Bab. 68
70 Bab. 69
71 Bab. 70
72 Bab. 71
73 Bab. 72
74 Bab. 73
75 Bab. 74
76 Bab. 75
77 Bab. 76
78 Bab. 77
79 Bab. 78
80 Bab. 79
81 Bab. 80
82 Bab. 81
83 Bab. 82
84 Bab. 83
85 Bab. 84
86 Bab. 85
87 Bab. 86
88 Bab. 86
89 Bab. 88
90 Bab. 89
91 Bab. 90
92 Bab. 91
93 Bab. 92
94 Bab. 93
95 Bab. 94
96 Bab. 95
97 Bab. 96
98 Bab. 97
99 Bab. 98
100 BAB. 99
101 Bab. 100
102 Bab. 101
103 Bab. 102 Tamat
104 Extra Bab. 103
105 Penutup
106 Bab. Promosi
107 Bab. Promosi 2
108 Bab promosi 3
109 Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 44
46
Bab. 45
47
Bab. 46
48
Bab. 47
49
Bab. 48
50
Bab. 49
51
Bab. 50
52
Bab. 51
53
Bab. 52
54
Bab. 53
55
Bab. 54
56
Bab. 55
57
Bab. 56
58
Bab. 57
59
Bab. 58
60
Bab. 59
61
Bab. 60
62
Bab. 61
63
Bab. 62
64
Bab. 63
65
Bab. 64
66
Bab. 65
67
Bab. 66
68
Bab. 67
69
Bab. 68
70
Bab. 69
71
Bab. 70
72
Bab. 71
73
Bab. 72
74
Bab. 73
75
Bab. 74
76
Bab. 75
77
Bab. 76
78
Bab. 77
79
Bab. 78
80
Bab. 79
81
Bab. 80
82
Bab. 81
83
Bab. 82
84
Bab. 83
85
Bab. 84
86
Bab. 85
87
Bab. 86
88
Bab. 86
89
Bab. 88
90
Bab. 89
91
Bab. 90
92
Bab. 91
93
Bab. 92
94
Bab. 93
95
Bab. 94
96
Bab. 95
97
Bab. 96
98
Bab. 97
99
Bab. 98
100
BAB. 99
101
Bab. 100
102
Bab. 101
103
Bab. 102 Tamat
104
Extra Bab. 103
105
Penutup
106
Bab. Promosi
107
Bab. Promosi 2
108
Bab promosi 3
109
Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!