Lebih dari setengah jam aku duduk di bawah batang pisang di pinggir jalan. Aku menangis diam - diam memikirkan hidupku yang penuh dengan lika - liku.
Hapeku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Aku merogoh saku gamisku dan mengambil benda pipih di dalamnya.
" Assalamu'alaikum, Calon istri... calon ibu dari anak - anakku...... rekan kerjaku.... dan pendamping hidupku! " Mas Haris memberi salam yang langsung ku balas dengan gelakkan.
Benarkan..... kehadiran Mas Haris mampu mengusir duka. Mendapat telepon dari Mas Haris sedikit menghapus kesedihan di hatiku.
" Sudah di kantor ya, Mas?" aku bertanya karena melihat dari latar tempat dia menelponku. Terdengar dengusan kesal dari Mas Haris yang sengaja di buat - buat.
" Jawab dulu salamku, Asma. Kamu itu kebiasaan. Kalau aku memberi salam tak pernah langsung dijawab. Kamu tahu tidak, sih. Menjawab salam selain hukumnya wajib, juga sebagai tanda cinta." Aku mencibir mendengar ceramah dari Mas Haris.
" Kata siapa? kata Pak Ustad Haris Wicaksono? " Mas Haris langsung tergelak.
" Ada dalilnya loh, itu. Cuma aku lupa hadistnya. Pokoknya intinya kita wajib menjawab salam seseorang. " jawabnya dengan atunsias.
" Oh, gitu? maafin aku ya, mas."
" Terusss? "
" Apa???
" Jawab salamku, Asma sayang! "
" Iya.... iya ...Pak Ustad Haris. Ana faham.... Waalaikum salam pelipur laraku....cintaku.....kekasihku..... tambatan hatiku." Aku yakin seratus persen, pipi Mas Haris pasti bersemu merah mendengar balasan salam dariku.
" Gimana keadaan kantor, mas. Aman aja kah? Terus... masalah cuti aku... amankan? " aku bertanya dengan cemas.
" Aman, selesaikan saja urusanmu di sana. Aku akan segera menyusulmu dalam dua tiga hari ini." kata mas Haris menjawab kecemasan di hatiku.
" Mas... "
" Hmm, apa lagi, sayang? "
" Kalau seandainya keluargaku tak memberikan restu untuk kita, apakah Mas Haris masih mau mempersunting aku untuk jadi istri mas? " Nada bicaraku terdengar serak.
" Asma, apakah ada masalah dengan keluargamu. Kenapa sepertinya kamu terdengar habis menangis. Katakan sayang,....kita akan selesaikan masalah ini bersama. Aku akan segera menyusulmu setelah urusanku di sini selesai." Itulah yang ku suka dari Mas Haris. Dia selalu tenang dalam menyelesaikan masalah. Tidak gegabah dan sangat dewasa sekali. Mungkin karena latar belakang keluarganya atau barangkali latar belakang pendidikannya. Yang manapun itu telah membentuk citra diri seorang Haria Wicaksono menjadi seorang lelaki yang berwibawa dan disegani.
Layar handphoneku berubah menjadi panggilan video call. Aku ragu menekan tombol biru untuk membuka tangkapan layar, namun aku juga tak bisa menekan tombol merah, karena itu akan semakin membuat Mas Haris mencemaskan aku.
Akhirnya dengan terpaksa aku menekan tombol biru dan seketika wajah Mas Haris muncul di sana.
" Matamu sembab, kamu habis menangis? " Mas Haris langsung mencecarku dengan pertanyaan - pertanyaan saat melihat mataku yang sembab.
" Apa kau takut jika keluargamu tidak menyukaiku? " dia bertanya dengan nada cemas.
" Tidak, mas."
" Lalu apa?...Asma katakan yang sebenarnya. Mengapa aku merasa bahwa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Mas Haris mendesakku dengan pertanyaan yang diucapkan dengan nada lebih tinggi dari semula.
Aku menggeleng lemah. Tidak mungkin juga kukatakan pada Mas Haris bahwa semalam aku bertemu kembali dengan mantan suamiku dan telah tidur satu atap bersama. Aku yakin mungkin dalam hitungan jam, aku akan melihat dia sudah berdiri di hadapanku dan menggenggam erat tanganku lalu kemudian menyeret diriku ke penghulu. Mas Haris sangat posesif kepadaku.
" Asma hanya kangen bapak." bohongin. Aku tak ingin membuat lelaki itu semakin cemas.
" Apa kau yakin? " tanya laki-laki itu dengan wajah ragu. Aku mengangguk yakin.
" Kapan mas kemari? " tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Secepatnya. kenapa , kangen?" Mas Haris tersenyum dengan wajah menggoda. Alisnya terangkat naik turun.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucunya.
" Kenapa tertawa, kalo kangen aku bisa kirim foto selfie aku. Mau..? "
" Tidak, Terima kasih..!" Aku menggeleng sambil masih terus tertawa. Mas Haris ikutan tertawa. Aku suka saat Mas Haris tertawa, karena lesung pipitnya akan terlihat dengan jelas. Mas Haris adalah asli keturunan Jawa, namun aku heran mengapa dia bisa berkulit putih seperti cina.
" Eheemm...! "
Deheman seseorang membuatku reflek menoleh. Genggaman tanganku di handphone makin mengetat saat melihat Syafrie yang berjarak sekitar lima meter di belakangku. Di tepi jalan tak jauh dari batang pisang tempat ku duduk.
Mas Haris bertanya ketika dia mendengar suara deheman laki-laki di dekatku. Aku menjawab bahwa bukan siapa-siapa, hanya orang yang kebetulan lewat saja.
Aku meminta Mas Haris untuk menyudahi teleponnya dan dia menurut.
" Sudah hampir jam sebelas siang, namun tak ada satupun makanan yang masuk ke perutmu." Ia membuka suara.
Penampilannya sudah berganti memakai T-shirt merah hati di padu celana jeans hitam. Rambutnya sudah tersisir rapi ke belakang. Kalau dilihat - lihat, gayanya sudah oke... sayang aku tak tertarik.
Ada kelelahan yang terpancar dari sorot matanya. Sayangnya aku sudah tak peduli. Acuh ku buang pandangan ke arah hamparan sawah yang membentang di hadapanku. Sebagian padi sudah banyak yang menguning, pertanda bahwa waktu panen sebentar lagi tiba.
" Aku mau ke pasar Telihan untuk membeli beberapa bahan makanan, apa kau mau menitip sesuatu? " Senyumnya sumringah seperti lelaki yang habis mendapat jatah malam jum'atan dari istrinya.
" Lebih baik aku mati kelaparan." Aku berguman sangat lirih, tapi aku yakin dia pasti mendengarnya, karena ada raut wajah kaget yang terlihat di sana. Sudahlah... aku tak ingin repot untuk menjaga perasaannya. Toh dia sudah tahu bagaimana perasaanku terhadapnya.
" Kamu tahu, benci berlebihan akan berubah menjadi cinta seperti cerita di sinetron - sinetron di televisi."
Mataku melotot mendengar ucapannya.
" Anda sudah terlalu banyak nonton sinetron, tuan Syafrie yang terhormat. Tapi anda salah... hidup itu tidaklah seindah cerita seperti di dalam sinetron. Hidup itu keras. Bangun dan sadarlah. Jangan kebanyakan mengkhayal." sentakku marah. Dia tersenyum dan berjalan mendekati diriku.
" Asma, aku tahu kau sangat membenciku. Tapi bolehkah aku memelukmu." Astaga.... astaga. Lelaki di hadapanku ini, apa otaknya sudah terbentur tembok. Aku bergeming, menoleh pun mana aku sudi.
Aku mencebik mendengar dia mengatakan hal itu. Aku yakin dengan pasti bahwa otaknya sudah gesrek.
Heran... dari mana dia mendapatkan keberanian untuk mengucapkan hal itu. Apa dia pikir semudah itu aku memaafkan semua hal yang telah dia lakukan padaku.
" Bangun dari tidurmu, tuan. Mimpi kok siang hari.." ucapku sinis seakan merendahkan dirinya.
Aku tak ingin tahu bagaimanakah ekspresi wajahnya mendengarku mengatakan itu. Dengan kesal aku menghentakkan kakiku dan berlalu meninggalkan dirinya.
Dia tertawa mendapati ekspresi kesalku. Syafrie sialan, makiku dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mr.VANO
rahasia apa yg buat penasanran
2023-08-28
0
Hanipah Fitri
tabir belum terbuka
2022-09-21
0
Junengsih Neng
mutar mutar aja dari kemaren
2022-05-23
0