Aku turun dari taksi sewaan pribadi yang mengantarku sampai ke ujung jalan di tapal batas yang memisahkan desa tempat tinggalku, desa Suka Rahmat dengan jalan poros yang menghubungkan Kota Samarinda dan Sangatta.
Aku terpaku menatap gapura yang berdiri kokoh dan dingin, seakan menyambut kedatanganku kembali ke desa ini.
Tak ada yang berubah dari wajah desa kelahiranku ini. Selama kurang lebih sepuluh tahun aku tidak menginjakkan kaki ke desa ini. Semuanya masih tetap sama seperti dulu.
Kebanyakan rumah - rumah penduduk di desa ini berdinding kayu meranti. Bahkan beberapa diantaranya sudah banyak lapuk dimakan usia.
Aku berjalan perlahan-lahan menyusuri jalanan yang belum di aspal dengan menunduk. Jujur saja, agak aneh rasanya setelah sekian lama, aku berjalan lagi di jalanan yang sama seperti dulu biasa aku lalui.
Sehelai daun jati jatuh tepat di atas kepalaku. Aku mendongak ke atas memandang langit sore yang perlahan-lahan berubah warna menjadi gelap. Mungkin karena sudah mulai masuk waktu magrib, di tambah lagi cuaca mendung dan mungkin saja sebentar lagi hujan akan segera turun, membuat suasana di sekelilingku menjadi gelap.
Aku mempercepat langkahku berharap agar bisa segera sampai sebelum hujan.
Sesekali menoleh ke belakang berharap bertemu dengan seseorang yang ku kenal. Tapi.... aku menggigit bibir, kecewa.
Apa yang bisa aku harapkan. Setelah sepuluh tahun kepergianku dari desa, rasanya aku tak mengenal lagi orang - orang yang lalu lalang melewatiku. Langkah kakiku terasa semakin berat saja akibat lelah yang kurasakan.
" Huh, tahu begini. Lebih baik aku tak usah kembali ke sini lagi! " Aku menggerutu kesal karena merasa cape menarik koper yang berisi pakaian di tambah lagi harus menenteng tas jinjing yang isinya barang- barang kebutuhanku.
Aneh sekali, dulu aku dan saudara - saudaraku, tak pernah merasa lelah walaupun harus bolak balik melewati jalan ini untuk sampai ke sekolah.
Walaupun jarak sekolah dengan rumah kami lumayan jauh, namun aku dan saudara - saudaraku selalu bersemangat pergi ke sekolah tanpa pernah mengeluh. Meskipun turun hujan deras sekalipun.
Bagi Bapakku, pendidikan itu penting. Tak peduli anaknya laki-laki atau perempuan. Bapak selalu mengutamakan pendidikan bagi kami.
" Bapak tidak bisa mewariskan kepada kalian harta, karena harta bisa habis sewaktu-waktu, tetapi ilmu tidak." kata bapak kepada kami, Anak-anaknya.
Aku menatap ke arah rimbun pohon akasia yang berjejer di sepanjang jalan ke arah penggilingan padi di sana. Dulu, aku dan bapak biasa berjalan melewati jalan ini sambil membawa gabah kering hasil panen kami untuk di giling.
Panen padi dari sawah kami yang luasnya tak lebih hanya dua petak saja, setahun dua kali.
Sebagian hasil panen di jual ayah untuk membiayai berbagai macam kebutuhan kami. Sedangkan sebagian lagi di gunakan untuk makan.
Bapakku adalah seorang lelaki yang sederhana dan suka bekerja keras. Dari pagi hingga petang, waktunya lebih banyak dia habiskan di sawah atau kebun. Kadang-kadang, bapak juga bekerja di sawah milik tetangga. Kata bapak, lumayan buat tambahan belanja dapur.
Meskipun suka bekerja keras, bapak juga adalah sosok yang sangat taat beribadah. Lima waktu tak pernah lepas, betapa sesibuk apapun beliau.
Satu lagi yang sangat kusukai dari sifat bapakku adalah beliau merupakan sosok laki-laki yang penyayang. Tak pernah sekalipun bapak memarahi kami anak-anaknya. Beliau tetap sabar tak peduli sebesar apa kesalahan kami.
Mengingat bapak, membuat hatiku sedih. Aku sangat menyayangi bapak. Andai saja waktu bisa terulang kembali. Maka aku berjanji dalam hati bahwa aku akan lebih mencintai lagi laki-laki itu dan berusaha agar bisa lebih berbakti lagi untuk bisa membahagiakannya.
Begitu banyak kenangan indah yang aku lalui bersama bapak, namun semua itu terhapus begitu saja oleh luka yang diukir oleh seorang di masa lalu.
Aku menghela nafas berat, seberat beban di kedua tanganku yang kini sedang menarik koper dan menjinjing tas bawaanku
Di sinilah sekarang aku, terpaksa harus kembali lagi hanya demi untuk sebuah restu dari mama dan keluargaku. Selain itu ada sebuah urusan dari masa laluku yang belum aku tuntaskan.
Aku akan mengurus perceraianku secara resmi dengan Syafrie dan memulai hidup baru bersama Mas Haris, lelaki yang sudah hadir mengisi hari-hari dalam hidupku.
Setelah sepuluh tahun aku menutup diri dan juga hatiku. Berusaha mengubur habis semua rasa cinta yang ada. Aku juga membakar habis semua rasa di hatiku dengan api dendam karena sebuah penghianatan.
Sosok itu hadir. Perlahan namun pasti berhasil mengikis bekas luka yang meropeng, menempel di sebuah daging dalam tubuhku yang bernama hati.
Kelembutan dan perhatian yang diberikan oleh sosok mas Haris, demikian aku memanggil lelaki itu, mampu membuat seorang Asma, wanita yang tak percaya pada sebuah kata yang bernama cinta karena pernah terbakar oleh sebuah penghianatan, mulai menemukan lagi akan makna dari sebuah kepercayaan dan cinta.
Kedatanganku kembali adalah karena aku ingin meminta restu dari mama dan menyampaikan keinginan mas Haris untuk menjadikan diriku sebagai pendamping hidupnya.
Sebenarnya, aku sempat menolak keras keinginan Mas Haris agar aku kembali lagi ke desa kelahiranku ini dan menemui mama. Meminta restu pada wanita yang sudah melahirkan aku ke dunia ini dan juga seluruh keluarga.
Namun, lelaki itu keras kepala. Dia ingin agar aku menjalin kembali silaturahmi dengan seluruh keluarga yang selama ini sudah terputus. Lebih tepatnya aku yang memutuskan.
" Nak Asma!" sapa seorang Bapak tua dengan ragu. Dia menaiki sebuah motor Suzuki keluaran tahun 1990.
" Iya, Pak! " jawabku sambil tersenyum.
" Loh, ini benar kamu, Asma? " tanya Bapak itu seakan tak percaya.
" Iya, pak. Ini Asma, Asma anaknya Bu Syariah."
" Wah, nak Asma. Mengapa baru pulang sekarang. Fadil sudah besar sekarang. Gagah dan tampan seperti bapaknya. Kalau tidak salah sudah duduk di kelas empat, sekarang."
" Oh, iya.!" Aku menjawab sekenanya karena jujur saja aku tak mengenal nama - nama yang barusan bapak itu sebutkan.
" Kamu mau pulang ke rumahmu, kan?" Aku menjawab dengan anggukan kepala.
" Ya, sudah. Naiklah di belakang. Hari sudah menjelang magrib dan sebentar lagi turun hujan! " Bapak tua itu menawarkan tumpangan.
" Bolehkah, pak? " tanyaku.
" Cepatlah, bapak mau buru - buru ke musalla. Sebentar lagi waktunya solat magrib! " Tanpa berkata lagi, aku segera naik ke jok belakang sambil menggendong koper di pangkuanku.
" Seperti yang kau lihat, sudah banyak yang berubah dari kampung kita, Asma. Kau harus tahu. Jangan kelamaan tinggal di kota. Akibatnya kau telah melupakan kampung tempat kelahiranmu! " kata bapak itu.
" Iya, pak. Ngomong - ngomong, bapak ini siapa, ya? Soalnya saya lupa, pak!"
" Apakah waktu sepuluh tahun sudah membuatmu melupakan tetahmu , Asma? " tanya bapak itu.
Aku mengingat - ingat sosok bapak itu dalam memori ingatanku.
" Ya Allah, Tah Sappe.! " seruku tertahan. Aku mengutuk diri, bagaimana aku bisa lupa dengan laki-laki yang kini tengah membonceng diriku. Dia adalah guru mengajiku saat masih kecil dulu.
Tah Sappe tersenyum.
" Waktu sepuluh tahun rupanya telah mengubahmu menjadi dewasa, Asma. Kamu semakin cantik dengan jilbab itu"
" Terima kasih, tetah!" Aku tersipu malu mendengar pujian itu.
" Bagaimana kabar tetah Nure? " tanyaku. Tetah Nure adalah istri dari Tetah Sappe. Wanita yang sangat baik sekali serta penyayang. Aku ingat, dulu tetah Nure selalu membuat kue - kue untuk kemudian dibagikan kepada anak - anak yang datang mengaji pada Tetah Sappe.
" Dia selalu seperti itu, tetap cerewet. Hanya saja kini keadaannya sering sakit- sakitan. Maklum, sudah tua. " jawab tetah Sappe sambil terkekeh bercerita tentang istrinya.
" Mengapa kamu baru pulang sekarang, Asma?" tanya Tetah Sappe memecah keheningan yang terjadi beberapa saat diantara kami.
" Terlalu banyak luka yang tertoreh di dada ini, tah. Aku tak tahu, bagaimana cara merawatnya agar bisa sembuh kembali!" jawabku getir.
" Waktu telah berubah banyak hal, Asma. Syafrie telah menebus semua luka yang dia torehkan padamu dengan harga yang mahal. Kamu harusnya mencari tahu semuanya. Karena begitu banyak hal yang telah kamu lewatkan selama ini." kata Tetah Sappe. Aku tersenyum getir.
Kata Tetah Sappe, Syafrie sudah menebus semua luka yang dia torehkan atas diriku dengan harga yang mahal. Nyatanya sampai detik ini, tak ada sesenpun dari harga itu yang sudah aku nikmati.
Aku menatap hutan bakau yang kami lalui saat melewati jalan setapak yang berbatu - batu. Dulu, Syafrie sering mengajakku ke pantai yang letaknya di ujung jalan ini. Pantai itu tidak terlalu indah, namun cukup bersih.
Semasa berpacaran dan setelah resmi menikah, beberapa kali kami telah menghabiskan waktu bersama di sana. Duduk berdua sambil bercerita di antara rimbunan pohon bakau yang berjejer di sepanjang pantai atau berjalan - jalan santai sekedar menghirup udara segar.
Aku menyesali pertemuanku dengan Syafrie. Aku juga menyesali pernikahanku dengan lelaki itu. Lelaki yang dulu begitu ku puja - puja. Cintanya begitu ku agung- agungkan. Aku begitu mempercayainya. Hingga aku serahkan segenap rasa cinta dan kesetiaanku padanya. Aku jatuh cinta, sejatuh - jatuhnya pada Syafrie. Namun ironisnya, semua itu berakhir dengan sebuah penghianatan.
Rasa cinta di hatiku seketika berubah menjadi kebencian yang menghanguskan seluruh urat - urat di seluruh aliran darahku.
Rasa sakit akibat penghianatan nya membuat seluruh rasa di hatiku berubah hitam. Aku meradang, murka dan diliputi dendam. Dendam juga yang akhirnya membawaku pergi jauh dari kampung halamanku ini dengan luka yang berdarah - darah.
Aku menghela nafas, sesak terasa menggumpal di dada. Oh..Perihnya. Luka yang kukira sudah sembuh, ternyata belum, masih berdarah. Dan sakitnya ternyata masih sama seperti saat pertama kali. Aku kembali meradang.
Andai waktu bisa diulang kembali, aku lebih memilih untuk tidak kembali ke tempat ini. Bodohnya aku tak pernah tahu bahwa luka yang kurawat, ternyata masih sakit dan berdarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Hary Nengsih
lanjut kayanya seru
2023-09-01
0
Mr.VANO
suka cerita novelny,masih lanjut
2023-08-28
0
Halimah
nyesek banget baca nya
2023-02-14
0