Belva tampak berpikir, sebenarnya sejak kapan Sara pingsan. Apakah sejak semalam, usai pergulatan panas itu? Lantas, jika ada kecemasan secara psikis apakah yang menyebabkan semua itu?
Dalam kecemasannya, Belva memilih duduk di sebuah kursi yang berada tepat di sebelah brankar di mana Sara berbaring. Pria itu menatap iba pada wanita yang terkulai lemas akibat perbuatannya. Tidak menyangka bahwa efeknya akan menjadi seperti ini.
Bisa dikatakan pandangan Belva sekarang ini hanyalah sosok Sara, tidak ada yang lain. Dalam hatinya, pria itu berharap bahwa Sara akan segera sadar.
Beberapa sakit berlalu, kamar tempat Sara dirawat terasa begitu hening. Hingga sampai pada akhirnya, Belva merasakan gerakan dari jari tangan Sara yang bergerak perlahan. Kelopak matanya pun tampak bergerak samar, hingga wanita itu akhirnya mengerjap dan perlahan-lahan kelopak matanya pun terbuka.
"Kamu sudah bangun?" tanya Belva dengan penuh panik.
Setiap waktu yang dia lalui di dalam kamar perawatan ini layaknya sebuah penantian yang panjang. Sekarang, saat Sara membuka matanya, rasanya Belva benar-benar lega.
Akan tetapi, Sara masih belum sepenuhnya sadar.
"Aku di mana?" tanyanya dengan lirih.
Belva perlahan bergerak dan segera memeluk tubuh dengan lunglai itu, "Aku mengkhawatirkan kamu. Maafkan aku," ucapnya yang memang merasa bersalah.
Sementara Sara hanya diam, tak merespons ucapan dari Belva. Dirinya terlalu pusing dengan semuanya, rasa sakit di seluruh badan bertambah dengan jarum infus yang menusuk pembuluh venanya.
Membiarkan badan Belva sedikit menindihnya dan memberikan pelukan untuk Sara. Rasanya kelegaan menyelimuti diri Belva. Setelahnya, Belva pun segera memencet tombol yang menghubungkan dengan perawat, dia masih ingat bahwa masih ada obat yang harus dimasukkan melalui selang infus.
Setelahnya, perawat pun segera datang dan menyuntikkan obat melalui selang infus.
"Obat sudah kami suntikkan ya Pak... apa makan siang juga, nanti bisa tolong disuapkan kepada pasien," ucap perawat itu sembari menunjuk pada nampan berisi makan siang dari Rumah Sakit tersebut.
Belva mengangguk, jika sebatas menyuapi Sara tentu saja akan dia lakukan karena dia tidak merasa keberatan. Sara tergolek lemas di Rumah Sakit juga karena salahnya, jadi sudah pasti Belva akan bertanggung jawab sepenuhnya.
"Jangan bergerak dulu, kamu masih sakit. Jika butuh apa saja bilang sama aku," ucap Belva yang kemudian mengambil tempat duduk di sisi brankar Sara.
Sara hanya mengangguk, dan enggan berbicara. Seingatnya semalam dirinya menangis dalam tidur, sekarang bagaimana dirinya berada di Rumah Sakit dan jarum infus terpasang di tangannya.
"Saya kenapa, Pak?" tanya Sara. Badannya merasa remuk redam saat ini dan juga merasakan ada rasa nyeri yang menjalar di sekitar pangkal pahanya.
Belva pun menghela nafasnya, "Maafkan aku, Sara. Kamu terkena Sinkop Vasovagal, pingsan usai melakukan hubungan suami istri. Apa kemarin kamu belum siap? Apa aku terlalu melukaimu?" tanya pria dengan terus-terang kepada Sara.
Sara menggeleng, "** ... tidak, Pak," jawabnya dengan suara yang masih terdengar begitu lemah.
"Jangan ditutupi, katakan saja kalau aku menyakitimu. Aku tidak akan menyentuhmu lagi, maaf," ucap pria itu pada akhirnya.
Rasa bersalah hingga membuat nyawa Sara dalam bahaya sudah menjadi pukulan tersendiri bagi Belva, dia tidak ingin menyentuh Sara lagi jika berakhir di rumah sakit.
Sara melihat wajah Belva yang terlihat begitu khawatir. Ada rasa simpati yang ditunjukkan pria itu, setelah sekian lama hidup sebatang kara akhirnya Sara kembali merasakan sosok yang memperhatikannya. Sayangnya, bagi Sara perhatian Belva saat ini hanya sekadar karena pria itu membutuhkan tubuhnya dan rahimnya untuk menampung benihnya hingga bersemai dan menjadi bayi selama 9 bulan 10 hari. Usai itu, sudah pasti dirinya akan dibuang Belva begitu saja.
"Tidak Pak, saya tidak apa-apa," sahut Sara. Sejujurnya, dia juga merasa tidak enak dengan Belva. Tujuan pria itu adalah ingin segera membuatnya hamil, tetapi dirinya justru pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Sara pun tidak yakin bahwa dia bisa langsung hamil hanya dengan sekali berhubungan dengan Belva.
"Sekali pun kamu, tidak mau mengakuinya. Akan tetapi, aku tahu bahwa kamu belum siap dengan semuanya. So, i am sorry." Belva berkata dengan sungguh-sungguh dan dia meminta maaf untuk semuanya.
Setelahnya Belva berdiri dan mengambil nampan yang berisi makanan itu, "Makan yah, biar aku yang menyuapi kamu."
Pria itu mengambil sendok dan hendak menyuapkan nasi dengan sayuran itu kepada Sara. Akan tetapi, Sara justru menggeleng, "Saya bisa sendiri, Pak."
"Biar aku saja, itu tangan kamu masih diinfus." Belva menjawab dan tetap bersikukuh untuk menyuapi Sara.
Akhirnya mau tidak mau pun, Sara membuka mulutnya menerima setiap suapan dari Belva. Sekalipun makanan itu hambar, tetapi Sara tetap mengunyah dan menelannya. Sara pun tidak berani protes jika makanan rumah sakit itu tidak seenak masakan Bibi Wati di kediaman Belva.
"Habiskan ya, supaya kamu cepat sembuh. Setelah ini minum dan istirahat sampai kamu benar-benar pulih." Belva kembali berbicara dan kali ini bisa membukakan botol air mineral untuk Sara.
Sara pun mengangguk, "Terima kasih, Pak."
"Hmm, kalau perlu apa-apa panggil aku saja, aku yang akan menjagamu sampai kamu pulih," ucapnya kali ini menegaskan bahwa dirinya sendirilah yang akan menjaga Sara.
Setelah membantu Sara untuk makan, Belva kemudian duduk di sofa yang berada di depan brankar tempat Sara berbaring. Sementara Sara kini berbaring di brankar dengan posisi setengah duduk, karena brankar yang ditempati Sara bisa diatur dengan sebuah remote dan bisa diatur dalam posisi duduk juga.
Hingga menjelang sore Dokter Rinta kembali datang dan melakukan visiting kepada Sara.
"Halo, Bu Sara bagaimana kabarnya? Ibu sudah sadar?" sapa Dokter itu dengan ramah.
Perlahan Sara pun mengangguk, "Iya Dok," jawabnya dengan suara yang masih lemah. Kekuatannya memang belum pulih sepenuhnya.
"Masa paling membahayakan sudah berakhir ya Bu Sara, sekarang tinggal memulihkan kekuatan Anda saja. Jika sudah sehat, besok siang atau sore Anda bisa segera pulang. Juga, jika berhubungan suami istri sebaiknya menunggu kesiapan Anda, Bu Sara. Suami Anda pasti akan memahaminya," ucap Dokter Rinta kali ini dengan menatap tajam sosok Belva.
Sara pun mengangguk, dia tahu bahwa Dokter Rinta sedang membicarakan Belva. Dalam hatinya pun, Sara juga merasa bersalah. Sebab pingsannya dia juga bukan murni kesalahan Belva sepenuhnya.
"Apa pernah ada kecemasan sebelumnya Bu, sehingga Anda bisa pingsan?" tanya Dokter Rinta kepada Sara.
Ingin menjawab pun rasanya sulit. Sebenarnya bukan kecemasan, tetapi selama dirinya bekerja di bar sudah beberapa kali dirinya nyaris menjadi korban pemerkosaan para pria hidung belang. Mungkin itulah yang membuatnya merasakan cemas berlebih hingga berakhir pingsan usai Belva menyetubuhinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bzaa
sara masih trauma kykny..
2022-10-19
0
Sony Phn
Harusnya Dokter sudah memberikan nasehat pada Sara bagaimana cara terbaik berhubungan intim dan tentunya sara sudah mengerti. Jadi gk perlu sara bertanya tanya yg pada akhirnya sara gk pernah tahu cara mengobatinya.
2022-10-12
1
🌴 ńõñã bëhëĺ
coba sara jangan panggil pak dong thor..
mas aja lebih pantas
2022-09-10
0