Dinikahi secara sembunyi-sembunyi, lantas harus serumah dengan istri pertama tentu menjadi malapetak bagi seorang wanita, termasuk Sara. Takdirnya memang pilu, kerja sama yang dipilihnya untuk menyewakan rahim pada Belva sesungguhnya hanya merugikan dirinya saja. Akan tetapi, di sisi lain Sara seolah tidak memiliki pilihan lain.
Sara menggigit bibir dalamnya saat Anin mengatakan bahwa hubungan mereka bertiga hanya sebatas kerja sama dan tidak melibatkan perasaan. Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya. “Tidak bisakah aku tetap tinggal di kost saja? Aku seperti duri dalam daging, ya duri dalam pernikahan kalian berdua. Maaf ... aku tidak mau.” Ucap Sara kepada Anin dan juga Belva.
Anin dengan segera menolak permintaan Sara. “Tidak Sara. Membiarkan Ibu Hamil hidup sendiri itu sangat berisiko. Lagipula ada anak Belva yang akan menghuni rahimmu, biarkan aku dan Belva akan turut menjaga dan merawatmu sampai bayi itu lahir. Setelahnya kau bebas untuk memilih jalan hidupmu.” Sahut Anin dengan tegas.
“Anin benar, terlalu berisiko membiarkan Ibu Hamil hidup sendirian. Bagaimana jika nanti kau mual, muntah, atau sebagainya. Setidaknya ada Asisten Rumah Tangga yang siaga di rumah. Untuk kontrol kehamilan, kau juga bisa ditemani Anin dan aku juga.” Ucap Belva.
Anin lantas menggenggam satu tangan Sara. “Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ikutlah tinggal dengan kami. Lagipula banyak kamar di rumah kami. Aku juga tidak setiap hari berada di rumah, jam kerjaku sebagai seorang model sangat tinggi. Terkadang aku juga melakukan pemotretan di luar negeri. Sekalipun aku tidak bisa turut menjagamu setiap hari, Belva benar. Ada ART yang siap 24 jam di rumah kami.”
Kening Sara nampak pusing, bagaimana mungkin seorang wanita cantik seperti Anin tidak merasa keberatan dan membiarkan Sara hidup bersama dengan mereka. Dengan berat hati akhirnya Sara pun menerima usulan dari Anin itu.
“Baiklah, aku akan ikut bersama kalian.” Jawab Sara.
Anin pun lantas tersenyum. “Okay, baiklah. Pernikahan kalian juga akan digelar di rumah kami besok. Jadi siapkan dirimu, Sara. Terima kasih sudah mewujudkan impian kami.”
***
Keesokan harinya di kediaman Belva, Sara telah dijemput oleh supir dan telah resmi pindah di sana.
Saat ini gadis cantik yang hidupnya tak beruntung itu tengah bersiap di dalam kamar dengan mengenakan kebaya putih peninggalan almarhumah ibunya yang telah berpulang ke rahmatullah belasan tahun yang lalu. Kebaya putih yang dulunya dikenakan oleh ibunya saat menikah dengan ayahnya. Kebaya putih itu sangat sederhana, tidak ada hiasan payet yang memperindah kebaya itu, hanya bordiran bunga-bunga yang berada di area dada dan ujung tangan. Benar-benar sangat sederhana.
Sara pun tidak dirias oleh Make Up Artist layaknya pengantin yang hendak menikah, dia hanya mencepol rambutnya ala Kartini, dan memoles wajahnya dengan make up seadanya. Kemudian sebuah kerudung putih polos dia tutupkan di kepalanya.
Mengamati gambar dirinya di cermin, Sara kembali menangis. Benarkah dia harus menikah dengan Belva dan menjalini takdirnya sebagai wanita penyewa rahim bagi Belva. Tidak hanya menyewakan rahim, tetapi Sara juga mendonorkan indung telurnya. Sebab pembuahan tidak akan terjadi tanpa adanya indung telur.
Sewaktu kecil Sara pernah bermimpi akan menikah dengan konsep Fairytale, seorang pangeran yang akan menikahi seorang putri. Akan tetapi, ironisnya Sara justru terjebak pernikahan yang sebatas kerja sama dengan Belva. Ya, kerja sama yang tidak boleh melibatkan perasaan.
Gadis cantik berambut hitam itu termenung. Akan tetapi, lamunannya buyar saat Anin mendatanginya di dalam kamar.
“Kau sudah siap Sara? Ayo, kita turun ke bawah. Ijab Qoubul akan segera dilaksanakan.” Ucap Anin sembari mendatangi Sara.
Sara pun menganggukkan kepalanya lalu merapikan kerudung yang hanya menutupi rambutnya. “Ya, aku sudah siap.”
Dengan tangannya sendiri Anin membawa Sara turun, terlihat tidak ada kesedihan di wajah Sara saat menikahkan suaminya sendiri dengan Sara. Justru kebahagiaan yang terlihat jelas di wajah Sara.
Sementara di bawah, Belva tengah duduk. CEO kaya raya itu hanya mengenakan jas berwarna hitam dan sebuah peci hitam berada di atas kepalanya. Belva nampak tenang duduk bersila sembari menunggu kedatangan Sara.
Perlahan Sara dan Anin menuruni anak tangga dan kemudian Sara ditempatkan Anin untuk duduk di sisi Belva, di depan meja dan sudah bersiap penghulu di sana.
“Saya terima nikah dan kawinnya Sara Valeria binti Hartawan dengan emas kawin tersebut tunai.” Ucap Belva mengucapkan Ijab Qoubul dalam satu tarikan napas.
“Sah.” Ucap penghulu, dan pekerja di rumah Belva yang menjadi saksi pernikahan mereka, bahkan Anin pun tersenyum.
Derai air mata langsung membanjiri wajah Sara begitu kata “sah” diucapkan. Menikah tanpa diwakili Ayahnya yang juga sudah berpulang ke rahmatullah, menikah hanya untuk menyewakan rahim, Sara menangis tanpa suara saat lantunan Surat An-Nisa ayat 1 dan Surat Ar-Rum ayat 21 dibacakan.
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (Surat An-Nisa ayat 1)
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Surat Ar-Rum ayat 21)
Usai dua surat suci tersebut dilantunkan, Sara lantas mencium punggung tangan Belva sebagai wujud bahwa dia akan taat kepada Belva sebagai suaminya, sekalipun hanya suami di atas kertas. Pun demikian dengan Belva yang mencium kening Sara.
Mahar yang diberikan Belva pun sangat fantastis yaitu uang sesuai kesepakatan mereka berdua yaitu uang sebesar lima milyar rupiah.
Namun, semua itu tidak berarti bagi Sara. Hidupnya justru tergadaikan karena telah menikah dengan Belva dan dia hanya akan menjadi seorang penyewa rahim saja. Setelah anaknya lahir, semuanya akan berakhir. Dia akan menjadi janda satu tahun ke depan dan terpisah dari anak yang akan dikandungnya sendiri. Tiada wanita yang merasakan sesak di dada di hari pernikahan layaknya Sara, di saat para wanita akan berbahagia lantaran telah menikah. Akan tetapi, Sara justru bersedih dan akan mengingat hari ini di mana dia telah mengambil keputusan yang akan sangat berpengaruh bagi hidupnya untuk tahun-tahun yang akan datang. Tidak! Untuk seumur hidup lebih tepatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bzaa
anin....cius? gak bakalan nyesel?
gak takut kl belva lebih condong ke sara?
kita gak bisa memprediksi ketika tiba2 cinta datang tanpa di duga..
2022-10-19
1
Isti Qomah
yg bakal nyesel sapa y anin apa sara thor
2022-08-31
2
Sri Wahyuni
ga tau k dpan y sar nasib orang brbeda bda jngn trllu lebay sdih y bnuk noh janda d luaran sana yg sukses drpda krja d bar yg resiko ga aman mnding punya duit 5m buat modal lhian jg ga zinah kan
2022-08-29
1