Sara memasuki kamarnya dengan rasa yang berkecamuk di dada. Bisakah dia membatalkan perjanjian dengan Belva. Sungguh dua hari berada di rumah ini tidak ada kedamaian dalam hatinya. Sekalipun Anin nampak menerimanya dengan baik, tetapi Sara merasa bahwa tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuknya. Lagipula setiap wanita ingin menjadi sosok satu-satunya di hati dan hidup suaminya. Sara pun yakin bahwa Anin juga mengharapkan hal yang sama.
Sara berdiri di balik jendela kaca di kamarnya, gadis ayu itu menatap langit malam di luar sana yang menghitam. Berusaha menemukan kerlipan bintang di gelapnya selimut malam itu rasanya tidak bisa. Jari jari tangannya memegangi tirai berwarna abu-abu dengan pikiran bahwa mungkinkah Sara akan segera menemukan kebebasannya.
Gadis itu termenung, dengan mata yang menatap ke hamparan langit malam yang gelap. Dia hingga tak menyadari jika Belva telah membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kaki ke dalam kamarnya.
“Ehem, apa kamu lihat?” tanya Belva dengan berjalan perlahan ke arah Sara.
Gugup. Sara berusaha menetralkan terlebih dahulu jantungnya lantaran tiba-tiba saja Belva telah berada di dalam kamarnya.
“Saya hanya lihat-lihat saja Pak.” sahut Sara dengan singkat. “Kenapa Pak Belva bisa berada di sini?” tanya Sara dengan gugup.
Belva justru menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. “Apa aku perlu izin untuk memasuki kamar ini? Bukankah kamu juga istriku. Kamu juga sah dan halal bagiku bukan?”
Sara hanya terdiam, dia tidak mampu membalas ucapan Belva. Gadis itu hanya mengepalkan salah satu tangannya.
Apakah akan terjadi malam ini ya Tuhan?
Sara hanya mampu membatin ucapannya tanpa mampu berkata-kata di hadapan Belva.
Tanpa bersuara, Belva menarik tangan Sara dan kemudian membawa tubuh gadis itu dalam pelukannya.
“Hanya sebuah pelukan, supaya kau terbiasa denganku.” ucap Belva sembari tangannya mengusap lembut rambut Sara.
Berbeda dengan Belva, kedua tangan Sara justru semakin kaku rasanya. Tidak mampu membalas pelukan dari suami yang menikahinya hanya sekadar kerja sama dalam satu tahun itu.
Suasana di dalam kamar itu terasa hening, hanya deru nafas yang lembut dari Belva dan Sara.
“Kenapa kamu begitu kaku? Apa sebelumnya tidak ada pria yang memelukmu seperti ini?” tanya Belva dengan posisi dia masih memeluk Sara.
Sekali lagi Sara tak mampu menjawab, jangankan pria yang memeluknya. Seumur hidupnya saja dia tidak pernah berpacaran. Beberapa pria memang pernah memintanya untuk berpacaran, tetapi Sara menolaknya. Garis hidupnya yang pilu, membuat Sara hanya fokus mencari rupiah demi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengisi perut.
Merasakan tidak ada jawaban dari Sara, Belva lantas mengurai pelukannya tetapi kedua tangannya masih bertengger indah di lengan Sara.
“Hei, jadi apakah benar sebelumnya kamu tidak pernah berpelukan? Bahkan cara membalas pelukan seseorang yang memelukmu pun kamu tidak tahu?” tanyanya sembari menatap bola mata yang dengan manik hitam yang bergerak-gerak sangat indah itu.
Sara lantas menunduk dan tidak tahu harus menjawab Belva seperti apa, jika dia mengatakan bahwa memang tidak ada pria yang memeluknya sebelumnya apakah Belva akan menertawakannya? Sebagai gadis yang cantik dan tinggal di Ibukota, Sara justru tidak pernah merasakan pelukan dari seorang pria. Jikalau ada itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, saat Ayahnya masih ada dan cinta pertamanya itulah yang akan memeluknya.
Diamnya Sara cukup menjadi jawaban valid bahwa gadis itu tak pernah tersentuh sebelumnya, bahkan Belva masih ingat pada hari di mana dia membantu Sara yang tengah dilecehkan di bar malam itu, gadisnya tangisan dan raungan gadis itu dan kakinya yang bergetar seolah tidak mampu menahan lagi berat tubuhnya.
Kali ini dalam diamnya Sara, Belva justru kembali menarik tubuh Sara dalam pelukannya. “Diammu aku anggap sebagai jawaban bahwa aku adalah pria pertama yang menyentuhmu seperti ini.” ucap Belva tepat di sisi telinga Sara, yang membuat gadis itu meremang dan benar-benar tak mampu berkutik saat ini.
Belva nampak memejamkan matanya sembari masih memeluk tubuh Sara. Merasakan aroma shampoo yang menguar dari rambutnya dan aroma vanilla yang lembut dari tubuh Sara. Hanya sebatas pelukan bahwa Sara tidak membalasnya, tetapi kenapa Belva justru merasa tenang dan hangat saat memeluk Sara seperti ini.
Tiba-tiba otak cemerlang Belva menghasilkan sebuah ide.
“Malam ini aku akan tidur di sini. Tenang saja, aku tidak meminta malam ini. Aku cukup memelukmu saja supaya kamu semakin kenal denganku.” ucap Belva dengan senyuman menyeringai di bibirnya.
Sementara Sara yang memutar bola matanya dengan malas. “Lebih baik Pak Belva kembali ke kamar Pak. Maaf.” hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Sara. Dengan tangannya yang berusaha mengurai pelukan Belva.
“Apa kau takut padaku? Kau takut pada suamimu sendiri? Hmm.” tanya Belva yang kini justru mengeratkan pelukannya.
Diam. Ya, Sara hanya mampu diam. Takut tentu saja, Belva baru dikenalnya beberapa hari dan walaupun status mereka suami istri, tetapi terlalu cepat memulai semuanya bersama Belva.
“Diammu aku anggap sebagai jawaban.” lagi Belva berbicara.
Kali ini Belva mengurai pelukannya, tetapi dia membawa Sara menuju tempat tidur.
“Sekarang tidurlah sudah malam, aku akan di sini. Jadi jangan mengusir suamimu sendiri. Kau harus terbiasa denganku, supaya kamu tidak akan takut denganku.” lagi Belva berbicara sembari merebahkan dirinya di sisi Sara.
“Eh, tapi Pak … jangan seperti ini.” ucap Sara yang terasa begitu canggung berada di atas satu tempat tidur dengan Belva.
Belva justru tak menghiraukan Sara. “Tidurlah, kini harus kenalan dulu. Jika tidak kenal, bagaimana kita bisa melakukannya?”
Sara kini menggigit bibir bagian dalamnya.
Apakah cukup hanya berkenalan untuk melakukan hal semacam itu? Tidak perlukah cinta untuk bisa menghasilkan seorang buah hati? Apa semua pria bisa dengan mudahnya meniduri wanita tanpa ada cinta?
Jengah jika harus berdebat dengan Belva, Sara pun merebahkan dirinya dan memunggungi Belva begitu saja. Namun, saat Sara baru saja memunggunginya Belva justru menelisipkan satu tangannya di bawah kepala Sara dan satu tangan yang melingkari pinggang Sara. Posisi yang membuat Sara tidak nyaman dan serasa ingin lari saat ini.
“Tidurlah … sekarang sudah benar. Adaptasilah secepatnya, jangan kaku padaku. Semakin misi kita berjalan, semakin baik bukan? Waktu terus mengejar kita berdua.” ucap Belva yang justru kian mengeratkan pelukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Decey Aja
ngakak sendiri bacanya...
2023-04-26
0
Bzaa
belva... dasar lelaki😄
2022-10-19
0
Kokom Komala
dimana mana laki laki kalou berdekatan dengan cewe pasti ada rasa begitu juga Ama cewe tapi kenapa Ama sara ko bias aja
2022-08-26
0