Tidak Perlukah Cinta?

Sara memasuki kamarnya dengan rasa yang berkecamuk di dada. Bisakah dia membatalkan perjanjian dengan Belva. Sungguh dua hari berada di rumah ini tidak ada kedamaian dalam hatinya. Sekalipun Anin nampak menerimanya dengan baik, tetapi Sara merasa bahwa tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuknya. Lagipula setiap wanita ingin menjadi sosok satu-satunya di hati dan hidup suaminya. Sara pun yakin bahwa Anin juga mengharapkan hal yang sama.

Sara berdiri di balik jendela kaca di kamarnya, gadis ayu itu menatap langit malam di luar sana yang menghitam. Berusaha menemukan kerlipan bintang di gelapnya selimut malam itu rasanya tidak bisa. Jari jari tangannya memegangi tirai berwarna abu-abu dengan pikiran bahwa mungkinkah Sara akan segera menemukan kebebasannya.

Gadis itu termenung, dengan mata yang menatap ke hamparan langit malam yang gelap. Dia hingga tak menyadari jika Belva telah membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kaki ke dalam kamarnya.

“Ehem, apa kamu lihat?” tanya Belva dengan berjalan perlahan ke arah Sara.

Gugup. Sara berusaha menetralkan terlebih dahulu jantungnya lantaran tiba-tiba saja Belva telah berada di dalam kamarnya.

“Saya hanya lihat-lihat saja Pak.” sahut Sara dengan singkat. “Kenapa Pak Belva bisa berada di sini?” tanya Sara dengan gugup.

Belva justru menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. “Apa aku perlu izin untuk memasuki kamar ini? Bukankah kamu juga istriku. Kamu juga sah dan halal bagiku bukan?”

Sara hanya terdiam, dia tidak mampu membalas ucapan Belva. Gadis itu hanya mengepalkan salah satu tangannya.

Apakah akan terjadi malam ini ya Tuhan?

Sara hanya mampu membatin ucapannya tanpa mampu berkata-kata di hadapan Belva.

Tanpa bersuara, Belva menarik tangan Sara dan kemudian membawa tubuh gadis itu dalam pelukannya.

“Hanya sebuah pelukan, supaya kau terbiasa denganku.” ucap Belva sembari tangannya mengusap lembut rambut Sara.

Berbeda dengan Belva, kedua tangan Sara justru semakin kaku rasanya. Tidak mampu membalas pelukan dari suami yang menikahinya hanya sekadar kerja sama dalam satu tahun itu.

Suasana di dalam kamar itu terasa hening, hanya deru nafas yang lembut dari Belva dan Sara.

“Kenapa kamu begitu kaku? Apa sebelumnya tidak ada pria yang memelukmu seperti ini?” tanya Belva dengan posisi dia masih memeluk Sara.

Sekali lagi Sara tak mampu menjawab, jangankan pria yang memeluknya. Seumur hidupnya saja dia tidak pernah berpacaran. Beberapa pria memang pernah memintanya untuk berpacaran, tetapi Sara menolaknya. Garis hidupnya yang pilu, membuat Sara hanya fokus mencari rupiah demi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengisi perut.

Merasakan tidak ada jawaban dari Sara, Belva lantas mengurai pelukannya tetapi kedua tangannya masih bertengger indah di lengan Sara.

“Hei, jadi apakah benar sebelumnya kamu tidak pernah berpelukan? Bahkan cara membalas pelukan seseorang yang memelukmu pun kamu tidak tahu?” tanyanya sembari menatap bola mata yang dengan manik hitam yang bergerak-gerak sangat indah itu.

Sara lantas menunduk dan tidak tahu harus menjawab Belva seperti apa, jika dia mengatakan bahwa memang tidak ada pria yang memeluknya sebelumnya apakah Belva akan menertawakannya? Sebagai gadis yang cantik dan tinggal di Ibukota, Sara justru tidak pernah merasakan pelukan dari seorang pria. Jikalau ada itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, saat Ayahnya masih ada dan cinta pertamanya itulah yang akan memeluknya.

Diamnya Sara cukup menjadi jawaban valid bahwa gadis itu tak pernah tersentuh sebelumnya, bahkan Belva masih ingat pada hari di mana dia membantu Sara yang tengah dilecehkan di bar malam itu, gadisnya tangisan dan raungan gadis itu dan kakinya yang bergetar seolah tidak mampu menahan lagi berat tubuhnya.

Kali ini dalam diamnya Sara, Belva justru kembali menarik tubuh Sara dalam pelukannya. “Diammu aku anggap sebagai jawaban bahwa aku adalah pria pertama yang menyentuhmu seperti ini.” ucap Belva tepat di sisi telinga Sara, yang membuat gadis itu meremang dan benar-benar tak mampu berkutik saat ini.

Belva nampak memejamkan matanya sembari masih memeluk tubuh Sara. Merasakan aroma shampoo yang menguar dari rambutnya dan aroma vanilla yang lembut dari tubuh Sara. Hanya sebatas pelukan bahwa Sara tidak membalasnya, tetapi kenapa Belva justru merasa tenang dan hangat saat memeluk Sara seperti ini.

Tiba-tiba otak cemerlang Belva menghasilkan sebuah ide.

“Malam ini aku akan tidur di sini. Tenang saja, aku tidak meminta malam ini. Aku cukup memelukmu saja supaya kamu semakin kenal denganku.” ucap Belva dengan senyuman menyeringai di bibirnya.

Sementara Sara yang memutar bola matanya dengan malas. “Lebih baik Pak Belva kembali ke kamar Pak. Maaf.” hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Sara. Dengan tangannya yang berusaha mengurai pelukan Belva.

“Apa kau takut padaku? Kau takut pada suamimu sendiri? Hmm.” tanya Belva yang kini justru mengeratkan pelukannya.

Diam. Ya, Sara hanya mampu diam. Takut tentu saja, Belva baru dikenalnya beberapa hari dan walaupun status mereka suami istri, tetapi terlalu cepat memulai semuanya bersama Belva.

“Diammu aku anggap sebagai jawaban.” lagi Belva berbicara.

Kali ini Belva mengurai pelukannya, tetapi dia membawa Sara menuju tempat tidur.

“Sekarang tidurlah sudah malam, aku akan di sini. Jadi jangan mengusir suamimu sendiri. Kau harus terbiasa denganku, supaya kamu tidak akan takut denganku.” lagi Belva berbicara sembari merebahkan dirinya di sisi Sara.

“Eh, tapi Pak … jangan seperti ini.” ucap Sara yang terasa begitu canggung berada di atas satu tempat tidur dengan Belva.

Belva justru tak menghiraukan Sara. “Tidurlah, kini harus kenalan dulu. Jika tidak kenal, bagaimana kita bisa melakukannya?”

Sara kini menggigit bibir bagian dalamnya.

Apakah cukup hanya berkenalan untuk melakukan hal semacam itu? Tidak perlukah cinta untuk bisa menghasilkan seorang buah hati? Apa semua pria bisa dengan mudahnya meniduri wanita tanpa ada cinta?

Jengah jika harus berdebat dengan Belva, Sara pun merebahkan dirinya dan memunggungi Belva begitu saja. Namun, saat Sara baru saja memunggunginya Belva justru menelisipkan satu tangannya di bawah kepala Sara dan satu tangan yang melingkari pinggang Sara. Posisi yang membuat Sara tidak nyaman dan serasa ingin lari saat ini.

“Tidurlah …  sekarang sudah benar. Adaptasilah secepatnya, jangan kaku padaku. Semakin misi kita berjalan, semakin baik bukan? Waktu terus mengejar kita berdua.” ucap Belva yang justru kian mengeratkan pelukannya.

Terpopuler

Comments

Decey Aja

Decey Aja

ngakak sendiri bacanya...

2023-04-26

0

Bzaa

Bzaa

belva... dasar lelaki😄

2022-10-19

0

Kokom Komala

Kokom Komala

dimana mana laki laki kalou berdekatan dengan cewe pasti ada rasa begitu juga Ama cewe tapi kenapa Ama sara ko bias aja

2022-08-26

0

lihat semua
Episodes
1 Kisah Pilu Sara Valeria
2 Menyewa Rahim
3 Hitam di atas Putih
4 Bertemu Istri Sah
5 Pernikahan Lima Milyar
6 Istri Dua Belas Bulan
7 Sikap Baik Anin
8 Sarapan Satu Meja
9 Rumah Hampa Tanpa Cinta
10 Tidak Perlukah Cinta?
11 Satu Malam
12 Upaya Belva
13 Hotel Bintang Lima
14 Pelajaran Berharga
15 Menjalankan Misi Utama
16 Rasa Bersalah
17 Sinkop Vasovagal
18 Menemukan Kesadaran
19 Perasaan Simpati
20 Kedatangan Anin
21 Temanilah Sara
22 Berbagi Harapan
23 Agenda Honeymoon
24 Pilihan Anin
25 Annyeong, Seoul!
26 Panorama Namsan Seoul Tower
27 Semua Butuh Waktu
28 Seoul Trip 1
29 Seoul Trip 2
30 Cerita Belva
31 Perpaduan Genetik
32 Jeju Island
33 Efek Hujan Deras
34 Kali Kedua
35 Menekan Perasaan
36 Tokophobia
37 Keanehan Belva
38 Penghilang Mual
39 Couvade Syndrom
40 Membeli Test Kehamilan
41 Berjaga Semalaman
42 Dua Garis?
43 Mood yang Membaik
44 Keributan Kecil
45 Mengendap-endap
46 Permintaan Tiba-Tiba
47 Saran Dokter
48 Pecel Lele Nasi Uduk
49 Pertanyaan Anin
50 Menidurkan Sementara
51 Berdua di Rumah
52 Lantaran Mati Lampu
53 Tak Bisa Berhenti
54 Pesta Relasi
55 Kenyataan Pahit
56 Perasaan Sakit
57 Menjaga Jarak
58 Boy or Girl
59 Ungkapan Bahagia
60 Bentuk Perhatian
61 Kopi Lab
62 Teman Baru
63 Kecemburuan?
64 Cappuccino vs Latte
65 Menemani Anin Terapi
66 Raut Wajah yang Berbeda
67 Berbagai Pertanyaan Anin
68 Pemotretan
69 Foto yang Bagus
70 Mempersiapkan Nama Baby
71 37 Weeks
72 Haruskah Melakukan Saran Dokter?
73 Kontraksi
74 Mengalihkan Rasa Sakit
75 Welcome Baby Boy!
76 Nama Menyematkan Doa dan Harapan
77 Visiting Baby Evan
78 Pelajaran Berharga Menjadi Ibu
79 Rumah Penuh Kebahagiaan
80 Memberikan Perhatian
81 Malam-Malam Orang Tua Baru
82 Belva yang Impulsif
83 Keputusan Terbesar Anin
84 Anin yang Belajar
85 Sebulan Berlalu
86 Momen Berharga Bersama Baby Evan
87 Sehari Bersama Belva
88 Berpapasan dengan Anthony
89 Menggenggam Perasaan Sendiri
90 Sepekan Tersisa
91 Tawaran Terakhir
92 Keputusan Terakhir Sara
93 Terbawa Perasaan
94 Selamat Tinggal
95 Sama-Sama Kehilangan
96 Memori Terpahit
97 Kepedihan Mendalam
98 Menjadi Ibu Susu
99 Bertemu Seorang Teman
100 Usaha Mencari Sara
101 Terus Melanjutkan Hidup
102 Partner Bisnis
103 Obrolan Suami Istri
104 Soft Opening Coffee Shop
105 Kejujuran Sara
106 Alasan Nikah Mut'ah
107 Tumbuh Kembang Evan yang Terlewatkan
108 Zaid Berterus-terang
109 Semua Karena Perasaan
110 Memberi Waktu
111 Pria Pantang Menyerah
112 Evan Is Turning One
113 Paketan Hadiah untuk Evan
114 Mencoba dengan Serius
115 Mengejar Cinta Janda
116 Memaklumi Masa Lalu
117 Family Holiday
118 Cinta Mula-Mula
119 Menyembunyikan Rasa Sakit
120 Kebiasaan Tersembunyi Belva
121 Keributan di Coffee Shop
122 Kebenaran yang Sulit Diterima
123 Penjelasan Zaid
124 Waktu-Waktu yang Berlalu
125 Frappuccino yang Autentik
126 Kebun Raya Bogor
127 Hari Penuh Kejutan
128 Debaran Tak Terhingga
129 Interaksi Dingin
130 Evan Merajuk
131 Hati Tidak Tenang
132 Kejujuran Belva
133 Lima Belas Menit Berharga
134 Bounding dengan Evan
135 Harus Kembali ke Jakarta
136 Rindu yang Tertahan
137 Kedatangan Tiba-Tiba
138 Dari Bogor ke Jakarta
139 Menginjakkan Kaki di Kediaman Belva
140 Kenyataan Pahit
141 Mempertimbangkan Perasaan
142 Semua Jawaban Belva
143 Keinginan Terbesar Evan
144 Membuka Tabir
145 Sweet Saturday
146 Mengudar Rasa
147 Pria Patah Hati
148 Pangggilan Video
149 Menuju Hari Bahagia
150 Special Moment
151 Pria Berhati Emas
152 Bukan Malam Pertama
153 Gumaman Belva
154 Pagi yang Indah
155 Menata Masa Depan
156 Welcome to Bintan
157 Menuntaskan Misi
158 Kebahagiaan Penuh
159 Pertanyaan Paling Mendebarkan
160 Selamat Pagi
161 Promosi Novel: Hasrat Terlarang Sang Istri
162 One Day Trip in Bintan
163 Kemarau Basah
164 Sensasi Sore
165 Berbagi Cerita
166 Luapan Kerinduan pada Evan
167 Pizza Casa de Italia
168 Menuju ke Singapura
169 Bertemu Mertua untuk Pertama Kali
170 Penjelasan Belva kepada Orang Tuanya
171 Diterima dengan Hangat
172 Kelegaan Sara
173 Cerita Mertua dan Menantu
174 Orchard Road
175 Malam Terakhir di Singapura
176 Kembali ke Jakarta
177 Rumah dengan Harapan Baru
178 Kembali ke Rutinitas
179 Banyaknya Pekerjaan
180 Obrolan Suami dan Istri
181 Evan Merajuk
182 Kooperatif Parenting
183 Penyambung Lidah Anak
184 Bounding Time dengan Evan
185 Swimming Time!
186 Practice Makes Perfect!
187 Pertanyaan Kristis Evan
188 Banyak Anak Banyak Rezeki
189 Mengunjungi Kota Bogor
190 Foto Kenangan
191 Misi Tak Terselesaikan
192 Mengunjungi Coffee Bay
193 Usaha Totalitas Tanpa Batas
194 Menyemai Bibit Unggul
195 Perilaku Aneh Belva
196 Demam Dadakan
197 Morning Sickness Lagi?
198 Dua Garis Merah?
199 Rekrutmen Sekretaris Baru
200 Happy 6 Weeks!
201 Parent Talks
202 Wawancara Sekretaris
203 Efek Rindu
204 Si Sekretaris Baru!
205 Bunga Mawar Merah
206 Sidak ke Agastya Property
207 Keterkejutan
208 Peraduan Malam Bergelora
209 After Play
210 Dinas ke Luar Kota
211 Bumil Malarindu
212 Menyusul Evan
213 Kejutan Tiba-Tiba
214 Tidur Lebih Pulas
215 Pagi Hari Penuh Cerita
216 Seharian Bersama Evan
217 Kabar Affair
218 Reaksi Sara
219 Membutuhkan Waktu Sendiri
220 Second Plan
221 Deep Talk
222 Bertemu dengan Zaid Lagi
223 Penyelidikan
224 Pikiran yang Bercabang
225 Terbenam dalam Pekerjaan
226 Keinginan Protes
227 Menyelesaikan Perkara
228 Kabar Kurang Baik
229 Harus Bedrest!
230 Menyalahkan Diri Sendiri
231 Satu Brankar
232 Ingin Kembali ke Rumah
233 Kegiatan Serba Terbatas
234 Ketika Badai Berlalu
235 Perasaan Lega
236 Bertemu Rival
237 Mencari Kebenaran
238 Membagi Masalah
239 Kebenaran Seorang Anthony
240 Memperketat Keamanan
241 Boy or Girl?
242 Vitamin Booster
243 Piknik Tipis-Tipis
244 Family Time
245 Senja di Pulau Dewata
246 Mengurai Cerita
247 Sunrise di Pulau Dewata
248 Sedikit Kecemburuan
249 Belum Sepenuhnya Usai
250 Penilaian Suami Lebih Utama
251 Tak Ada Keraguan
252 Private Party
253 Teman yang Baik
254 Malam di Pulau Dewata
255 Pagi yang Indah
256 Last Day in Bali
257 Kembali ke Jakarta
258 Oleh-Oleh dari Suami
259 38 Weeks!
260 Keresahan Menjelang Persalinan
261 Bumil's Day Out
262 Kedatangan Keluarga
263 Welcome to The World Baby Boy Junior!
264 Baby E Junior!
265 Kunjungan Keluarga
266 Welcome Home
267 Kabar dari Zaid
268 Tamu Tak Diharapkan
269 Luka yang Kembali Tersayat
270 Memperbaiki Suasana Hati
271 Mendengarkan Cerita Masa Lalu Belva
272 Curhatan Mertua dan Menantu
273 Menemani Makan Malam
274 Cinta Akan Berlabuh
275 Perjalanan Mengarungi Samudera
276 Suami Gentleman
277 Kecemburuan Evan
278 Bedtime Stories
279 Tumbuh Kembang Baby Elkan
280 Keluarga Cemara
281 Elkan is Turning One!
282 Itikad Kerja Sama
283 Semua Orang Memiliki Masa Lalu
284 Tahun-Tahun yang Berlalu
285 Menuju ke London
286 Musim Dingin yang Hangat
287 Berharap Benih kan Bersemi
288 Tour de London
289 Sepanjang Jalan Kenangan
290 Malam Terakhir di Kota London
291 Je Taime
292 City of Love
293 Romansa Cinta
294 Beratapkan Langit Kota Paris
295 Kejutan Pagi Masih Berlanjut
296 Kerinduan Seorang Ibu
297 Family Time
298 Istri Kurang Sehat
299 Dua Garis Lagi
300 Membagi Kabar Baik kepada Kiddos!
301 Happy 9 Weeks!
302 Baby A Junior!
303 Obrolan Suami Istri
304 Oleh-Oleh dari Suami
305 Perhatian yang Lebih Berkesan
306 Baby Boy atau Baby Girl?
307 Kelegaan Bahagia
308 Bahagianya Duo E
309 Jalan-Jalan Sore Berdua
310 Kehamilan yang Terus Bertambah Bulan
311 Kejutan untuk Bumil
312 Mempersiapkan Matang Menjelang Persalinan
313 Menyambut Baby Girl
314 Nama Pilihan Papa
315 Kisah Kita!
316 Promosi Novel: Terjerat Pernikahan Kontrak
317 Akhir Kata!
318 Promosi Novel: Muara Kasih Ibu Tunggal
319 Promosi Novel: Rujuk Bersyarat
320 Promosi Novel: Staycation With Boss
Episodes

Updated 320 Episodes

1
Kisah Pilu Sara Valeria
2
Menyewa Rahim
3
Hitam di atas Putih
4
Bertemu Istri Sah
5
Pernikahan Lima Milyar
6
Istri Dua Belas Bulan
7
Sikap Baik Anin
8
Sarapan Satu Meja
9
Rumah Hampa Tanpa Cinta
10
Tidak Perlukah Cinta?
11
Satu Malam
12
Upaya Belva
13
Hotel Bintang Lima
14
Pelajaran Berharga
15
Menjalankan Misi Utama
16
Rasa Bersalah
17
Sinkop Vasovagal
18
Menemukan Kesadaran
19
Perasaan Simpati
20
Kedatangan Anin
21
Temanilah Sara
22
Berbagi Harapan
23
Agenda Honeymoon
24
Pilihan Anin
25
Annyeong, Seoul!
26
Panorama Namsan Seoul Tower
27
Semua Butuh Waktu
28
Seoul Trip 1
29
Seoul Trip 2
30
Cerita Belva
31
Perpaduan Genetik
32
Jeju Island
33
Efek Hujan Deras
34
Kali Kedua
35
Menekan Perasaan
36
Tokophobia
37
Keanehan Belva
38
Penghilang Mual
39
Couvade Syndrom
40
Membeli Test Kehamilan
41
Berjaga Semalaman
42
Dua Garis?
43
Mood yang Membaik
44
Keributan Kecil
45
Mengendap-endap
46
Permintaan Tiba-Tiba
47
Saran Dokter
48
Pecel Lele Nasi Uduk
49
Pertanyaan Anin
50
Menidurkan Sementara
51
Berdua di Rumah
52
Lantaran Mati Lampu
53
Tak Bisa Berhenti
54
Pesta Relasi
55
Kenyataan Pahit
56
Perasaan Sakit
57
Menjaga Jarak
58
Boy or Girl
59
Ungkapan Bahagia
60
Bentuk Perhatian
61
Kopi Lab
62
Teman Baru
63
Kecemburuan?
64
Cappuccino vs Latte
65
Menemani Anin Terapi
66
Raut Wajah yang Berbeda
67
Berbagai Pertanyaan Anin
68
Pemotretan
69
Foto yang Bagus
70
Mempersiapkan Nama Baby
71
37 Weeks
72
Haruskah Melakukan Saran Dokter?
73
Kontraksi
74
Mengalihkan Rasa Sakit
75
Welcome Baby Boy!
76
Nama Menyematkan Doa dan Harapan
77
Visiting Baby Evan
78
Pelajaran Berharga Menjadi Ibu
79
Rumah Penuh Kebahagiaan
80
Memberikan Perhatian
81
Malam-Malam Orang Tua Baru
82
Belva yang Impulsif
83
Keputusan Terbesar Anin
84
Anin yang Belajar
85
Sebulan Berlalu
86
Momen Berharga Bersama Baby Evan
87
Sehari Bersama Belva
88
Berpapasan dengan Anthony
89
Menggenggam Perasaan Sendiri
90
Sepekan Tersisa
91
Tawaran Terakhir
92
Keputusan Terakhir Sara
93
Terbawa Perasaan
94
Selamat Tinggal
95
Sama-Sama Kehilangan
96
Memori Terpahit
97
Kepedihan Mendalam
98
Menjadi Ibu Susu
99
Bertemu Seorang Teman
100
Usaha Mencari Sara
101
Terus Melanjutkan Hidup
102
Partner Bisnis
103
Obrolan Suami Istri
104
Soft Opening Coffee Shop
105
Kejujuran Sara
106
Alasan Nikah Mut'ah
107
Tumbuh Kembang Evan yang Terlewatkan
108
Zaid Berterus-terang
109
Semua Karena Perasaan
110
Memberi Waktu
111
Pria Pantang Menyerah
112
Evan Is Turning One
113
Paketan Hadiah untuk Evan
114
Mencoba dengan Serius
115
Mengejar Cinta Janda
116
Memaklumi Masa Lalu
117
Family Holiday
118
Cinta Mula-Mula
119
Menyembunyikan Rasa Sakit
120
Kebiasaan Tersembunyi Belva
121
Keributan di Coffee Shop
122
Kebenaran yang Sulit Diterima
123
Penjelasan Zaid
124
Waktu-Waktu yang Berlalu
125
Frappuccino yang Autentik
126
Kebun Raya Bogor
127
Hari Penuh Kejutan
128
Debaran Tak Terhingga
129
Interaksi Dingin
130
Evan Merajuk
131
Hati Tidak Tenang
132
Kejujuran Belva
133
Lima Belas Menit Berharga
134
Bounding dengan Evan
135
Harus Kembali ke Jakarta
136
Rindu yang Tertahan
137
Kedatangan Tiba-Tiba
138
Dari Bogor ke Jakarta
139
Menginjakkan Kaki di Kediaman Belva
140
Kenyataan Pahit
141
Mempertimbangkan Perasaan
142
Semua Jawaban Belva
143
Keinginan Terbesar Evan
144
Membuka Tabir
145
Sweet Saturday
146
Mengudar Rasa
147
Pria Patah Hati
148
Pangggilan Video
149
Menuju Hari Bahagia
150
Special Moment
151
Pria Berhati Emas
152
Bukan Malam Pertama
153
Gumaman Belva
154
Pagi yang Indah
155
Menata Masa Depan
156
Welcome to Bintan
157
Menuntaskan Misi
158
Kebahagiaan Penuh
159
Pertanyaan Paling Mendebarkan
160
Selamat Pagi
161
Promosi Novel: Hasrat Terlarang Sang Istri
162
One Day Trip in Bintan
163
Kemarau Basah
164
Sensasi Sore
165
Berbagi Cerita
166
Luapan Kerinduan pada Evan
167
Pizza Casa de Italia
168
Menuju ke Singapura
169
Bertemu Mertua untuk Pertama Kali
170
Penjelasan Belva kepada Orang Tuanya
171
Diterima dengan Hangat
172
Kelegaan Sara
173
Cerita Mertua dan Menantu
174
Orchard Road
175
Malam Terakhir di Singapura
176
Kembali ke Jakarta
177
Rumah dengan Harapan Baru
178
Kembali ke Rutinitas
179
Banyaknya Pekerjaan
180
Obrolan Suami dan Istri
181
Evan Merajuk
182
Kooperatif Parenting
183
Penyambung Lidah Anak
184
Bounding Time dengan Evan
185
Swimming Time!
186
Practice Makes Perfect!
187
Pertanyaan Kristis Evan
188
Banyak Anak Banyak Rezeki
189
Mengunjungi Kota Bogor
190
Foto Kenangan
191
Misi Tak Terselesaikan
192
Mengunjungi Coffee Bay
193
Usaha Totalitas Tanpa Batas
194
Menyemai Bibit Unggul
195
Perilaku Aneh Belva
196
Demam Dadakan
197
Morning Sickness Lagi?
198
Dua Garis Merah?
199
Rekrutmen Sekretaris Baru
200
Happy 6 Weeks!
201
Parent Talks
202
Wawancara Sekretaris
203
Efek Rindu
204
Si Sekretaris Baru!
205
Bunga Mawar Merah
206
Sidak ke Agastya Property
207
Keterkejutan
208
Peraduan Malam Bergelora
209
After Play
210
Dinas ke Luar Kota
211
Bumil Malarindu
212
Menyusul Evan
213
Kejutan Tiba-Tiba
214
Tidur Lebih Pulas
215
Pagi Hari Penuh Cerita
216
Seharian Bersama Evan
217
Kabar Affair
218
Reaksi Sara
219
Membutuhkan Waktu Sendiri
220
Second Plan
221
Deep Talk
222
Bertemu dengan Zaid Lagi
223
Penyelidikan
224
Pikiran yang Bercabang
225
Terbenam dalam Pekerjaan
226
Keinginan Protes
227
Menyelesaikan Perkara
228
Kabar Kurang Baik
229
Harus Bedrest!
230
Menyalahkan Diri Sendiri
231
Satu Brankar
232
Ingin Kembali ke Rumah
233
Kegiatan Serba Terbatas
234
Ketika Badai Berlalu
235
Perasaan Lega
236
Bertemu Rival
237
Mencari Kebenaran
238
Membagi Masalah
239
Kebenaran Seorang Anthony
240
Memperketat Keamanan
241
Boy or Girl?
242
Vitamin Booster
243
Piknik Tipis-Tipis
244
Family Time
245
Senja di Pulau Dewata
246
Mengurai Cerita
247
Sunrise di Pulau Dewata
248
Sedikit Kecemburuan
249
Belum Sepenuhnya Usai
250
Penilaian Suami Lebih Utama
251
Tak Ada Keraguan
252
Private Party
253
Teman yang Baik
254
Malam di Pulau Dewata
255
Pagi yang Indah
256
Last Day in Bali
257
Kembali ke Jakarta
258
Oleh-Oleh dari Suami
259
38 Weeks!
260
Keresahan Menjelang Persalinan
261
Bumil's Day Out
262
Kedatangan Keluarga
263
Welcome to The World Baby Boy Junior!
264
Baby E Junior!
265
Kunjungan Keluarga
266
Welcome Home
267
Kabar dari Zaid
268
Tamu Tak Diharapkan
269
Luka yang Kembali Tersayat
270
Memperbaiki Suasana Hati
271
Mendengarkan Cerita Masa Lalu Belva
272
Curhatan Mertua dan Menantu
273
Menemani Makan Malam
274
Cinta Akan Berlabuh
275
Perjalanan Mengarungi Samudera
276
Suami Gentleman
277
Kecemburuan Evan
278
Bedtime Stories
279
Tumbuh Kembang Baby Elkan
280
Keluarga Cemara
281
Elkan is Turning One!
282
Itikad Kerja Sama
283
Semua Orang Memiliki Masa Lalu
284
Tahun-Tahun yang Berlalu
285
Menuju ke London
286
Musim Dingin yang Hangat
287
Berharap Benih kan Bersemi
288
Tour de London
289
Sepanjang Jalan Kenangan
290
Malam Terakhir di Kota London
291
Je Taime
292
City of Love
293
Romansa Cinta
294
Beratapkan Langit Kota Paris
295
Kejutan Pagi Masih Berlanjut
296
Kerinduan Seorang Ibu
297
Family Time
298
Istri Kurang Sehat
299
Dua Garis Lagi
300
Membagi Kabar Baik kepada Kiddos!
301
Happy 9 Weeks!
302
Baby A Junior!
303
Obrolan Suami Istri
304
Oleh-Oleh dari Suami
305
Perhatian yang Lebih Berkesan
306
Baby Boy atau Baby Girl?
307
Kelegaan Bahagia
308
Bahagianya Duo E
309
Jalan-Jalan Sore Berdua
310
Kehamilan yang Terus Bertambah Bulan
311
Kejutan untuk Bumil
312
Mempersiapkan Matang Menjelang Persalinan
313
Menyambut Baby Girl
314
Nama Pilihan Papa
315
Kisah Kita!
316
Promosi Novel: Terjerat Pernikahan Kontrak
317
Akhir Kata!
318
Promosi Novel: Muara Kasih Ibu Tunggal
319
Promosi Novel: Rujuk Bersyarat
320
Promosi Novel: Staycation With Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!