Rupanya apa yang diucapkan oleh seorang Belva, bukan isapan jempol semata. Dia benar-benar berniat untuk membawa Sara menuju hotel bintang lima. Tentu saja bukan sekadar bermalam, tetapi melancarkan aksinya untuk segera mendapatkan keturunan.
Sehingga, menjelang sore sang CEO sudah kembali ke kediamannya, dia lantas membawa Sara menuju sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Sekalipun berada di pusat kota, tetapi hotel ini benar-benar menyajikan panorama Ibukota yang indah. Berbagai fasilitas terbaik juga turut diberikan kepada pengunjung hotel. Akan tetapi, agaknya semua fasilitas itu tidak akan bisa Sara nikmati. Sebab, kali ini dia tidak tahu menahu harus apa berada di dalam sebuah kamar hotel dengan suami kontraknya itu. Ya, suami yang menikahinya hanya sebatas untuk mendapatkan keturunan.
"Masuklah," ucap Belva yang mempersilakan Sara untuk memasuki Presidensial Suite Room itu.
Kamar mewah dengan kaca jendela besar di dua sisi yang menyuguhkan panorama Ibukota. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah bed berukuran Super King Size, dengan selimut berwarna putih yang tebal dan juga lembut.
Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama bagi seorang Sara memasuki kamar hotel yang begitu mewahnya, hingga dirinya pun tertegun. Kamar yang super elite, fasilitas terbaik, dan panorama yang indah. Namun, saat melihat sosok Belva yang ada di sana, rasanya Sara kembali dihadapkan pada sebuah realita bahwa dia harus bersiap melepaskan mahkotanya.
"Kamu ingin makan dulu? Santai saja." Kembali Belva berbicara kepada Sara.
Sama seperti sebelumnya, kali ini Sara hanya diam. Tak mampu kembali berbicara dan menjawab pertanyaan Belva. Dirinya terlampau gugup untuk berada di dalam satu ruangan bersama dengan Belva.
Sementara Belva justru memilih melepas sepatunya, meregangkan dasinya, dan menggulung kemeja putihnya hingga ke siku. Kemudian pria itu tampak merebahkan separuh dirinya di ranjang besar dan empuk itu, dengan kakinya yang masih menggantung di lantai.
Tidak dipungkiri, hati dan pikiran Belva pun berkecamuk. Selama ini, wanita yang dia sentuh hanyalah istrinya, Anin. Sekali pun memiliki harta kekayaan melimpah, tidak pernah sekali pun dia bermain perempuan. Akan tetapi, seakan terus dikejar usia, kali ini Belva benar-benar menginginkan seorang anak.
Pria itu memejamkan matanya dan berusaha menenangkan dirinya. Peperangan yang kian berkecamuk dalam hati dan pikirannya harus dia selesaikan dengan segera.
"Berapa lama kita di sini Pak?" Pada akhirnya, Sara pun bersuara. Bertanya sampai berapa lama, mereka akan berada di dalam hotel tersebut.
Tanpa mengubah posisinya dan juga matanya yang masih terpejam, Belva pun menjawab, "Dua malam. Ya, dua malam apakah cukup?" tanyanya kepada Sara.
Gadis itu kembali terdiam dengan menggigit bibir bagian dalamnya. Dua malam hanya bersama Belva, bagaimana mungkin. Bahkan selama ini, dia tidak pernah berlama-lama bersama pria itu. Tidur seranjang semalam pun sudah membuatnya begitu canggung dan rasanya ingin lari. Bagaimana dengan sekarang ini? Seolah Sara tidak memiliki cara untuk berlari, karena sudah pasti kini dia tidak bisa melarikan diri dari Belva.
"Kenapa kamu diam?" tanya Belva.
Pria itu merasa tidak ada respons dari Sara, maka dia kembali bertanya apa yang membuat Sara terdiam.
"Ti ... tidak. Saya hanya bertanya," jawabnya dengan lidah terasa begitu kelu.
"Istirahatlah dulu, karena nanti malam kamu tidak akan bisa beristirahat," ucapan Belva lagi-lagi yang seolah memancing Sara untuk bereaksi.
Sayangnya, gadis itu pun tak bergeming. Lagi pula,bagaimana dia bisa bergeming bila Sara sendiri merasa begitu canggung.
Hingga perlahan Belva kembali membuka matanya, pria itu duduk dan mulai menelpon pihak restoran hotel untuk mengantarkan makanan ke kamarnya dia tidak akan membiarkan Sara kelaparan saat misinya dilangsungkan.
Sehingga tidak menunggu waktu lama, petugas hotel datang dan mengantarkan berbagai makanan lezat yang sudah dipesan Belva sebelumnya.
"Ayo, kita makan. Kamu pasti lapar kan?" tanyanya kepada Sara.
Gadis itu tampak mengangguk, tidak dipungkiri dirinya juga sangat lapar saat ini. Sehingga sekarang, keduanya duduk di sofa yang berada di dalam kamar hotel itu dan mulai menyantap Tenderloin Steak yang sudah dipesankan Belva untuknya.
Sementara Belva juga memesankan Frappuccino untuk Sara. Setidaknya hampir sepekan tinggal bersama, Belva tahu bahwa Sara menyukai Frappuccino. Sehingga kali ini, dia pun memesankan minuman favorit gadis itu.
Keduanya makan dalam diam, membiarkan dentingan garpu dan pisau yang mengiringi makan keduanya. Usai acara makan bersama selesai, Belva kemudian menuju kamar mandi. Pria itu memilih untuk menyegarkan dirinya terlebih dahulu.
Selama Belva mandi, Sara hanya duduk dan menikmati panorama Ibukota dengan langit sorenya yang begitu indah. Namun, gadis itu mengerjap ketika melihat Belva keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dengan air yang menetes dari rambutnya membasahi bagian dadanya. Sementara sebuah handuk, melingkar begitu saja di pinggang pria itu.
Seakan bagai sesak napas, Sara melihat otot liat yang terpahat di sana. Dengan six pack di bagian perut sang CEO yang benar-benar menggoda mata. Gadis itu lantas menunduk, tak kuasa untuk menatap pemandangan layaknya patung pahatan Yunani yang begitu indah dan memesona.
Maka dari itu, Sara memilih memasuki kamar mandi. Dia juga harus menyegarkan dirinya. Berlama-lama menatap Belva, justru membuat jantungnya berdetak tak karuan. Rasanya justru dia merasa sesak napas melihat tubuh indah dan atletis milik Belva.
Hampir setengah jam, Sara baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu memilih menggunakan piyama panjang untuk menutup tubuhnya. Setelahnya, dia kembali duduk di sofa. Sama sekali, tidak berani menyentuh ranjang besar yang berada di dalam kamar hotel itu.
Sementara Belva tengah sibuk melihat sesuatu dengan tablet di tangannya. Mungkin saja, ada pekerjaan yang harus dia urus karena wajah pria itu terlihat begitu serius.
"Kenapa kamu duduk di situ?" tanya Belva pada akhirnya kepada Sara. "Tidak ingin bergabung bersamaku?" pria itu menepuk sisi ranjang yang kosong.
Sara menggeleng, "Tidak, saya di sini saja," jawabnya.
Belva pun tersenyum, sungguh Sara yang diam dan menjaga jarak dengannya justru membuatnya kian tertarik dan ada rasa penasaran dengan gadis itu. Biasanya seorang gadis justru akan menggoda CEO kaya raya. Akan tetapi, sikap Sara yang dingin dan sering kali acuh tak acuh justru membuat Belva kadang kali memikirkan gadis itu.
"Baiklah ... duduklah di situ, sepuasmu." Belva kembali berbicara sembari melirik Sara. Satu senyuman pun sedikit tersungging di sudut bibirnya.
Setidaknya Belva akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, Belva masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang lain. Oleh karena itulah, dia memilih diam dan membiarkan Sara yang masih setia duduk di sofa empuk itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bzaa
rasanya pasti dagdigdug der
2022-10-19
0
Sri Wahyuni
jngn trlalu monoton crta jenuh bca y..mau belah duren az lma bnget
2022-08-29
2
Safira S
lanjut .saya suka jalan ceritanya romantis
2022-08-14
0