“Haruskah kita pergi dan melakukan bulan madu?” tanya Belva sembari menatap tajam pada Sara.
Mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal secara tiba-tiba, membuat Sara tersedak Frappuccino yang sedang dia minum. Kenapa tindakan Belva yang sangat impulsif ini justru membuat Sara semakin tidak nyaman.
Sejenak Sara berpikir apakah seorang Belva Agastya mengidap kepribadian ganda. Beberapa saat pria itu bermuka datar dan mengeluarkan aura dingin, beberapa saat kemudian pria itu bisa tertawa lepas dan bertindak seenaknya sendiri. Apakah ini memang penyakit bawaan seorang CEO? Mengapa Belva bersikap begitu tidak mudah ditebak.
“Jika kau hanya diam, maka aku anggap kau setuju. Baiklah kita akan ….”
“Tidak Pak. Tidak perlu.” Sara menyanggah dengan cepat.
Ide melakukan bulan madu adalah bukan ide yang brilian. Lagipula mereka bukan suami istri sungguhan. Mereka hanya sebatas bekerja sama, Belva memberikannya sejumlah uang dan Sara cukup menyediakan rahimnya untuk menampung benih seorang Belva Agastya.
Bulan madu hanya cocok bagi mereka yang menikah karena cinta. Saling mencintai satu sama lain. Sementara bagi Sara dan Belva, hubungan mereka tak ubahnya sebuah kerja sama saja. Sehingga Sara dengan cepat menolak ide bulan madu itu. Mereka menikah benar-benar tanpa perasaan cinta, yang ada hanyalah sebuah kepentingan saja.
Belva yang belum menyelesaikan ucapannya, akhirnya justru kembali tertawa. Gadis yang dihadapinya sekarang sungguh unik dan menarik.
Ups, menarik! Belva menggelengkan kepalanya dan mengusir pikiran itu dari otaknya. Mengapa sikap yang kaku dan tidak bersahabat yang ditunjukkan Sara justru menjadi hiburan bagi Belva.
Pria itu menyelesaikan sarapannya. “Baiklah kita tidak perlu melakukannya, tetapi bersiaplah aku bisa memintanya kapan saja. Karena waktu kita tidak banyak bukan. Benar yang dikatakan Anin, semakin cepat semakin baik. Aku rasa bila ada seorang bayi rumah besar ini tidak akan terasa sepi.” ucap Belva dengan pandangan matanya yang terlihat menerawangkan sesuatu.
Akan tetapi, di hadapannya Sara justru sesungguhnya begitu panik setengah mati. Beberapa saat yang lalu, Belva membicarakan tentang bulan madu dan sekarang pria itu seolah tengah mengharapkan hadirnya sosok bayi yang akan memberikan tawa dan kebahagiaan untuk rumah besar yang saat dia tempati. Sekalipun, dirinya hanya dinikahi hanya karena rahim, tetapi Sara pun belum bisa menerima kenyataan jika Belva benar-benar meminta haknya.
Benarkah bisa menjalani hubungan seperti itu tanpa cinta? Jika, demikian … apa bedanya aku dengan wanita penghangat ranjang di luar sana.
Sara membatin dengan rasa pilu di dada. Tidak menyangka ke depannya justru hidupnya akan kian sulit.
“Kenapa kamu hanya diam?” tanya Belva lagi kepada Sara.
“Tidak … tidak apa-apa, Pak,” jawab Sara dengan gugup. Dia tidak mungkin mengutarakan isi hatinya kepada Belva.
Belva kembali menatap gadis yang masih ini duduk di depannya dan menunjukkan sikap yang begitu tidak nyaman itu. Sesungguhnya Belva sangat tahu perlu waktu bagi seorang Sara untuk bisa menerima dan memberikan rahimnya sebagai kantong bagi benihnya. Akan tetapi, waktu yang dimiliki keduanya memang tidak banyak lagi. Hanya satu tahun. Waktu yang terlampau singkat untuk Belva sebenarnya.
Berbeda dengan Belva, waktu satu tahun adalah waktu yang lama bagi Sara. Dia pun bahkan tidak tahu, apa yang akan terjadi dalam waktu satu tahun tersebut.
“Apakah kita harus menginap satu atau dua malam di hotel? Bagaimana menurutmu?” tanya Belva lagi kepada Sara.
“Hotel Pak? Kenapa harus ke hotel Pak?” tanya Sara dengan begitu polosnya.
Belva justru kembali tertawa, rupanya gadis yang kini bersamanya itu benar-benar polos dan menggemaskan.
Ops, lupakan! Menggemaskan. Bagaimana bisa Sara bisa terlihat menggemaskan hingga seorang Belva bisa tertawa dengan lepas.
“Untuk melancarkan misi kita. Bagaimana?” tanya Belva lagi.
Mengingat kata misi, maka pikiran Sara langsung tertuju pada hubungan suami istri yang harus dia lakukan bersama Belva. Gadis itu menunduk dan meremas tangannya.
Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung.
“Jika kamu diam, aku akan menganggapnya sebagai persetujuan. Jadi, akhir pekan bisa kita cek in ke hotel?” lagi Bisma bertanya dengan terang-terangan.
“Entahlah Pak … saya pusing. Maaf, saya permisi ya Pak.” Sara kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Belva. Dia merasa pusing saat ini. Bingung harus mengambil keputusan apa saat ini.
Semula Belva tertegun saat Sara pergi dan meninggalkannya begitu saja. Pria itu mengernyitkan keningnya, sebanyak apa lagi waktu yang dibutuhkan oleh gadis itu untuk terbiasa dengannya hingga misi mereka akan berhasil. Belva setidaknya harus cukup bersabar, dan menunggu Sara untuk beberapa saat lagi.
Dia benar-benar menginginkan seorang anak saat ini, dan dia berharap bahwa Sara akan menjadi orang yang bisa memberikannya keturunan, seorang buah hati, dan tentunya ahli waris. Sudah lama dia menunggu, dan Belva tidak ingin menunggu lagi karena dirinya tentu akan semakin bertambah usia. Dia ingin memiliki buah hati saat usianya masih muda, sehingga dia bisa membuat banyak kenangan bahagia bersama anaknya nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Decey Aja
sara km kok bikin greget ya
2023-04-26
0
Bzaa
nah lhooo belva udah mulai melunak nih.... 😄
2022-10-19
0
Uci Suciati
kamu nya sih salah niat, niat nya cuma buat anak doang coba kamu niatkan melakukan nya karena ingin membuat sara nyaman berada di dekatmu jadi semuanya akan lancar
2022-10-18
0