Jika peraduan malam membuai seseorang untuk terlelap, semuanya itu tidak berlaku bagi Sara. Gadis itu justru terhenyak sepanjang malam. Resah dan gelisah, semua bercampur menjadi satu.
Beberapa kali dia mencoba mengurai pelukan Belva, tetapi semua sia-sia saja. Tangan itu seolah mencengkeramannya kuat dan tidak akan melepaskannya. Dalam semua keresahan yang rasakan, Sara mencoba menutup matanya dan berharap pagi akan segera menyapa. Hingga tak terasa perlahan-lahan Sara pun bisa tertidur untuk mengistirahatkan diri dan pikirannya yang begitu tidak tenang.
Pagi hari pun menyapa, Sara bergegas untuk segera keluar dari kamar dan meninggalkan Belva yang masih bergelung di bawah selimut. Sara dengan sepecat kilat membersihkan dirinya dan turun ke bawah untuk membantu Bibi Wati mempersiapkan sarapan.
“Selamat pagi Bi Wati ….” sapa Sara begitu dia telah sampai di dapur.
“Pagi juga Non ….” sahut Bi Wati.
Tanpa banyak bicara karena sudah tahu menu sarapan untuk Belva, Sara pun langsung mengambil dua butir telur dari lemari es dan kemudian merebusnya. Setelahnya, dia membuat Frappuccino untuk dirinya sendiri karena kopi untuk Belva sudah diseduh terlebih dahulu oleh Bibi Wati.
“Non Sara, kalau saya tinggal ke pasar sebentar apa bisa? Non bisa membuatkan sarapan untuk Tuan Belva kan? Kebetulan stok buah di lemari habis, saya khawatir jika nanti Nyonya Anin datang dan tidak ada buah di rumah.” ucap Bibi Wati yang terlihat agak khawatir.
Sara pun tersenyum. “Bibi ke pasar saja, untuk sarapan Pak Belva biar Sara yang akan membuatnya.”
Hingga akhirnya pun Bibi Wati berangkat ke pasar dan Sara berada di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi Belva.
Sekian menit berlalu, hingga akhirnya Belva telah turun dengan mengenakan pakaiannya untuk bekerja.
“Pagi ….” sapa Belva begitu dia telah tiba di depan meja makan.
“Pagi ….” sahut Sara.
Belva nampak mengernyitkan keningnya, kenapa pagi ini dia tidak melihat Bibi Wati di dapur. Biasanya perempuan paruh baya itu selalu siap sedia berada di dapur saat jam sarapan dan makan malam. Akan tetapi, pagi ini hanya ada Sara di sana.
“Di mana Bi Wati?” tanya Belva dengan wajahnya yang kembali datar.
Air muka yang aneh, jika semalam dia terlihat begitu jahil saat berusaha memeluk dan tidur di kamar Sara, tetapi pagi itu Belva telah kembali ke mode awalnya yaitu datar dan terkesan dingin.
“Bi Wati sedang ke pasar, Pak … membeli buah-buahan karena buah di lemari es habis, kalau Kak Anin datang nanti tidak ada buah.” sahut Sara sembari menyajikan secangkir kopi untuk Belva.
Belva nampak menganggukkan kepalanya. “Kau bisa tidur semalam? Apa sekarang kau tidak takut lagi padaku?” tanya Belva tanpa sungkan kepada Sara.
Pertanyaan macam apa pagi-pagi begini, untung tidak ada Bibi Wati yang mendengar pertanyaan Belva, jika ada sudah pasti Sara akan merasa malu.
Bukan mendapat jawaban, tetapi Belva melihat ada cekungan di bawah mata Sara.
“Kau tidak bisa tidur semalam? Ada cekungan agak hitam di bawah matamu.” ucap Belva dengan pandangan yang hanya tertuju pada Sara.
Sara segera berpaling dan mengambilkan dua telor rebus dan roti bakar untuk Belva.
“Silakan sarapannya Pak ….” ucapnya dengan pandangan yang mencoba mengelak dari sorot tajam netra seorang Belva Agastya.
“Jika ada orang yang bertanya kepadamu, jawablah. Lagipula, apa salahnya menjawab pertanyaan dari orang, terlebih dari suamimu.” ucap Belva dengan intonasi suara yang cukup kesal.
Sara pun perlahan menatap wajah Belva. “Ya, aku tak bisa tidur. Aku tak biasa.” jawab Sara dengan singkat.
Mendengar ucapan Sara, Belva justru tertawa hingga matanya berair. “Apa benar-benar tidak ada pria yang pernah menyentuhmu? Pacaran pun tidak pernah?” lagi Belva pertanyaan aneh yang membuat Sara begitu jengkel rasanya.
Gadis itu menghela nafasnya dengan kasar, dan matanya membola dengan sempurna. “Lebih baik nikmati sarapannya Pak … mumpung masih hangat.” sahut Sara.
Belva hanya menggelengkan kepala, mengapa keberadaan Sara di rumah ini justru membuatnya begitu mudahnya tertawa. Bahkan Belva tertawa hingga meneteskan air mata di sudut matanya. Apakah kebahagiaan seorang Belva sesederhana ini? Hanya menjahili Sara, gadis yang baru dikenalnya dalam hitungan hari sudah bisa membuatnya bahagia.
Sara berusaha menebalkan mukanya dan seolah-olah tidak mendengarkan celotehan Belva. Gadis itu hanya asyik menikmati Frappuccino, minuman yang selalu menjadi favoritnya sejak kecil. Membiarkan Belva yang masih saja menatapnya sembari menikmati sarapannya.
“Hei, minuman apa yang kau minum itu?” tanya Belva secara tiba-tiba kepada Sara.
“Oh, ini adalah Frappuccino, minuman kesukaanku.” Jawab Sara singkat.
Belva nampak mengernyitkan keningnya, dia tidak menyangka ada orang yang menikmati Frappuccino dalam keadaan panas. Sebab biasanya Frappuccino lebih enak diminum dengan menggunakan es.
“Kenapa kau membuat Frappuccino hangat? Biasanya orang akan meminumnya dengan menggunakan es.” Tanya Belva dengan wajah yang terlihat penasaran.
“Karena tidak mungkin aku meminum es di pagi hari, Pak ... jadi aku membuat Frappuccino hangat.” Jawab Sara dengan cukup santai kali ini.
“Jika demikian, besok buatkan aku Frappuccino hangat juga. Aku akan mencoba meminumnya.” Sahut Belva.
Tanpa menjawab, Sara hanya menganggukkan kepalanya.
“Kapan Kak Anin akan kembali Pak?” kali ini Sara benar-benar memberanikan diri untuk menanyakan tentang Anin. Dalam hatinya dia masih merasa bersalah dengan Anin, tetapi sikap ramah yang Anin tunjukkan kepadanya justru membuat Sara semakin bingung dan merasa bersalah.
Mengapa Sara bisa merasa bersalah? Karena wanita yang tidak bisa menunjukkan lukanya, mereka akan menutupi luka itu dengan senyuman dan kebahagiaan di wajahnya. Hatinya pilu, tetapi memaksa wajahnya untuk bahagia. Itulah yang Sara khawatirkan. Dia akan benar-benar menyesal jika membuat Anin menjadi demikian. Juga, Sara tak akan setega itu berdiri di atas penderitaan Anin yang jelas-jelas adalah istri pertama dan wanita yang dicintai oleh Belva.
“Aku tidak tahu, dia belum mengatakan kapan dia akan pulang.” Jawab Belva, dan kini pria itu kembali pada wajahnya yang datar dan terkesan dingin.
Sungguh ekspresi yang aneh, beberapa menit yang lalu dia tersenyum bahagia, wajahnya terlihat bersahabat dan kini dia kembali berwajah datar dan memancarkan aura dingin. Sementara kali ini Belva menunjukkan aura dinginnya, seolah Sara terkurung dalam sebuah kamar yang dipenuhi oleh mesin air conditioner pendingin ruangan. Begitu dingin, hingga bisa-bisa Sara seolah membeku.
“Hmm, Anin justru menawarkan kepada kita supaya kita pergi berbulan madu. Katanya semakin cepat kamu mengandung akan semakin baik. Bagaimana apa menurutmu ide yang diberikan Anin adalah ide yang bagus? Haruskah kita berdua pergi dan melakukan bulan madu?” tanyanya dengan begitu spontan yang membuat Sara serasa tersedak dengan Frappuccino yang sedang dia minum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
lalalicious
Wahh ceritanya makin seru thor!! jangan lupa mampir juga ya "My Favorite Wife"
2023-05-30
0
Bzaa
cepet bawa bulan madu bel☺
2022-10-19
0
Isti Qomah
sara mamang masih polos bnget
2022-08-31
0