Uang sebesar lima milyar rupiah bukan hal yang besar bagi seorang Belva Agastya. Dengan mudah Belva menawarkan uang sebesar itu kepada Sara.
“Jadi kamu menerima kesepakatan kita? Deal?” tanya Belva sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Sara.
Sara pun mengangguk. “Deal!” dan dia menerima uluran tangan Belva.
“Aku jamin, kesepakatan kita berdua akan sama-sama menguntungkan. Perlu kamu ketahui bahwa aku adalah Belva Agastya, CEO Agastya Property. Aku akan membuat surat perjanjian di antara kita berdua, aku ingin kerja sama kita ada hitam di atas putihnya, sehingga tidak ada pihak-pihak yang akan dirugikan atau berusaha melanggar kesepakatan kita ini. Baiklah aku akan mengantarmu pulang, dan besok aku akan mendatangi. Oh, iya ... perlu kau tahu, aku juga akan mengenalkanmu secara langsung kepada istriku besok.” Ucap Belva dengan panjang lebar.
Sara menghela nafasnya yang terasa berat. Sesungguhnya dia tidak yakin apakah benar-benar menerima tawaran dari Belva, akan tetapi tawaran uang sebesar lima milyar rupiah terdengar sangat menggiurkan? Selain itu, keselamatan dan kehidupannya selama setahun ke depan akan aman. Sara mungkin sudah gila dan kehilangan akal sehatnya, tetapi dia tidak ingin bekerja malam dan nyaris menjadi korban pelecehan seksual seperti sekarang ini.
“Baik Pak ...” ucap Sara sembari menganggukkan kepalanya.
“Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang, ini sudah lewat tengah malam. Dan, ingat malam ini adalah malam terakhir kamu bekerja di sini. Jangan lagi menyambangi tempat ini.” Ucap Belva yang memperingatkan Sara untuk tidak lagi mendatangi tempat kerjanya.
Sara kembali menganggukkan kepalanya. “Baik Pak....”
Dengan cepat Belva mengemudikan mobilnya menelusuri jalanan ibukota yang sudah mulai sepi tengah malam itu. Di dalam hati dan pikirannya, Belva bahagia karena tidak lama lagi dia akan mendapatkan keturunan, keturunan berdasarkan darahnya sendiri. Belva sadar tidak mudah mendapatkan wanita yang menyewakan rahimnya, dan kini di sampingnya ada seorang gadis yang mau menyewakan rahim untuknya.
Dalam lubuk hatinya Belva sesungguhnya merasa dia telah bersikap kejam kepada gadis yang telah dilecehkan secara seksual. Dia menolongnya, tetapi justru menawarkan pekerjaan yang di luar nalar gadis tersebut. Akan tetapi, sebagai seorang pria yang sudah empat tahun lamanya berumah tangga dan mengharapkan kehadiran seorang anak, Belva sangat rindu tangisan bayi memenuhi rumahnya, senyuman dari wajah bak malaikat menyambutnya setiap hari, sudut hatinya kosong karena dia begitu ingin mendapatkan keturunan. Sementara di satu sisi, istrinya tidak bisa memberikan keturunan. Berbagai pengobatan dilakukan dan terapi untuk menyembuhkan Tokophobia yang diidap istrinya seolah sia-sia, Belva sangat ingin memiliki buah hati. Ya, buah hati yang akan meneruskan garis keturunan dan akan menjadi ahli warisnya kelak.
Sementara Sara hanya bisa menahan ketakutannya dan mempersiapkan diri dan mentalnya menjadi wanita yang menyewakan rahim. Entah dosa apa yang sudah dilakukan kedua orang tua Sara, hingga Sara selalu hidup dalam kepiluan dan kesesakan. Takdir seolah-olah mempermainkannya dan mengizinkan dia untuk bahagia.
“Jalan lurus terus, lalu belokan kedua masuk Pak ...” ucap Sara yang tengah mengarahkan Belva menuju ke kostnya.
“Ya ...” hanya itu jawaban Belva.
“Stop. Berhenti Pak.” Lagi ucap Sara yang meminta Belva untuk menghentikan mobilnya.
Belva mengernyitkan keningnya melihat pemukiman tempat di mana mobil mewahnya berhenti saat ini. “Di mana rumah kamu?” tanya Belva sembari menginjakkan kakinya di rem mobilnya.
Sara menunjuk pada sebuah rumah kecil yang berada beberapa meter di depannya. “Rumah kecil bercat putih itu Pak. Itu kost saya.”
Lagi Belva nampak heran. “Jadi kamu selama ini hanya kost?” tanyanya lagi.
Sara menganggukkan kepalanya. “Saya sudah tidak punya siapa-siapa Pak, jadi saya hanya kost di sini.” Jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
Belva pun menatap gadis yang duduk di sebelahnya ini, ada rasa iba yang dalam hatinya. Akan tetapi, hasrat untuk memiliki buah hati begitu didambakan Belva selama ini. Akhirnya Belva berusaha mengeraskan hati nuraninya. “Baiklah, besok saya akan kesini. Saya akan siapkan surat perjanjian kita berdua. Setelahnya saya akan mengenalkanmu kepada Istri saya.”
Sara pun mengangguk. “Baik Pak ....”
Sekalipun tidak yakin, tetapi Sara hanya menyetujui perjanjian yang ditawarkan Belva. Bukan sebatas berpikiran pendek, tetapi sebagai seorang gadis jujur saja bekerja di tempat seperti itu sangat rawan untuk Sara. Keselamatannya selalu terancam setiap malam.
***
Keesokan harinya, Belva kembali datang ke kost Sara dengan membawa seorang pengacara kepercayaannya. Di dalam ruang tamu di tempat yang sempit itu, Sara menerima kedatangan Belva dan pengacaranya yang bernama Dana itu.
“Silakan Anda baca terlebih dahulu surat perjanjian antara kedua belah pihak. Pihak pertama adalah Bapak Belva Agastya, dan Nona Sara adalah pihak kedua.” Ucap Pak Dana sembari menyerahkan lembaran kertas berukuran A4 dengan meterai kepada Sara.
Pihak 1: Belva Agastya
Pihak 2: Sara Valeria
Surat perjanjian
Pihak pertama yakni Belva Agastya berniat menyewa rahim pihak kedua dengan nomimal sebesar lima milyar rupiah.
Pihak pertama akan menikahi pihak kedua selama satu tahun, dan memutuskan pernikahan ketika buah hati keduanya sudah lahir,
Pihak pertama tidak akan menutup akses komunikasi antara anak yang akan dilahirkan dengan pihak kedua karena bagaimana pun pihak kedua adalah ibu kandung dari si anak.
Selama 1 tahun, pihak kedua harus hidup bersama dengan pihak pertama.
Tertanda,
Pihak 1 Belva Agastya (Tanda tangan di atas meterai)
Pihak 2 Sara Valeria (Tanda tangan di atas meterai)
Dengan perlahan, Sara membaca surat perjanjian itu. Hatinya menghangat sangat mengetahui salah satu poin yang tidak akan menutup akses komunikasi antara dirinya dengan buah hatinya nanti. Sara cukup lega, pasalnya dia yang akan mengandung selama 9 bulan dan juga melahirkan. Sudah pasti dia akan tertekan secara mental saat harus dipisahkan begitu saja dari buah hatinya.
“Baik, saya akan tanda tangani.” Sara membubuhkan tanda tangannya di kertas yang bermeterai itu dan menyerahkannya kepada Pak Dana.
“Terima kasih Nona Sara untuk kerja samanya. Pak Belva, saya undur diri karena urusan saya sudah selesai di sini.” Ucap Pak Dana yang kemudian meninggalkan Belva berdua saja dengan Sara.
“Jika sudah, ayo. Aku akan mengenalkanmu kepada istriku. Aku bukan pria licik yang melakukan semua itu dibelakang istriku, aku melakukannya secara terang-terangan dan tidak bersembunyi-bunyi.” Ucap Belva dengan tampak tenang.
Sementara Sara hanya menggigit bibir bagian dalamnya, seolah dia berhadapan dengan pria aneh. Bagaimana mungkin seorang pria membawa wanita yang akan dinikahi hanya untuk menyewa rahimnya dan mengenalkannya secara terang-terangan kepada istrinya. Apakah Belva sudah hilang akal?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bzaa
hadirrr... salam kenal.. bintang 5, like, fav sudah merapat ya
2022-10-19
0
Isti Qomah
ky pilem india chori chori cupkhe chupke
2022-08-31
4
Sri Wahyuni
klau d dunia nyata ada yg mnyewa rahim sharga 5m pasti pda mau..ga d sewa az bnyk yg hmil d luar nikah
2022-08-29
1