Mobil yang dikendarai Hendra akhirnya tiba juga di sebuah Rumah Sakit. Belva pun segera menggendong Sara ala bridal style hingga terdapat sebuah brankar dorong dan Belva segera membaringkan Sara di brankar tersebut.
"Tolong, dia butuh perawatan," ucap Belva kepada seorang perawat yang bertugas.
Hingga akhirnya beberapa perawat datang dan mulai mendorong brankar itu dan membawanya ke sebuah ruangan.
"Silakan isi data pasien terlebih dahulu, Pak ... Sembari Dokter akan datang dan menangani pasien," ucap salah seorang perawat.
Maka Belva pun segera mengisi beberapa lembar dokumen yang harus diisi, mulai dari nama pasien, alamat pasien, hingga hubungan pasien dengannya.
'Suami' di sana tertulis bahwa hubungannya dengan Sara bahwa dia adalah suaminya.
Sementara itu, perawat pun mulai mencari vena yang akan ditusuk untuk memasangkan jarum infus. Hingga selang infus dipasang dan juga cairan infus itu perlahan masuk ke dalam tubuh Sara melalui pembuluh vena itu.
Usai Sara dipasangkan infus dan mendapatkan perawatan, seorang Dokter pun mengajak Belva untuk berbicara di ruangannya secara pribadi.
"Siang Pak Belva, di lembar administrasi yang tertera Bapak adalah suami dari pasien yah?" tanya seorang Dokter bagian Obgyn yang bernama Rinta itu.
Perlahan Belva pun mengangguk, "Iya, saya suaminya. Ada apa Dok?" tanya Belva kemudian kepada Dokter Rinta itu.
"Jadi apa yang membuat pasien hingga terkulai lemas seperti itu, Pak? Apakah mungkin Bapak sudah memaksakan hubungan suami istri kepada pasien?" tanya Dokter Rinta secara langsung. Dokter Rinta yang adalah seorang perempuan itu tidak mengira bahwa ada wanita yang dilarikan ke Rumah Sakit karena pingsan usai melakukan hubungan suami istri.
Bak tertohok, Belva pun membolakan kedua bola matanya. Tidak memahami apa yang dimaksud oleh Dokter Rinta. Bahkan seingatnya, dia juga memberikan pemanasan terlebih dahulu bagi Sara. Itu artinya dia tidak memaksakan pergulatan semalam. Dia juga mengedepankan kenyamanan bagi Sara.
"Tidak, saya tidak memaksakannya." Belva menjawab dengan serius. Jelas saja Belva mengelak, sekalipun hujaman demi hujaman yang dia lakukan terasa keras dan menyentak, tetapi dia pun sudah memberikan pemanasan yang terbaik bagi Sara.
"Namun, Anda melakukannya berkali-kali hingga istri Anda pingsan?" tanya Dokter Rinta lagi kepada Belva.
Dengan segera Belva pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, kami hanya melakukannya sekali." Belva pun menjawab dengan serius, karena dia memang melakukannya hanya satu kali. Tidak berkali-kali.
Sekalipun menikahi Sara dengan mahar fantastis, tetapi Belva bukanlah seorang predator yang akan memangsa habis mangsanya. Dia memiliki sisi sebagai seorang pria yang pasti tahu bahwa melalui malam pertama bagi seorang gadis akan menyakitkan.
Juga, tunggu dulu. Pingsan? Jadi Sara pingsan usai malam pertamanya dan upaya melakukan misinya itu. Bagaimana bisa?
Dokter Rinta pun memicingkan matanya melihat pada sosok Belva, "Ya, pasien pingsan usai melakukan hubungan suami istri. Selain itu, **** ********** juga mengeluarkan darah. Pasien terkena SinkopVasovagal."
"Sinkop Vasovagal? Apa itu, Dok?" Belva pun bertanya. Istilah itu sangat asing untuknya dan dia pun tidak tahu apa arti kalimat itu.
Perlahan Dokter Rinta pun mengangguk, "Sinkop Vasovagal adalah keadaan pingsan atau tak sadarkan diri usai melakukan hubungan suami istri. Kejadian ini dipicu karena tekanan darah yang drop hingga menyebabkan otak kekurangan oksigen. Ditambah dengan kecemasan pasien selama melakukan hubungan suami istri. Untung saja pasien masih tertolong, karena Sinkop Vasovagal termasuk berbahaya," jelas Dokter Rinta kepada Belva.
Kepala Belva pun seketika menunduk, tidak mengira bahwa Sara hingga pingsan. Jika mengatakan pergulatan semalam adalah pemaksaan tentu saja tidak, karena dia sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Sara. Pemanasan yang dia lakukan juga mengutamakan Sara, saat Sara siap barulah dia melancarkan aksinya.
Belva menghela napasnya, tidak mengira dia akan menemui seorang gadis yang justru pingsan usai melakukan hubungan suami istri. Raut wajah bersalah, tercetak jelas di wajah Belva saat ini.
"Sebaiknya jika melakukan hubungan suami istri, tunggu sampai istri Anda rileks. Mungkin saja, sebelumnya ada trauma yang membuat pasien merasakan cemas dan ketakutan berlebih. Psikis seorang wanita itu berbeda dengan para pria. Maka dari itu, tolong Pak, jangan memaksa wanita. Bagi wanita, hubungan suami istri bukan sekadar kegiatan ranjang, tetapi juga melibatkan perasaan, emosi, dan juga psikologis mereka. Sebab hubungan yang dimulai dengan paksaan hingga merenggut nyawa pasien." Dokter Rinta berbicara dengan tegas dan menatap Belva. Tidak mengira bahwa wanita akan menjadi korban dari suaminya sendiri.
"Saya benar-benar tidak memaksanya, bagaimana mungkin saya memaksa istri saya sendiri," sahut Belva yang masih tidak terima dengan tuduhan dari Dokter Rinta yang mengatakan bahwa dia telah memaksa Sara.
"Apa pun itu, sebaiknya hubungan suami istri itu bukan mengejar kepuasan semata. Harus sama-sama tenang dan melepas kecemasan. Tolong ingat-ingat hal ini, Pak. Sekarang pasien sudah mendapat perawatan medis, tunggu hingga pasien sadar. Begitu sadar, tolong pencet tombol yang terhubung dengan perawat karena masih ada obat yang harus disuntikkan melalui selang infus," jelas Dokter Rinta lagi kepada Belva.
Kemudian Belva keluar dari ruangan Dokter Rinta itu. Pria itu tidak mengira bahwa hanya satu kali meminta haknya justru membuat Sara hingga terkena Sinkop Vasovagal.
***
Usai menemui Dokter Rinta, Belva kemudian memasuki kamar tempat Sara dirawat. Sebagaimana permintaan dari Belva, Sara dirawat di sebuah kamar dengan fasilitas VVIP.
Kemudian Belva memandangi wajah Sara yang terlihat lemas, dengan jarum infus yang terpasang di tangan kirinya.
"Maafkan aku, Sara. Tidak mengira justru akan terjadi seperti ini. Maafkan aku." Belva berbicara dengan memegangi tangan kanan Sara.
Setelahnya, pria itu kembali menelpon Hendra dan meminta tolong kepada sekretarisnya itu untuk mengurus keperluannya seperti cek out dan juga mengambilkan pakaian ganti untuknya dan juga Sara.
Waktu tiga hari yang seharusnya dia habiskan bersama dengan Sara di dalam kamar hotel harus berakhir lebih cepat, karena sekarang dia harus menunggu dan menjaga Sara di dalam rumah sakit.
Pun Belva pun berharap bahwa Sara akan segera sadarkan diri. Jika Sara berlama-lama pingsan seperti ini, dirinya akan semakin dilingkupi rasa bersalah.
"Please, bangunlah. Usai ini, aku tidak akan menyentuhmu lagi. Aku akan menunggu sampai kamu mau untuk kusentuh," ucapnya dengan memejamkan matanya berharap Sara akan segera sadar dan membuka matanya.
Jika memang bahwa Sara tidak menginginkannya untuk menyentuhnya, setidaknya gadis itu segera bertindak dan menolaknya. Daripada diam dan seolah menikmati, tetapi justru berakhir perih seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bzaa
jangan2 sawan karena dragonnya kegedean x bel🤣🤣
2022-10-19
0
Inderayani
apes bgt si belva, bini pertama gk bisa bunting, kedua takut lihat burung... ckck
2022-09-20
3
💜Anna💜
please deh Thor sara jgn trllu lebay dya umur 24 THN msak iya sekali aja lgsung pingsan..hadeeew😏
2022-09-20
0