Sara masih gamang dengan perasaannya, benarkah Anin tidak terusik dengan keberadaannya. Di dalam kamarnya, Sara memilih membersihkan dirinya. Mengguyur badannya di bawah air yang mengalir. Kini takdirnya berubah, apabila di kost dia hanya mandi dengan menggunakan gayung. Di kediaman Belva, Sara bisa merasakan nikmatnya mandi di bawah shower yang menyediakan air dingin mau pun air hangat. Kamar yang dia tempati juga besar dan indak. Terdapat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan.
Kendati demikian, berada di tempat ini tetap saja membuat Sara merasa tidak nyaman. Usai menyegarkan dirinya, Sara duduk di satu kursi sofa yang berada di dalam kamarnya. Gadis itu termenung sembari menatap pada jari-jari tangannya.
Bahkan menikah pun, tidak ada cincin yang melingkar di jari manisku. Gumamnya dalam hati dan gadis itu pun tersenyum getir.
Rasanya baru beberapa saat Sara menyandarkan tubuhnya di sofa, terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Dengan cepat Sara berjalan dan membuka pintu kamarnya.
“Nona Sara, ditunggu Nyonya Anin untuk makan malam bersama di bawah.” Panggil salah satu pelayan yang memanggilnya untuk makan malam di bawah.
Sara pun segera mengikuti pelayan itu untuk turun, sementara di meja makan sudah duduk di sana Anin dan juga Belva. Dengan rasa sungkan, Sara pun duduk berhadapan dengan Anin.
“Selamat malam Kak, malam Pak ....” sapa Sara kepada keduanya.
“Malam juga ....” jawab Anin kepadanya. Sementara Belva hanya menganggukkan kepalanya.
Dalam duduknya, Sara mengamati bagaimana kebiasaan makan malam di kediaman Agastya. Biasanya seorang istri akan mengambil nasi dan lauk untuk suaminya terlebih dahulu, tetapi di sini baik Belva dan Anin sama-sama mengambil untuk dirinya sendiri. Setelah keduanya mengambil nasi, sayuran, dan lauk, barulah Sara mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka bertiga hanya makan dalam diam, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu. Di dalam hatinya Sara mengira apakah hubungan pernikahan Belva dan Anin memang renggang, mengapa kedua pasangan ini begitu hening. Bahkan Sara yang menunduk dan fokus dengan makanan yang berada di dalam piringnya. Dia sama sekali tidak berani menatap Belva dan Anin.
Usai makan malam, Anin berpamitan kepada Belva, katanya dia akan ada pemotretan di Bandung selama tiga hari. Wanita cantik itu telah siap dengan koper di tangannya. Tidak berapa lama sebuah mobil Alphard berwarna putih menjemput Anin di depan rumah.
“Aku akan pergi ke Bandung untuk tiga hari, Sara ... aku titip rumah dan Belva kepadamu ya. Bye.” Ucapnya seraya melambaikan kepada Sara yang saat itu mengantarkannya hingga ke depan pintu.
Sara menjadi berpikir mungkinkah Anin sengaja melakukan ini? Membuat dirinya sendiri pergi dan pemotretan hanyalah akal-akalannya saja untuk memberikan waktu bagi dirinya dan Belva?
Sara bermonolog dalam hati, dia terasa seperti duri dalam pernikahan mereka berdua. Setelah mobil yang membawa Anin pergi, Sara pun segera menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sara memilih kembali duduk dan bermain sejenak dengan handphonenya, hingga tidak lama kemudian pintu kamar terbuka dan Belva masuk ke dalam kamarnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Belva sembari mengambil tempat duduk di sisi Sara.
Gelagapan. Sara seketika merasa kikuk harus berada dalam satu ruangan bersama dengan Belva. “Euhm, aku hanya sedang berselancar dengan handphoneku. Mengecek pesan. Ya, aku hanya mengecek pesan.” Jawab Sara dengan bingung.
“Apa kau tadi memikirkan Anin?” tiba-tiba Belva bertanya demikian dan membuat Sara perlahan mengubah pandangannya dan kini ia memberanikan diri untuk menatap wajah Belva yang begitu tampan dan memancarkan aura karismatik.
Sara menganggukkan kepalanya. “Ya, aku memikirkan Kak Anin dan aku sangat tidak enak dengannya.” Jawab Sara dengan jujur.
Belva lantas tersenyum. “Jam terbangnya memang tinggi, Anin adalah model terkenal banyak brand yang bekerja sama dengannya. Sehingga tidak jarang dia pergi sekian hari untuk pemotretan. Itu sudah berjalan jauh sebelum kami berdua menikah.”
Hening sejenak. Kemudia Belva kembali bersuara, “Jadi hanya berpikir bahwa dia sedang melarikan diri dari kita berdua.” Ucap Belva.
Sara pun kembali menunduk, kenapa seolah-olah Belva bisa tahu dengan jalan pikirannya. Padahal Sara hanya berkata dalam hati, dia tidak berucap sepatah kata pun.
“Bagaimanapun aku merasa tidak enak dengan Kak Anin. Tidak bisakah kita membatalkan kerja sama kita Pak? Rasanya lebih baik aku kembali bekerja di bar saja. Hati nuraniku yang merasa tidak tenang di sini.”
Berusaha untuk jujur, karena Sara seolah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Belva dan Anin. Sekalipun Anin terlihat baik dan ramah kepadanya, tetapi isi hati seseorang tidak ada yang tahu bukan?
Belva kali ini tersenyum miring. “Jadi kau lebih suka dilecehkan saat bekerja di bar sana daripada hidup aman di dalam rumah ini?”
Pertanyaan Belva terasa menohok ulu hati Sara. Pertanyaan Belva ada benarnya, tetapi sebagai wanita yang lebih banyak melibatkan perasaannya tentu Sara merasa tidak enak hati harus berada di antara Belva dan Anin. Dia seolah menjadi setan jahat di dalam rumah ini.
“Tentu saja aku tidak mau dilecehkan. Semua wanita juga tidak ingin dilecehkan.” Jawab Sara dengan suara yang terlihat kesal.
Belva menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Karena itu, jangan berpikir macam-macam. Jika tidak ingin dilecehkan lebih baik kau berada di sini, di rumah ini. Sebagai suamimu, sudah tentu aku juga tidak akan melecehkanmu.” Jawab Belva dengan spontan.
Sara hanya mampu berkata dalam hatinya. “Memang kau tidak melecehkanku, tetapi tetap saja kau memanfaatkan kondisiku yang sulit dan menawarkan kerja sama untuk menyewa rahimku.” Ada rasa bagai tersayat sembilu di dalam hatinya.
Mendengar tidak ada sahutan dari Sara, Belva pun berdiri. “Tidurlah, aku akan kembali bekerja. Kita perlu saling mengenal terlebih dahulu. Sekalipun aku suamimu yang sah dan aku bisa memintanya sekarang, aku sangat yakin kalau kau masih belum bisa menerimaku. Waktu kita masih lama. Jadi, tidak perlu terburu-buru.”
Sara lantas bergumam dengan suara lirih. “Waktuku hanya setahun, Pak ... tidak akan lebih. Semakin cepat aku pergi, justru semakin baik.”
Gumaman itu nyatanya terdengar juga di telinga Belva. “Masa mengandung hanya 9 bulan lebih 10 hari, masih ada waktu 2 hingga 3 bulan untuk saling mengenal. Tidak perlu terburu-buru, dan tidak perlu tergesa-gesa. Istirahatlah. Aku akan kembali ke kamarku. Jika membutuhkan sesuatu, silakan panggil ART saja, mereka ada di sini dan siap melayanimu selama 24 jam. Jangan merasa sungkan.”
Usai mengatakan semua itu, Belva pun pergi dan Sara memilih untuk tidur, merebahkan diri dan pikirannya yang membebaninya dalam dua hari ini. Takdirnya berubah, dia tidak lagi merasakan kesulitan ekonomi, tetapi di sisi lain dia harus tinggal bersama Belva dan menjadi menyewakan rahimnya untuk pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bidari Maulida
bagus cerita nya thor
2023-06-01
0
Bzaa
duhhhh jdi bingung mo komentar apa... 😄
semangat ya otor sukses sll
2022-10-19
0
Isti Qomah
sabar g sabar mau denger kedepannya
2022-08-31
0