Menjelang sore tiba, rupanya kediaman mewah Belva pun kedatangan sang Nyonya Rumah. Ya, akhirnya Anin kembali pulang ke rumah setelah berhari-hari mengikuti pemotretan di Bandung. Wajah cantiknya terlihat lelah, tetapi bagaimana pun wanita itu tetap bahagia karena dia bisa melakukan pekerjaan yang dia sukai.
Dunia modelling sudah seperti sebuah dunia bagi Anin. Tempat dia ingin menunjukkan talentanya sebagai seorang model, berekspresi melalui setiap jepretan kamera, dan berbahagia karena di sanalah dia bisa sejenak melupakan rumah tangganya yang begitu sepi.
“Bi Wati, kok sepi sih, di mana Pak Belva?” tanya Anin yang langsung menuju dapur untuk mengambil buah-buahan dan susu rendah lemak.
“Tuan sedang ke kantor, Nyonya,” jawab Bibi Wati.
Yang disampaikan oleh Bibi Wati benar, karena setelah mengantarkan Sara kembali pulang, Belva langsung menuju kantornya. Dia mendapat informasi dari Hendra jika ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Oleh karena itulah, dia segera menuju ke kantornya siang itu juga.
“Sara di mana Bi?” tanya Anin lagi kepada Bibi Wati.
“Oh, itu … Mbak Sara ada di kamarnya, Nyonya. Baru sakit, Mbak Sara nya,” jawab Bibi Wati lagi.
Mendengar bahwa Sara sedang sakit, Anin pun meninggalkan buah dan susu miliknya. Wanita itu segera menaiki lantai dua menuju kamar Sara.
“Sara … aku, Anin,” teriaknya memanggil Sara dan segera membuka pintu kamar Sara.
Hingga akhirnya, Anin memasuki kamar Sara, dan dia melihat Sara yang duduk bersandar di head board tempat tidurnya.
“Bagaimana kabarmu? Kamu sakit apa? Aku dengar dari Bi Wati, kamu sakit,” ucap wanita cantik itu yang tampak mencemaskan Sara.
Sara pun tersenyum, sebenarnya dia tidak menyangka bahwa Anin akan berada di rumah dan mendatanginya sekarang ini. Ada rasa bersalah yang dia rasakan, terlebih karena dia telah melewatkan malam penyatuan bersama dengan Belva. Hatinya teremas hingga terasa nyeri.
“Ah, hanya masuk angin saja, Kak,” jawab Sara yang tentunya dia berbohong kali ini. Sebab, tidak mungkin jika dia mengatakan bahwa dia jatuh sakit setelah berhubungan suami istri dengan Belva.
Perlahan Anin duduk di tepi tempat tidur Sara, “Cepatlah sembuh … jika kamu sakit, bagaimana kamu bisa mengandung buah hati untukku dan Belva,” ucap wanita itu sembari memegang tangan Sara. “Aku sangat berharap kepadamu, Sara,” lanjut Anin yang mengatakan bahwa dia sangat berharap kepadanya.
Sara pun menunduk, matanya berkaca-kaca. Kali ini ada rasa sakit yang dia rasakan. Sebenarnya Belva dan Anin hanya melihatnya layaknya ladang yang harus siap menerima benih. Menunggu benih itu bersemai, tumbuh, hingga panen pada nantinya. Menjadi seorang wanita yang hanya menyewakan rahimnya sekalipun tetap berada di dalam pernikahan nyatanya juga begitu menyiksa.
“Aku akan segera sembuh, Kak … kamu tidak perlu khawatir,” jawab Sara yang meminta kepada Anin untuk tidak mengkhawatirkannya.
Setelah itu Anin pun berdiri, “Baiklah, istirahat ya … supaya kamu cepat sehat. Oh, iya … sebaiknya kamu pergi bersama Belva untuk bulan madu. Tahun depan, mertuaku akan datang dari Bali, sapa tau awal tahun nanti kamu sudah bisa melahirkan dan anak serta Belva akan memiliki bayi,” ucap wanita itu dengan tersenyum menatap Sara.
“Ah, tidak … tidak perlu Kak,” jawab Sara lagi.
“Tenang saja, Sara … aku yang akan mempersiapkan semuanya untukmu dan Belva. Bulan Madu seminggu agaknya tidak masalah untukmu dan Belva, dia bisa cuti.” Anin kembali berbicara dan agaknya wanita itu akan mempersiapkan bulan madu sungguhan untuk Sara dan juga Belva.
Mengingat kata bulan madu, Sara kembali bersedih. Semalam di hotel bintang lima bersama Belva saja nyatanya gagal. Bagaimana jika harus berbulan madu selama lima hari dan juga bersama pria itu terus-menerus. Sebisa mungkin Sara sudah menolak, tetapi Anin agaknya ingin segera mendapatkan buah hati dari Sara.
***
Malam harinya …
Di meja makan malam itu hanya ada Anin dan Belva. Keduanya makan dengan diam, hanya dentingan sendok garpu yang terdengar. Bahkan meja makan yang sering kali menjadi tempat bagi orang untuk berbagi cerita pun terasa sunyi.
“Mas, Sara sakit ya?” tanya Anin pada akhirnya kepada suaminya itu.
“Ya, dia sakit. Kamu sudah menemuinya?” tanya Belva lagi kepada Anin.
Anin pun mengangguk, “Iya, katanya dia masuk angin.” jawab Anin dengan cepat. Setelahnya wanita itu menaruh sendok dan garpu di atas piringnya.
“Kapan kira-kira kamu akan menyentuh Sara, Mas? Awal tahun nanti, Papa dan Mama kamu akan mengunjungi kita. Biasanya mereka akan datang dari Bali. Jika, dalam waktu dekat Sara bisa mengandung, kemungkinan awal tahun nanti kita bisa menimang bayi,” ucap Anin kali ini dengan menatap wajah Belva.
Anin mengingatkan bahwa semakin cepat Sara bisa hamil akan semakin baik. Selain itu, saat orang tua Belva datang dan mengunjunginya pun mereka akan merasa lebih berbahagia karena mereka akhirnya memiliki seorang cucu.
"Tunggu saja," jawab Belva dengan singkat.
"Kalau terus-menerus sampai kapan dong? Waktu kita hanya satu tahun. Tidak mungkin terus-menerus mengulur waktu." Anin kembali berbicara dan wanita tampak seolah memaksa suaminya untuk segera menyentuh Sara.
Belva pun segera menghentikan makannya. Semua nasi berpadu sayuran yang kaya rempah itu perlahan terasa hambar di mulutnya. "Alih-alih menyuruhku untuk menyentuhnya, kenapa kamu tidak mengobati endometriosis yang kamu derita? Kita masih bisa mencoba kalau kamu mau. Aku juga akan menemanimu terapi untuk Tokophobia yang kamu idap. Semua ada jalan, berobat sampai ke luar negeri pun aku tidak masalah." Belva berbicara dengan tegas.
Dia sebenarnya bukan tipe pria yang diam begitu saja saat Anin menderita endometriosis dan tokophobia. Sejak awal dia sudah berusaha mendorong Anin untuk melakukan pengobatan secara medis.
Sayangnya Anin menggeleng, "Apa yang kamu harapkan dari seorang wanita yang mengalami siklus haid sepanjang dua minggu. Tidak bisa, Dokter sudah memvonis kalau aku tidak akan bisa hamil."
Terlihat gurat kesedihan di wajah Anin sekarang ini. Dokter memang telah memvonisnya bahwa dia tidak akan bisa mengandung. Penyesalan terbesarnya sebagai seorang wanita adalah dia adalah wanita yang tidak sempurna. Tidak bisa mengandung.
"Itu hanya vonis Dokter, bukan vonis dari Tuhan. Jika hanya manusia yang memvonis, kita masih bisa berusaha dan mencari jalan keluarnya. Kecuali jika Allah yang bersabda, manusia hanya bisa menerimanya," jawab Belva.
Bagi Belva apabila mereka mau berusaha, rutin berobat secara medis sudah pasti Anin akan sembuh. Toh, hanya Dokter yang memvonis, bukan Tuhan. Masih ada jalan, jika mau berusaha dan menahan sakit untuk setiap pengobatan yang diterimanya.
"Vonis Dokter sama seperti vonis dari Tuhan bagiku. Bagaimana pun aku wanita yang tidak sempurna. Maka dari itulah, aku menerima suaminya menaburkan benihnya supaya darah dagingnya kelak akan lahir dan aku pun akan menerimanya sebagai anakku," ucap Anin dengan menunduk.
Wanita itu sudah sampai di batas bahwa dia telah merelakan suaminya untuk menabur benihnya ke dalam rahim wanita lain. Dia pun sudah berjanji akan menerima anak suaminya dan wanita itu sebagai anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Bzaa
sebenarnya anin itu cinta gak sih ama belva? kl cinta seharusnya jgn menyerah, apalagi belva udah baik, udah mao menerima kekurangan nya, dan mao sama2 berusaha... jarang2 lhoo ada suami yg bgtu 😊😉
2022-10-19
0
Afri
Allah itu berfirman ..
nabi yg bersabda ..
maaf ya kk penulis ???
2022-09-16
2
MyRosse🥀
yang penting kan udah usaha, masalah hasil baru serahkan pada sang pencipta (setidaknya sudah pernah mencoba dg usaha maximal)
2022-09-07
0