Belva Agastya adalah seorang CEO Agastya Property yang cukup besar di negeri ini. AgastyaProperty menggeluti lebih dari sub sektor properti mulai dari konsultan, pegadaan lahan, konstruksi dan pembangunan, pengembangan, pemasaran, hingga pemeliharaan properti.
Malam itu seusai pulang dari kantornya, Belva berniat mencari angin segar dengan mengunjungi salah satu bar yang biasa didatanginya, tetapi lantaran satu kejadian dia justru terlibat baku hantam guna menyelamatkan seorang pelayan yang tengah dilecehkan di bar itu.
“Sssttss ... dia sudah pergi. Sekarang kamu aman. Ayo, ikut saya!” bisik Belva kepada Sara, tetapi suaranya masih terdengar seperti tengah berupaya menahan amarahnya. Apalagi melihat penampilan Sara yang dengan sudut bibir sebelah kiri yang terdapat luka dan bercak darah, bajunya yang sobek dan kancingnya terlepas, dan luka cakaran di lengannya membuat Belva sangat marah karena dia berpikir pria bernama Anthony itu tadi telah memaksa Sara dengan kasar.
Belva membuka jasnya berwarna abu-abu itu dan menyerahkannya kepada Sara. “Pakai ini dulu, setelah ini ikut saya.” Dengan satu tangan yang menyodorkan jas itu kepada Sara.
Sesungguhnya Sara ragu untuk menerima jas dari pria yang tidak dikenalnya itu, tetapi mengingat kancing kemejanya yang terlepas semua dan sobekan di area lengan membuat Sara dengan berat hati menerima jas itu dan memakainya.
“Sudah?” tanya Belva.
“Ya, sudah.” Sara mengangguk sembari tangannya memegangi ujung kemejanya.
Setelah mendapat jawaban dari Sara, Belva melihat sejenak penampilan Sara.
“Kita keluar sekarang.” Ajaknya sembari menarik satu tangan Sara.
Dengan langkah kaki yang besar dan lebar, Sara sedikit berlari mengikuti langkah kaki Belva. Gadis itu menunduk dengan satu tangan yang menutupi wajahnya. Sara tidak tahu kemana Belva membawanya, dia hanya mengikuti langkah kaki pria yang saat ini berada di depannya.
Ternyata, Belva membawa Sara keluar dari Bar itu dan mengajak gadis itu untuk memasuki mobilnya.
Dalam kekalutan dan rasa takut yang tengah dialami, Sara hanya bisa mengikuti Belva. Begitu sampai di dalam mobil, kedua kaki Sara bergetar hebat. Air matanya mulai kembali menetes mengingat peristiwa pelecehan yang barusan dia alami.
Belva yang saat ini duduk di kursi kemudi, hanya diam. Seolah memberi waktu kepada Sara untuk menenangkan dirinya. Pria itu hanya menghidupkan mesin mobilnya dan AC dalam mobil, setelahnya dia hanya diam dan menunggu hingga gadis yang baru saja dia tolongi bisa tenang.
“Terima kasih sudah menolong saya Pak ...” ucap Sara dengan bibir yang bergetar.
“Hem....” sahutan singkat dari seorang Belva Agastya.
“Siapa nama kamu?” tanya Belva kepada Sara.
“Ssaya Sara Valeria, Pak ....” sahut Sara dengan menyebutkan namanya dan masih terisak.
Jari-jari tangan Belva nampak bergerak di stri kemudi. “Kamu tentu tahu bukan, bekerja di tempat seperti ini berisiko bagi para gadis? Kenapa kamu justru bekerja di tempat seperti ini?” tanya Belva yang masih terlihat marah dalam setiap kata yang dia ucapkan.
“Saya terpaksa bekerja di sini, Pak ... karena upah yang saya dapat di tempat ini cukup besar, walaupun risikonya sangat tinggi.” Jawab Sara apa adanya.
“Kamu mau bekerja lainnya?” Belva tengah berupaya menawarkan pekerjaan baru bagi Sara dengan harapan gadis itu mau menerimanya.
“Euhm, pekerjaan apa Pak? Di mana?” tanya Sara dengan polosnya.
Sejenak Belva menoleh pada gadis yang nampak ketakutan itu. “Berapa bayaran yang kamu minta jika saya memintamu bekerja selama 1 tahun?” tanya Belva sembari menatap tajam wajah Sara.
Hening.
Dalam otaknya Sara nampak menghitung, berapa uang yang akan dia terima apabila bekerja selama setahun?
Tunggu!
Sebelum Sara mulai menghitung upah yang akan dia dapatkan, Sara memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu kepada Belva.
“Pekerjaan apa Pak? Mengapa harus bekerja selama satu tahun?” tanya Sara dengan ragu.
Belva nampak menimbang-nimbang, hingga akhirnya dia memilih berterus terang kepada gadis yang baru saja dia tolong. “Aku ingin menyewa rahimmu. Lahirkan seorang anak untukku, dan aku akan membayarmu dengan mahal.”
Mendengar ucapan Belva, dunia Sara rasanya runtuh seketika.
Apa menyewa rahim?
Pria penolong yang menolongku dari pria hidung belang, kini justru berniat menyewa rahimku?
Tanpa tersadar air mata menetes di dua sudut mata Sara.
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku bukan pria berengsek dan hidung belang seperti Anthony yang mencoba melecehkanmu tadi. Aku adalah pria yang telah beristri, tetapi istrinya mengidap Endometriosis yang menyebabkan penyumbatan pada saluran tuba palopinya sehingga membuatnya tidak bisa mengandung, selain itu akhir-akhir ini istriku juga mengidap Tokophobia sebuah fobia yang membuat wanita merasa ketakutan untuk mengandung dan melahirkan. Oleh karena itu, aku ingin menyewa rahimmu. Lahirkan seorang penerus untukku.” Cerita Belva dengan jujur kepada Sara.
Sementara Sara hanya memilin ujung kemejanya. Rasanya aneh, seorang pria beristri dan nampak pria baik-baik seperti Belva justru berniat menyewa rahimnya.
“Apakah lima Milyar cukup untuk menyewa rahimmu dan tinggal bersamaku selama 1 tahun?” lagi Belva nominal sangat besar bagi gadis yatim piatu dan selama ini hidup dalam garis kemiskinan seperti Sara.
Mendengar kata lima Milyar, membuat mata Sara membola seketika, bahkan dia seolah kesesuhan menelan salivanya. Jumlah yang amat sangat besar bagi Sara.
“Mengapa Anda tidak mengadopsi anak saja, Pak? Biaya mengadopsi anak kurang dari lima milyar rupiah, dan anak itu dapat Anda jadikan sebagai anak Anda.” Ucap Sara bersusah payah lantaran sejujurnya Sara takut dan merasa pria di sebelahnya ini adalah seorang Taipan yang kaya raya.
Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku ingin anak dari keturunanku sendiri. Aku yang menenunan dengan apa yang kumiliki, anak yang benar-benar di dalam tubuhnya mengalir darahku.” Ucap Belva dengan sendu.
“Tinggalkan pekerja ini dan sewakan rahimmu padaku.” Lagi kata Belva yang seolah menginginkan Sara untuk menyewakan rahimnya.
Sara masih kalut, ketakutan pasca dilecehkan dan sekarang diminta untuk menyewakan rahim. Rasanya dunianya hancur dalam satu malam, terlebih Sara bukan wanita murahan yang mudah mudah berpindah-pindah tangan. Sekalipun bekerja di bar, tetapi Sara sungguh-sungguh menjaga kehormatannya. Jika dia masih perawan, bagaimana mungkin dia hamil. Melakukan inseminasi buatan dengan cara memasukkan sel ****** ke dalam leher rahimnya pun tidak akan bisa karena dia masih gadis.
“Anda tidak mengenal saya, Pak ... bagaimana dengan mudahnya Anda ingin menyewa rahim saya?” tanya Sara yang berusaha memberanikan dirinya kepada Belva.
“Siapa kamu, latar belakang kamu tidak masalah buat saya. Asalkan kamu mau mengandung buah hati saya itu sudah cukup. Ayolah, kita bisa bekerja sama. Kita akan membuat perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak. Kamu memperoleh bayaran yang besar dan aku akan mendapatkan buah hati. Bagaimana?”
Menimbang-nimbang dalam hati dan juga merasa bahwa pekerjaan malam di bar seperti ini tidak aman baginya, akhirnya Sara pun mengambil keputusan.
“Saya bersedia, tetapi Bapak harus menikahi saya. Sehingga anak yang lahir nanti adalah anak yang lahir bukan di luar pernikahan. Dia adalah anak yang sah. Anak bukan hasil hubungan gelap kedua orang tuanya.”
Belva menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
“Baiklah, aku akan menikahi selama setahun. Setelah anak itu lahir, kita akhiri pernikahan kita dan kamu akan mendapatkan uang sebesar lima milyar, bahkan aku bisa memberikan bonus yang lebih besar untukmu,”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
syamil mauza
nyimak dulu
2022-12-29
1
Amilia Indriyanti
namanya juga novel.
koyone Rego bakso sak mangkok 5 juta an lah murah 😅😅
2022-12-01
0
Eka Kurniawan
lumayan juga critanya
2022-09-20
1