Begitu sampai di kantornya, Belva sejenak memikirkan Sara. Dengan telinganya sendiri sesungguhnya Belva mendengar setiap cerita antara Sara dengan Bibi Wati saat di dapur. Namun dia hanya diam dan berpura-pura tidak mendengar setiap cerita Sara.
Di sela-sela waktu bekerjanya, Belva justru berpikir bagaimana caranya dia bisa menghampiri Sara dan mewujudkan impiannya untuk bisa memiliki buah hati. Sebagai CEO dengan jumlah penghasilan yang fantastis setiap bulannya, memang mudah bagi seorang Belva Agastya untuk membeli perempuan, tetapi Belva bukanlah pria demikian. Selama menikah, dia berkomitmen bahwa wanita yang dia sentuh hanyalah istrinya. Tidak ada wanita lain yang menjadi penghangat ranjangnya. Hanya Anin, istrinya. Akan tetapi, sebagai seorang pria normal Belva sangat merindukan tangisan bayi menambah semarak di kehidupan rumah tangganya. Endometriosis yang diderita istrinya telah menutup keinginannya untuk bisa memiliki seorang anak. Keadaanlah yang membuat Belva menyewa rahim hanya untuk meneruskan garis keturunannya.
Hari pun berlalu begitu saja, hingga akhirnya Belva kembali pulang setelah seharian bekerja di kantor.
Rumah besar tiga lantai yang dia miliki selalu terasa sepi setiap harinya. Dia membuka pintu rumah sendiri, tidak ada istri yang menyambutnya dengan senyuman dan sapaan manis dan hangat. Bahkan tidur sendirian sekian malam sudah menjadi kebiasaan untuk Belva. Ranjangnya terasa dingin, tetapi Belva selama ini hanya diam dan menahannya. Selama empat tahun pernikahannya dengan Anin, baru beberapa bulan yang lalu Belva mengutarakan niatnya untuk menjalin hubungan dengan wanita lain dan melakukan kontrak menyewa rahim selama 1 tahun lamanya. Setelah Anin memberi lampu hijau, barulah Belva melakukannya. Namun, Belva juga tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu Sara secepat itu. Bahkan kini dia telah menikahi Sara, hanya saja Belva masih ragu apakah dia akan segera menghampiri Sara dan membuat gadis itu segera mengandung benihnya.
Dengan langkah gontai, Belva memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia mengambil handphone di saku celananya, lalu membuka pesan yang dikirimkan oleh Anin di sana.
[To: Belva]
[Malam ini aku masih ada sesi pemotretan di Bandung.]
[Jangan tunggu aku pulang.]
[Apa kau tidak berpikir untuk membawa Sara bulan madu? Bukankah dia adalah istrimu yang sah juga.]
[Ajaklah Sara bulan madu dan buat dia segera memiliki anak. Waktu kita hanya 1 tahun.]
Belva lantas melepaskan handphone itu saja di sisi tempat tidurnya, lalu dia memijit pelipisnya dan sesekali mengusap hidungnya. Badannya terasa sangat lelah untuk bekerja, tetapi bagi seorang pria semua lelah itu akan sirna begitu mendapatkan senyuman dan sapa hangat dari istrinya, atau ada malaikat kecil dalam rupa seorang bayi yang menyemarakan hidupnya.
Merasa jenuh dengan keadaan. Belva lantas mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang dingin. Membuang semua lelah dan kepenatan yang dia alami. Usai menyegarkan dirinya, Belva lantas turun ke bawah untuk makan malam.
Dari anak tangga yang dia turuni, di dapur sudah ada Sara dan Bi Wati yang tengah bercanda sembari menyiapkan makanan di meja. Namun obrolan dan candaan Sara dan Bi Wati tiba-tiba sirna begitu saja saat Belva mendekat dan duduk di meja makan.
“Selamat malam Tuan ….” sapa Bi Wati setiap kali Belva telah mendudukkan dirinya di meja makan.
“Malam Bi ….” sahut Belva dengan singkat.
Beberapa menit kemudian, Sara lantas mengambil posisi duduk di sebelah kiri Belva. Gadis yang semula ceria, saat bersama Belva, senyuman dan tawa di wajahnya sontak lenyap begitu saja.
Belva mulai mengisi piringnya dengan nasi, sayuran, dan lauk. Sementara Sara masih diam, menunggu Belva sudah mengisi piringnya barulah Sara akan mengisi piringnya sendiri.
Perlahan Belva mulai mengunyah nasi beserta lauk pauk, mengisi perutnya dengan makanan bergizi. Sekalipun seorang CEO dan kaya raya, tetapi untuk makanan Belva lebih suka makan di rumah. Masakan rumahan selalu menjadi favorit dari CEO kaya raya ini.
“Apa yang kau kerjakan seharian ini?” tanya Belva kepada Sara.
Nampak gugup lantaran mendapat pertanyaan tiba-tiba, membuat gadis itu mengerjap seketika. “Saya hanya nonton televisi, Pak.” jawab Sara dengan singkat dan terdengar kaku dalam pengucapannya.
“Ada perpustakaan di ujung lantai dua, kamu bisa membaca buku di sana. Berjalan-jalan di taman belakang rumah juga boleh.” lagi ucap Belva.
Sara yang tengah mengunyah nasi pun menaruh sendok dan garpunya sejenak di atas piring. “Baik Pak … terima kasih.” ucapnya berterima kasih kepada Belva.
“Tidak ada ruangan tersembunyi di rumah ini, kamu bisa menjelajah setiap bagian rumah ini. Hanya saja dengan kamar utama kami, karena di sana terdapat banyak wardrobe milik Anin, jadi kusarankan jangan menyentuhnya.”
Sara menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Belva dan dia akan selalu mengingat bahwa tidak akan memasuki kamar utama milik Belva dan juga Anin.
“Baik Pak … akan saya ingat.” ucap Sara dengan tenang dan kembali melanjutkan makan malamnya.
Selanjutnya keduanya sama-sama fokus dengan makan malamnya, dan hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Tidak ada lagi yang mereka obrolkan hingga makanan di piring keduanya telah tandas.
Usai makan malam, Belva langsung menuju ke ruangan kerjanya. Sementara Sara masih membantu Bi Wati untuk membersihkan meja makan.
“Non Sara sudah enggak perlu membantu Bibi. Sana istirahat, sejak tadi Non Sara sudah banyak membantu Bibi di dapur.” ucap Bi Wati yang merasa tidak enak dengan bantuan yang Sara berikan.
Sara justru menggelengkan kepalanya. “Biar aku membantu, Bi … lagipula memasak itu menyenangkan. Tidak membuatku kecapean juga.” ucap Sara sembari mengelap kembali meja makan.
Setelah pekerjaan di dapur selesai, barulah Sara menaiki anak tangga dan memasuki kamar tidurnya.
Beberapa hari sebelumnya, aku bahkan tidak memiliki waktu beristirahat. Hanya bekerja mencari rupiah untuk makan. Sekarang aku berada di rumah besar ini, tetapi sangat sepi. Aku sekarang memiliki banyak uang, tetapi rasanya aku menggadaikan hidupku di sini untuk satu tahun lamanya. Mungkinkah satu tahun akan cepat berlalu? Baru dua hari saja rasanya sudah berbulan-bulan di sini.
Apa artinya memiliki kekayaan berlimpah dan rumah sebesar ini jikalau tidak ada cinta dan keharmonisan di sini? Rumahnya ini terasa berdiri di atas pilar, tetapi tidak terasa cinta yang menjadi pondasi dibangunnya rumah ini.
Gumam Sara hingga akhirnya kini dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Apabila bisa memilih, Sara akan memilih bisa kembali bekerja setidaknya waktunya tidak berlalu begitu saja di rumah besar ini. Akan tetapi, dia sangat tahu bahwa Belva tidak akan membiarkannya untuk bekerja di luar rumah. Yang perlu Sara lakukan hanya satu yaitu segera mengandung dan melahirkan anak untuk Belva, setelah itu barulah dia akan mendapatkan kembali kebebasannya di dunia luar sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 320 Episodes
Comments
Riami
nikmatin aja dulu sara
2022-10-27
0
Bzaa
nikmati yg ada dl aja Sara...
2022-10-19
0
Kokom Komala
sara kamu nikmatin aja dulu di rumah itu mewah itu biar kamu segera punya anak
2022-08-26
0