Alif pun langsung melihat ke arahku.
" Kamu di panggil Bu Dina ke ruang guru."
Kata Alif sambil menatap ke arahku.
Aku pun beranjak dari tempat duduk ku, diiringi oleh ledekan dari Rani dan Fadya.
Biarlah, lagi pula aku kan di panggil Bu Dina, bukan Alif pribadi yang mencari ku.
Aku pun berjalan keluar menuju ruang guru, yang diikuti oleh Alif di sampingku.
" Ada apa ya Bu Dina manggil aku?."
Tanyaku pada Alif yang berusaha memecahkan keheningan diantara kami.
" Nggak tahu." Jawab Alif singkat.
" Kamu udah buat Visi dan Misi?." Tanyaku lagi pada Alif.
" Udah, kemarin aku buat Visi dan Misi, sekalian program kerja juga." Jawab Alif sambil melihat ke arahku.
" Fajar juga tadi udah buat Visi dan Misi nya."
Balasku dengan canggung, yang hanya dibalas anggukan kecil dari Alif.
Aku dan Alif pun sampai diruang guru.
Aku lihat Bu Dina tengah duduk bersama seorang guru yang juga mengajar ku. Aku pun segera menghampiri Bu Dina yang masih diikuti oleh Alif dibelakang ku.
" Permisi Bu." Sapa ku pada Bu Dina.
" Eh Shena." Balas Bu Dina dengan ramah.
" Kata Alif ibu manggil saya ya?." Tanyaku pada Bu Dina.
" Iya betul. Alif makasih ya."
Jawab Bu Dina sambil mengucapkan terima kasih pada Alif.
" Kalian duduk dulu."
Perintah Bu Dina sambil mempersilahkan dua kursi kosong yang ada disebelahnya. Aku dan Alif pun duduk berdampingan, aku bingung ada apa Bu Dina memanggilku. Yang ku lihat di wajah Alif nampak biasa saja, seolah dia telah mengetahui maksud Bu Dina.
" Jadi gini, Shena ibu panggil karena ada satu hal yang ingin ibu beritahu sama kamu."
Ibu Dina memulai pembicaraan yang membuatku sangat penasaran.
" Kalau Alif mungkin sudah tahu ya. Nah Shena sama Alif ditugaskan oleh sekolah untuk mengikuti sebuah perlombaan."
Jelas Bu Dina yang membuatku terkejut.
Dan benar saja, Alif sudah mengetahui ini, ah menyebalkan.
" Perlombaan? Lomba apa Bu?." Tanyaku pada Bu Dina penasaran.
" Untuk Shena, kamu lomba olimpiade Bahasa Inggris. Dan untuk Alif lomba Fisika."
Aku sangat terkejut dengan perkataan Bu Dina, kenapa beliau memilihku untuk mengikuti perlombaan itu, dan darimana Bu Dina bisa percaya padaku untuk lomba itu, sedangkan aku baru kelas 10.
" Maaf Bu, ibu yakin pilih saya ?."
Tanyaku padanya karena aku masih dihantui rasa penasaran, kenapa harus aku yang mengikuti lomba itu.
" Iya, ibu yakin. Ibu lihat raport SMP kamu bagus, apalagi di pelajaran Bahasa Inggris. Dan kamu juga ibu lihat pintar dalam pelajaran Bahasa Inggris, ibu bisa lihat sendiri ketika ibu mengajar."
Jawab Bu Dina dengan tegas, seolah meyakinkanku untuk tetap mengikuti perlombaan itu.
Aku lihat Alif hanya terdiam sambil menatap ke arahku dan Bu Dina.
" Saya pikir lebih pintar Fajar Bu."
Balasku yang masih tidak percaya dengan ini, walau sekarang memang di pelajaran Bahasa Inggris aku lebih unggul dari pada Fajar.
" Kalau Fajar, dia masih sedikit bingung tentang beberapa tenses. Jadi Shena pasti bisa, ibu yakin." Tambah Bu Dina meyakinkanku.
" Nanti juga ada bimbingan belajar dari Bu Dina."
Timpal Alif dengan nada datar yang membuatku sedikit terkejut.
" Nah benar, kamu dan Alif nanti akan kami bimbing sampai hari perlombaan akan dimulai." Balas Bu Dina dengan senyum ramah.
" Baiklah Bu, saya akan berusaha untuk itu."
Balasku pada Bu Dina, yang diiringi senyuman ramah dan usapan halus di bahuku.
" Untuk Alif kamu udah siapkan beberapa materinya?." Tanya Bu Dina pada Alif.
"Sudah Bu." Jawab Alif singkat.
" Kalau gitu kamu harus sering-sering berkomunikasi sama guru fisika ya, baik guru fisika kelas 10,11, maupun kelas 12." Jelas Bu Dina pada Alif.
" Baik Bu." Jawab Alif singkat sambil tersenyum tipis.
" Baik, terima kasih waktunya untuk kalian berdua, silahkan kembali ke kelas." Perintah Bu Dina.
Aku dan Alif langsung beranjak dan bergegas untuk kembali ke kelas masing-masing.
"Kayaknya kamu pintar Bahasa Inggris ya?."
Tanya Alif yang memecahkan rasa canggung diantara kami.
" Nggak kok, biasa aja." Jawabku malu.
" Setidaknya lebih baik dari yang lain." Balas Alif sambil menatap ke arahku.
Aku merasa gugup dengan pujian itu, bisa-bisanya orang sedingin Alif mengatakan itu padaku.
" Kamu juga pintar ya Lif, sampai di toko buku aja buku Fisika yang kamu cari." Balasku yang membuat Alif salah tingkah.
" Nggak, kemarin kemarin juga aku beli novel."
Balas Alif sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah Alif yang seperti itu.
Aku pun sudah sampai didepan kelas, kemudian masuk meninggalkan Alif yang diiringi senyuman darinya. Alif pun berlalu dan masuk ke kelasnya.
Aku lihat didalam kelas tidak ada guru yang mengajar, padahal jam pelajaran sudah dimulai 20 menit yang lalu. Semua siswa di dalam kelas menatapku penasaran, termasuk Fajar, Fadya, dan juga Rani.
" Tadi ada apa Shen?." Tanya Fadya penasaran.
" Bu Dina bilang aku harus mengikuti lomba olimpiade Bahasa Inggris."Jawabku menjelaskan.
" Wah keren, semangat Shen, memang kamu kan pintar." Balas Fadya dengan senang mendengar kabar itu.
" Makasih ya Fad." Balasku juga padanya.
" Oh iya, Alif juga?."
Tanya Fadya kembali yang sepertinya tidak ada habis-habisnya penasaran dengan Alif.
" Dia lomba Fisika."
Jawabku yang tidak sengaja terdengar oleh Rani yang duduk didepan ku.
" Kalian hebat." Kata Rani sambil membalik ke arahku.
" Alif dari SMP juga pintar matematika, soal hitung menghitung dia mah juaranya."
Jelas Rani yang membuatku kagum pada Alif.
Pantas saja dia langsung dipilih untuk mengikuti lomba Fisika, yang padahal guru pun baru sedikit yang mengenalnya.
Di tengah pembicaraan kami tentang perlombaan yang akan aku hadapi nanti, tiba-tiba kak Kamal dan beberapa OSIS masuk ke kelasku.
" Permisi dek." Sapa kak Kamal.
" Iya kak." Jawab kami kompak.
" Kakak izin memberikan informasi mengenai calon ketua OSIS dikelas ini ya. Dan besok adalah kampanye sekaligus pemilihan calon ketua OSIS, kakak harap kalian hadir disekolah tanpa ada halangan apapun."
Jelas kak Kamal kemudian menempelkan selembar kertas yang terdapat foto dan biodata calon ketua OSIS kami.
" Baik, terima kasih ya."
Tambah kak Kamal sambil meninggalkan kelasku.
" Wih foto Fajar."
Kata salah satu teman sekelas ku dengan antusias, diikuti tawa dari kami.
Aku lihat Fajar hanya tersenyum malu melihat tingkah kami yang memandang wajahnya di foto itu.
Aku harap besok dalam pemilihan calon ketua OSIS bisa berjalan dengan baik dan mendapatkan ketua OSIS yang terbaik juga atas pilihan kami semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments