Dan dia mendorongku, tubuhku hampir saja terjatuh, dan kemudian Rani menahan ku, dia memperlakukanku dengan kasar. Tapi itu tidak membuatku takut padanya.
" Belagu banget lu." Bentak siswa laki-laki itu.
" Lu pikir gue takut sama lu, jangan kasar laki-laki lemah."
Jawabku dengan nada tegas dan berusaha menahan emosi.
" Oh, lu anak Jakarta itu kan?." Diiringi dengan nada sinis nya.
" Gue nggak mau nyari ribut, minggir." Bentak ku pada laki-laki itu.
Aku lihat dia terus menatapku dengan tajam, dan teman-temannya pun hanya terdiam melihat kejadian itu.
" Udah Shen, ayo kita pulang aja."
Kata Rani sambil menenangkan ku.
" Hati-hati kamu."
Kataku pada siswa laki-laki itu sambil berjalan melewatinya.
Dia pun menyingkir dari hadapanku dan Rani, dan kami pun meninggalkan parkiran itu, mereka hanya terdiam kesal menatapku dan Rani. Kacau, benar-benar kacau, aku tidak terbiasa emosi seperti ini, apalagi sempat bertengkar dengan laki-laki.
Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak habis pikir dengan kejadian tadi, sebenarnya aku tidak perlu menanggapi laki-laki kasar itu, tapi aku terlanjur emosi.
" Shen, harusnya kamu bisa tahan emosi kamu."
Bentak ku pada diriku sendiri dengan melajukan motor dengan kencang.
Akhirnya aku sampai dirumah, aku lihat keadaan rumah sepi, sepertinya budhe sama pakdhe lagi ada urusan diluar. Aku masuk dan pergi mandi.
Setelah semuanya rapi, aku berpikir ingin memasak sesuatu di dapur, karena selama ini aku belum pernah mencoba memasak untuk budhe dan pakdhe.
Aku lihat ada beberapa bahan masakan di dapur. Aku memilih untuk memasak tempe bacem, makanan yang pertama kali aku makan ketika sampai disini. Aromanya begitu harum, sepertinya ini enak.
Terdengar suara motor diluar, sepertinya itu budhe sama pakdhe. Benar saja mereka sudah sampai dirumah.
" Budhe darimana?." Tanyaku padanya.
" Udah pulang nduk? Budhe abis dari rumah teman, katanya anaknya mau nikah."
Jawab budhe sambil memberikan bungkusan berupa roti bakar.
" Buat aku? Makasih ya budhe."
Sambil melihat isi bungkusan itu.
" Dimakan sana. Masak apa itu? Harum banget."
Sambil berjalan mendekat ke arah masakan ku yang sebentar lagi matang.
" Aku masak tempe bacem budhe, nggak tahu rasanya enak apa nggak."
Jawabku malu sambil berjalan ke arah budhe.
" Pasti enak, budhe nanti mau makan." Kata budhe sambil tersenyum senang.
Betapa bahagianya aku melihatnya. seharusnya aku terus melakukan ini, kasian kalau harus budhe yang masak setiap hari.
Aku duduk diteras rumah budhe sambil menikmati roti bakar yang dibelikan budhe tadi, rasanya enak untuk menikmati sore hari ini. Tiba-tiba budhe menghampiriku dengan membawa dua gelas teh hangat ditangannya.
" Nih nduk."
Sambil meletakkan segelas teh disampingku dan duduk di sebelahku.
" Makasih budhe, padahal aku bisa buat sendiri." Merasa tidak enak padanya.
" Nggak apa-apa." Balas budhe.
" Ini budhe, makan."
Sambil menyodorkan roti bakar.
" Budhe udah kenyang, tadi abis makan masakan kamu, rasanya enak banget, budhe aja sampai nambah dua kali." Kata budhe yang memuji masakan ku.
" Kayaknya sedikit asin budhe." Balasku dengan malu.
" Nggak, enak kok." Tepis budhe.
Sekarang aku tahu bagaimana orang tua membuat anaknya untuk bahagia, dengan hal kecil saja mereka berusaha untuk membuat kita senang, yang padahal masakan ku memang sedikit asin.
Aku bercerita banyak tentang hari ini dengan budhe, tadinya aku ingin cerita bahwa hari ini aku ribut dengan siswa laki-laki, tapi aku urungkan, karena aku takut budhe khawatir tentang itu.
Seketika mataku tertuju pada cahaya jingga di langit sana.
" Wah, bagus banget."
Gumam ku dan langsung mengambil ponsel yang ku letakan disampingku, lalu aku memotret senja itu, terlihat sangat indah, ini benar-benar membuatku tenang.
Budhe juga terlihat senang menikmati pemandangan itu.
Aku mengambil beberapa gambar dengan antusias. Budhe hanya tertawa kecil karena melihat tingkahku.
Hari pun mulai gelap, aku mempersiapkan buku pelajaran ku untuk besok. Sambil merebahkan tubuhku ditempat tidur dan diiringi lagu yang ku putar di ponselku, membuatku nyaman berada dikamar.
Ditengah aku asyik mendengarkan lagu sambil memejamkan mata. Seketika lagunya berhenti dan diganti oleh suara dering di ponselku, tandanya ada panggilan masuk. Ku tatap layar ponselku, dan tertera nama Rani.
Tanpa pikir panjang, aku menekan tombol hijau di ponselku.
" Iya Ran, ada apa?." Tanyaku langsung pada Rani.
" Kamu tahu siswa laki-laki yang ada di parkiran itu siapa?." Tanya Rani tiba-tiba.
" Aku nggak tahulah, lagi pula kita kan baru masuk sekolah."
jawabku heran pada Rani.
" Aku tahu dia siapa Shen." Balas Rani
" Siapa Ran?." Tanyaku penasaran.
" Namanya Rendi, dia kelas X IPA 3." Jawab Rani.
Aku hanya terdiam dan fokus mendengarkan perkataan Rani tentang laki-laki itu.
" Soalnya, temanku ada yang satu kelas sama dia, katanya emang dia tuh nakal, nyebelin gitu." Jelas Rani.
" Udahlah Ran, kalau kita ketemu dia lagi, nggak usah ditanggepin."
Balasku pada Rani dengan nada kesal.
" Iya Shen, biarin aja dari pada dapet masalah lagi," timpal Rani kemudian.
Akhirnya kami menutup percakapan kami ditelepon. Aku pikir dia memang anak yang menyebalkan, aku selalu berharap terhindar dari orang itu.
Aku putar kembali sebuah lagu di ponselku, sedikit menenangkan pikiranku yang sedikit kalut. Tanpa sadar, aku sudah tertidur dan terlelap ke alam mimpi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments