Pagi yang cerah, hari ini aku terbangun pagi sekali, udara disini sangat dingin, sampai aku saja tidak sanggup untuk menyentuh air. Aku lihat budhe sudah memasak di dapur dan menyiapkan bekal yang ku pesan kemarin.
" Sini budhe aku bantu." Memegang beberapa sayuran.
" Nggak usah nduk, mendingan mandi sana, biar budhe yang masak."
" Yaudah kalau gitu aku mandi dulu ya budhe." Bergegas pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, aku mengemas semua barang apa saja yang akan aku bawa ke sekolah. Dan sepertinya hari ini aku ingin berangkat ke sekolah sendirian, aku kasihan sama pakdhe yang harus menunda pekerjaannya di ladang karena harus mengantar jemput ku.
" Pakdhe, Shena berangkat sendiri aja ya."
Aku berharap pakdhe dan budhe mengizinkanku.
"Memangnya bisa bawa motor sendiri nduk?." Tanya pakdhe.
" Jangan, diantar pakdhe aja, belum terbiasa sama lingkungan sini." Larang budhe sebelum aku menjawab pertanyaan pakdhe.
" Nggak apa-apa budhe, pakdhe, Shena bisa bawa motor sendiri, bakalan hati-hati kok."
" Yaudah kalau gitu, kalau ada apa-apa telpon pakdhe sama budhe ya."
Dan akhirnya budhe mengizinkanku.
" Iya nduk, hati-hati ya." Kata Pakdhe.
Aku berpamitan kepada mereka, karena hari ini aku bersemangat sekali masuk sekolah, dan ditambah sunrise menerangi pagi ini. Aku melangsungkan perjalanan dengan santai, menikmati jalanan pedesaan yang begitu asri, ini terasa indah, ditambah jalanan yang tidak begitu ramai.
Akhirnya aku sampai di perempatan jalan, aku lihat di sebrang sana ada beberapa siswa yang satu sekolah denganku, aku rasa di sekolah sudah mulai ramai.
Tanpa menunggu lama akhirnya lampu hijau menyala, dan aku melajukan sepeda motorku, dan aku pun sampai di sekolah.
Aku memasuki gerbang sekolah, dan duduk didepan Aula sambil menunggu Fadya, sepertinya dia belum sampai di sekolah. Aku lihat ada seorang siswa laki-laki yang berjalan beberapa meter saja di sebelah kananku. Kami saling melihat dan memberikan senyum canggung. Sepertinya aku mengenalinya, laki-laki yang memberikan pulpen padaku walau itu bukan pulpen ku, dan aku ingat namanya Alif, mungkin.
Dia berjalan ke arahku.
" Dari SMP mana." Tanya dia padaku dengan suara yang berat.
" Aku dari SMP 1 Kota Bandung."
" Oh dari Bandung."
" Iya, kamu?."
" Aku dari SMP 2."
Saat aku ingin menanyakan namanya, tiba-tiba dia berlari kecil meninggalkanku.
" Maaf, bentar ya."
Seketika dia berlari turun ke lantai bawah, sepertinya dia menghampiri seorang guru. Aku hanya mengangguk membalasnya.
Ketika sedang berjalan memasuki aula, tiba-tiba Fadya memanggilku dan berlari ke arahku.
" Shena, tunggu Shen."
" Eh Fadya, baru datang?." Tanyaku padanya.
" Iya, kesiangan aku..haha, oh iya, nih dari ibu aku." Menyerahkan sebuah plastik hitam yang berisi kotak makan.
" Wih, apa ini." Sambil mencium harum makanan itu.
" Itu Rawon, tapi maaf ya kuahnya agak dikit, soalnya susah tempatnya."
" Iya, nggak apa-apa kok, makasih ya Fadya, bilang sama ibumu, salam juga ya masakannya pasti enak, aku juga pernah makan Rawon, tapi kayaknya ini lebih enak deh."
Kataku pada Fadya sambil berjalan masuk aula di ikuti tawa kecil dari Fadya.
Semua siswa satu per satu berdatangan masuk aula. Dan para pengurus OSIS pun mulai memasuki aula.
" Baiklah, semuanya udah pada masuk?".
Suara lantang kak Kamal ketua OSIS kami mengawali acara hari ini.
Dan beberapa siswa menjawab sudah.
" Baik, kalau begitu setiap kakak OSIS yang bertugas sebagai penanggung jawab kelompok, segera periksa kelengkapan anggotanya ya."
Dan beberapa OSIS berjalan menuju kelompok masing-masing, penanggung jawab kelompokku adalah Mbak Winda, dia orang yang baik dan ramah.
Mbak Winda mengabsen nama-nama kami, dan menjelaskan beberapa peraturan dan tugas dalam kelompok kami, aku mengalami kesulitan dalam memahami apa yang Mbak Winda jelaskan, karena dia menggunakan bahasa Jawa.
" Maaf mbak, aku nggak ngerti bahasa Jawa," dengan malu aku berbicara padanya.
" Oalah, maaf ya dek, emang asalnya darimana?." Tanya Mbak Winda.
" Saya dari Bandung."
" Oh dari Bandung, maaf ya sekali lagi."
Sambil tersenyum manis padaku, dan beberapa orang yang satu kelompok denganku mulai memperhatikanku.
Setiap kelompok beranggotakan 25 orang. Kemudian Mbak Winda menjelaskan struktur dalam kelompok dan menawarkan pada kami siapa yang ingin menjadi ketua, wakil, dan sekretaris.
" Oke dek, diantara kalian siapa yang ingin jadi ketua, wakil, dan sekretaris?." Tanya Mbak Winda pada kami.
Kami semua hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengajukan diri. Akhirnya Mbak Winda menunjuk salah satu diantara kami.
" Yaudah kalau gitu Mbak tunjuk saja ya. Ketua Fajar, wakil Deva dan sekretaris Shena." Mbak Winda menyebutkan tiga nama tanpa ragu.
" Bisa ya Shen." Sambil tersenyum Mbak Winda berkata padaku.
" Oh iya mbak pasti bisa, terima kasih sudah percaya sama saya." Aku dan Mbak Winda sepertinya mulai akrab.
Setelah beberapa guru menjelaskan tentang lingkungan sekolah, kami pun di persilahkan untuk makan siang. Ketika kami akan mulai makan, semua pengurus OSIS memeriksa bekal kami, sepertinya makanan dari ibunya Fadya akan aku makan dirumah, karena peraturannya kami hanya boleh makan dengan menu yang ditentukan OSIS.
Ketika aku mencoba makan gudangan, itu rasanya aneh buatku, karena aku tidak suka dengan ampas kelapa yang dibumbui gurih dan sedikit pedas, itu terasa tidak enak bagiku.
Setelah selesai makan, ada kegiatan hiburan yaitu perwakilan dari setiap kelompok untuk bernyanyi. Dan tanpa aku sangka, teman-teman di kelompokku menunjukku untuk bernyanyi, aku menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan.
"Nggak, nggak mau, saya nggak bisa nyanyi." Dengan rasa gugup aku mengatakan itu pada mereka.
" Ayo Shen, kamu pasti bisa."
Aku belum berkata iya karena aku sangat malu bernyanyi didekat mereka semua. Dan kemudian kak Kamal memberikan pengumuman.
" Baiklah, kami telah mengundi kelompok siapa dulu yang bakalan maju duluan, yang pertama kelompok 3 dulu, ayo 5 menit di tunggu didepan."
Aku sangat terkejut mendengar itu, bahkan hampir semua siswa melihat ke arah kelompok kami. Dan aku juga bingung akan menyanyikan lagu apa.
" Mbak, bingung mau nyanyi lagu apa." Tanyaku pada mbak Winda.
" Lagu yang kamu suka aja Shen."
Dan kak Kamal memanggil kelompokku untuk maju ke depan. Jantungku rasanya berdegup kencang, rasa gugup dan malu menyelimuti ku hari ini, dan aku berjalan ke tempat yang di sediakan oleh pengurus OSIS.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments