Aku dan Rani pun berjalan ke parkiran, ku lihat disana mulai sepi karena para siswa telah pulang.
Dan aku lihat pun sudah tidak ada Rendi disana, mungkin dia sudah pulang juga, baguslah, aku malas jika harus berdebat dengannya.
Aku pun melajukan motorku dengan kecepatan normal, hari ini suasananya baik, dan aku juga mendapatkan kabar baik karena aku terpilih menjadi pengurus OSIS, rasanya tidak sia-sia berjuang dalam seleksi itu, memikirkan kata-kata yang aku rangkai untuk menjawab setiap bait pertanyaan.
Akhirnya aku pun sampai dirumah. Aku lihat budhe tengah duduk diteras rumah.
" Udah pulang nduk?." Tanya budhe.
" Iya budhe." Jawabku sambil menyalaminya.
" Yaudah ganti baju sana, terus makan." Balas budhe yang menatapku.
" Iya. Budhe aku izin keluar sebentar ya."
Kataku meminta izin, karena aku harus ke toko buku untuk membeli kamus bahasa Jawa.
" Mau pergi kemana emangnya?." Tanya budhe penasaran.
" Aku mau ke toko buku budhe." Jawabku menjelaskan.
" Yaudah, hati-hati ya, tapi makan dulu sana." Kata budhe yang tersenyum ramah padaku.
Aku pun bergegas berganti pakaian dan lanjut makan siang, lalu aku langsung bergegas pergi ke toko buku.
Jarak toko buku dari rumah lumayan jauh, hanya butuh sekitar 20 menit untuk sampai disana.
Aku pun melajukan motorku, hari pun cerah yang membuatku menikmati perjalanan hari ini. Tidak aku sangka, jalanan pun begitu ramai hari ini tidak seperti biasanya.
Sesampainya di perempatan jalan, aku mengambil arah lurus, karena disitulah letak toko buku berada.
Aku mengetahui toko buku itu dari Fadya, karena aku sempat bertanya padanya beberapa hari yang lalu, syukurlah kalau sudah ada toko buku disini, jika tidak aku sangat bingung tidak tahu bagaimana.
Akhirnya aku pun sampai didepan toko buku tersebut, toko bukunya cukup besar dan lumayan banyak orang yang sedang mengunjungi toko buku itu, aku rasa buku-bukunya juga sepertinya lengkap, serta banyak alat-alat sekolah yang dijual disana.
Aku pun memasuki toko buku itu, suasananya sangat nyaman, ditambah buku-buku yang ditata rapi, membuatnya cukup sempurna, karena toko buku adalah tempat favoritku juga.
Aku pun mulai mencari buku yang aku inginkan, yaitu kamus bahasa Jawa. Tapi aku belum menemukan buku itu, dan dimana buku itu ditaruh. Aku pun bertanya kepada seorang penjaga toko buku.
" Permisi mbak."
Sapa ku pada penjaga toko buku itu.
" Iya, ada yang bisa saya bantu?."
Tanya penjaga toko buku itu dengan ramah.
" Untuk kamus bahasa Jawa ada mbak?."
Tanyaku padanya sambil melihat beberapa buku yang terpajang di rak depan.
" Oh kalau untuk kamus bahasa Jawa sepertinya lagi kosong."
Jawab penjaga toko buku itu sambil mencari di rak depan.
" Yah, kosong ya mbak." Balasku dengan nada kecewa.
" Maaf ya. Emangnya lagi belajar bahasa Jawa ya?." Tanya penjaga toko buku itu dengan penasaran.
Karena mungkin jarang orang disini yang menanyakan kamus bahasa Jawa.
" Iya mbak, karena saya dari Bandung, jadi belum bisa bahasa Jawa." Jawabku dengan sedikit malu.
" Oalah, kebetulan lagi kosong ya. Tapi sering-sering minta ajarkan temannya ya, biar cepat lancar bahasa Jawa."
Memberiku saran diiringi dengan senyuman yang ramah.
" Iya mbak." Balasku dengan ramah.
Aku pun kembali ke beberapa rak buku. Karena kamus bahasa Jawa lagi kosong, jadi aku akan membeli buku yang lain, sayang sekali jika sampai sini tidak membeli buku satu pun.
Aku pun tengah mencari novel yang aku mau, ternyata terdapat banyak novel yang bagus disini, sampai aku bingung untuk memilihnya.
Ketika aku sedang memilih novel, aku lihat seorang laki-laki berjalan ke arah rak buku yang bertuliskan " pengetahuan umum". Sepertinya dia mencari buku tentang pelajaran.
Laki-laki itu pun sangat aku kenal, dia adalah Alif dari kelas 10 IPA 2, sekaligus calon ketua OSIS disekolah ku.
Aku lihat Alif tengah sibuk mencari buku yang dia inginkan, dan dia pun mengambil sebuah buku yang memiliki warna cover putih.
" Biarkan saja, aku harus segera memilih novel yang mana harus dibeli."
Gumam ku sambil memegang dua novel.
Tanpa aku sadar, Alif berdiri didekat ku yang hanya berjarak beberapa meter saja, aku rasa dia tidak mengetahui sebenarnya aku sedang berdiri didekatnya.
Aku pun menoleh ke arahnya, sontak yang membuatku terkejut, dia pun menoleh ke arahku juga. Kami pun saling melakukan kontak mata.
Aku hanya tersenyum malu melihatnya, begitu pun dengan Alif, dia pun hanya tersenyum dan menunjukkan ekspresi wajah yang gugup.
" Kamu cari buku apa?."
Tanya Alif yang memulai percakapan, sambil berjalan mendekat ke arahku.
" Tadinya aku mau beli kamus bahasa Jawa, tapi lagi nggak ada. Jadi aku mau beli novel."
Jawabku sambil menunjukkan novel yang berada di kedua tanganku.
Alif hanya membalas dengan senyuman tipis sambil melihat beberapa novel juga.
" Kamu belum bisa bahasa Jawa?." Tanya Alif sambil memegang beberapa novel.
" Belum, baru sedikit sih."
Jawabku dengan malu diiringi tawa kecil darinya.
Aku pun terkejut melihat ekspresi Alif yang seperti ini, jangan pun tertawa, bahkan disekolah pun aku jarang melihat dia tersenyum.
" Kamu cari buku apa?." Tanyaku padanya.
" Nih. Aku mau beli buku Fisika."
Jawab Alif menunjukkan buku yang sedang dia pegang dengan cover berwarna putih.
" Oh iya, kamu terpilih jadi calon ketua OSIS."
Balasku padanya, walau dengan perasaan tidak karuan berbicara dengannya. "
" Iya aku tahu, pak Yanto udah bilang sama aku." Jawab Alif menjelaskan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil mendengar jawaban darinya, karena aku bingung apa yang harus aku katakan lagi padanya.
" Beli novel yang mana?." Tanya Alif kembali.
" Yang ini."
Jawabku singkat sambil menunjukkan dua novel yang aku pegang.
" Aku juga beli novel, nih."
Balas Alif sambil menunjukan sebuah novel tentang sunrise dan senja.
" Wah, novelnya bagus banget."
Sontak aku terkejut, bagaimana aku tidak mengetahui novel itu yang sedari tadi aku berada disini.
Walau aku hanya lihat covernya saja, tapi sepertinya novel itu bagus dan sangat menarik. Alif hanya melihatku dengan penasaran, sepertinya dia sedikit menebak pikiranku kalau aku ingin novel itu.
Tapi aku tepis pikiran itu, dan bertindak seolah aku hanya menyukai novel yang aku pilih sekarang.
Aku pun berjalan ke kasir yang diikuti oleh Alif dibelakang ku yang berjarak agak jauh, sepertinya dia masih mencari beberapa buku.
Aku pun bergegas untuk pulang karena hari mulai sore, aku takut telat untuk pulang ke rumah. Alif pun berjalan ke arahku, yang ternyata dia memarkirkan motornya didekat motorku.
" Pulang?." Tiba-tiba Alif bertanya padaku.
" Iya." Jawabku singkat, sambil tersenyum canggung.
" Hati-hati." Balas Alif yang langsung meninggalkanku.
Entah mengapa aku selalu bahagia jika Alif berbicara padaku, karena dia laki-laki yang baik dan sopan.
" Selamat bertemu disekolah Alif." Kataku dengan suara pelan, yah jelas-jelas tidak akan pernah Alif dengar, karena dia telah pergi dihadapan ku.
Hari pun hampir gelap, aku pun melajukan motorku dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments