Semua orang menatap ke depan. Aku sangat malu dengan apa yang aku lihat, mata yang saling tatap membuatku sangat gugup. Aku mengambil microphone yang diberikan oleh kak Kamal.
Lagu mulai diputar, aku menyanyikan setiap lirik dengan lebih tenang, aku lihat mereka menikmati lagu yang aku nyanyikan, dan tepuk tangan terdengar sangat ramai.
Ku rasa aku bernyanyi dengan baik. Akhirnya nervous ku hilang, hanya ada rasa senang menyanyikan setiap bait lirik dengan baik.
Musik pun berhenti tepat dengan lagu yang aku nyanyikan. Ku lihat semua orang bertepuk tangan dan jujur sedikit malu, tapi semuanya sudah aku lakukan dengan cukup baik untuk kelompokku.
Dan kami pun berjalan menuju tempat kami kembali.
" Kamu hebat Shen, mbak salut sama kamu." Kata mbak Winda sambil memegang pundak ku.
Aku membalasnya hanya dengan senyuman, dan aku merasa senang saat ini.
Waktu pun berlalu, tak terasa sudah di penghujung acara, dan salah satu dari pengurus OSIS mengumumkan barang apa saja yang harus dibawa, dan besok adalah hari terakhir kita pengenalan lingkungan sekolah.
" Baiklah dek, barang apa saja yang dibawa untuk besok di catat ya. Alat sholat, buah pegas penghilang dahaga satu, dan bekal yang berisi telur mata sapi ya."
Semua siswa menjawab dengan kompak, dan ada beberapa siswa yang bertanya tentang buah pegas penghilang dahaga yang jelas - jelas itu adalah teka teki yang harus dijawab sendiri.
" Eh Shena kamu tahu buah itu?." Tanya salah satu teman di kelompokku.
" Kayaknya sih buah pear deh." Jawabku, dengan sedikit ragu.
" Eh iya kayaknya."
Jawab temanku yang lain tanpa sadar mendengar percakapan kami.
Kami pun bergegas keluar aula karena kegiatan hari ini sudah berakhir. Aku berjalan menuju parkiran sendirian, karena Fadya sudah dijemput oleh Ayahnya, ketika aku berjalan menuju parkiran dimana sepeda motorku disimpan, ku lihat beberapa anak laki-laki sedang berdiri ditengah jalan, dan mereka menghalangi jalanku.
" Maaf, permisi." Kataku pada mereka.
" Opo (apa) mbak, arep (mau) lewat toh?." Jawab salah satu dari mereka.
" Maaf, saya nggak bisa bahasa Jawa." Kataku pada mereka.
" Wih anak Jakarta." Salah satu dari mereka ikut berbicara.
Aku sangat kesal dan hanya menjawab Iya walau sebenarnya aku bukan dari Jakarta, dari pada panjang lebar menjelaskan kepada orang menyebalkan seperti mereka, jadi ya aku nggak mau ambil pusing.
Dan sebelum mereka memberiku jalan, datanglah satu laki-laki yang menghampiri mereka.
" Awas, jangan menghalangi jalan."
Laki-laki itu berkata dan bersikap dingin.
" Santai dong." Jawab salah satu laki-laki itu.
Dan tanpa berkata apapun akhirnya mereka pergi.
"Ah, itu kan Alif." Gumam ku.
Aku pun melajukan sepeda motorku dengan hati-hati menikmati cuaca cerah hari ini, karena hari ini matahari sangat bersinar terang. Ah iya, aku lupa untuk membeli buah pear untuk besok. Aku melajukan motorku menuju sebuah pasar, ini pertama kalinya ke pasar ini sendirian. Aku berhenti disalah satu toko buah.
" Monggo mbak, arep tumbas nopo (mau beli apa)?." Ibu penjual buah itu bertanya padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman saja, jujur pada waktu itu aku tidak mengerti bahasa Jawa.
" Bu, saya mau beli buah pear, 1 kilo berapa ya?." Tanyaku pada penjual buah itu.
" Rong puluh ewu (20 ribu)." Jawabnya.
Aku hanya bingung, ini maksudnya apa.
" Maaf Bu, saya nggak bisa bahasa Jawa." Kataku padanya sedikit malu.
" Oalah, maaf nggeh mbak, maksudnya sekilo 20 ribu." Sambil tertawa kecil melihat ku bingung.
" Oh yaudah beli 2 kilo ya Bu." Sambil memegang buah pear.
" Oh iya, emang mbaknya darimana?." Tanya penjual buah itu sambil memasukkan beberapa buah pear ke dalam kiloan.
" Saya dari Bandung Bu, lanjut sekolah disini."
" Oalah, tinggal sama siapa disini?." Tanyanya kembali.
" Saya tinggal sama budhe, pakdhe Bu.Oh iya, jadinya 40 ribu ya".
" Iya 40 ribu, nggak tambah buah yang lain?". Sambil menyerahkan buah pear dikantong plastik hitam.
" Nggak Bu ini saja." Sambil memberikan uang pas.
" Terima kasih ya mbak."
" Iya Bu."
Aku langsung pulang tanpa membeli apapun lagi, sepertinya budhe sudah menungguku dirumah, jadi aku harus cepat pulang. Menyusuri jalanan pedesaan yang cukup panjang, akhirnya aku sampai dirumah.
" Sudah pulang nduk". Tanya budhe padaku.
" Iya budhe, tadi mampir dulu ke pasar beli buah pear buat dibawa ke sekolah."
Sambil menyerahkan kantong plastik itu.
" Banyak banget, disuruh bawa berapa emang?." Tanya budhe sambil melihat isi plastik itu.
" Disuruh bawa satu, tapi gak apa-apa itu buat pakdhe sama budhe."
" Nggak usah repot-repot beli kayak gini nduk."
" Nggak apa-apa budhe, ada juga aku yang ngerepotin disini."
" Budhe sama pakdhe nggak pernah merasa di repotin. Makasih ya, yaudah makan sama."
" Iya budhe."
Sore pun tiba, aku lihat langit penuh di hiasi oleh jingga sang senja, itu sangat indah untuk terus di pandang. Aku menumpahkan rasa lelahku padanya, digantikan oleh keindahan yang membuatku tenang. Aku harap bisa menikmati hari-hari ku dengan baik ke depannya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments