Lelah sekali, ku baringkan tubuhku ditempat tidur, dan ku lihat luka di telapak tanganku mulai membengkak.
Aku segera mengambil obat luka dimeja belajarku.
" Aduh, perih banget."
Rintih ku ketika obat luka itu ku oleskan ke lukaku, aku harap bisa segera sembuh.
Aku tidak bercerita tentang hal ini pada pakdhe dan budhe, aku takut mereka khawatir tentang keadaanku yang padahal aku hanya mendapati luka ringan saja.
Sekejap aku memejamkan mata, menahan rasa yang berada di telapak tanganku, tapi aku rasa ini jauh lebih baik sebelum diobati.
Hari pun mulai sore, aku bergegas untuk pergi ke sebuah tempat favorit ku yang jaraknya tidak jauh dari rumah budhe.
" Budhe, aku izin pergi sebentar ya."
Kataku pada budhe yang sedang menikmati teh hangatnya.
" Mau kemana nduk?." Tanya budhe.
" Aku mau ke pinggiran sawah belakang, mau lihat senja." Jawabku menjelaskan.
" Yaudah, pulang sebelum maghrib ya."
Balas budhe dengan senyuman tulusnya.
Aku pun bergegas untuk pergi, sambil berjalan menikmati suasana pedesaan sambil membawa novel favoritku, walau sudah pernah aku baca satu kali, namun sepertinya tepat untuk menemani kesendirian ku sambil menikmati senja.
Akhirnya aku sampai, aku duduk disebuah rerumputan luas dan nyaman, sambil ku putar lagu favoritku di ponsel.
Suasana ini membuatku sangat tenang. Sorot jingganya yang begitu indah, membuat mata siapapun terbelalak menatapnya.
Hari yang ku jalani sekarang, tepat hari ini tidak begitu baik untukku, tapi aku tahu caranya bagaimana mengembalikan kekecewaan itu, hanya dengan memandang senja, rasanya beban ku hilang sejenak.
Aku pun terbawa suasana oleh keindahan itu, dan ditambah dengan lagu favoritku yang ku putar, membuatku hanyut oleh kenikmatan ini.
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar dering telepon, yang ternyata bukan datang dari ponselku.
Ternyata tanpa aku sadari ada seorang laki-laki yang berjarak tidak terlalu jauh di belakangku yang dari tadi menikmati senja itu.
Lantas ketika aku berbalik melihat kearahnya, laki-laki itu pun langsung pergi begitu saja menggunakan sepeda motornya, aku pun tidak sempat melihat wajahnya, yang aku lihat hanya punggungnya saja.
Dia membuat ku penasaran. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya aku tidak sadar kalau ada seseorang dibelakang ku.
Akhirnya aku pun bergegas untuk pulang ke rumah, sepertinya hari mulai gelap, aku pun masih berpikir siapa laki-laki itu, tapi aku pikir itu hanyalah orang yang sengaja berhenti melihat senja, mungkin dia menyukainya juga.
Aku pun bercerita pada budhe dan pakdhe tentang seleksi OSIS hari ini disekolah, tanpa aku sadar, pakdhe dan budhe memperhatikan luka di tanganku.
" Itu tanganmu kenapa nduk? Jatuh?." Tanya budhe dengan khawatir.
" Iya, kok sampai kayak gitu?."
Timpal pakdhe sambil melihat telapak tanganku.
" Tadi aku jatuh di lapangan sekolah."
Jawabku berbohong, aku takut jika aku memberitahu yang sebenarnya bahwa aku jatuh dari motor yang akan membuat pakdhe dan budhe semakin khawatir.
" Makanya lain kali hati-hati ya."
Balas budhe yang masih dengan raut wajah khawatir.
" Iya budhe, ini juga udah sembuh kok, tadi aku obati." Balasku juga dengan senyuman.
Aku pun bergegas untuk tidur. Rasanya dengan sekali memejamkan mata, aku sudah berada di alam mimpi.
Suara adzan subuh membangunkan ku, aku bergegas menunaikan ibadah shalat, lalu aku segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Kali ini aku memasak nasi goreng dan telur. Sarapan pun sudah siap, dan aku bergegas untuk pergi mandi dan bersiap. Untung saja hari ini aku tidak kesiangan, jadi aku tidak terburu-buru dalam melakukan apapun.
Kami pun menikmati sarapan yang aku buat.
" Enak banget nasi gorengnya." Puji pakde pada masakan ku.
" Iya, pintar masak sekarang ya". Balas budhe.
Aku hanya tersenyum malu pada mereka, diiringi dengan rasa bahagia melihat senyuman dari keduanya.
Aku pun bergegas untuk berangkat ke sekolah. Ketika sampai di perempatan jalan, aku lihat mbak Winda yang tengah berjalan sendirian, sepertinya sedang mencari bus.
Setelah lampu hijau menyala, aku pun menghampiri mbak Winda.
" Ayo mbak, bareng sama aku aja." Ajak ku pada mbak Winda.
" Eh Shena, mbak ikut ya."
Balas mbak Winda yang mulai naik motorku.
Kami pun akhirnya sampai disekolah. Ketika aku dan mbak Winda berjalan menuju gerbang sekolah, kami pun saling bercerita tentang seleksi OSIS kemarin.
" Makasih ya Shen atas tumpangannya, mbak khawatir tadi nggak dapat bus." Kata mbak Winda.
" Iya mbak, sama-sama." Balasku padanya.
" Oh iya mbak, pengumuman OSIS sekarang kan?." Tanyaku padanya.
" Iya hari ini, kayaknya sambil ada pengumuman calon ketua OSIS juga." Jawab mbak Winda menjelaskan.
" Rasanya gugup banget hari ini." Kataku dengan perasaan yang tak karuan.
" Mbak yakin kamu terpilih menjadi pengurus OSIS."
Balas mbak Winda sambil tersenyum menatapku.
" Aamiin, makasih ya mbak." Balasku.
Kami pun berjalan ke kelas masing-masing, ku lihat disana sudah ada Fadya yang tengah duduk didepan kelas.
" Hey Fadya." Sapa ku padanya.
" Hey Shen." Balas Fadya.
" Masuk yuk." Ajak ku padanya yang akhirnya diikuti oleh Fadya.
Setelah beberapa menit dikelas, jam pelajaran pertama pun dimulai. Hari ini adalah pelajaran Bahasa Inggris, wali kelas kami sendiri yang mengajarnya.
Bu Dina pun bertanya pada kami tentang siapa saja yang mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS, kami pun mengangkat tangan bagi yang merasa mengikuti seleksi OSIS kemarin.
" Oke bagus, ibu harap ada beberapa perwakilan dikelas ini yang menjadi pengurus OSIS." Kata Bu Dina dengan semangat.
Aku pun berharap beberapa diantara kami akan lolos dalam seleksi OSIS ini.
Ketika Bu Dina sedang menjelaskan materi hari ini, tiba-tiba dua orang kakak OSIS masuk dan mengumumkan hasil seleksi OSIS kemarin.
" Permisi Bu."
Sapa salah satu pengurus OSIS itu.
" Silahkan masuk."
Balas Bu Dina yang menghentikan materi yang dia sampaikan.
" Minta waktunya sebentar ya Bu. Saya mau mengumumkan mengumumkan hasil seleksi OSIS kemarin." Kata salah satu pengurus OSIS itu.
" Baik, silahkan." Balas Bu Dina dengan ramah.
Aku pun gugup sekaligus pemasaran siapa saja yang akan terpilih menjadi pengurus OSIS dikelas ku.
" Baik dek, saya akan menyebutkan siapa saja yang terpilih menjadi pengurus OSIS dikelas 10 IPA 1. Langsung saja diantaranya, Fajar, Rani, dan Shena." Menyebutkannya dengan lantang.
Aku pun sontak terkejut sekaligus bahagia bahwa aku terpilih menjadi pengurus OSIS.
" Shen, kita terpilih."
Kata Rani dengan senang sambil senyum bahagia ke arahku.
" Selamat ya Shen." Kata Fadya sambil menggenggam tanganku.
" Untuk yang terpilih menjadi pengurus OSIS, silahkan berkumpul di perpustakaan jam istirahat nanti." Sambung kakak OSIS yang lain.
Kakak OSIS itu pun bergegas keluar, aku lihat Bu Dina menatapku diiringi senyuman manisnya .
" Selamat ya buat Fajar, Shena, dan Rani, kalian hebat. Semoga kalian bisa jadi contoh untuk teman-temannya ya." Ucap Bu Dina yang membuatku semakin bersemangat memegang komitmen itu.
Jam istirahat pun telah tiba. Aku, Fajar, dan Rani bergegas menuju perpustakaan. Aku pun sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa saja yang terpilih menjadi pengurus OSIS dan calon ketua OSIS.
Dan apakah Alif pun terpilih menjadi pengurus OSIS, tiba-tiba pikiranku teringat tentangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments