Hari ini adalah hari yang aku tunggu. Ya benar, dimana hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah. Pagi ini rasanya begitu cerah, sepertinya semesta mendukungku untuk bersekolah.
Aku diantar oleh pakdhe hari ini, dan aku pun sudah siap untuk berangkat.
" Sarapan dulu, baru berangkat, masih pagi kok." Perintah budhe padaku.
Tanpa menunggu lama aku menghabiskan sarapanku yang telah disediakan oleh budhe.
" Udah siap nduk, kita berangkat sekarang?." Tanya pakdhe padaku.
" Ayo pakdhe."
Sambil berjalan ke arah budhe untuk berpamitan.
" Shena berangkat ya budhe." Sambil bersalaman pada budhe.
" Iya, hati-hati ya."
Aku diantar oleh pakdhe menggunakan sepeda motor miliknya.
Kami menyusuri jalan pedesaan yang indah. Pagi ini kabut lumayan tebal, dan udaranya pun begitu dingin. Tanpa aku sadari akhirnya kami sampa di jalan utama, pakdhe mengendarai sepeda motor dengan hati-hati, ketika itu kita sampai di perempatan jalan.
" Tuh nduk, lurus kesana itu pasar, pasarnya besar dan rapi sekarang." Kata Pakdhe sambil menunjuk ke arah depan.
" Oh iya pakdhe, dulu kayaknya masih bebas ya buka lapak dipinggiran jalan." Jawabku pada pakdhe.
" Sekarang gak boleh, makanya dibuatkan gedung pasar biar rapi." Jelas pakdhe padaku.
Aku hanya bergumam sambil terus melihat suasana sekeliling ku yang begitu ramai dan pastinya asing bagiku.
Akhirnya lampu hijau menyala, dan kami melanjutkan perjalanan. Tidak lama setelah beberapa menit kami sampai di sebuah gang yang lumayan luas, karena sekolahku posisinya bukan di pinggir jalan.
Setelah lurus kurang lebih tujuh ratus meter, akhirnya kami sampai di sekolah. Aku lihat ada banyak siswa yang mendaftar di sekolah itu.
Aku dan pakdhe memasuki gerbang sekolah, aku lihat ada seorang siswa perempuan yang tersenyum ramah padaku, dan aku membalas senyumannya dengan ramah juga.
Aku dan pakdhe memasuki ruang Tata Usaha (TU) untuk mendaftar ulang, aku lihat beberapa siswa memandang ke arahku. Dengan menunggu proses yang lumayan lama karena mengantri juga, akhirnya aku telah selesai mendaftar ulang yang secara otomatis aku telah menjadi bagian dari siswa di sekolah ini.
" Pakdhe, kalau masih lama nggak apa-apa pakdhe pulang saja duluan, nanti aku telepon pakdhe kalau sudah selesai."
Aku kasian sama pakdhe karena harus menunggu lama.
" Kamu berani toh?." Tanya pakdhe sambil tertawa kecil.
" Berani kok pakdhe." Aku pun ikut tertawa.
" Yowes, nanti telpon pakdhe aja ya kalau sudah selesai, tuh teman-temannya banyak, kenalan sama."
" Iya pakdhe." Sambil menyalami pakdhe dan pakdhe pamit untuk pulang.
Suasana ini terasa sangat asing, aku harus beradaptasi dengan hal-hal baru. Aku berjalan menyusuri kelas disekolah ini dan aku duduk didepan kelas yang bertuliskan kelas XI IPA 3. Oh iya, aku mengambil jurusan IPA juga.
Ketika aku sedang duduk sendirian, tiba-tiba ada seseorang wanita yang menghampiriku.
" Punten (permisi) mbak, jenenge sinten (namanya siapa)?." Tanya siswa perempuan itu menggunakan bahasa Jawa.
" Emm, maaf kak saya nggak bisa bahasa Jawa." Aku menjawabnya dengan wajah bingung.
" Oalah, maaf ya, maksud aku nama kamu siapa? Kamu dari Jakarta ya?." Tanya dia kembali.
" Nama aku Shena, aku dari Bandung."
Aku menjabat tangannya sambil tersenyum.
" Oh dari Bandung. Oiya, nama aku Fadya." Jawab dia.
Kami pun bercerita satu sama lain, dan dia banyak bercerita tentang daerah ini, dan sebaliknya, aku juga menceritakan tentang kehidupanku di Bandung.
" Fadya, kamu ambil jurusan apa?."
" Aku ambil jurusan IPA Shen." Jawabnya.
" Oh sama dong, aku juga ambil jurusan IPA."
" Wih, berharap bisa satu kelas ya Shen." Jawabnya sambil tersenyum padaku.
Aku hanya tersenyum senang karena mendapat teman baru sebaik dia.
Ketika kami sedang asik berbicara, terlihat beberapa pengurus OSIS memasuki aula dan mengumumkan pada seluruh siswa baru untuk masuk kedalam aula.
Aku dan Fadya duduk di kursi lumayan belakang. Dan aku lihat didepan sana pengurus OSIS saling memperkenalkan diri. Dan seperti yang aku lihat, yang paling populer adalah kak Kamal, dia seorang Ketua OSIS, selain itu dia juga baik, pintar, dan juga tampan. Semua siswa perempuan antusias ketika kak Kamal memperkenalkan diri.
" Halo adik-adik semuanya, perkenalkan nama saya Kamal, saya kelas XI IPA 1, di OSIS jabatan saya sebagai Ketua OSIS, ada yang ingin ditanyakan?."
Dan dengan lantang siswa bertanya dengan pertanyaan anehnya.
" Udah punya pacar kak?."
" Nomor Whatsapp dong kak."
" Kak, alamatnya dimana?."
Mereka sepertinya mulai menyukai kak Kamal.
" Aduh dek, tanyanya yang normal normal aja ya." Kata kak Kamal sambil tertawa sekaligus gugup dengan pertanyaan itu.
" Jawab satu per satu tuh mal." Beberapa OSIS lain mengejeknya.
" Ah baiklah, Kakak jawab ya. Kalau pacar nggak punya, belum mikir soalnya..haha, kalau WhatsApp ada, kalau alamat rumah saya di gang masjid agung nomor 8, ada yang rumahnya di daerah situ juga?." Tanya kak Kamal pada kami semua.
Dan beberapa siswa ada yang mengatakan iya dan ada yang tidak. " Nah, Kakak di daerah situ".
Kemudian kak Kamal memerintahkan sekretaris OSIS untuk untuk absen kami. Beberapa nama disebutkan sampai akhir tanpa ada yang tertinggal.
" Ah okay, kakak akan bagi kelompok buat besok, besok kita sudah mulai MPLS. Nah, dimulai dari sini ya, berhitung dari 1 sampai 15, dan balik lagi ke nomor 1, oke paham?."
" Paham kak."
Semua siswa dengan kompak menjawab.
Dan aku mendapat nomor 3, otomatis aku masuk di kelompok 3, dan Fadya masuk di kelompok 4. Dan setelah dibagi kelompok, salah satu pengurus OSIS mengumumkan apa saja yang harus dibawa untuk besok.
" Baiklah, catat ya dek. Besok yang harus dibawa yaitu alat sholat bagi yang muslim, dan bekal. Bekalnya itu berisi tempe bacem dan gudangan."
Hah gudangan? Apa itu?." Gumam ku.
" Fadya, gudangan itu apa?." Tanyaku pada Fadya.
" Gudangan itu sayuran dikukus atau direbus terus dikasih ampas kelapa, kamu tanya saja sama budhe kamu, pasti tahu."
" Oh oke, iya pastilah dia tahu."
Aku tertawa kecil dengan Fadya.
Aku dan Fadya berjalan menuju gerbang sekolah, ternyata Fadya sudah di jemput oleh Ayahnya.
" Aku duluan ya Shen." Sambil menepuk kecil bahuku.
" Iya, hati-hati ya." Sambil tersenyum padanya.
Aku menelepon pakdhe ku, dan sepertinya pakdhe langsung berangkat. Aku duduk didepan sekolah sambil menunggu pakdhe datang. Saat aku sedang duduk, tiba-tiba seorang laki-laki siswa baru di sekolah ini juga memberiku sebuah pulpen.
" Eh, pulpennya jatuh." Sambil memberikan pulpen padaku.
" Itu bukan punya aku." Jawabku sambil bingung.
" Oh yaudah, maaf ya." Sambil menaruh pulpen itu disebelah ku lalu pergi begitu saja.
Ah sepertinya laki-laki itu anak yang baik, kalau aku nggak salah lihat tadi name tag nya bernama Alif.
Akhirnya pakdhe sampai dan kami pun langsung pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, budhe bertanya padaku, " gimana seru? Banyak teman ya?."
"Seru budhe, tadi aku punya teman baru namanya Fadya, tadinya aku bingung nggak ngerti bahasanya." Aku menceritakan pada budhe sambil tertawa.
" Nggak apa-apa, lama-lama juga pasti bakalan ngerti sama bahasa Jawa." Kata Pakdhe yang sepertinya ikut tertawa juga.
" Iya pakdhe. Oh iya budhe, besok aku disuruh bawa bekal tempe bacem sama gudangan."
" Oh iya, nanti budhe masakin buat besok."
" Makasih budhe."
Budhe tersenyum padaku.
" Nah gitu, kalau ada apa-apa bilang, jangan malu malu," timpal pakdhe sambil tersenyum.
Aku merasakan bahagia disini, walau terkadang aku sedih teringat Ayah dan Mama, tapi setidaknya aku memiliki pakdhe dan budhe yang sayang padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments