"Permisi kak."
Sapa ku pada mereka sambil sedikit membungkukkan badanku.
" Silahkan masuk."
Jawab salah satu OSIS yang sepertinya sangat aku kenal. Ya benar, itu adalah kak Kamal.
Aku pun berjalan menuju tempat duduk dengan Fadya, tapi aku lihat teman-teman kelasku masih heran kenapa jam segini aku baru masuk kelas.
" Kamu telat Shen?."
Tanya Fadya dengan suara yang pelan dan sedikit penasaran.
" Iya tadi aku abis jatuh dari motor, jadinya telat deh."
Jawabku sambil menunjukkan luka di telapak tanganku.
" Ya Allah, udah diobatin?." Tanya Fadya dengan rasa khawatir.
" Nanti aja, oh iya ini ada apa?."
Tanyaku balik mengalihkan pembicaraan.
" Ada pendaftaran calon pengurus OSIS, kamu mau ikut?."
Jawab Fadya disertai pertanyaan padaku.
" Aku mau ikut kayaknya."
Jawabku sambil mendengarkan apa yang disampaikan pengurus OSIS tersebut.
" Baiklah dek, tadi saya sudah jelaskan tentang bagaimana seleksi yang akan diadakan dalam pencalonan pengurus OSIS baru. Dan untuk yang baru datang tadi bisa tanya sama temannya ya." Jelas kak Kamal.
Aku hanya mengangguk sambil terus memperhatikan apa yang mereka sampaikan.
Aku pikir aku akan mendaftarkan diriku untuk menjadi pengurus OSIS. Lagi pula aku kan punya pengalaman sejak SMP menjadi pengurus OSIS.
" Sekarang saya akan mendata siapa saja yang ingin mencalonkan dirinya sebagai calon pengurus OSIS, angkat tangannya?."
Tanya salah satu pengurus OSIS perempuan yang akan mendata nama-nama calon pengurus OSIS baru.
Aku lihat ada sekitar sepuluh orang siswa yang mengangkat tangan termasuk aku dan Rani, tapi Fadya sepertinya tidak minta untuk menjadi pengurus OSIS.
" Kamu nggak ikut daftar Fad?." Tanyaku heran.
" Nggak Shen, aku nggak minat." Jawab Fadya diiringi senyum yang canggung.
" Padahal aku berharap kita bisa bareng-bareng di OSIS."
Balasku dengan wajah cemberut dan sedikit putus asa.
" Kita kan masih bisa bareng-bareng dikelas, yuk fighting." Balas Fadya yang menyemangati ku.
Semua nama didata oleh kakak OSIS, dan sekarang giliran ku.
" Yang itu, siapa namanya?."
Tanya kakak OSIS itu sambil menunjuk ke arahku.
" Shena namanya."
Jawab kak Kamal yang langsung menyebutkan namaku.
Aku hanya tersenyum malu kala semua pengurus OSIS meledekku dan kak Kamal.
" Kayaknya udah ada yang kenal akrab nih."
Kata salah satu kakak OSIS yang diiringi tawa kecil dan mata yang melirikku dan kak Kamal.
" Apaan, orang tahu waktu MPLS." Jawab kak Kamal dengan tawa yang malu.
Jujur, dalam situasi ini aku sangat malu dan canggung, yang padahal aku dan kak Kamal tidak ada apa-apa.
Lalu, teman-teman dikelas pun bertanya tanya ada apa sebenarnya.
" Cie Shena."
Ledek Fadya sambil menyenggol tanganku.
" Apaan sih Fad, orang aku aja nggak pernah ngobrol sama kak Kamal." Jawabku dengan malu.
Informasi pun selesai disampaikan oleh pengurus OSIS, dan data dikelas ku tercatat hanya ada sepuluh orang saja yang akan mengikuti seleksi pengurus OSIS.
" Terima kasih waktunya, untuk yang mendaftarkan diri jadi pengurus OSIS, silahkan nanti jam istirahat pertama ditunggu di perpustakaan."
Jelas kak Kamal dengan suara yang lantang.
Sepertinya aku harus bersiap nanti, mendengar apa yang dikatakan oleh Fadya tentang seleksi OSIS yang hanya interview dengan lima orang guru. Aku harus mempersiapkan mental dari sekarang.
Jam istirahat pun telah tiba, aku dan beberapa temanku yang mendaftar sebagai calon pengurus OSIS segera bergegas menuju perpustakaan.
" Ayo Shen." Ajak Rani padaku.
" Yuk. Aku tinggal dulu ya Fad."
Kataku pada Fadya sambil beranjak dari tempat dudukku.
" Iya Shen, kalian semangat ya." Balas Fadya dengan senyuman manisnya.
" Siap." Jawab Rani sambil menepuk pundak Fadya.
Aku dan Rani berjalan berjalan menuju perpustakaan, kamu pun membahas masalah kemarin, dan Rani juga bercerita tentang Rendi.
" Tadi aku juga ketemu sama dia." Aku memberitahu Rani.
" Dimana Shen?". Tanya Rani penasaran.
" Tadi, waktu aku mau ke kamar mandi." Jawabku singkat.
" Oh iya, tadi kamu kenapa telat?."
Tanya Rani penasaran, karena yang dia tahu aku selalu datang duluan dibandingkan Rani.
" Tadi aku jatuh Ran." Jawabku.
" Ya Allah, dimana? Terus apa yang sakit?." Tanya Rani yang sepertinya khawatir padaku.
" Jatuhnya sih dideket sawah gitu Ran, masih deket sama rumah budhe aku. Nggak apa-apa kok."
Jawabku sambil tersenyum padanya, seolah olah aku aku baik-baik saja, yang padahal telapak tanganku sangat perih.
" Kalau sakit, ke UKS aja ya, aku yang antar."
Balas Rani yang masih khawatir dengan keadaanku.
" Nggak kok Ran, makasih ya."Balasku dengan senyuman.
Aku beruntung memiliki teman sebaik Rani dan Fadya, mereka benar-benar menyayangi ku.
Aku dan Rani sampai di perpustakaan, disana terlihat banyak siswa yang berdiri maupun duduk diluar perpustakaan, sepertinya mereka juga calon pengurus OSIS.
Kami pun masuk ke dalam, dan benar saja didalam sudah ada beberapa kakak OSIS yang sedang duduk dan berdiskusi. Aku dan Rani duduk bersebelahan, sedangkan siswa yang baru datang hanya bisa berdiri karena tidak ada kursi yang kosong.
Tanpa menunggu lama, pembina OSIS pun datang dan duduk sambil memberikan informasi.
" Assalamualaikum."
Kata pak Yanto mengucapkan salam pada kami.
" Waalaikumsalam." Jawab kami kompak.
Kemudian kak Yanto mulai menjelaskan beberapa peraturan tentang seleksi OSIS dan memperkenalkan diri.
" Perkenalkan nama bapak, pak Yanto. Di sekolah ini bapak sebagai guru PKN sekaligus pembina OSIS."
Jelas kak Yanto yang memperkenalkan dirinya.
Kami pun mendengarkan secara detail tentang apapun yang di sampaikan oleh pak Yanto.
" Tolong absen dulu aja yang sudah hadir disini."
Perintah pak Yanto pada salah satu pengurus OSIS.
Kakak OSIS pun mengabsen nama-nama kami, yang dimulai dari kelasku yaitu 10 IPA 1, yang ternyata semua sudah hadir di perpustakaan, kemudian dilanjutkan dengan kelas 10 IPA 2.
" Alif?." Sebut kakak OSIS itu.
" Alif ikut juga." Gumam ku yang ternyata terdengar oleh Rani.
" Kayaknya iya."
Jawab Rani yang membuatku terkejut, ternyata dia mendengar ucapan ku.
Kami saling melihat ke sekeliling, ternyata Alif tidak ada disini. Kemudian salah satu siswa laki-laki mengatakan bahwa Alif ada urusan sebentar bersama guru.
" Maaf kak, tadi Alif di panggil ke ruang guru." Kata siswa itu.
" Yaudah nggak apa-apa." Balas pak Yanto.
Semua nama telah disebutkan satu persatu, semuanya hadir di perpustakaan kecuali Alif. Dan yang membuatku terkejut lagi adalah bahwa interview akan dimulai hari ini.
" Persiapkan diri kalian, karena interview akan di mulai hari ini dan besok jika waktunya tidak sempat." Jelas pak Yanto.
Sontak kami semua terkejut mendengar ini.
" Ini beneran Ran?." Tanyaku pada Rani.
" Mungkin Shen."
Dengan jawaban yang putus asa.
Kami pun berkumpul diluar perpustakaan, karena didalam adalah tempat interview kami dengan lima orang guru.
Aku lihat seorang siswa laki-laki berlari kecil menuju perpustakaan, ya, ternyata itu adalah Alif. Dia berdiri tepat disampingku, dia pun bertanya pada salah satu siswa laki-laki yang sepertinya teman sekelasnya.
Kemudian dia sedikit melirik ke arahku, dan aku pun sedikit malu ketika dia bertanya padaku.
" Benar interview nya sekarang?."
Tanya Alif dengan wajah yang sepertinya sedikit malu.
" Iya sekarang." Jawabku singkat diiringi sedikit anggukkan.
Dia hanya tersenyum tipis mendengar jawabanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments