Aku pun sampai dirumah sebelum maghrib. Aku lihat budhe tengah duduk di teras rumah, sepertinya budhe sedang menunggu kedatanganku.
" Assalamualaikum." Salam ku padanya.
" Waalaikumsalam, budhe khawatir kamu belum pulang."
Balas budhe dengan wajah yang lega melihat kedatangan ku.
" Tadi aku lama di toko buku, cari buku dulu budhe."
Jawabku dengan rasa tidak enak membuatnya cemas.
Kami pun masuk ke dalam rumah.
Dan dikamar, ku buka novel yang aku beli tadi, ketika ku baca beberapa episode saja jalan ceritanya sudah bagus dan tidak membosankan, dan dari judulnya pun sudah terlihat memiliki cerita yang bagus.
Tiba-tiba aku merasa rindu kepada orang tuaku, sedang apa mereka sekarang, pastinya jam segini biasanya kita berkumpul diruang TV, duduk dan bercerita tentang apa yang kita lakukan hari ini.
Saat itulah aku mulai merasakan kehangatan sebua keluarga yang sesungguhnya. Tapi sekarang aku juga tetap merasakan kebaikan dari pakdhe dan budhe, karenya aku bisa nyaman disini.
Aku pun mengambil ponselku yang aku simpan di meja belajar, lalu aku memutuskan untuk menelpon Mama.
" Halo ma, assalamualaikum."
Salam ku pada Mama ketika menjawab telepon dariku.
" Waalaikumsalam Shen, gimana sehat?." Balas Mama dengan senang.
" Kabarku baik mah, Mama sama Ayah pada sehat kan?."
Tanyaku balik pada Mama yang selalu mengharapkan kesehatan mereka.
" Mama sama Ayah baik. Kamu lagi apa sekarang?."
Jawab Mama yang membuatku merasa lega, diiringi pertanyaan darinya.
" Aku lagi duduk mah, tadi aku abis dari toko buku beli Novel."
Jawabanku sambil melihat dua buah novel yang berada di hadapanku.
" Gimana, betah kan disana?." Tanya Mama kemudian.
" Iya mah, udah mulai betah, walau masih kangen sama suasana rumah." Jawabku dengan nada yang sedih.
" Udah, nanti juga lama kelamaan semakin betah disana."
"Iya mah. Oh iya, Ayah mana mah?."
Tanyaku padanya, karena aku ingin bercerita banyak hal padanya.
" Ayah belum pulang Shen, paling ini juga di perjalanan pulang."
Jawab Mama yang sebenarnya sudah aku tebak pasti Ayah belum pulang karena pekerjaannya yang padat.
Kami pun bercerita banyak hal, tidak lupa Mama selalu memberiku motivasi dan semangat supaya aku makin betah dan bisa menjalani hari-hari ku dengan menyenangkan disini.
Dan aku pun bercerita tentang terpilihnya aku sebagai pengurus OSIS di sekolah.
Mama bangga mendengar kabar itu, dan Ayah pun pasti senang mendengarnya, karena mereka senang jika aku mengikuti berbagai kegiatan organisasi yang baik, dan tentunya bisa membentuk karakter diriku untuk menjadi lebih baik.
Aku pun mengakhiri percakapan kami di telepon.
" Yaudah ya mah, aku mau beresin buku-buku dulu." Kataku pada Mama.
" Iya, baik-baik ya disana. Salam buat pakdhe sama budhe." Jawab Mama.
" Iya mah, salam buat Ayah ya." Balasku kemudian.
Kami pun menutup obrolan panjang kami malam di telepon malam ini, itu sedikit bisa mengobati rasa rinduku pada orang tuaku walau hanya melalui telepon.
Aku melanjutkan membaca Novel yang aku beli hari ini, tanpa aku sadar jam telah menunjukkan pukul 22.30, aku pun bergegas untuk pergi tidur karena besok harus pergi ke sekolah.
Sahutan suara ayam berkokok membuatku terbangun di pagi hari ini. Aku bergegas untuk pergi mandi dan bersiap. Aku juga telah menyiapkan sarapan untuk kami pagi hari ini.
Padahal aku jarang membuat sarapan ketika dirumah, bahkan bisa dihitung berapa kali aku memasak, dan disini aku mulai belajar menjadi orang yang mandiri.
Pagi ini hanya nasi goreng lah yang aku masak, karena hanya makanan itu yang bisa aku masak untuk saat ini.
Setelah menikmati sarapan, aku pun pamit dan bergegas untuk pergi ke sekolah. Aku melajukan motorku dengan kecepatan normal, suasana pagi hari yang biasanya dingin dihangatkan oleh cahaya terang dari sunrise.
Akhirnya aku sampai di sekolah dengan tepat waktu.
Disana sudah ada beberapa siswa yang datang. Dan aku lihat di depan gerbang sekolah sudah ada beberapa kakak OSIS yang tengah berdiri dan membawa buku catatan.
" Pagi kak." Sapa ku pada mereka.
" Pagi dek." Jawab OSIS itu dengan ramah.
" Saya lengkap ya kak."
Balasku sambil menunjukkan seragamku yang dilengkapi atribut sekolah beserta kaos kaki dan sepatu yang sesuai dengan peraturan.
Karena aku tahu bahwa pengurus OSIS itu sedang piket untuk memeriksa siswa yang melanggar peraturan.
" Oke bagus." Jawab kak Kamal dengan senyum manisnya.
Aku pun membalasnya dengan senyuman sambil berjalan menuju kelas.
Ketika aku sampai didepan kelas, aku mendengar keributan dari kelas lain, tepatnya didepan kelas 10 IPA 3.
Semua orang berkerumun disana, sepertinya ada yang bertengkar. Aku segera lari ke arah keributan itu, benar saja dua orang siswa laki-laki tengah bertengkar dan saling pukul.
Dan aku lihat salah satu dari mereka berdua adalah seorang yang aku kenal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments