" Itu kan, oh ternyata dia kelas itu."
Gumam ku yang sedari tadi terus melihat ke arah laki-laki itu.
" Eh Lif, kamu kelas IPA 2?."
Tanya Rani membuatku sontak kaget dengan pembicaraan Rani padanya.
" Iya."
Alif hanya menjawab singkat dan diiringi dengan anggukan, lalu dia pergi begitu saja.
" Itu siapa?."
Tanyaku pada Rani yang sebenarnya aku tahu dia adalah Alif.
" Oh, itu Alif. Dia satu SMP sama aku." Jawab Rani.
" Oh dia satu SMP sama kamu Ran." Kataku padanya.
" Iya, Ayah dia orang Jakarta tapi sekarang sudah meninggal, makanya di Alif lebih terbiasa ngomong pakai bahasa Indonesia."
Rani menceritakan tentang Alif cukup jelas.
" Dia juga laki-laki yang pintar dan cuek sih." Tambah Rani.
Aku dan Fadya hanya menjawab dengan anggukan dengan ekspresi wajah yang penasaran.
Kami bertiga pun sampai di kantin, aku lihat banyak sekali siswa yang sudah berada disana.
" Kamu mau beli apa Shen?." Tanya Fadya.
" Aku pengen jus mangga aja deh." Jawabku sambil melihat beberapa menu di kantin.
" Kamu nggak makan Shen?." Tanya Rani.
" Aku gak laper Ran, kamu mau makan? Fadya juga?." Tanyaku pada kedua temanku.
" Aku nggak deh, beli makanan ringan aja." Jawab Rani.
" Kalau aku..bentar, apa ya. Aku juga mau beli jus aja, haus banget."
Jawab Fadya sambil memesan jus yang aku dan Fadya inginkan.
Akhirnya kami mendapatkan jus dan beberapa cemilan, kami membawanya ke kelas, karena keadaan kantin saat ini sangat ramai. Akhirnya kami menikmati jus dan dan makanan kami di teras kelas kami, hari ini begitu cerah sampai aku tidak bisa menikmati yang ku teguk terus tanpa henti karena haus.
Aku lupa, hari ini aku berencana untuk pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku.
" Bentar ya, aku lupa mau pinjam buku ke perpustakaan, keburu masuk nanti."
Sambil berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Fadya dan Rani yang tengah duduk dan menikmati makanan.
" Mau diantar?." Tanya Fadya yang diikuti oleh anggukan Rani.
" Nggak usah." Kataku sambil berjalan meninggalkan mereka.
Aku berjalan menuju perpustakaan yang letaknya lumayan jauh dari kelasku. Aku mempercepat langkahku, khawatir jam pelajaran akan segera dimulai, untung saja aku tahu dimana letak perpustakaan, karena ketika MPLS kemarin kami berkeliling sekolah.
Dan aku pun sampai didepan perpustakaan, terlihat tidak begitu ramai orang disana, dengan ruang perpustakaan yang cukup luas dan rak buku yang tersusun rapi dan banyak, membuat suasana perpustakaan terasa sepi.
Aku pun masuk ke dalam, dan ku lihat ada seorang guru wanita yang menjaga perpustakaan itu.
" Permisi Bu."
Salam ku padanya kemudian bersalaman.
" Iya mbak."
Dibalas dengan senyuman ramah.
" Bu, saya izin mau pinjam buku."
" Silahkan, cari saja buku apa yang ingin dipinjam." Jawab guru itu dengan ramah.
Aku pun bergegas mencari buku yang aku cari, karena aku masih bingung letak buku-buku disini.
" Ah itu dia."
Gumam ku sambil terus berusaha meraih buku itu yang letaknya cukup tinggi dan lumayan sulit untuk diraih.
" Aduh, susah sekali, ada kursi nggak ya."
Berbicara pada diri sendiri sambil terus berusaha meraih buku itu.
Tiba-tiba aku terkejut dengan sosok tangan misterius yang meraih buku itu tanpa aku tahu siapa orangnya.
" Nih."
Sambil memberikan buku itu.
" Oh iya, terima kasih ya."
Aku segera mengambil buku itu dan merasa malu jika dia dari tadi melihat tingkahku mengambil buku itu yang pastinya dilihat oleh Alif.
" Minta bantuan kalau nggak bisa."
Dengan senyum yang tipis dan berjalan meninggalkanku.
Aku sebenarnya tidak paham yang diucapkan Rani tentang Alif, apakah itu benar atau salah. Dia laki-laki yang baik, kadang juga cuek, kadang pula hanya diam, dingin seperti es mungkin, tapi aku tidak begitu mengerti dengan karakter Alif, dia sedikit aneh.
Aku pun meminta izin untuk meminjam buku, akhirnya aku telah mendapatkan surat izin perpustakaan, dan aku melihat ke sekeliling perpustakaan sepertinya Alif sudah pergi dari sini.
Aku pun bergegas kembali ke kelas, dan aku melihat Alif sedang berjalan menuju ruang guru, entahlah, sepertinya ada urusan yang lain.
Jam pelajaran dimulai, aku sulit untuk memahami pelajaran karena guru yang mengajar ku kali ini menggunakan bahasa Jawa selama pelajaran dimulai, sepertinya guruku belum mengetahui kalau dikelas ini ada orang Sunda..hehe.
" Maaf pak, saya nggak bisa bahasa Jawa." Dengan rasa malu saya mengatakan itu.
" Mbaknya darimana?." Tanya guruku.
" Saya dari Bandung pak." Jawabku singkat.
" Oalah, maaf ya bapak nggak tahu." Sambil tertawa kecil.
Dan kami pun melanjutkan pelajaran yang pastinya menggunakan bahasa Indonesia. Bel sekolah pun berbunyi, tandanya kelas telah berakhir, kami pun mengakhiri pelajaran hari ini dan pulang. Rasanya sangat lelah untuk hari pertama dan pastinya menyenangkan juga.
Aku berjalan ke parkiran motor bersama Rani, karena Rani juga membawa motor sendiri ke sekolah, lain dengan Fadya yang belum berani mengendarai motor sendiri.
Ketika di parkiran, aku mendapati seorang siswa laki-laki yang terlihat nakal, karena dia menghalangi jalanku dan Rani.
" Maaf, tolong minggir dulu." Pintaku padanya.
Tetapi dia tetap diam dan tertawa bersama tiga temannya.
" Eh minggir dong." Bentak Rani pada mereka.
Sontak laki-laki itu langsung menatap kami sinis.
" Biasa aja dong." Bentak laki-laki itu.
" Kalian yang dari tadi disuruh minggir malah ketawa-ketawa, gila ya." Bentak ku juga pada siswa laki-laki itu.
Tanpa aku sadari, dia mendekat ke arahku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments