Waktu berjalan sebagaimana mestinya, tanpa sadar, aku telah melewati kehidupan disini tanpa adanya Ayah dan Mamaku. Semua memang terasa berbeda, tapi aku bisa menjalankannya dengan baik, aku pun dengan senang hati menikmati setiap proses kehidupan untuk menjadi dewasa.
Pikiranku sekarang hanyalah fokus dengan apa yang aku jalani sekarang, seakan semua ini adalah takdir yang ditentukan. Bagaimana bisa senja yang begitu indah cepat berlalu, dan itu semua kehendak Tuhan yang menentukan segalanya.
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi seorang siswa SMA, setelah melewati masa MPLS yang menyenangkan, aku pun turut bahagia menyambut hari pertama ini.
Aku bersiap untuk berangkat lebih awal, karena kelas telah ditentukan hari ini, dan ini adalah pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu, rasanya sangat berkesan, ah apakah aku sudah terlihat seperti orang dewasa?
" Budhe, Pakdhe, Shena berangkat ya". Sambil menyalami dan berpamitan pada mereka. " Hati-hati ya nduk". Aku langsung melajukan motorku dengan hati-hati, disambut oleh udara pagi yang begitu dingin, sampai membuat ujung jari tanganku memerah karena kedinginan. Dan aku lihat sudah banyak anak sekolah yang berlalu lalang di jalanan untuk pergi sekolah, karena memang hari ini adalah hari pertama untuk sekolah, biasa disebut sebagai ajaran baru.
Akhirnya aku sampai disekolah, aku lihat didepan mading banyak sekali siswa sedang berkumpul disana, sepertinya ada pengumuman. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari ke arah mereka.
Semua orang sibuk saling menunjuk kertas pengumuman di mading itu dan mencari nama mereka, sepertinya itu adalah pengumuman pembagian kelas.
" Maaf, permisi, kamu sudah lihat kan?"
Tanyaku pada salah satu siswa perempuan yang tidak aku kenal.
" Oh iya, sini maju kedepan."
Sambil bergeser dan mempersilahkan aku maju.
Aku sibuk mencari dimana namaku, dan kelas IPA berapa yang akan aku dapatkan. Tanpa menggunakan waktu yang lama, akhirnya aku menemukan namaku terpampang disana, namaku ada didaftar kelas X IPA 1. Aku lega telah mengetahui itu.
Aku pun berjalan mencari kelas IPA 1, ternyata kelasku berada dilantai satu, berdekatan dengan mushola dan tentunya bersebelahan dengan kelas IPA 2.
Tanpa ragu, aku pun memasuki kelas itu, dan berapa terkejutnya aku melihat bahwa ada Fadya disana.
" Fadya, kamu kelas IPA 1 juga?"
Tanyaku padanya sambil menghampiri Fadya yang tengah duduk sendiri di kursi barisan kedua.
" Shena, kamu kelas ini juga? Ya ampun kita satu kelas."
Betapa antusiasnya Fadya yang mengetahui itu.
" Iya, nggak nyangka ya."
" Maaf ya Shen, tadi aku nggak sempat lihat nama-nama siswa kelas IPA 1, jadi aku gak tahu kalau ada nama kamu juga." Dengan ekspresi wajah bersalah.
" Nggak apa-apa, aku juga maaf loh gak lihat nama kamu." Jawabku diiringi tawa kecil.
" Yaudah nggak masalah, yang penting kita satu kelas," dengan raut wajah yang senang.
" Iya iya. Aku duduk sama kamu ya."
" Tentu dong Shen, sini sini duduk."
Sambil menggeser kan kursi dan mempersilahkan ku untuk duduk.
Aku lihat beberapa siswa dikelas ku terlihat ramah, mereka menyapa ku dan berkenalan, begitu pun denganku juga, saling menyapa satu sama lain. Dan ada beberapa siswa laki-laki yang sudah aku kenal sejak MPLS kemarin. Sepertinya aku mulai akrab dengan teman-teman baru dikelas ku.
Kami pun saling bertukar cerita satu sama lain, tanpa disadari bel sekolah pun sudah berbunyi, dimana tandanya pelajaran akan segera dimulai, tapi sepertinya hari ini hanya akan ada sesi perkenalan saja.
Seorang guru wanita pun masuk ke kelas ku, dengan wajah cantik dan senyum yang ramah, dan aku ingat betul bahwa itu adalah ibu Dina guru bahasa Inggris.
" Selamat pagi."
" Pagi Bu."
Jawab kami kompak.
" Sudah masuk semuanya?." Tanya Bu Dina.
" Sudah kayaknya Bu." Jawab salah satu murid dikelas.
" Oke, kalau gitu Ibu absen saja ya."
Tanpa nunggu lama, Bu Dina mulai mengabsen, satu persatu nama disebutkan tanpa ada yang tertinggal.
Sepertinya semua siswa dikelas sudah masuk semua, karena semua menjawab hadir.
" Ada yang tidak disebut namanya?." Tanya Bu Dina dengan mata yang tertuju ke arah kami.
" Kayaknya nggak ada Bu." Jawab Fadya.
" Baiklah kalau gitu." Dengan senyuman Bu Dina membalas jawaban Fadya.
" Oke anak-anak, perkenalkan nama ibu, Ibu Dina. Ibu disekolah ini sebagai guru bahasa Inggris sekaligus wali kelas kalian."
Sontak aku terkejut sekaligus bahagia, bagaimana ini bisa terjadi, guru yang mulai aku idolakan menjadi wali kelasku.
Bu Dina pun meminta kami satu persatu untuk memperkenalkan diri, dimulai dari siswa yang mempunyai nomor absen awal.
Setelah beberapa siswa yang maju kedepan dan memperkenalkan diri, sekarang giliran aku yang maju kedepan dan memperkenalkan diri.
" Halo, nama saya Shena, saya dari SMP 1 Kota Bandung." Sapa ku pada mereka.
" Shena dari Bandung?."
Tanya Bu Dina yang sepertinya penasaran mengapa aku bisa berada disekolah ini.
" Iya Bu, karena Ayah saya asli orang Jawa, jadi saya disuruh sekolah disini." Jawabku menjelaskan.
" Bisa bahasa Jawa?." Tanya kembali Bu Dina.
" Belum bisa Bu." Jawabku dengan ketawa kecil dan malu.
Bu Dina hanya tersenyum, dan meminta agar teman-teman kelasku bisa membantuku beradaptasi disini dan membantuku belajar bahasa Jawa.
" Ada yang ingin ditanyakan?." Tanyaku pada teman-teman.
" Hobi?." Tanya teman kelasku yang bernama Rani.
" Hobi aku membaca novel." Jawabku.
" Warna Favorit?." Tanya teman laki-laki ku sambil tertawa malu.
" Emm..Warna Orange". Jawabku singkat.
" Ayo satu pertanyaan lagi." Kata Bu Dina.
" Hal yang paling di sukai?." Tanya salah satu temanku yang lain.
" Aku paling suka melihat senja." Jawabku dengan senang hati.
" Wah, ternyata Shena punya hal yang unik untuk dilakukan, silahkan duduk kembali Shena."
" Terima kasih Bu."
Sambil berjalan ke arah tempat dudukku.
Akhirnya sesi perkenalan pun sudah selesai, dan Bu Dina membuat struktur organisasi kelas, setelah melalui proses yang cukup lama, akhirnya Fajar dan aku menjadi ketua kelas dan wakil ketua kelas. Akhirnya bel istirahat berbunyi, aku dan Fadya bergegas untuk pergi ke kantin.
" Beli minum yuk Shen, haus." Ajak Fadya.
"Ayo." Jawabku.
Aku dan Fadya berjalan ke luar kelas, tiba-tiba seseorang memanggilku dari arah belakang.
" Shena, Fadya, tunggu." Yang ternyata itu Rani.
" Kalian mau ke kantin?." Tanya Rani.
" Iya nih, mau ikut?." Tanyaku pada Rani.
" Iya, aku ikut ya." Jawab Rani.
" Yaudah yuk." Ajak Fadya.
Kami pun berjalan ke luar kelas, sambil bercerita satu sama lain yang sebenarnya aku juga bingung apa yang dibicarakan, hanya melepas keheningan saja. Ketika kami sedang berjalan melewati kelas, aku lihat seorang laki-laki sedang berdiri didepan kelas X IPA 2, dengan wajah yang tidak asing bagiku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments