Kami pun turun dari mobil, dan ku lihat budhe langsung menghampiri kami. Budhe memeluk Ayahku, sepertinya dia sangat rindu, karena sudah lima tahun kami tidak mudik ke Jawa karena pekerjaan Ayah yang padat, dan aku pun bersalaman pada budhe dan pakdhe dan juga orang-orang yang ada disana.
Tiba-tiba budhe menangis memelukku.
" Ya Allah nduk, wes gede saiki (udah besar sekarang)." Budhe langsung memelukku.
Aku membalas pelukannya. Betapa tulus cintanya padaku dan keluargaku. Aku selalu mendapatkan banyak kehangatan sebuah keluarga.
Kami pun masuk dan berbincang bincang tentang perjalanan yang kami lalui, dan tiba-tiba budhe berkata padaku.
" Betah ya nduk disini, walau di desa tapi disini nyaman, banyak teman nanti disini."
" Iya budhe, seru kok disini."
" Iya Shen, pada baik baik orang sini tuh, pada ramah." Ayahku selalu meyakinkanku.
" Nanti sekolahnya dimana ya budhe? Jauh dari sini?." Tanyaku pada budhe.
" Lumayan deket, cuma lewat perempatan tadi toh, terus belok kiri, tadi kamu ngelewati." Jawab budhe menjelaskan.
" Iya, lumayan deket, pakdhe juga banyak yang kenal sama guru-guru disitu," timpal pakdhe.
Aku hanya tersenyum bingung apa yang harus dikatakan.
Hari pun menjelang siang, budhe telah menyiapkan makanan untuk kami, dia memasak banyak hari ini.
" Ayo dimakan, masakan Jawa itu enak, makan nduk." Perintah budhe sambil menyerahkan beberapa makanan dihadapan ku.
" Iya budhe."
" Tuh Shen lihat, makanannya pasti enak." Kata Mama.
" Kayak gini masakan Jawa tuh." Kata Pakdhe.
" Ini apa budhe?." Sambil memegang semangkuk makanan.
" Oh itu namanya tempe bacem, disini tempenya dibungkus pakai daun jati, dibentuk kecil-kecil." Budhe menjelaskan.
" Oh, ini enak banget." Aku tersenyum pada mereka.
" Dihabiskan kalau enak, ayo dimakan, seneng budhe kalau gitu."
Masakan budhe sangat enak, dan masakan Jawa tidak begitu beda dengan masakan Sunda, jadi lidahku dengan senang hati menerimanya.
Setelah selesai makan siang, Ayah tertidur pulas, mungkin karena perjalanan panjang yang kami lalui selama berjam jam. Ku lihat Mamaku tengah di dapur bersama budhe sedang sibuk mencuci beberapa piring kotor, dan pakdhe pergi ke kandang sapi untuk memberinya makan.
Aku baru ingat, aku belum mengabari temanku Dinda. Aku mengambil ponsel disaku celanaku lalu aku segera menelepon Dinda. Tanpa menunggu lama, Dinda pun mengangkat telepon dariku.
" Assalamualaikum Din."
" Waalaikumsalam Shen."
" Aku baru sampai tadi pagi disini," ucapku memberitahu Dinda.
" Syukurlah kalau gitu, gimana disana seru gak?." Tanya Dinda.
" Aku rasa gitu Din, disini sangat asri dan sejuk, aku suka". Jawabku dengan nada semangat.
" Wih, semoga betah ya Shen, baik-baik disana, jangan lupa sama aku."
Dinda sepertinya sedih karena jarak kami yang sekarang jauh.
" Iya Din, gak bakalan kok, kamu juga baik-baik ya disana."
" Iya Shen, sering sering telpon ya."
" Iya Din, yaudah ya aku mau istirahat dulu."
" Oh iya Shen, sampai nanti, assalamualaikum."
" Iya Din, waalaikumsalam."
Kami pun menutup telepon masing-masing, aku sangat sedih mendengar suara Dinda yang kini hanya bisa ku dengar ditelepon saja. Aku pasti akan merindukan dia.
Hari pun mulai sore, aku berjalan menyusuri sawah - sawah yang berada dibelakang rumah budhe dan pakdhe ku. Aku mengambil beberapa foto pemandangan itu untuk ku perlihatkan pada teman-teman ku di Bandung.
Setelah menunggu beberapa menit, yang aku tunggu akhirnya tiba. Ya, aku sedang menunggu senja. Kalian tahu, sore ini, senjanya begitu terpancar, itu sangat indah. Aku menikmati pemandangan itu, dan aku membuang semua rasa lelahku bersamanya diganti dengan keindahan yang sesungguhnya. Terima kasih Tuhan, sampai detik ini aku masih diberi kuat.
Aku kembali ke rumah budhe, dan disana ada Ayah dan Mamaku yang sudah menunggu diteras rumah.
" Darimana mainnya Shen?." Tanya Mama.
" Dari belakang mah, lihat senja, senjanya bagus banget." Aku menjelaskan dengan apa yang aku lihat.
" Yaudah, ayo masuk, udah hampir gelap." Ayahku memerintahkan kami untuk masuk rumah.
Aku sedang duduk diruang tamu, dan jam menunjukkan pukul delapan malam, aku menikmati secangkir teh hangat yang dibuatkan oleh budhe. Di tengah tengah aku melamun, budhe datang bersama Mamaku.
" Nduk, 3 hari lagi nanti kamu ke sekolah, daftar ulang, nanti diantar sama pakdhe." Sambil merangkul bahuku lalu duduk disebelah ku.
" Oh iya budhe, nanti pakai seragam SMP kan?." Tanyaku padanya.
" Iya pakai seragam SMP, bawakan?."
" Bawa kok budhe."
" Nanti gak usah malu, temannya baik-baik nanti disekolah." Budhe meyakinkanku.
" Iya Shen, kamu kan berani, belajar yang rajin ya." Kata Mamaku.
Aku hanya bisa tersenyum, rasanya bahagia dan sedih juga bakalan jauh dari orang tua, tapi budhe sama pakdhe sangat baik padaku.
Dua hari sudah kami di Jawa, Ayah dan Mamaku akan pulang ke Bandung karena pekerjaan Ayah yang sangat banyak. Hari ini pun Ayah dan Mama berpamitan padaku untuk saatnya pulang ke Bandung, dan mereka selalu meyakinkanku untuk jadi anak yang mandiri dan menjalani kehidupan yang baik disini.
" Mama pulang ya Shen, kamu hati-hati disini, harus mandiri ya, belajar yang rajin."
Mamaku memelukku sambil menahan tangisannya.
Aku hanya bisa mengangguk dan membalas pelukannya, aku tak sanggup berbicara, aku hanya menangis saat Mamaku mengatakan itu. Dan Ayah pun berpamitan padaku.
" Baik-baik ya disini, kalau butuh apa apa telpon Ayah, jangan ngerepotin budhe sama pakdhe, belajar yang rajin ya." Kata Ayahku sambil memelukku.
Dan aku pun hanya membalas dengan anggukkan sambil memeluknya.
" Mbak, mas pamit nggeh, titip Shena ya, maaf kalau di repotin." Kata Ayahku sambil memeluk budhe dan pakdhe.
" Nggeh, hati-hati ya." Jawab budhe.
Setelah Mama dan Ayahku berpamitan, mereka akhirnya berangkat dan memulai perjalanan pulang. Aku hanya menatapnya, makin jauh mobil mereka melaju, aku makin tenggelam dalam kesedihan, aku rasa aku pasti akan merindukan Ayah dan Mama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments