Huaahh..Aku terbangun dari tidurku, aku rasa badanku terasa sakit dan pegal, karena perjalanan yang cukup jauh. Aku lihat Mama tertidur cukup pulas, sedangkan ayahku masih terjaga mengendarai mobil.
Aku lihat jam tanganku menunjukan pukul 06.00 pagi, aku berharap segera sampai ditempat tujuan, aku butuh istirahat yang cukup dan mandi pastinya. Lalu aku bertanya pada Ayah.
" Yah, berapa jam lagi sampai?."
" Ini jam berapa sekarang?." Tanya ayah sambil fokus menatap jalanan.
" Emm, jam 6 yah."
" 3 atau 4 jam lagi sampai, kenapa? Udah lelah diperjalanan ya." Kata ayahku sambil tertawa kecil.
" Iya yah, badan pada pegal semua."
" Yaudah tahan dulu ya, sebentar lagi sampai."
Aku hanya tersenyum membalas perkataan ayahku, aku rasa aku harus menikmati perjalanan agar semuanya terasa singkat.
Aku memutar lagu di ponselku tanya menggunakan earphone, aku rasa suasana didalam mobil menjadi tidak terlalu hening oleh suara jalanan dan kendaraan yang kami lalui.
Dan aku rasa Ayah juga menikmati lagunya, Ayahku selalu suka apapun yang aku suka, mungkin selera kita banyak yang sama.
Sekitar satu jam mendengarkan lagu, tak terasa hari semakin terang, jalanan pun makin terlihat dan sunrise mulai menampakkan cahayanya, aku suka melihat cahaya jingga seperti itu, itu terlihat seperti senja yang sering aku tatap dikala hari mulai gelap.
Aku tidak tahu kenapa aku begitu sangat menyukai senja, rasanya itu membuatku tenang saat melihatnya, jingga, cantik, bersinar cerah, tak heran banyak orang yang menyukai senja. Senja itu bagiku adalah keindahan diakhir hari yang ku jalani hari ini, saat senja datang saat itulah aku menumpahkan semua keluh kesah yang terjadi hari ini, aku harap dia membawanya dan menggantinya dengan keindahan yang dia miliki.
Dan yang kini aku lihat adalah sunrise yang indah, memberi keindahan di pagi hari ini. Aku melihat disekitar perjalanan bernuansa pedesaan dengan rumah rumah yang begitu mirip, atau bisa dikatakan hampir sama, walau hanya di bagian atapnya saja, tapi itu terlihat indah dengan kebudayaan yang masih terjaga.
Dari lamunanku menikmati pemandangan itu, suara Mamaku mengejutkan ku, tanpa aku sadar, Mama sudah terbangun dari tidurnya.
" Shen, serius banget ngeliatnya, pemandangannya bagus ya." Tanya Mamaku.
" Eh Mama, kirain masih tidur."
"Shena udah mulai suka kayaknya mah." Timpal ayahku yang dari tadi menyimak percakapan kami.
Aku dan Mama hanya tertawa kecil mendengar Ayahku yang begitu semangat agar aku tinggal nyaman disini.
Di tengah perjalanan kami yang asik dengan cerita cerita Ayah, kami pun berhenti di suatu restoran khas Jawa, kami pun memesan menu sarapan pagi ini, dengan menu masakan Jawa, semuanya terlihat enak.
Ketika kami sedang menunggu, seorang pelayan pun datang.
" Monggo (silahkan) pak." Sapa pelayanan perempuan itu sambil memberikan buku kecil dan pulpen untuk mencatat menu kami.
" Kamu mau makan apa Shen? Mama juga?."
Tanya ayah pada kami.
" Shena mau Soto Ayam aja yah."
" Mama juga mau soto Ayam."
"Emang itu Ayah pikir paling tepat." Kata ayahku sambil tertawa kecil pada kami.
" Yowes (yaudah), Niki (ini) mbak." Kata ayahku pada pelayanan itu sambil menyerahkan tulisan pesanan kami.
" Nggeh (iya) pak, sampun niki mawon (sudah ini saja)?." Tanya pelayanan itu.
"Oh sareng (sama) air mineral 3." Jawab ayahku sambil di iringi anggukan dari pelayanan itu.
Ditengah kami menunggu makanan datang, Ayahku bercerita tentang masa kecilnya dulu di kampung halamannya di Jawa Timur.
" Dulu Ayah waktu sekolah paling sering makan soto", disini itu makanannya enak enak dan harganya juga murah." Ayah bercerita tentang banyak hal pagi ini.
" Terus yah, selain makanan seperti soto atau yang lainnya, apalagi yang murah?." Tanyaku pada Ayah.
" Selain makanan ini, buah-buahan juga lumayan murah, jadi Shen, daerah Jawa itu tepat untuk jadi kota anak pelajar dengan biaya hidup yang terjangkau dan kualitas pendidikan yang bagus juga." Ayahku menjelaskan semuanya.
Aku rasa Ayahku benar, aku lihat disini serba terjangkau dan suasana tempat yang begitu nyaman, sepertinya aku bisa beradaptasi dengan mudah disini.
Yang kami tunggu pun akhirnya tiba, makanan sudah siap, wangi kuah soto yang begitu menggugah seleraku pagi ini, ini benar benar enak. Aku menikmati dari setiap komponen hidangan yang disajikan, rasanya luar biasa dengan cita rasa tradisional, sangat terbawa dengan lingkungan khas Jawa.
Tanpa waktu lama, kami pun selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan, tiba-tiba handphone Ayahku berdering.
" Yah, itu diangkat dulu teleponnya." Kata Mamaku sambil menyerahkan handphone itu kepada Ayah.
" Hallo assalamualaikum mbak, nggeh Niki sampun (iya ini sudah) diperjalanan mriku (kesana)."
Aku tidak mengerti apa yang Ayah katakan hehe.
" Oh nggeh, waalaikumsalam." Ayahku menutup percakapan mereka.
" Siapa yang nelpon yah?." Tanyaku pada Ayah.
" Oh itu budhe, nanya, katanya sudah sampai mana." Jawab Ayah.
" Oh budhe, kayaknya budhe nggak sabar sudah nunggu kita," timpal ku pada Ayah dan Mama.
Setelah jalan utama yang rasanya sangat lama untuk ditempuh, akhirnya kita sampai dijalan pedesaan.
Terlihat suasana desa ini begitu asri. Aku lihat banyak menjulang diujung sana, dan betapa luasnya beberapa sawah yang membentang, serta tanaman buah naga yang begitu banyak dilengkapi dengan buahnya berwarna merah segar.
Sungguh pikiranku begitu nyaman saat memandang itu semua. Lalu aku membuka kaca disebelah kiri ku, berapa aku senang menikmati suasana pedesaan asri seperti ini. Dan banyak para penduduk asli desa itu yang akan memulai aktivitasnya di kebun atau sawah mereka.
Ayah pernah bilang bahwa di kampung halamannya itu mayoritas penduduknya sebagai petani. Tapi kini yang aku lihat desa ini sedikit berbeda, tapi ke asriannya masih tetap terjaga.
" Yah, sekarang udah beda ya, jalanannya, rumah rumahnya pula."
Aku memulai obrolan setelah beberapa saat terdiam karena pemandangan yang begitu memikat mataku.
" Iya Shen, sekarang kan sudah modern, masa iya kayak dulu terus. Kenapa? Bingung ya, atau lupa sama kampung ini?." Jawab Ayah sekaligus melontarkan pertanyaan padaku.
" Iya yah, sedikit lupa, wajarlah sudah lama nggak kesini." Jawabku sambil tertawa kecil.
" Mungkin betah ya Shen kalau gini." Mamaku menambahkan perbincangan kami.
Setelah menelusuri jalan pedesaan selama 15 menit, akhirnya kami pun sampai ditempat tujuan, yaitu dirumah budhe dan pakdhe ku.
Budhe adalah kakak perempuan dari Ayahku, budhe anak pertama sedangkan Ayahku anak kedua dari tiga bersaudara. Dan adiknya Ayah yang aku sebut lek (Om/Tante dalam bahasa Jawa) tinggal di desa sebelah.
" Yah, itu rumah budhe kan yang catnya warna hijau?." Tanyaku pada Ayah sambil menunjuk ke arah depan.
" Iya yang itu, kamu masih hafal kan." Jawab Ayah.
Terlihat budhe, pakdhe, dan saudara yang lain telah menunggu kami. Dan akhirnya kami sampai ditempat tujuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments