"Enak ya kamu bon", akhir bulan begini kamu bisa beli tas, candaku kepada Ibon teman 1 kampus.
"Kamu juga enak, sudah punya anak sedangkan aku..." Ibon berucap sambil tertunduk lesu.
"Itulah kehidupan Ly", ucapnya padaku
Aku hanya mendengarnya terus berkata kata sambil menatap matanya, sesekali meneguk minuman yang ada di depan kami, dan mengangguk angguk.
"Terkadang apa yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan nya, Engkau melihat aku bisa belanja beli tas di akhir bulan dengan uang sendiri, Justru aku melihat kamu lebih bahagia daripada aku yang sudah mempunyai anak, sebentar lagi anak mu SMP. Sedangkan aku satu orang anak pun tidak ada"
"belanja belanja ini juga merupakan pelampiasan ku, untuk menghilangkan rasa suntuk ku. Mertuaku sering menanyai ku 'kapan punya anak', berat sekali beban itu. Aku juga melihat ada kejenuhan dan kebosanan dari suamiku. Aku hanya bisa pasrah dan terus berharap semoga akan tiba waktunya Tuhan kabulkan doa kami.
Sudah lama Kami tidak ketemuan sudah 10 tahun. Sekarang ketemuannya di pesta pernikahan Martini teman kampus juga, diantara kami berlima yang merupakan teman 1 geng. Martini adalah yang terakhir menikah dari antara kami.
Aku dan Ibon berjanji untuk datang ke pernikahan Martini, sehabis pulang dari pesta kami bermaksud ngobrol ngobrol di kantin di dekat area wisma pernikahannya Martini. Karena sebentar lagi kami akan pulang ke rumah masing-masing dan melanjutkan rutinitas masing masing, walaupun 1 propinsi tetapi kami jarang ketemuan karena masing masing punya urusan sendiri.
Aku sudah mempunyai 3 orang putri yang masing masing berusia 9,8,5 tahun, sedangkan Ibon sudah menikah 9 tahun tetapi belum punya keturunan, dia wanita pekerja punya penghasilan sendiri tidak melulu minta sama suami.
Aku tidak menyesali pernikahan ku, atau menyesali gaji suami yang sedikit, aku hanya sedih atas perlakuan suamiku yang tidak pengertian dan egois.
'Aku ingin punya penghasilan sendiri, bagaimana kalau aku jualan online, akan kutawarkan produk pakaian melalui medsos'. Gumanku dalam hati sambil berpikir. Aku punya teman satu kumpulan dalam pertemuan ibadah, dia ada jualan pakaian di rumah coba nanti aku pergi ke rumahnya dan menanyakan nya, segudang rencana sudah kususun di dalam hatiku.
Tiur adalah teman ku, dia mau memberi aku beberapa potong pakaian untuk kujual, dia memberi harga pakaian tiap tiap helainya, aku menjualnya setelah kuambil beberapa keuntungan, berapa yang sudah laku langsung kusetor kepada Tiur.
Kujual pakaian yang kuambil dari Tiur ku jajakan ke ibu ibu teman anak ku bersekolah, sebagian ku jual melalui online ku posting gambar melalui media sosial Facebook. Kutetapkan kan ukuran pakaian dan harga.
Syukurlah ternyata ibu ibu teman anakku banyak yang tertarik tetapi rata rata mereka membayar nya ada nyicil mingguan, bayar di akhir bulan, ada nyicil 2.000/ hari. Sudahlah aku mau i aja apa kemauan ibu ibu, asal barang ku laku. Tetapi kepada temanku Tiur pemilik pakaian aku bayar cash, dan anting-anting ku 2 gram kugadaikan tanpa sepengetahuan suami.
Penjualan secara online yang kutawarkan melalui media sosial Facebook ada juga yang menanyakan. lumayan pikir ku, keuntungan ku ambil 10.000/helai pakaian.
Terkadang apabila kebutuhan dapur ada yang kurang kupakai dari keuntungan dari hasil berjualan online. dan itupun tidak ku beritahukan kepada suami, bila sudah mendesak harus meminta lagi ke suami, lantas suami marah marah itu yang membuat ku kadang sakit hati. Seolah olah suami tidak mau tahu perasaan ku.
Ambil barang dari Tiur cuma bertahan sampai 6 bulan saja, kebutuhan pakaian kan tidak setiap hari, dan kupikir musiman, kebetulan mau memasuki tahun ajaran baru, kebutuhan ibu ibu adalah untuk membeli peralatan dan perlengkapan sekolah anak. Aku juga tidak mempunyai banyak relasi. ruang lingkup ku hanya sebatas ibu ibu teman satu TK anak, setelah mereka tamat, aku sudah jarang ketemu mereka.
Berjualan online melalui media sosial Facebook masih kulanjutkan, tetapi bukan dari Tiur. Karena Tiur jarang memposting di group, aku posting dari orang lain sistem dropship istilah nya. Lumayan lah ada laku 2-3 helai baju perbulan, aku juga buka arisan karpet untuk ibu ibu sekitaran kompleks, aku tidak berani ambil untung banyak sedikit Untung yang penting laku itu saja prinsipnya.
Berjualan online tidak lantas membuat ku kaya, setidaknya aku punya simpanan uang sedikit, dan bisa ku gunakan di kala saat mendadak, disaat liburan ke kampung karena suami juga hanya memberikan cukup cukup untuk ongkos pulang pergi saja. dari sedikit uang simpanan dari berjualan online ketika ibu minta untuk beli ikan dan keperluan dapur, aku bisa memberi kepada ibu, itu merupakan suatu kepuasan bagi ku, walaupun tidak seberapa nominal nya, karena selama ini memang aku tidak pernah bisa memberi kepada ibu.
Ingin rasanya punya usaha yang real ada barang nya, bukan secara dropship. Terkadang secara dropship kekurangan nya kita hanya melihat secara foto, informasi yang diperlukan oleh pelanggan apa barang nya bagus atau tidak kita tidak bisa informasi kan ke customer, terkadang customer kecewa, barang lama sampai, barang tidak sesuai model, tidak sesuai warna, kekecilan, kebesaran, padahal itu real bukan kesalahan kita, customer jadi kecewa, itu yang buat aku malas jualan secara online.
Kalau aku berkeluh kesah tentang semua masalah itu kepada suami, suami malah marah marah "Itulah makanya jangan sok sok an jualan secara online, kalau tidak mau terima resikonya" Aku pun hanya diam saja, takut memperkeruh suasana jadinya memanas dan berkepanjangan.
Di dalam hati sebenarnya kecewa dengan tanggapan yang seperti itu, bukan maksudnya tidak menerima segala resiko dan konsekuensi nya, hanya pengen berbagi atau ingin rasa bertukar pikiran sebenarnya, bukan mau minta solusi atau penyelesaian. hanya berbagi unek unek sebenarnya maksudnya.
Tetapi itulah suamiku, apa yang kita cerita kan selalu di tanggapi secara negatif dan marah marah.
padahal harusnya mendukung, apa suami tidak bisa merasakan betapa sakit perasaan ku seorang sarjana tidak punya kerjaan?, bukan malas tidak mau melamar pekerjaan sebenarnya, tetapi banyak yang harus di pertimbangkan anak anak siapa yang jaga, bagaimana pekerjaan rumah dan lain sebagainya.
Apa suami tidak bisa merasakan, kalau perempuan tidak pegang uang suntuk seribu keliling. Begitulah suami ku. Dukungan dari suami apa yang kukerjakan tidak pernah ada, tetapi selalu menyindir, kalau aku tahunya hanya minta uang, tahunya hanya menghambur hamburkan uang, boros.
Sangat bertolak belakang pernyataan suami bilang aku terlalu boros dan pelit. Potongan lauk untuk makan sangat kecil, padahal itu maksudnya mengirit uang belanja, karena uang belanja yang diberikan suami pun sebenarnya tidak cukup. Jajan anak anak saja tidak sanggup aku beri 2000/hari, kuganti dengan membuat kudapan di rumah, bubur, ubi goreng, pisang goreng, kolak, dan lain sebagainya. Sungguh aku tidak mengerti jalan pikiran suami, tidak berpikir atau berwawasan luas sepertinya, padahal suamiku orang nya pintar secara akademik.
Oh Tuhan kiranya bukakanlah pintu rezekimu bagi hamba, doa itu selalu kulantunkan kepada Tuhan, berharap tiba waktunya kehidupan kami bisa lebih baik. Anak anak juga bisa menjadi anak yang Sholeh bisa menjadikan kebanggaan buat keluarga.
Berharap seperti kisah kisah di sinetron baru beberapa bulan sudah kaya raya. Menghayal sambil senyam-senyum sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments