Aku selalu memikirkan mimpi ku semalam, aku mimpi adikku Andi sepertinya lepas dari sakitnya, dia berpakaian putih hitam bersih dan sangat bergembira. Aku bertanya dalam hati apa ya artinya, ahh sudah lah mungkin itu hanya lah bunga bunga tidur.
Setelah kepergian bapak, aku selalu berkomunikasi dengan ibu, minimal sekali dua hari aku coba menelepon ibu, kutanya kabarnya, "Apakah ibu sehat?" "Sehat" jawab ibu di ujung telepon.
"Adikmu Andi, kurang sehat" jawab ibu menambahi obrolan kami.
"sakit apa dia?" tanya ku ingin tahu
"sudah dua hari ini dia muntah muntah terus, susah makan" ibu menjelaskan keingintahuan ku
"Bah, kok bisa!, apa sudah dibawa berobat?" ku terus bertanya pada ibu
"Entah lah mungkin masuk angin, sudah berobat dari bidan Erni" jawab ibu sedih
"jadi bagaimana itu?" ku bertanya terus ingin tahu
"sudah agak baikan, semalam enak dirasakannya, setelah ku kusuk" ibu terus menjelaskan
"oh syukur lah, semoga dia cepat sembuh"
jawabku supaya ibu tidak khawatir terus. Kututup telepon. Mencoba melanjutkan aktivitas di pagi hari, sepintas aku memikirkan mimpiku bahwa Andi berpakaian putih hitam bersih apakah artinya Andi akan meninggal dunia?, entah kenapa aku memprediksi seperti itu.
Belum lama aku menjauhkan pikiran ngawur ku, kutrima telepon dari ibu, yang berbicara adalah Abangku Hery "Halo, Andi sudah meninggal dunia" Abang Hery mencoba memberi tahu kabar itu. Kudengar suara ibu menjerit jerit memanggil nama Andi...Andi..Andi..
Ya Tuhan, cobaan apa ini pas setahun setelah kepergian ayah Adikku Andi menyusul ayah, sebenarnya belum terima kalau ayah pergi terlalu cepat sudah di susul lagi sama adikku Andi. tak terbayang rasanya kesedihan ibu akibat kepergian Andi.
Aku memberi tahukan kabar ini kepada suami, kebetulan suami kerja shift malam, pulang ke rumah jam 8 pagi. suami diam saja.
"kau dan anak anak saja lah yang pulang kampung ya? tanya suami kepadaku
"ok lah kalau begitu " jawabku
"kamu jangan merasa aku tidak peduli, kamu kan tahu kalau aku kerja, lagian kalau aku ikut, ongkos kita jadi butuh uang banyak, aku hanya punya uang 600.000 gunakan dan cukupkan lah baik baik"
"ok, aku beres beres dulu ya" segera berlalu menyudahi obrolan kami.
Aku sudah kemalaman sampai di kampung, karena tadi dari kota sudah lewat tengah hari baru dapat angkutan, semua angkutan padat. Jarah dari kota ke kampung ditempuh dengan waktu 6 jam. Tidak ada lagi angkutan menuju ke arah rumah, karena angkutan bis dari kota hanya sampai terminal tidak sampai ke arah rumah yang masih di tempuh dalam waktu 1 jam ke pelosok kampung.
Ku hubungi adikku mory, mory setingkat diatas Andi. dia mau menjemput aku dan anak anak dari terminal. Setelah kami sampai di rumah. tetangga sudah ramai melayat, ku lihat ibu sudah bengkak mata dan wajahnya, pasti ibu sedari tadi hanya menangis. aku pun mencoba memeluk ibu dan menenangkan nya. supaya ibu bersabar, ikhlas dan tetap menjaga kesehatan karena ibu sudah lanjut usia.
Segala proses adat dan pemakaman berjalan dengan baik dan lancar. Sepulang dari pemakaman hari sudah sore hampir gelap karena suasana mendung mau hujan seperti nya.
Di rumah ada dua orang bibi yang merupakan adik ibu datang menemani kami bersama dengan anaknya. Untung lah mereka datang menemani karena ibu selalu saja menangis, ada mereka yang menasehati ibu supaya tidak menangis terus. Kami takut ibu jadi jatuh sakit. Aku dan anak anak hampir satu Minggu di kampung menemani ibu, aku menghubungi guru anak anak supaya memberi izin karena kami dalam keadaan berduka dan sedang di kampung, untung lah guru guru anak anak pengertian dan memang suasana sekolah lagi tidak musim ujian.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan suami setelah Adikku Andi meninggal, apa dia menyesal atau kah biasa saja. Andi yang dulu bandal berharap dia bisa berubah, ayah berharap supaya dia tinggal bersama kami, supaya kuliahnya bisa selesai, tetapi suami tidak bisa kompromi dan mentolerir sifat cuek Andi, sehingga Andi harus ngekos, dan ternyata Andi hilang kendali, kuliah berantakan tidak pernah masuk kuliah, akhirnya berhenti tidak sanggup mengikuti lagi. terakhir kondisinya banyak mengurung diri di kamar tidak mau bersosialisasi, tidur larut malam, bangun siang hingga ke sore, begitu aktivitas nya sehari hari, aku miris. masa depan nya hancur. Mungkin ini adalah yang terbaik, Andi meninggal Dunia dengan usia 32 tahun dan belum berumah tangga.
Setelah Andi meninggal dunia, ibu masih belum terima dia banyak menangis, maklum Andi adalah anak yang paling bungsu di keluarga kami. Ibu sering mengunjungi makam Andi dan terus menangis di makamnya, aku tidak bisa melarang ibu, ibu tetap ngotot terus melakukan nya. Hingga ibu jatuh sakit, lagi lagi aku tidak bisa berbuat apa apa. Hanya bisa mendoakan ibu supaya tetap sehat.
Takdir sudah di tangan Tuhan, apa yang bisa di perbuat untuk mencegah nya hanya bisa pasrah dan tauakal saja. Apa yang kita perbuat itu yang kita dapat, perbuatan baik yang kita lakukan perbuatan yang baik itu akan kembali ke kita, sebaliknya perbuatan jahat yang kita perbuat perbuatan jahat itu akan kembali ke kita.
Aku berharap keluarga kecil ku, anak anak ku khususnya tidak mengalami seperti apa yang kualami, mudah mudahan mereka mendapatkan suami yang pengertian, suami yang bisa merasakan perasaan mereka tidak egois, tidak merasa harus dihormati, harusnya suami istri adalah setara, sama sama punya kewajiban dan tanggung jawab dalam hal mengurus anak, dan tanggung jawab kepada keluarga masing masing.
Baik pihak suami terhadap keluarga pihak istri, sebaliknya pihak istri terhadap keluarga pihak suami, tidak ada istilah karena adat, istri sudah menjadi hak pihak suami, sehingga istri tidak perlu lagi mengurus keluarga nya. sungguh sangat egois menurut aku. Padahal istri dituntut untuk menganggap keluarga pihak suami adalah keluarga nya sekarang, sedangkan keluarga dari pihak istri seperti tidak dianggap.
Semoga suamiku juga bisa menjadi suami yang bisa pengertian kepada istrinya tidak perhitungan atau pelit, menganggap keluarga istrinya adalah keluarga nya juga, bisa menghargai istrinya, istri tidak bekerja bukan berarti jadi sesuka hatinya menyakiti perasaan nya, sebaliknya kalau suami yang bekerja bukan berarti jadi royal memberi ke orang lain atau sesuka hati membeli sesuatu yang dia inginkan, harusnya penuhi dulu kebutuhan istri atau setidaknya minta izin kepada istri. Terbuka kepada istri untuk segala sesuatu, bukan sembunyi tangan di belakang istri,
Kalau suami bisa menjalankan itu semua, pasti rezeki buat keluarga akan terbuka. Kalau suami perhitungan semua tidak akan jadi berkah bahkan cenderung sia sia. Pendapatan yang sedikit pun kalau suami istri sehati sepikir pasti cukup, sebaliknya kalau pendapatan banyak kalau suami istri tidak sehati sepikir maka akan cenderung habis begitu saja. Istri tidak minta harus beli ini atau beli itu, cukup istri harus di mengerti, istri yang bijak tidak akan menuntut banyak, dia tahu keadaa, situasi dan kondisi suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments