Kapan cobaan ini berlalu

Ada ada saja tingkah ibu mertua yang kadang membuat ku kesal, dia minta untuk ke kamar mandi buang air besar, padahal baru 1jam yang lalu dia selesai mandi, karena dia bilang mau buang air besar aku buru buru bawa ibu mertua ke kamar mandi menggotong nya dengan memakaikan tongkatnya sambil ku pegangi lengannya agar tidak jatuh. sesampainya di kamar mandi aku meninggalkan nya, "nanti kalau sudah selesai bilang ya Bu", begitu pesan ku kepada ibu mertua.

"iya", jawabnya dengan cepat.

Ditunggu tunggu hampir 15 menit, "ada keluar kotoran nya", tanya ku kepadanya, "belum, bentar lagi mungkin", jawabnya cepat. Kutunggu 15 menit lagi, akupun menghampiri nya. "Aduh kalau betul buang air, ya katakan saja sejujurnya, tetapi ini tidak ada buang air besar" Aku kesal dan marah kepadanya. Aku lelah menggotongnya bolak balik, lagian popok yang seharusnya nya masih bisa pakai, tidak bisa pakai lagi, karena sudah koyak. Jadi boros popok deh.

Sungguh sangat tidak pengertian, demi kesenangannya. Ibu mertua mungkin merasa gerah, jadi dia ingin sekali ke kamar mandi supaya lebih segar, buka popok celana, mungkin terasa panas pakai popok terus menerus. Tetapi mau gimana, kalau tidak mau pakai popok, harusnya ada keinginan sehat, pergi ke kamar mandi sendiri aja, bukan malah ngerepotin orang. Padahal masih banyak kerjaan yang harus dikerjakan. Anak anak hampir setiap bulan selalu saja sakit, berganti gantian, terkadang si adek dulu, kemudian beberapa hari kemudian kakaknya, repot membawa ke rumah sakit karena harus antri, naik angkot, lagian tidak ada yang jaga ibu mertua, akupun hanya memberikan anak obat yang di jual di Apotik.

Itulah sebabnya kalau ibu mertua minta ke kamar mandi, aku pura pura tidak mendengar nya, "sudahlah buang saja di popok", kata ku kepada ibu mertua. Dia pun kesal, aku tidak perduli. Terkadang kalau di lembekin, ibu mertua jadi sesuka hatinya kepada kita. Ibu mertua juga suka lupa apa yang dilakukannya, dia terkadang lupa sudah makan, dia bilang belum makan, dia juga bercerita bolak balik, lupa kalau dia sudah bercerita berulang ulang.

Untung nya ibu mertua, sesekali kerumah adik ipar, Nosta dan Asti. Selain bisa melepas jenuhku, Ibu mertua juga bisa ganti suasana, bisa di rawat oleh putrinya sendiri.

"Bagaimana menurut mu ini", kata suami sambil menyodorkan sebuah brosur mengenai KPR, Dilihat dari cicilannya Lumayan, bisa sih nyicilnya kalau dilihat besaran gaji suami saat ini. Tetapi DP darimana. Aku menanyakan itu kepada suami, "Aku ada pinjam 20 juta dari teman, mungkin itu cukup untuk DP. Sementara untuk pelunasan DP dan pengurusan berkas berkas hingga akad, masih ada tenggang waktu. Jadi kami fokus dulu pelunasan DP. Setelah itu memikirkan cicilan bulanan KPRnya.

Dengan doa dan memang kami sehati antara suami dan istri, Proses pengurusan KPR ini berjalan dengan lancar, hingga tahap akad. Rumah itu sudah sah menjadi milik kami, sertifikat di setujui atas nama suami.

Masih banyak yang harus dibenahi di rumah baru itu, seperti dapurnya tidak ada atapnya, model perumahan itu model minimalis wastafel dan untuk memasak berdekatan dengan ruang tamu,. Dibelakang ada tanah sisa sepanjang 1 m, supaya tanah sisa efektif bisa digunakan, dapur di pindah ke belakang secara kami tidak punya uang untuk membangun dapur, jerejak pintu dan jendela juga tidak bisa langsung kami benahi, kanopi juga belum ada semua harus dibenahi sedikit demi sedikit, Tunggu ada uang.

Kami suami istri dari awal memang berjuang dari nol, setelah menikah tidak ada modal yang diberikan orang tua. Tidak ada warisan tanah atau rumah yang bisa diberikan orang tua, bahkan suami juga berhenti bekerja dan menganggur selama setahun. Aku tidak boleh berkecil hati walaupun rumah KPR nya tidak bisa langsung kami benahi, dengan dapur yang tidak ada atapnya. Ini patut ku syukuri, karena ini adalah proses.

Bulan enam waktunya untuk bayar sewa kontrakan rumah, sistimnya bayar di muka selama setahun. Daripada kita harus memikirkan untuk bayar kontrakan, padahal setiap bulan kita juga harus bayar cicilan KPR. Kita pindah aja ke rumah kita, saranku kepada suami. "Emang kau tidak malu?, dapur belum ada atap, pintu besi tidak ada, jeruji jendela juga tidak ada, kanopi dan pagar juga tidak ada, padahal tetangga kita sudah ada lengkap dengan pagar nya" kata suami dengan emosi, " tidak, aku tidak malu, toh aku juga tidak tergantung kepada orang lain, kenapa harus memikirkan perkataan orang lain", jawabku dengan percaya diri.

Padahal hati kecilku juga tidak merasa yakin.

Selain membenahi rumah, masih banyak yang harus di pikir kan, perlu sepeda motor, letak rumah itu jauh dari pasar, dari tempat kerja suami (suami antar jemput karena tempat kerja di luar kota), sekarang tempat kerja satu kota, jauh dari sekolah anak. Mau tidak mau dipaksakan lah nyicil sepeda motor dan belajar mengendarai nya, karena memang kami buta, tidak tahu mengendarai sepeda motor.

Proses pindahan bukan saja menguras tenaga, tetapi butuh biaya yang sangat banyak, butuh angkutan yang besar untuk bisa mengangkut semua barang barang, bukan barang mahal sih, hampir ke barang barang butut, tetapi sayang untuk di buang. Lokasi rumah baru ada di luar kota, jadi ongkos angkutnya sangat mahal. Untung ayah ku masih mau membantu biaya DP untuk cicilan sepeda motor, dan ongkos angkut barang. Sedikit demi sedikit masalah teratasi, tinggal cicilan KPR dan sepeda motor setiap bulan yang harus dibayar ditambah lagi biaya hidup Suami, istri, anak dan ibu mertua.

Cicilan KPR dan cicilan sepeda motor saja hanya bersisa sedikit dari besarnya gaji suami, kalau di pikir pikir sangat kurang, dan pusing untuk memikirkan kan kecukupan nya. Ya Tuhan, kiranya Tuhan mencukupkannya, begitu lah selalu doa ku.

Ayahku adalah supir ekspedisi luar kota, Ayah selalu lewat dari kota tempat aku tinggal, aku banyak cerita kepada ayah mengenai kondisi ekonomi kami, ayah juga mendukung kami untuk ambil cicilan KPR, tetapi biaya hidup kami akan sangat kurang bahkan tidak cukup harus pinjam uang dari teman suami.

Terkadang ayah menyuruh ku untuk datang ke tempat cucian mobil, katanya kangen cucu. Kami datang dan ayah selalu memberikan kan sedikit uang, lumayan untuk kebutuhan 1 Minggu. begitulah lah ayah, entah sudah berapa kali akupun tidak ingat lagi, suami juga entah ingat atau tidak kalau ayah mau memberikan uang, untuk bantu bantu biaya hidup setiap bulan. Tiga bulan sudah kami tinggal di rumah baru, Ibu mertua ikut kami boyong, ayah mertua tidak pernah datang. Ternyata ibu mertua bukannya tambah baik, malah semakin menurun kesehatan nya. Pagi seperti biasa aku menyuruh nya bangun, setidaknya duduk sendiri ditempat tidur masih bisa di lakukan nya, tetapi tidak bisa, aku terus memaksanya,setiap dia mencoba untuk duduk terjatuh tak bisa duduk tegak.

Ibu mertua tidak bisa lagi duduk dengan tegak dan lama, dia juga tidak bisa berbicara, tidak bisa makan, setiap dikasih minum, selalu tersedak, kami pun kasihan melihat dia tersedak seperti susah bernapas, kami pun takut untuk memberikan nya.

minum saja tersedak apalagi nasi, kami pun harus mengiling halus nasinya, itupun hanya diberikan beberapa sendok saja. Sudah tengah hari kami pun kuatir tak ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Kami telpon ayah mertua, seolah olah lepas tangan, maksudnya kami aja anak anaknya yang ambil keputusan bagaimana baiknya.

Tanpa pikir panjang kami lantas membawa ibu mertua ke rumah sakit, selama 14 hari dia dirawat di rumah sakit, tidak ada perubahan, supaya ada makanan yang masuk ke dalam perutnya terpaksa kami menyuruh suster untuk memasang selang, makanan dimasukkan melalui selang. Supaya dapat perawatan yang lebih baik kami rujuk ibu mertua ke rumah sakit di kota besar. Tetapi Sangat repot bolak balik dari rumah sakit ke rumah dan butuh biaya transport nya juga besar, karena aku juga harus memboyong anak anak. Frista juga masih harus ke kampus bolak balik, akhirnya nya ibu mertua dibawa pulang ke kampung, mengantisipasi juga mana tahu ibu mertua meninggal, jadi tidak tambah biaya kalau sudah meninggal, biarlah ibu mertua di rawat di kampung.

Cobaan rasanya tidak henti hentinya datang, ada ada saja pengeluaran. Untuk biaya hidup saja tidak cukup, ada ada saja pengeluaran yang harus di tutupi. Terasa berat rasanya, cicilan KPR 2 bulan tidak kami bayar, sudah bolak balik di telpon, untuk segera di lunasi, masih 2 tahun kami jalani, padahal cicilan rumah selama 15 tahun, sanggup kah kami ya Tuhan. Mampukan kami bisa melaluinya ya Tuhan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!