Saat ini suami tidak lagi merokok, setelah kejadian jatuh dari lift lantai 7 di tempat kerja, dan di rawat di rumah sakit selama 14 hari selama 14 hari itu pula iya tidak di perbolehkan kan merokok. Kebiasaan tidak merokok selama 14 hari menjadi terbawa bawa, pernah sekali mencoba mau merokok bermaksud untuk menghabiskan stok rokoknya yang ada di rumah, ternyata rokok itu terasa pahit di mulutnya.
Kami sangat bersyukur suami bisa selamat dalam insiden kecelakaan ini, kecelakaan ini tidak termasuk dalam kecelakaan kerja, tidak ada uang kompensasi dari perusahaan, uang pengobatan untuk pengobatan secara herbal, khusuk atau terapi juga tidak ada bantuan dari perusahaan. oKecelakaan ini di klaim perusahaan sebagai kesalahan suami sendiri karena di lift itu sendiri ada di tulis lagi rusak, lagian lift itu untuk angkut barang bukan untuk angkut karyawan. Pada saat itu suami sedang masuk kerja shift malam, mungkin karena ngantuk malas untuk turun melalui tangga, sehingga ia mencoba untuk naik lift saja supaya tidak terlalu capek. tetapi naas. Lift terjatuh dari lantai 7 kelantai 1. Peristiwa itu sudah berlalu 3 bulan yang lalu. suami sudah bisa beraktifitas normal seperti biasa. terkadang sesekali khusuk di lakukan.
Tidak merokoknya suami tidak lantas membuat kehidupan keluarga kami jadi lebih baik. Ada ibu mertua yang harus diurus, di rawat, dan memenuhi kebutuhan nya. Ayah mertua jarang datang ke kota untuk menjenguk, padahal dia sudah pensiun, ditanya tetangga ayah mertua di kampung, mereka bilang tidak ada sawah maupun ladang yang dikerjakan, setiap hari hanya keluyuran keluar rumah, terkadang di warung kopi. Ibu mertua sering mengatakan kalau ayah mertua selingkuh, tetapi kami tidak percaya, kami pikir itu adalah karena bawaan sakitnya yang menyebabkan ia jadi sensitif.
"betul lho, ayahmu itu selingkuh, si Sumiati nama selingkuhan nya" kata ibu mertua dengan seriusnya bicara. kami hanya emosi menanggapi nya "makanya cepat sembuh, Jambak aja nanti selingkuhan nya" jawabku seadanya. "Kamu tidak percaya, betul lho ayahmu itu selingkuh", ibu mertua bicara serius sambil melotot. "Sudahlah, capek aku mikirnya", aku pun berlalu meninggalkan nya. Bukan sekali atau dua kali ibu mertua memberi tahu bahwa ayah mertua selingkuh, sudah sering. Tetapi kami selalu memarahi ibu mertua, "sudahlah, itu. itu aja yang di cerita in, makanya sembuh" begitu aku selalu memarahi nya. Tetapi sedikitpun ibu mertua tidak ada semangat untuk sembuh, bahkan cenderung sering melamun. Akupun kadang biasa aja menanggapi kalau ibu mertua sudah cerita tentang perselingkuhan ayah mertua, "emmmmm sudah lah" kata ku dengan marah.
Aku lantas menceritakan kepada suami kalau ayah mertua selingkuh, suami hanya diam saja, terkadang ada benarnya kata ibu. Mengingat apa kata tetangga ayah di kampung. Suami bercerita dengan penuh emosi. Itu mungkin penyebab nya sehingga ayah tidak mau mengurus ibu, supaya ia bebas dengan selingkuhannya. Aku pun diam saja.
Sifat tempramental suami ada nurun dari sifat ayah mertua yang tempramental, ayah mertua juga pernah memukul ibu mertua. Itu pernah ku tanyakan kepada ibu mertua, dan dia bilang memang main pukul ayah mertua, sampai ibu mertua minggat pulang ke rumah orang tuanya. Itupun kembali bukan karena di jemput ayah mertua tetapi karena suami yang jemput sambil nangis nangis, waktu dia kelas 4 SD.
Aku juga khawatir sifat selingkuh ayah mertua nurun ke suami. Aku harus jaga kesehatan, aku tidak boleh sakit, kalaupun tindakan suami yang begitu kasar, aku hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan supaya aku bisa terhibur, aku tidak boleh sakit hati. Karena itu akan menjadi penyakit bagiku. Ibu mertua juga seperti itu, mungkin Ayah mertua terlalu bosen untuk ngurus yang sakit, ibu mertua sudah cukup lama memang sakit.
Tok..tok..tok pintu di ketuk, aku berlari dengan tergesa gesa, kulihat dari jendela ternyata suami datang, pulang dari tempat kerja. Sepulang suami dari tempat kerja pekerjaan rumah sudah selesai kulakukan, masak nasi, mandiin anak, mandiin ibu mertua, memberi makan anak anak dan ibu mertua, semua sudah ku kerjakan.
Aku menanyakan suami, " bawa apa pak?", "bawa burung", kata suami dengan penuh senyum senyum, Padahal dalam hati aku sangat jengkel. di hitung hitung burung ditambah sangkarnya pasti jumlahnya 500.000, dapat uang darimana?. Karena suami yang cari uang, suami memang sepertinya sesuka hatinya aja mau beli apa pun. Padahal kemarin Abangku yang ke 3 si grand mencoba meminjam uang 200.000 untuk biaya ongkos dia pulang kampung karena istrinya melahirkan, padahal Abangku grand sudah berjanji untuk bulan depan pasti akan membayar nya kembali. Suami bilang tidak ada uang, padahal mungkin dia berpikiran nanti bakalan tidak dibayar oleh Abangku grand. Aku pun tidak bisa berkata apapun, aku juga sedih tidak bisa membantu karena aku memang tidak ada pegang uang.
Suami datang membawa burung ditambah sangkarnya, Ya Tuhan tidak bisa kah suamiku mengerti perasaan ku. Sakit rasanya bila dibohongin seperti ini, Begitu hina rasanya diri ini, tidak layak rasanya uang hasil keringat suami, digunakan oleh keluarga dari pihak ku sendiri.
Aku diam saja dan tidak banyak ngomong emosi dan sakit rasanya hati ini. Sama aku sendiri suami ku perhitungan padahal bukan untuk kepentingan ku sendiri untuk suami, anak anak, bahkan untuk ibu mertua. Kalau suami memang orang yang pengertian harusnya ia mau meminjamkan uang itu kepada Abang ku grand, karena aku telah mau mengurus orang tuanya, kalau di ambil seorang suster untuk merawat ibu mertua pasti sudah keluar uang yang lumayan banyak. Bukan minta untuk di bayar tetapi tidak bisakah dia melihat keletihan ku, mengerti perasaan ku. Lagi lagi aku harus menghibur diri sendiri, aku harus kuat, aku tidak boleh sakit, demi anak anak, tidak mungkin aku minta cerai dengan suami.
Aku bertanya kepada suami "beli burung darimana?", "Dari teman, karena dari teman bayar nya murah"kata suami dengan tenang, " Beli berapa emang?" tanya ku ketus. "murah aja"jawabnya seadanya saja.
Semurah apapun yang pasti keluar uang banyak. "Buang buang suntuk, daripada aku ke warung kopi", dengan enteng nya suami ngomong. Memang nya aku tidak suntuk, tidak butuh hiburan kah aku, tidak di pandang kah aku. Lagi lagi pikiran itu berkecamuk di dalam hati ku.
Seandainya aku punya penghasilan sendiri, aku pun tak akan minta uang suami, begitu lah keinginan terbesar ku, rasanya rasa ini telah hilang sedikit demi sedikit karena ke egoisan suamiku.
Dua bulan kemudian suami beli burung lagi, malah lebih mahal dari burung pertama, burung murai batu lengkap dengan sarangnya. Suami pun hanya bilang "murah, dari teman cuma 700.000 dari orang ini pasti 1 juta. Apa lagi ini, sakit rasanya hati ini.
Itulah memang kalau semua tidak direstui istri, beberapa bulan kemudian burung pertama cutter terbang lepas dari sangkar, karena suami lupa menutup, suami lemas. Akupun hanya diam, padahal aku sudah mengikhlaskan kan nya sudah lah, memang tak bisa berbuat apa-apa, biarkan lah, suatu saat nanti dia pun akan sadar akan perbuatannya.
Hilang di beli lagi, begitulah berganti ganti, entah sudah berapa burung yang sudah terbang, tetapi suami tetap saja tidak sadar dan tetap membeli burung baru tanpa memberi tahuku dan tanpa persetujuan aku. Dan terakhir Burung murai batu yang dibeli dengan harga mahal, mati di makan tikus. Entah bagaimana caranya tikus bisa masuk. Itu tidak ada dari perlakuan aku itu murni terjadi ya karena suami zolim kepada istri. Tidak berkah bahkan sia sia semua yang dilakukan tanpa persetujuan istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments