Setelah 14 hari ibu mertua di rawat di rumah sakit. Adik ipar Krista membawa ibu mertua ke kampung, karena kami anak anaknya yang tinggal di kota tidak punya cukup waktu untuk merawat nya, banyak biaya angkutan yang harus kami keluarkan secara kami anak anaknya belum punya kehidupan yang mapan, untuk kebutuhan hidup saja susah.
Stroke-nya makin parah, kemarin separuh badan masih bisa di gerakkan sekarang, total seluruh badan tidak bisa di gerakkan, bicara juga hampir tidak bisa dan tidak jelas, makan dan minum di lakukan secara selang, karena sedikit saja di beri minum melalui sendok sudah tersedak, "jangan sering tersedak, kata dokter", karena akan mengganggu pernapasan nya, padahal melalui selang pun itu akan sangat membuat ibu mertua menderita, apa yang bisa di perbuat, daripada tidak ada asupan makanan maupun minuman yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga dengan terpaksa harus di berikan melalui selang. Sesekali mulutnya diberi air agar tidak kering.
Setelah ibu mertua di kampung, kami dan seluruh keluarga yang ada di kampung memberi suapan makanan (istilah adatnya) kepada ibu mertua, berharap melalui suapan makanan ini ibu mertua bisa pulih kesehatan nya. Semua anak anak nya pulang kampung, termasuk suami, saya dan anak anak, kami merental mobil supaya biayanya lebih irit.
Adik ipar Frista yang akan merawat ibu mertua selama di kampung, memang saat ini frista tidak terlalu banyak mengambil mata kuliah, hanya beberapa mata kuliah saja, karena dia sudah semester akhir. Hanya saja sesekali dia harus kembali ke kampus ada laporan yang harus di laporkan nya. Setelah 2 hari adik ipar frista di kota, kami ditelpon ayah mertua pada pukul 05.00 bilang kalau ibu mertua sudah meninggal, sambil menangis ayah mertua mengabarkan melalui telpon "ibu kalian telah meninggal" katanya. Ku berikan telpon kepada suami, suami hanya bisa menangis.
Akupun menenangkan suami" sudahlah ikhlas kan ibu pergi, mungkin ini yang terbaik, kita pun tahu kalau ibu itu pun kesakitan, dia tidak akan merasakan sakitnya lagi" ucapku kepada suami sambil mengusap usap punggungnya, dia pun hanya terdiam saja.
Esok segala persiapan ku lakukan, pakaian suami, aku dan anak anak, termasuk pakaian proses adat nanti, 1 yang menjadi kekhawatiran kami, karena suami adalah anak pertama dan berstatus anak laki laki, kami berkewajiban untuk menanggung biaya proses adat ibu mertua, sanggup atau tidak sanggup, semua harus di relakan walaupun itu dengan berutang. Anak perempuan tidak diwajibkan membayar, kalau mau membantu ya sekedarnya saja.
Suami pergi mencari pinjaman kesana kemari, sangat sulit sekali mencari pinjaman apalagi mendadak harus hari ini. bukan untuk ongkos saja yang harus kami pinjam, untuk biaya adat pun harus di pinjam berarti Kami harus meminjam dalam jumlah yang sangat besar. Kami pun harus rela meminjam dengan bunga yang lumayan.
Akhirnya dapat juga pinjaman nya, tetapi sudah hampir tengah hari, dengan secepat kilat kami pun menuju loket angkutan bersiap untuk berangkat pulang kampung.
Kami tidak memikirkan lagi bagaimana nanti membayar pinjaman uang yang kami pinjam, bagaimana uang cicilan KPR yang sudah 2 bulan menunggak. "sudahlah, hari ini, untuk hari ini, besok ya besok" begitu saja prinsipnya.
Proses adat dan proses pemakaman berjalan dengan baik dan lancar. Pihak keluarga, sanak saudara yang dekat maupun yang jauh memberikan rasa bela sungkawa mereka. Lumayan sumbangan dana yang kami dapat. Jadi suami hanya mengeluarkan biaya sedikit, kami hanya menggunakan separuh pinjaman uang dari yang kami pinjam. Tetap saja kami akan terlilit banyak hutang. Sudahlah, ini pun patut disyukuri. Hanya berguman dalam hati, mudah mudahan kami bisa mengatasi nya, kami tidak dilempari orang karena tidak bisa bayar hutang.
Sebulan berlalu setelah kematian ibu mertua, cicilan KPR sudah 3 bulan menunggak, pihak bank datang bermaksud untuk memasang segel bahwa rumah yang kami tempati di sita pihak bank. Mau di taruh dimana muka ini, mungkin pun para tetangga sudah tahu, karena kami yang paling tidak mampu di komplek, pagar rumah tidak ada, kanopi juga, bahkan lantai dapur masih tanah, atapnya juga tidak ada, kalau hujan datang harus rela mengangkat kompor dan memasak didalam rumah, rak piring berada di ruang tamu, sungguh penataan ruang tamu yang amburadul.
Kami bertanya kepada pegawai bank yang datang ke rumah kami untuk memasang segel, kami pun memohon supaya diberi keringanan, "apa ada cara pak, supaya kami agak longgar, dan rumah kami ini tidak di segel" tanya ku kepada pegawai yang datang ke rumah. " bapak harus datang ke kantor pusat tempat akad di langsung kan kemarin, semua cicilan yang tertunggak akan di putihkan. tetapi bapak/ibu harus membayar cicilan bulan depan sebesar 2.400.000/bulan begitu seterusnya sampai 15 tahun, hingga masa cicilan berakhir. Ada kenaikan sebesar 500.000, seharusnya kami membayar 1.9 juta, Sekarang harus 2.4 juta. Apa yang harus di perbuat mau tidak mau ya harus di setujui, dari pada rumah yang kami tempati harus disegel dan kami juga tidak harus membayar tunggakan selama 3 bulan beserta bunganya hampir total 10 juta an ditambah lagi cicilan hutang untuk biaya keperluan pada saat pemakaman ibu mertua.
Masih di syukuri para penagih hutang tidak sampai datang ke rumah, semua bisa di kontrol oleh suami, kami pun harus irit seirit iritnya makan lauk hanya ikan asin, tempe/tahu, telur, begitu silih berganti makan ikan basah atau daging sangat jarang, untungnya anak anak tidak memerlukan bayar uang sekolah setiap bulan.
Beruntung selama 1 tahun hutang bisa di lunasi, lantas tidak membuat keuangan bisa membaik, masih ada kebutuhan lain lagi, kami memerlukan 2 kendaraan sepeda motor, 1 dipakai suami ke tempat kerja, satunya lagi kupakai untuk mengantar anak pergi sekolah dan untuk membeli keperluan dapur.
Kalau mengandalkan naik becak biayanya sangat mahal, di hitung hitung ongkos pulang pergi antar anak ke sekolah, sudah cukup untuk biaya dapur untuk satu hari, kalau naik angkot, tidak ada angkot yang lewat rumah.
Aku berinisiatif untuk meminjam uang ke ayahku. Sebelumnya aku tanya ke suami kalau beli yang sepeda motor bekas ada tidak 3 juta, tetapi syaratnya wajib pakai tidak ada lagi perbaikan. Suami setuju "ada mungkin". katanya kepada ku. Karena ayah bilang cuma mampu beri pinjaman 3 juta, lebih dari itu tidak ada.
Suami tidak bilang jenis sepedanya motor apa yang mau dia beli, dia hanya memiliki kan kesenangan dan hobby nya saja, tidak menyadari kemampuan nya. Sungguh aku sangat kecewa suami membeli sepeda motor bekas tahun 70 an, Ban sepeda motor sudah wajib di ganti karena sangat beresiko kalau hujan akan mudah tergelincir, bodi sepeda motor sudah karatan, suami pun sebenarnya bawanya sudah tidak percaya diri, tetapi yang ada di benaknya nanti bisa di perbaiki sedikit demi sedikit.
Tetapi dalam benak ku bukan itu kebutuhan saat ini, untuk membenahi perbaikan untuk sepeda motor bekas sangat memerlukan biaya banyak secara masih ada kebutuhan mendesak untuk perbaikan dan renovasi dapur.
Alhasil sepeda motor bekas yang di beli suami dari pinjam uang kepada ayah, dengan berjanji akan membayar di akhir tahun, itupun karena Mengandalkan THR akhir tahun dari tempat suami bekerja, tidak bisa langsung diperbaiki. Mesin rusak, harus menunggu ada uang lagi untuk perbaiki mesinnya yang biayanya juga cukup tinggi.
Sungguh sangat di luar jangkauan sia sia meminjam uang dari ayah, padahal masih harus wajib membayar nya. Anak anak harus diantar jemput naik becak. Kesal sama suami yang tidak ada perhitungan hanya memikirkan kesenangan dan hobby nya saja tanpa memikirkan kemampuan keuangan dan situasi saat ini, yang masih sangat susah.
Entah sampai kapan hutang ini bisa terlepas, seperti nya masih lama, dan hanya berjalan ditempat rasanya. Penat dan jenuh rasanya kapan lah hari indah itu akan tiba, sungguh masih jauh rasanya.
Apa yang bisa ku perbuat hanya bisa mengikuti arus saja. Pasti indah pada waktunya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments