"Halo pa, ma cucumu sudah lahir ya, perempuan" info suamiku melalui telpon kepada mertuaku. Begitu juga saudara yang lain termasuk ayah dan ibuku kabar kelahiran anak kedua ku disampaikan oleh suamiku.
Sebenarnya mendapatkan anak cewek lagi, aku kurang bersemangat, aku sangat berharap dapat anak laki laki, agar aku bisa tutup rahim, mengingat kondisi ekonomi yang masih terbilang rendah. Lebih baik kan punya anak cuma 2, tapi berkualitas artinya, bisa menghidupiku dengan makanan yang bergizi dan tentunya menyekolahkan nya pun tidak terbentur biaya, dibandingkan bila punya banyak anak. Tetap harus bersyukur, mungkin kehendak Tuhan bukan seperti yang kita pikirkan. Lagian katanya setiap anak punya rezeki masing masing. Anak ke 2 ku ini lahir dengan bobot 4kg. Agak montok dibandingkan dengan baby pertama ku, dan proses lahiran nya juga cepat.
Keesokan harinya mertuaku datang, hari ke 2 setelah proses lahiran, aku masih di rumah sakit, sebenarnya nya masih bisa nginap lebih lama lagi, maksudnya supaya aku bisa lebih santai, kalau di rumah sakit baby-nya di taruh di ruang baby artinya masih suster yang kasih minum dan mengganti popoknya, sedangkan kalau di rumah aku harus menyusuinya dan mengganti popoknya. "Sudahlah pulang aja kita, di rumah kan lebih enak ngurus nya, kita juga tidak repot bolak balik rumah- rumah sakit", kata mertuaku. "Ok lah kita pulang hari ini", kata suamiku. Seperti mendadak dan buru buru, padahal surat lahirnya belum selesai, masih harus datang lagi kemudian hari untuk mengambilnya. Ya sudah lah, seperti biasa, aku hanya bisa menyanggupi nya.
Di rumah suasana sangat panas, karena semua tidur bersama di ruang tamu, selain mertuaku ada juga adik iparku yang pertama Ria namanya bersama suami dan mertua nya. Mereka mau periksa kesuburan ke 2 belah pihak karena hampir 3 tahun menikah belum juga hamil, padahal selisih jarak pernikahan kami hanya terpaut 5 bulan saja. Baby ku di bedong oleh mertua, bedongnya pakai sarung, di masukkan ke dalam box baby, kelambu ditutupi sarung, dia bolak balik rewel, aku susui. langsung tidur, rewel lagi, di susui lagi, rewel lagi, padahal tidak ada buang air kecil atau buang air besar. Hingga subuh aku juga belum bisa tidur, sudah 2 hari ini aku tidak bisa tidur, entah kenapa tidak ada rasa ngantuk. Karena terus menerus disusui dengan jarak yang berdekatan, babyku muntah, mungkin kekenyangan. Kubuka semua bedongnya ku pakai kan seadanya, tidak terlalu ku bungkus, penutup kelambu ku buka. Akhirnya baby ku bisa tidur dengan nyaman. Mertuaku terbangun dia lihat baby ku bungkus seadanya, penutup kelambu ku buka, sepertinya dia marah. "nanti dia masuk angin", kata mertuaku, "tidak Bu, dia tadi muntah" jawabku. "Itulah karena masuk angin", katanya sambil cemberut. Aku diam saja tidak memperdulikan apa yang di bilang mertuaku, bukan maksud memberongtak sebenarnya, tetapi kita tahu keadaan yang sebenarnya.
Esoknya mertua ku ngomong ke suamiku, kalau baby ku masuk angin karena di bedong seadanya, aku diam saja.
Tok..tok..tok pintu di ketok, akupun segera bergegas membuka pintu.
Friska adik ipar no 4 datang dari kampung mau mencoba test untuk masuk perguruan tinggi negeri. Aku tidak terlalu menyuruh dia kerja, apa yang bisa ku kerja kan, yah ku kerja kan. Kulihat dia sudah mencuci pakaian dan cuci piring. karena sudah waktunya masak kusempatkan untuk memasak, kebetulan July anak ke 2 ku lagi tidur, Dinar pun sudah lebih terkontrol, di usianya yang sudah 1 tahun 6 bulan memaksanya untuk mandiri sudah bisa ke kamar mandi sendiri untuk pipis, dan dia pun sudah bisa tidur malam tanpa harus di keloni, seperti nya dia tahu kerepotan ku mengurus adiknya yang baru lahir.
Friska kulihat punya kebiasaan lupa waktu karena sibuk bermain hp, kulihat piring berantakan belum di cuci yah segera kucuci, setelah itu aku langsung masak. Tiba tiba July merengek tidak segera ku urusi, aku sibuk memasak, Friska di kamar terus.
suami ku yang sedari tadi hanya duduk main game, karena dia kerja shift malam. Tiba tiba dia marah "kamu tidak suka ya adikku tinggal disini", katanya penuh emosi. Aku bingung tidak tahu harus jawab apa. " kan bisa kau suruh Friska masak, ini semua mau kau kerja kan" kata suamiku. "Dia dari tadi di kamar, inikan waktunya mau makan siang, aku tidak enak nyuruh dia"jawabku. Bertambah kemarahan nya" kalau tidak suka bilang aja" katanya dengan berteriak kencang. " Bukan begitu maksudku", jawabku dengan suara bergetar. Sudahlah bagaimana pun pembelaan ku, suamiku begitu negatifnya menilai ku.
Kudapati kabar dari ibuku bahwa Andi tidak kuliah lagi, dia sering pulang kampung kemarin, karena kehabisan uang belanja. Entah apa yang dia kerjakan selama hampir 2 tahun ia mandiri tanpa kontrol aku. Aku memang tidak pernah pergi ke tempat kosannya, karena aku tidak bisa berpikir lagi karena disibukkan dengan kerepotan ku mengurus anak anakku yang masih kecil. Andi bilang dia mau cari kerja. Minta sama Ayah untuk merantau ke Jakarta, Entah apa alasannya setelah sampai di Jakarta dia langsung minta pulang, "aku di kampung saja berladang" begitu katanya. Aku sangat sedih dengar kabar ini, sia sia aku ngurus pindah sekolah nya, padahal dia sudah masuk juga perguruan tinggi negeri (padahal ada beribu ribu orang pengen masuk perguruan tinggi negeri tetapi gagal di test), sungguh berbanding terbalik dengan adikku, sudah masuk perguruan tinggi negeri tetapi di sia sia in. Seandainya suamiku bisa lebih peduli dan pengertian, itulah yang sangat kusesalkan dari suamiku. Semua sangat sulit di mengerti, sebegitu sakit kah hatinya, atau dia sudah tidak ada perasaan dan memang tidak dipikirkan nya mungkin masa depan adikku. Dia juga tidak memikirkan bagaimana perasaan aku, ibu, ayahku, dan saudara ku yang lain. Mungkin dia hanya memikirkan kan emosional nya saja, tidak bisa lagi berpikir secara logika.
Kegiatan Andi di kampung tidak ada, kemarin coba untuk berladang tapi di larang oleh Bang Hery (Abang ke 3ku), takut mengurangi jatah bagian yang akan dikelola nya. Andi hanya mengurung diri di kamar, ngerokok sangat keras, dia terkadang maksa ke ibu supaya di beri uang untuk beli rokok, sesekali keluar dari kamar untuk beli rokok ke warung, ditanya, jawab seadanya, terkadang tidak di jawab. Tidur larut malam, kadang siang atau sore baru bangun. Aku tidak habis pikir bagaimana dengan masa depannya nanti. Apakah dia ada konsumsi narkoba (aku coba berprasangka buruk kepadanya), padahal adik sepupu ku Tono bisa terus lanjut kuliah, apakah dia tidak mengingatkan Andi atau menegur, atau si Andi sudah tidak bisakah di ingatkan lagi. Semua pertanyaan itu silih berganti di otak ku. Hampir membuatku stress.
Aku cerita kan kondisi Andi kepada suamiku, dia hanya diam saja. cuma bisa bilang "Memang dah konsumsi narkoba itu". Ya Tuhan sedikit pun tidak ada penyesalan baginya, sedikit banyak ini karena dia juga yang tidak mau bersabar dengan tingkah laku adikku, seandainya dia terus tinggal serumah denganku, mungkin dia tidak berani narkoba, biarlah mulut ini berbusa untuk terus mengingat kan agar dia pergi ke kampus, mungkin dia bisa tamat dengan nilai yang pas pasan, karena aku tahu bahwa Andi tidak bodoh bodoh amat. Dia hanya gampang termakan bujuk rayu teman temannya.
Aku coba untuk menghapus segala sakit hatiku kepada suamiku, bagaimanapun dia adalah teman hidupku selamanya. Tidak mungkin aku emosian terus sama dia, bagaimana aku menjalani hidup, mungkin aku pun bisa stress jadinya. Aku hanya bisa berlapang dada saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments