Ada hikmah di balik segala sesuatu yang terjadi

Kring...kring..kring Hp ku berdering, "kak, jangan terkejut ya"kata adik ipar ku krista, berbicara dari ujung telpon dengan suara pelan.

"Emangnya kenapa Kris, ada apa memang" tanya ku dengan penuh tanda tanya.

"10 menit yang lalu, aku ditelpon teman kerja Abang, katanya Abang jatuh dari lift di tempat kerja" kata krista adik ipar ku mencoba menjelaskan kepadaku dengan pelan pelan takut aku nanti menjerit, teriak atau menangis. "Bagaimana katanya kondisinya", aku pun mencoba mendengarkan dengan jelas dan tidak panik apa yang di katakan krista. "Sudah di rawat, sekarang ada di rumah sakit Medistri"kata krista membalas pertanyaan ku. "Ok lah, nanti aku datang ke rumah sakit melihat keadaan nya, yang sebenarnya. Supaya aku juga bisa mengabari ke orang tua.

Ku telpon adik iparku Nosta, Nosta rumahnya lebih dekat dengan rumah sakit tempat suami di rawat, maksudnya nya biar dia yang duluan datang, supaya ada pihak keluarga yang menemani, mana tau ada yang diperlukan. Karena menunggu aku yang datang, selain karena jarak rumah ke rumah sakit jauh, aku juga masih harus mengurus ibu mertua yang stroke, yang separuh badannya tidak bisa di gerakkan hanya mengandalkan kursi roda, sebagai alat bantu untuk bergerak nya.

Aku harus memandikan nya terlebih dahulu, memasak nasi, anak anak juga tidak usah bersekolah, aku menelpon adik ipar frista, aku cerita kan kalau Abang nya suami ku sedang di rumah sakit karena kecelakaan di tempat kerja yakni jatuh dari lift, aku suruh dia datang supaya ada yang jaga ibu mertua sekalian jaga anak anak. Aku takut meninggalkan kan anak anak sendirian di rumah. mereka terkejut mendengar kabar ini. "Iya kak, aku datang 10 menit lagi" kata frista menjawab teleponku.

Ya Tuhan masalah apa lagi ini. Jangan ya Tuhan terjadi hal hal yang tidak ku inginkan, jangan lah kiranya suami mengalami cacat sehingga membuat ia tidak bisa bekerja lagi. Gimana dengan kehidupan kami seandainya suami tidak bekerja lagi. Aku terus berdoa dalam hati, kiranya baik baik saja.

Suami kena shift malam pas kecelakaan tersebut, jam 23.00 suami berangkat dari rumah mau pergi ke tempat kerja, sebelumnya nya kami bertengkar, aku minta uang, aku cerita kalau aku tak ada pegang uang sepersen pun, " aku juga tidak ada pegang uang".kata suami dengan marah.

"Iya, di rumah ini rokok yang di stok, bukannya sembako malah nyetok rokok" kataku dengan marah. Suami pun tidak mau kalah "kalau ada teman yang mengkreditkan sembako, pastilah ku kredit juga", "kalau aku bisa berhenti merokok, pasti aku berhenti". katanya tidak mau kalah.

"Sudahlah percuma ngomong sama kamu, sepanjang apa pun aku menjelaskan nya , semua tidak masuk akal bagimu, pergilah kerja, nanti terlambat. Lagian supir yang antar jemput karyawan sudah datang, nanti datang pula ke rumah ini, malu kita di lihat berantam" kata ku menyudahi pertengkaran kami. Supir antar jemput karyawan nya hanya nyampe di ujung gang saja, tidak bisa nyampe depan rumah karena gang nya sempit, tidak muat mobil. Suami pun berlalu pergi meninggalkan aku.

Di rumah aku hanya menangis sambil ku bawakan dalam doa, Ya Tuhan seandainya suamiku tidak merokok, Engkaulah ya Tuhan yang mampu mengotak atik pikiran seseorang, ubahkanlah jalan pikiran suamiku ya Tuhan, kiranya dia bisa berpikir secara rasional, alangkah baiknya kalau biaya rokok itu di makan atau ditabung, apa tidak lebih baik?. Itu adalah doa ku sebelum kudapat kabar bahwa ia kecelakaan jatuh dari lift di tempat kerja.

Setelah aku beres beres di rumah, dan adik ipar frista juga sudah datang. Itu artinya aku bisa berangkat ke rumah sakit, frista yang menjaga anak dan ibu mertua. Aku berangkat ke rumah sakit dengan membawa putri bungsu kami yang masih berusia 2 tahun, kalau ku tinggal takut dia tidak mau makan, dia memang lumayan susah makan, badannya lumayan kurus, dibandingkan dengan kakak kakaknya.

Sesampainya di rumah sakit, sebelumnya adikku Nosta sudah memberi tahukah bahwasanya suami ada di ruang Melati 14 lantai 4. Bergegas aku segera menuju ruang rawat suamiku. Kulihat suamiku berbaring di tempat tidur. Aku menanyakan kabarnya, Lumayan sakit bila badan di gerakkan kan ke kanan dan ke kiri, sudah di Rontgen, oleh dokter jaga yang ada di ruang UGD, hasilnya belum di beri tahukan oleh dokter ahlinya yaitu dokter bagian tulang. Sudah tengah hari padahal di bawa tadi ke rumah sakit pukul 4 dini hari, rumah sakit Medistri adalah rumah sakit terdekat dengan tempat kerjaan suami, dan rumah sakit ini adalah rumah sakit besar, perlengkapan nya pun pasti sudah lebih lengkap di banding rumah sakit yang lain.

Sudah 2 hari suami dirawat di rumah sakit, tak pernah dokter ahli bagian tulang datang, pengobatan hanya sebatas infus, dan menghilang rasa nyeri, hasil Rontgen pun kami tidak tahu, bagaimana hasilnya, apa kah ada patah tulang. Kami pun lumayan kesal dibuatnya, pelayanan rumah sakit ini sangat kurang menyenangkan bagi kami, kami selalu menanyakan ke suster jaga, ya sabar Bu, dokternya pasti datang, hari ini tidak ada jadwal nanti jam 18.00 dia ada jadwal di poly. "bisa kemungkinan dokternya datang sus, untuk periksa, kami pun pengen tahu hasil pemeriksaan nya, keluarga dari kampung pun sibuk juga menanyakan kabar, gimana kondisi suami sebenarnya" kataku kepada suster jaga, "Iya Bu, pasti datang dokternya". kata suster jaga menjawab pertanyaan ku.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Kami pun di ruangan menunggu kedatangan dokter ahli bagian tulang. Sampai jam 20.00 dokter ahli tulang belum juga datang, "tidak mungkin lagi lah itu datang" kata suami penuh kesal " Iya tidak mungkin lagi itu datang", aku menimpali nya.

Dengan penuh kesal dan kecewa, apalagi besok hari Minggu jadwal dokternya tidak ada hari Minggu, parah hampir 3 hari di rawat di rumah sakit dokter spesialis nya tidak ada yang datang padahal suami adalah korban kecelakaan kerja. Kami pun masih bimbang tidak tahu kondisi suami yang sebenarnya.

Suami mau buang air kecil, mencoba untuk menggerakkan badan dan kakinya, dia tidak mau buang air kecil melalui pispot, dia mau di papah ke kamar mandi. Akupun membantu nya berdiri pelan pelan, sebelumnya aku memiringkan badannya ke kiri, dan kemudian menurunkan kan kakinya ke samping tempat tidur, pelan pelan kemudian mencoba mendudukkan badannya, setelah itu memapahnya pelan pelan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah latihan pertama tadi, akhirnya suami bisa duduk pelan pelan, berjalan pelan pelan, tetapi suami tidak tahan duduk berlama lama.

Dengan penuh kesal dan kecewa, kami pun meminta untuk pulang. awalnya mereka tidak menyetujui nya, tetapi kami begitu kesal. Tiga hari kami merasa di kecewakan tidak ada dokter spesialis nya. Kami berencana mau pindah rumah sakit saja, yang lebih dekat dengan rumah, sangat menyita waktu selama 1 jam perjalanan dari rumah tinggal ke rumah sakit tempat suami di rawat.

Kami pun harus menandatangani beberapa persetujuan, bahwa Sanya apabila terjadi hal hal yang tidak di inginkan, tidak merupakan tanggung jawab rumah sakit, melainkan adalah tanggung jawab kami sendiri. Kami pun bersedia menerima segala apapun itu konsekuensi nya. Setidaknya nya kami masih berjuang daripada kami harus menunggu yang tidak jelas.

Sampailah kami di rumah sakit yang ke dua, masuk melalui jalur UGD, setelah menunggu pemeriksaan dan kelengkapan data, akhirnya suami pun di rawat. masih ditangani oleh dokter jaga UGD yaitu dokter umum, karena ini hari Minggu, dokter spesialis tidak ada. Besoknya suami langsung di bawa ST scan, langsung di tangani secara cepat, dan dokter spesialis ada dan datang tengah hari, dia menunjukkan hasil ST Scan bagian pinggang dan tulang belakang, semua organ normal. Tetapi harus menjalankan beberapa terapi.

Saya pun tidak bisa menemani suami nginap di rumah sakit, sore nya saya tinggal, karena frista adik ipar tidak bisa, ada kuliah yang harus dia ikuti. Suami pun akhirnya bisa maklum atas kondisi dan situasi yang ada.

Selama sepuluh hari, suami tidak ada merokok, selain karena di rumah sakit tidak bisa merokok. Mencoba untuk merokok, lidah rasanya tidak enak terasa pahit. dia pun akhirnya nya terbiasa tidak merokok. Banyak teman kerja suami yang datang untuk menjenguk, tetangga, dan pelayanan di gereja mereka menyampaikan rasa prihatin nya atas kecelakaan kerja yang dialami suami. "kamu termasuk beruntung lho Justin (nama suami), 3 hari yang lalu ada berita di TV di kantor Nestle ada kecelakaan jatuh dari lift, ada 3 orang korban ya semua tewas, Padahal kamu jatuh dari lantai 7 tetapi tidak apa apa. sungguh suatu keajaiban. buat Among Among lah." kata teman teman suami yang datang untuk melihat kondisi suami.

Sungguh suatu keajaiban memang, suami sehat sehat dan baik baik saja. Cuma keluhan suami tidak bisa berlama lama duduk. Akhirnya kami diperbolehkan pulang ke rumah, setelah pulang dari rumah sakit, ada kakak menawarkan untuk di kusuk di bagian tulang.

Berangsur angsur kondisi suami bisa pulih, tetapi tidak bisa gesit bergerak, bermain bola, bermain bulu tangkis, bahkan untuk berlari tidak bisa, akan terasa melelahkan bila kegiatan itu dilakukan. Tetapi ada hikmah di balik kejadian yang terjadi. Suami tidak merokok lagi, Ya Tuhan. Ternyata doa ku di kabulkan melalui cobaan yang begitu berat, Untung nya suami pun baik baik saja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!