Selalu disalahkan

Jatuh bangun aku dalam menjalani bahtera rumah tangga ini, apakah harus menyerah?. Setelah 8 tahun menjalani bahtera rumah tangga, harusnya dari awal menyerahnya, ini sudah separuh jalan kenapa harus menyerah, mungkin sedikit lagi titik terang pasti kelihatan, itu adalah motivasi yang selalu kutetapkan dalam hatiku, akupun harus mensupport hatiku agar tidak menyerah.

Bagaimana kehidupan anak-anak nantinya bila orang tua mereka bercerai, pastilah akan mempengaruhi mental nya, walaupun tingkah laku anak tidak sesuai dengan harapan kita, hanya doa dan tetap untuk terus menuntun mereka ke jalan yang benar saja saat ini yang bisa dilakukan, karena hari esok hanya Tuhan lah yang tahu.

Sifat tempramental anak sedikit banyak pastilah di pengaruhi oleh tingkah laku dan pengajaran orang tua kepada anaknya.

Metode pengajaran kepada anak-anak menurut suamiku adalah dengan menghajar dengan keras anak, apabila melakukan kesalahan, sama seperti yang suami dapatkan ketika masih kecil ayah mertua sering menghajar mereka dengan memukul pakai rotan, tali pinggang, kayu atau apa saja barang barang Yang ada dekat dia. Kalau menghajar anak terlalu lembek atau tidak di pukul adanya anak akan menginjak injak orang tua, anak akan sepele dengan orang tua tidak hormat dan patuh kepada orang tua. Begitu menurut suami, padahal kalau suami pukul anak, kita sendiri yang jadi lawan suami, malah kita yang bertengkar.

Suami berkeluh kesah kenapa anak anaknya tidak kompak kepada ayahnya, anak anak pada takut tidak pernah mau mengutarakan keinginan mereka hanya mengatakan nya kepada ku, anak anak juga tidak pernah mau bercerita dengan ayahnya, dimana ada aku disitu anak anak ada, tetapi kalau ayah nya datang mereka bubar, terkadang ayah nya ditinggal sendirian di ruang tamu tidak ada teman nya.

"Kenapa anak anak tidak kompak bahkan cenderung takut sama aku", tanya suami padaku. " Yah wajarlah, kamu pun waktu mereka kecil jarang mau menemani mereka main", kata ku sambil ketawa.

"Iya, kau yang mengajari itu" kata suami kepadaku penuh emosi.

" Seperti nya kamu menuduhku, kalau aku mengajarkan yang tidak benar kepada anak anak", jawabku dengan nada kesal.

Suami tidak sadar bahwasanya ia selama ini memang kurang kompak. Datang dari kerjaan sebentar menggendong anak anak hanya beberapa menit menurut ku, terus di serahin sama aku, supaya suami bisa melanjutkan aktivitasnya bermain game. Apakah itu sudah cukup menciptakan kedekatan antara ayah dan anak?, bermain pun sama anak anak tidak mau, sesekali menemani anak mandi bola sih mau, tetapi kalau di rumah selalu diserahkan kepadaku, suami asik bermain game seharian sampai tengah malam, aku saja jarang berkomunikasi dengan suami karena aku merasa dia tidak fokus menjawab pertanyaanku karena perhatian suami asik ke game.

Dengan latar belakang pendidikan suami yang sarjana pendidikan tidak lantas membuat suami bisa menerapkan nya kepada anak anak, kalau suami yang mengajari anak anak, aku yang ketakutan. Awal awal sih masih yang pelan, lembut, tetapi entah anak yang sudah ketakutan duluan, sehingga susah untuk fokus, pertanyaan yang sudah bolak balik pun tidak bisa di jawab. Itu membuat kesabaran suami hilang, dia langsung main pukul. Akupun begitu, bila anak susah mengerti, bolak balik dijelaskan tidak paham, akupun langsung naik pitam, langsung membabi-buta memukul anak. Aku pun secara otomatis meniru kelakuan suami, karena sifat suami yang juga kasar ke aku, dan suka sepele, dan terkadang menganggap aku bodoh, tingkah ku yang kasar ke anak anak, mungkin saja seperti pelampiasan ku, karena diperlakukan seperti itu oleh suami.

Sehingga kalau anak kuajak belajar mereka langsung nolak, mereka takut kupukul. Aku merasa pengajaran ku sama anak sudah salah, anak anak kasar cara ngomongnya ke sesama adik-kakak, begitu juga sebaliknya kakak-keadiknya.

Pertengkaran ku dengan suami bukan hal hal yang berat, semua hanya masalah sepele, adalah karena aku yang salah mendengar, jadi aku bilang apa yang kudengar, suami langsung marah, langsung nuduh aku yang tidak mau memperhatikan lah, yang tidak peduli lah sama suami, malah aku yang di tuduh sepele sama dia, pernah juga karena aku tidak update berita hari ini misalnya, langsung nuduh aku yang tidak memperhatikan ucapannya, langsung bilang ke aku kalau tidak nyambung ngomong sama aku.

Ya Tuhan, padahal kalau kuperhatikan suamiku ngomong ke adik ipar, kadang adik ipar tidak fokus jawab, atau tidak langsung menanggapi suami karena asik perhatian nya ke HP, suami bisa toleransi, tidak langsung marah. Kenapa ngomong sama aku selalu bawaan marah, bahkan dia selalu bilang, "percuma kamu sarjana", kata suami dengan kasar. Suami seperti tidak peduli tentang perasaan ku. Padahal suami pun menurut ku sifatnya sangat sensitif. Intonasi bicara kita tegas dia langsung marah, dianggap kita sepele sama dia seperti tidak menghormati suami menurut nya, terkadang kita bicara sedikit lebih melotot karena mana tahu dia tidak dengar, suami biasanya langsung tersinggung. Apa perasaan nya saja yang perlu di perhatikan, sedangkan perasaan ku dia tidak mau tahu, bahkan dengan enteng nya dia bilang "memang aku gini cara bicaranya, dari dulu kan aku memang sudah gini cara bicaranya".

Kalau saat pacaran mungkin sudah beda kontesnya, sekarang sudah berumah tangga jadi agak sensitif, karena memang suami Sangat tidak menghormati seperti nya, bahkan didepan orang banyak pun suami tidak segan segan memarahi ku, bahkan mau memaki maki aku.

Bukan maksudnya menentang suami, terkadang aku hanya menjelaskan kan maksud arahan perkataan ku. Aku di tuduh membangkang. Langsung deh suami melemparkan apa saja yang ada di dekatnya, kalau hp didekatnya, hp yang di lempar. Suami pengennya kita engge aja apa yang dia bilang, kalaupun kita merasa benar kita biarkan aja (sama aja dong engge engge aja). Stroke dong nantinya kita, terpendam semua emosi kita di dalam hati. Ibu mertua gitu sama ayah mertua, kalau ayah mertua marah, ibu mertua diam aja, kalau ditanggapi malah di pukul, kupikir itulah penyebab ibu mertua selalu memendam dalam hati, terakhir ya jadi stroke, aku tidak mau sama seperti ibu mertua.

Aku bersifat realistis aja sih, kalau merasa memang yang benar, aku pun coba jelaskan ke suami, tetapi suami tidak terima akhirnya nya marah. Tetapi akhirnya suami tidak diaman dan membisu seharian, yah aku yang akhirnya minta maaf. Sebelum aku minta maaf, pertengkaran kami tidak pernah selesai, itulah salah satu keegoisan suami menurut ku, suami tidak pernah minta maaf. Suami menurut ku juga tidak pernah menyadari kesalahannya, selalu ia merasa yang diperbuatnya selalu benar.

Bahkan dalam hal mendidik anak, aku selalu yang salah, semua karena kesalahanku. Padahal kalau merasa sudah disalahkan begitu, untuk apa lagi kita menjalani bahtera rumah tangga ini, tidak ada saling kepercayaan lagi, masing masing pihak harusnya introspeksi diri. Apakah masih bisa menjalani bahtera rumah tangga ini hingga maut memisahkan, seperti janji ikrar berdua sewaktu menikah dulu??

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!