Kapan kamu berubah?

Menikah dengan suami dengan status anak pertama dari 6 bersaudara bukan kusesalkan, dari awal pacaran akupun sudah tahu status nya ini, aku siap dan sudah memikirkan, pasti adik adiknya akan tinggal dengan kami, akupun merasa Wellcome, karena latar belakang ku dengan kedua orang tua yang status nya juga adalah anak pertama dari banyak saudara. Aku juga merasakan di rawat oleh bibi dari adik ibuku, dan om adik ayahku yang masih sekolah. Mereka tinggal bersama dengan kami karena biaya sekolah dan biaya hidup dibiayai oleh ayah.

Ayah hanya seorang supir truk ekspedisi luar kota, Jakarta - Medan, Gajinya juga tidak seberapa, sungguh ku acungin jempol buat ibu bisa mencukupi uang yang diberikan ayah untuk biaya hidup kami. Ayah pulang sekali 14 hari, terkadang lebih, kendala nya kalau tidak ada barang yang akan dibawa, jadi harus tunggu ada barang yang akan dibawa. terkadang mau sampai 3 Minggu baru Ayah balik, momen itu adalah yang paling kutunggu ayah datang membawa oleh oleh, bongkar bongkar pakaian kotor ayah, juga menyenangkan karena akan selalu ada duit tinggal di saku baju atau saku celana. Aku tersenyum senyum sendiri mengingat kisah itu, Ayah sangat sayang sama aku, terkadang membuat 5 saudara laki laki ku merasa iri, kenyataan nya ayah tidak pilih kasih, kami semua di sekolah kan dan mendapatkan hak yang sama. Sepulang ayah dari luar kota, ayah selalu menyempatkan diri untuk menggendong aku, aku diangkat dan di taruh di pundaknya, momen itu sampai aku kelas 1 SD, karena aku selalu diejek oleh saudara laki laki ku " anak manja". Aku tidak pernah di pukul oleh ayah, karena itulah bila suami main tangan kepada ku, aku sangat sedih.

Kondisi pernikahan ku tidak pernah kuceritakan kepada ibu, apalagi suamiku yang main tangan tak pernah kuceritakan, aku takut ibu kepikiran dan sedih, biarlah hanya aku yang tahu.

Friska sudah selesai ujian untuk test masuk perguruan tinggi, dia segera pulang kampung, tunggu pengumuman lulus atau tidak lulus 1 bulan kemudian.

Rumah kembali sepi hanya ada suami, aku dan kedua putri ku Dinar dan July. Rutinitas seperti biasa, beres beres rumah, dan mengasuh anak, bila rewel kerjaan ku hentikan sejenak tunggu si bungsu tenang atau tidur, kemudian dilanjutkan kembali. suami tidak pernah mau cuci piring, menyapu, memasak atau mencuci pakaian, semua ku kerjakan sendiri. Rutinitas suami, bila kerja masuk shift pagi, sepulang kerja jam 16.30 sampai di rumah sebentar gendong anak, 10 menit kemudian, cuci muka, ganti baju lanjut ke main game duduk manis depan komputer sampai subuh jam 3, sesekali makan dan buang air kecil. Bila kerja masuk shift sore, bangun pagi jam 8, sebentar cuci muka, lanjut ke aktifitas bermain game sampai jam 14.00. pulang dari kerja jam 00.30 masih disempatkan bermain game hingga subuh jam 3. Bila masuk kerja shift malam. Pulang jam 08.30 sampai rumah sebentar gendong anak, cuci muka, ganti baju, lanjut aktifitas bermain game sambil merokok, kebutuhan rokoknya bisa sampai 2 bungkus per hari dengan harga perbungkus 20.000

Begitu lah rutinitas suamiku, bisa di bayangkan kan komunikasi ku kepada nya, terkadang malas ngomong karena dia fokus ke game dan menjawab seadanya saja. Dan hubungan dia kepada anak anakku juga kurang dekat, makanya apabila ada keluarga yang hampir tidak pernah dilihat anak anak, dia akan takut dan nangis, selalu nempel sama aku, sama ayahnya tidak mau, aku pun sangat repot tidak bisa bergerak di tinggal bentar pasti menangis.

Suamiku marah dan lalu tangan bila anak-anak tidak mau sama dia, "Inilah kalau anak terlalu di manjakan", katanya penuh amarah. Dia tidak sadar bahwa itu adalah yang dia tanam, dia merasa sudah cukup hanya sebentar menggendong. tidak ada hubungan batin kalau menurut ku.

"Ini uang belanja", diberikan 500.000 itu semua mulai dari perlengkapan mandi, makan, bayar listrik, ongkos2 pergi ibadah setiap Minggu. Kalau nanti ditengah bulan kurang kadang diberi 100.000, habis minta, tapi kalau di minta " yang kemarin sudah habis rupanya", dengan penuh emosi. Akupun hanya diam dan menangis dalam hati. Lebih banyak biaya untuk rokok nya setiap bulan, bahkan rokok di stok persediaan nya di rumah, dia lebih takut kalau tidak merokok dari pada tidak makan. Aku cemberut dan diam.

Suami marah dan menanyakan" kau kenapa", katanya dengan marah. "tidak ada", jawabku. "tidak ada, tapi kok cemberut", tanyanya. "Lebih banyak uang rokokmu, daripada untuk biaya makan, itupun harus irit, dan makan seadanya saja"jawabku kesal.

Dengan marah nya dia menjawab" Aku rupanya apa, kau mau aku ke warung kopi nongkrong disana seharian, ngerokok, judi, minum minum. Kan sudah lebih banyak biaya nya keluar kalau aku nongkrong di warung kopi, daripada aku di rumah saja memang ya harus ngerokok"di terus ngomong seolah dia benar."

Memangnya kau tidak tahu kalau aku merokok, dari dulu waktu kita pacaran pun kau kan sudah tahu kalau aku ngerokok", katanya dengan penuh kemenangan

Ya Tuhan begitu egoisnya suamiku, bagaimana kalau pertanyaan itu di kembalikan ke aku.

Emang aku tidak butuh beli bedak, emangnya aku tidak pengen cantik, kesalon, shopping untuk menyegarkan otak ku, akibat rutinitas sehari-hari, apakah aku tidak perlu bahagia.

Lagian uang belanja yang dia berikan bukan untuk aku sendiri, itu keperluan semua. Dia ngerokok untuk keperluan pribadi nya.

Keinginan itu hanya aku yang tahu dan sepertinya tidak perlu di ungkapkan. Mungkin karena dia yang cari uang, jadi uang itu tidak salah untuk kepuasan dirinya.

Aku jadi menyesal kenapa lah aku tidak punya penghasilan sendiri, supaya aku tidak perlu mengemis kepada suami. Aku ingin sekali mencari kerja, tetapi gimana??, anak anak siapa yang jaga?

Suami tidak pernah peduli perasaan ku, padahal aku seorang sarjana, aku menyesal seorang sarjana hanya sebagai ibu rumah tangga.

Suami harusnya peka dengan perasaan istri. Istri sudah mengorbankan segalanya, meninggalkan kan keluarga, meninggalkan pekerjaan untuk mengurus anak anak. Tidak dianggap kah aku??

"Pak, mungkin 2 hari lagi gas habis, beras habis", kataku dengan suara pelan. Takut nanti suami marah. " tidak ada duit", katanya ketus. Padahal tadi sebelum dia pergi kerja, aku sempat mengintip dompetnya, ada uang 10 lembar uang seratus ribuan. Aku sedih di bohongi padahal itu bukan keperluan pribadi ku, untuk keperluan makan dia juga. Aku diam saja, dia pun berlalu pergi untuk berangkat kerja.

Aku emosi dan marah, sambil mengucap "Dirong-rong ma Aru Arumi" (bahasa daerah\=digerogoti lah tenggorokan mu).

Beberapa hari berlalu suami berkeluh kesah, " tenggorokan ku sakit lah, kayak susah menelan". "Mau sakit mungkin", kataku pelan.

3 hari kemudian suami serak suaranya, seperti di paksakan untuk berbicara, karena agak susah untuk ngomong, dia pun merasa makin susah bernapas, apalagi kalau dalam posisi tidur. Aku menanyakan awalnya gimana. 4 hari yang lalu aku tertelan duri, seperti nya durinya melukai tenggorokan ku, mungkin jadi bengkak. Karena takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan diperiksalah ke dokter dan di Rontgen, ternyata betul ada daging tumbuh di tenggorokan harus di operasi kalau tidak akan menyumbat pernapasan, itu yang membuat jadi susah bernapas.

Bagai di sambar petir di siang hari, aku terkejut, namanya operasi takut juga membayangkan nya. Setelah disetujui dokter bagian THT, syaraf, dan penyakit dalam disetujuilah jadwal operasi. kutanda tangani surat persetujuan operasi bahwa aku menerima segala konsekuensi yang terjadi pasca operasi, dengan gemetar dan penuh ketakutan kutanda tangani surat itu. Aku takut juga gimana kalau terjadi hal hal yang tidak diinginkan kan pasti aku akan disalahkan keluarga nya. Aku berdoa dalam hati "Tuhan, aku tidak mau jadi janda, bagaimana pun dia suamiku, walaupun aku banyak kecewa karena sifatnya tetapi aku dan anak anak masih butuh dia, lancarkan lah proses operasi kiranya di jauh kan dari hal hal yang tidak di inginkan kan". Ku panjatkan terus doaku dalam hati.

"Semangat ya pak, tidak usah dipikirkan yang tidak tidak, berdoa semoga dilancarkan", aku menyemangati suamiku saat mau mengantarkan ke ke ruang operasi. Suamiku tersenyum.

Anak anak ku boyong ke rumah sakit, rumah sakit seperti rumah kedua saat ini. Mereka pun selalu lengket dan tak mau ditinggal, padahal ada mertua perempuan yang menemaniku datang dari kampung setelah kami beritahukan kabar ini, tidak mungkin tidak kuberitahu, walaupun mengabarinya mereka juga sangat takut.

Setelah 2 jam proses operasi selasai dan lancar, masih ada 1 jam masa observasi. 2 jam kemudian suami sudah bisa dibawa ke kamar inap. Dan kutanya kondisinya baik baik saja. Ditunjukkan daging tumbuh yang diambil dari tenggorokan suami memang lumayan besar. Besoknya kami boleh pulang, suami sudah baikan, dan beraktifitas seperti semula. Sudah mulai bekerja seperti biasa.

Kejadian ini tidak lantas membuat suami tobat untuk berhenti merokok dan bermain game. Bukan maksud mendoakan nya untuk celaka, kata kata itu hanya keluar sendiri nya dari mulut, karena sakit suami tidak pengertian.

Tuhan lah yang mampu untuk mengubah jalan pikiran seseorang, semoga suatu saat suami terketuk hatinya untuk tidak merokok.

Sifat tempramental suamiku lama kelamaan bisa ku kompromi, karena suami bercerita kalau dulu mertua laki laki mengajari mereka kalau tidak sesuai keinginan orang tua, atau melakukan kesalahan memang wajib di pukul pakai tali pinggang, kayu dll. Mertua laki laki juga kasar dan mau main tangan ke mertua perempuan. Aku diam saja kalau suami sudah marah, yang tidak bisa ku kompromi kalau dia memang suka merendahkan orang lain. Dan itu seperti tidak disadari nya dan dianggap nya dia benar. Itulah mungkin yang menyebabkan dia tidak mau berubah, karena tidak menyadari kesalahannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!