Setelah punya pekerjaan suamiku angkuh

##

"Mari kita angkat ini, bersama sama", printah suamiku kepada sepupunya yang ikut bantu bantu pindahan rumah kami di kontrakan baru.

Kedua adikku tidak ikut lagi bersama kami. Mereka sudah duluan pindah, tinggal lebih dekat dengan kampus supaya bisa jalan kaki. Maksud nya tanpa naik angkot supaya lebih hemat.

"Jangan dipaksa, Li ngangkatnya, hati hati, kami aja nanti yang ngangkat" tegur suamiku dengan penuh amarah.

Karena aku cerita kepada suamiku mungkin aku hamil, aku sudah telat 1 bulan tetapi belum test kehamilan. Dengan kondisi hamil muda makanya aku tidak boleh angkat yang berat berat.

Setelah memberanikan diri untuk test kehamilan dan ternyata hasilnya positif. Aku sungguh benar telah hamil.

Bukan main gembira nya aku, aku sangat bahagia dan terharu sehingga sampai meneteskan air mata, begitu tahu aku positif.

Aku mengabarkan berita sukacita ini kepada mertuaku, mereka sangat senang. Beban beratku terasa terlepas sebagian. sebelumnya aku paling takut kalau menghubungi pihak mertuaku. karena mereka selalu menanyakan "sudah isi kah?".

Adik ipar ku yang usia pernikahan kami cuma beda 5 bulan juga belum hamil, bila kuingat kata-kata mertuaku pada saat salonan di acara tunangan adik ipar ku.

"Sudah isi dek", kata tukang salon.

"Belum kak" jawab ku dengan suara pelan.

Mertuaku langsung menimpali "Adik iparnya nanti duluan hamil,

entah tak isi lagi itu", katanya sambil menyindir ku.

Karena sudah 5 bulan pernikahan ku aku belum juga hamil. Kata kata itu sungguh membuatku sangat sedih. Maka tak jarang aku selalu menangis dalam doa memohon kepada Tuhan untuk segera diberi momongan.

Sampai akupun sudah berpikir untuk terserah lah kalau memang harus diceraikan karena belum bisa kasih keturunan.

Tapi Tuhan sangat baik, Tuhan kabulkan doa hambanya yang selalu memohon kepadaNya.

Syukurlah dengan kehamilanku ini, suamiku bisa lebih perhatian dan mudah mudahan tidak egois.

Suamiku belum juga mendapatkan pekerjaan, masih aku yang jadi tulang punggung padahal pemasukan sudah berkurang.

Uang makan dari kedua adikku tidak ada lagi, karena sudah tidak tinggal satu rumah. Pemasukan hanya mengandalkan dari gajiku saja.

Padahal pengeluaran makin bertambah, uang kebutuhan rumah tangga, ditambah ongkos angkot untuk pulang pergi kerja, dan biaya rokok suamiku.

Kondisiku yang lagi hamil, dan betapa penatnya pulang dari kerjaan. Suamiku tidak terbuka hatinya untuk mau terlibat membantu aku yang masih harus beres beres rumah, masak dan cuci piring, dia selalu asik bermain game di depan komputer.

Dulu adikku tinggal 1 rumah denganku, dia marah marah karena adikku tidak ada komunikasi dan tidak ada kerjaan, sekarang karma telah berbalik kepadanya.

Dia lebih banyak duduk bermain game, mencuci piring pun tak bisa. Aku mencoba bertegur sapa, atau sekedar melepaskan unek unek kepadanya.

Suami hanya menjawab, iya, tidak, dan kadang tidak fokus mendengar dan menjawab pertanyaan ku. Akupun segera meninggalkan nya dan segera pergi tidur.

Jam 3 pagi kulihat suamiku masih di depan komputer, setelah kutegur baru dia mengakhiri gamenya. Begitulah rutinitas suamiku setiap hari, bahkan berbulan bulan.

"Besok aku ada panggilan interview", kata suamiku penuh semangat.

Aku pun sangat senang menanggapi nya.

"Apa nanti langsung kerja atau tidak ya", tanya suamiku kepadaku.

"Mudah mudahan langsung kerja ya", akupun terus menyemangati nya.

Mengingat jarak test dan interview sangat lama ada selang waktu 6 bulan,

Kami sama sama keluar rumah pagi itu, aku pergi kerja suamiku untuk panggilan interview. Sambil berdoa dalam hati, berharap suamiku segera kerja.

Mengandalkan gajiku yang terbilang rendah, sangat tidak cukup mengingat aku sebentar lagi mau lahiran, aku dan suami tidak ada tabungan sepersen pun.

Seperti biasa sore hari setelah pulang kerja, kulihat suami sudah di rumah dan sedang asik melakukan rutinitas yakni bermain game di depan komputer.

Aku pun langsung duduk di sampingnya dan menanyakan, "Bagaimana hasil interview nya hari ini?".

"Tunggu panggilan selanjutnya", sela suamiku dengan suara rendah,

Aku sangat kecewa, sesungguhnya aku sangat berharap setidaknya bulan depan sudah masuk kerja, tetapi kenyataannya tidak.

Aku tidak boleh menunjukkan sikap tidak senang ku di hadapan suami. Aku pun tetap menyemangati nya.

Setidaknya masih bersyukur ada panggilan interview. Sekarang hanya berharap dan berdoa mudah-mudahan akan ada panggilan selanjutnya.

Akupun menyemangati suami dengan mengatakan, "Iyalah, kita tunggu aja panggilan selanjutnya".

Acara tujuh bulanan kehamilan ku berjalan dengan lancar, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat kedua belah pihak, yaitu pihak dari aku dan pihak dari suamiku.

Semua biaya makan bersama ditanggung oleh mertuaku, pihak dari aku pun bawa serahan ikan mas juga biaya dari pihak ku, kami tidak ada pengeluaran sama sekali.

Doa doa dipanjatkan, supaya proses lahiran lancar, harapan anak yang akan dilahirkan juga sehat. Beberapa hari kemudian semua keluarga pulang, situasi rumah kembali seperti biasa hanya aku dan suami ku.

Kondisi sekarang sudah lebih tenang, karena kedua adikku tidak tinggal lagi serumah denganku.

Tidak ada lagi orang yang mau dimarahi oleh suamiku. Pernah kutanya kabar adikku kepada ibu, adikku sering pulang kampung.

"kok bisa, apa tidak ada mata kuliah kah?", pikir ku dalam hati.

Padahal lagi tidak libur kampus, tetangga juga ada mahasiswa, mereka tidak libur. Aku tidak tanya panjang lebar lagi, takut ibu kepikiran.

Aku sedih, seandainya suamiku bisa lebih bersabar menanggapi sifat adikku, padahal Andi adalah adikku yang paling bungsu. Sudahlah tidak gunanya menyimpan dendam dalam hati, jadi penyakit jadinya.

Akhir bulan Desember suamiku dapat pangilan setelah 3 bulan dari selang waktu pada tahap panggilan interview, dia disuruh datang ke kantor.

"Akhirnya aku dapat kerja, aku disuruh masuk bulan Januari awal. Kata suamiku dengan penuh semangat.

Akupun menjawab, "Syukur kepada Tuhan, akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan".

Sebulan sebelum lahiran aku resign dari tempat kerjaan, aku sangat kelelahan dengan kondisi hamil tua dan pekerjaan ku sangat berat.

Kadang harus angkat cat yang lumayan berat, karena aku kerja di pabrik cat.

Ibuku datang menemani aku,

aku sangat senang. Ibu banyak beli kebutuhan rumah tangga, mulai dari perlengkapan mandi, hingga untuk dapur.

Ibu juga ada beli perlengkapan bayi, akupun tau ibu agak sedih karena adikku tidak tinggal dengan ku lagi, tapi ibu tidak bisa bilang apa apa.

Aku senang ada ibu menemaniku, ada juga adik ipar ku perempuan, dia kerja di mall, di hanya seperti teman untuk tidur saja, pergi pagi pulang malam jam 9, seminggu kemudian pergi tengah hari pulang jam 11 malam, begitu silih berganti.

Ibu yang mencuci pakaian, aku bilang tidak usah, ada adik ipar, tapi ibu orang nya tidak sabaran, tetap aja di cuci. Tibalah saatnya aku lahiran aku pinjam uang ibu, aku bilang "nanti kalau ibu pulang kampung aku yang kasih ongkos ibu", ibuku setuju. Mertuaku juga datang.

Setelah seminggu aku lahiran ibuku permisi untuk pulang, aku minta uang untuk ongkos ibu. Entah dia lupa atau tidak tahu apa yang telah ibu berikan pada kami, dia cerita kepada ibunya, bahwa ibuku minta ongkos pulang kampung.

Aku benci suamiku yang tidak menganggap pengorbanan ibuku, memang ibu tidak terlalu banyak bicara, kalau ada mertua ibu banyak pergi ke dapur, sesekali aja mau ikut gabung.

Aku malas berdebat dengan suamiku, dia selalu tempramental. Pernah juga aku berdebat dengan suamiku adik ipar tidak usah lagi menemaniku, aku sudah bisa mandiri karena aku sudah 1 bulan lahiran, kasihan dia pulang pulang tengah malam, lagian toh aku yang kerjain urusan rumah.

Suamiku langsung pikiran negatif, aku di tendang, "tidak tau terimakasih, kau tidak perduli sama adikku ya", aku menangis suamiku salah paham, padahal bukan itu maksudku, dia sensitif menanggapi nya. Itulah kalau sudah ada sangkut paut dengan pihak kita, sakit rasanya.

Bagaimana perasaan ku mengenai adikku yang selalu di marah marahin padahal hanya urusan sepele, padahal adik ipar ku yang tidak sempat kadang mengerjain urusan rumah, aku tidak pernah protes atau ngomong ke suami aku. Adik ipar ku tidak bayar uang makan. Apakah dia tidak mau tahu perasaan ku?, aku tidak tahu apa dia menyesal telah zolim kepada adikku, hanya Tuhan lah yang tahu jalan pikirannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!