Lima bulan setelah kami menempati rumah baru, ibu mertua meninggal dunia, setelah ibu mertua meninggal dunia keuangan kami makin terpuruk, karena status suami yang merupakan anak laki laki pertama dari 6 bersaudara segala beban biaya resepsi adat hingga proses pemakaman merupakan tanggung jawab suami, sedikit demi sedikit beban itu bisa kami atasi.
Setahun berlalu setelah kematian ibu mertua beban hutang sebenarnya nya belum selesai, berharap semoga tahun ini bisa lebih longgar.
Kring...kring...kring. Suami dapat panggilan telepon dari sepupuku Sony, ibuku bersaudara kandung dengan ibunya Sony. "Halo siapa ini?", tanya suami "Aku Sony bang, mau kasih tahu bapaknya kakak meninggal dunia" jawab Sony di ujung telepon "Apa, kamu Serius ?", tanya suami kembali. Sebenarnya aku tidak tahu siapa yang menelepon suami, karena aku masih sibuk beres beres buatin sarapan pagi , karena memang yah masih pagi jam 9, saat itu aku sudah mengantarkan anak anak pergi sekolah." Betul, bang. tadi pagi aku ditelpon Bang Grand" jawab Sony menjelaskan. Abang ketiga dari saudara kandungku, yang merupakan satu kerjaan di perusahaan ekspedisi tempat ayah bekerja, bang Grand sebagai Admin yang membuat surat jalan apabila ada supir yang mau berangkat. "Iya.. iya nanti aku kasih tahu sama kakakmu mengenai berita dukacita ini.
Lantas Suami langsung memeluk aku, aku terkejut ada apa ini?, tanya ku penuh tanda tanya. "Sabar ya" suami berkata sambil mengusap usap punggungku, mencoba bicara lebih pelan, dan penuh kesabaran, supaya aku bisa lebih tenang menerima kabar ini. "Ada apa ini?", tanyaku dengan agak marah. "Bapak meninggal dunia tadi pagi, aku barusan di telpon Sony"suami menjawab pertanyaan ku. "Tidak mungkin, bapak selama ini sehat sehat aja tidak pernah dengar kalau bapak sakit, lagian kok Sony yang telpon kenapa tidak bang Grand yang langsung telpon aku" jawabku menyangkal mendengar kabar ini. "Coba telpon bang Grand" Suami menyuruh ku. Lantas aku langsung menelepon bang Grand.
"Halo bang, katanya bapak sudah meninggal dunia?, tanya ku ke bang Sony sambil menangis sejadi jadinya." Sudahlah, tidak ada gunanya menangis terus", mencoba terus menghiburku. "kok bisa", tanya ku terus ingin tahu. "Semalam jam 3 dini hari bubar untuk tidur setelah kumpul kumpul bareng bersama teman teman selama 4 jam. Ternyata jam 7 pagi tadi di bangunin sudah tidak bergerak lagi, sekarang lagi dibawa ke rumah sakit untuk di fisum, untuk mengetahui sebab akibatnya", bang Grand mencoba menjelaskan nya padaku secara rinci. "Kapan di bawa ke kampung jenazahnya", tanyaku "setelah fisum lah, mungkin Jumat dini hari sampai di kampung", kata bang Grand. "Siapa nanti yang akan mengurus dan membiayai hingga sampai ke kampung" tanya ku ingin tahu, karena kami semua anak anak bapak termasuk orang yang kurang mampu, untuk biaya proses pemulangan jenazah pasti akan banyak mengeluarkan biaya.
"Bos di perusahaan bapak yang akan mengeluarkan semua biaya biayanya" kata bang Grand untuk menghilangkan rasa khawatir ku.
Ya Tuhan, Aku masih kurang percaya atas kejadian vvkhari ini, tidak pernah ku pikirkan kan kalau bapak pergi secepat ini, dan memang ayah tidak pernah mengeluh kalau dia sakit. Aku kasian kepada ibu yang sudah lanjut usia selisih 5 tahun dengan bapak, bapak meninggal dengan usia 70 tahun.
Bagaimana ibu akan menjalani hidup, selama ini ibu di biayai oleh bapak, berarti ibu harus bekerja di ladang dan di sawah dengan sangat keras, supaya bisa bertahan hidup. Sedangkan kami anak anaknya tidak sanggup membiayai hidup ibu.
Malam nya kami langsung ambil tiket untuk 5orang, suami, aku dan 3 orang putri ku kami mau pulang kampung, tidak menunggu besok, supaya kami bisa beres beres rumah.
Posisiku di keluarga adalah sebagai anak perempuan, artinya anak perempuan tidak banyak berperan, hanya sebagai bantu bantu beres rumah apa yang perlu di benahi, bantu bantu untuk dapur, apa yang perlu di benahi, peralatan dan perlengkapan aku yang harus membenahi, jadi anak perempuan capek banget tugasnya, suamiku pun harus berperan posisiku adalah posisinya juga, secara karena jatuh dari lift sewaktu di tempat kerja suami tidak kuat untuk melakukan pekerjaan yang berat.
Aku adalah anak perempuan satu satunya di keluarga ku dari 7 bersaudara, dari kecilpun anak laki laki di rumah kami tidak pernah kerja beres beres rumah, sekarang sampai mereka sudah berumah tangga pun tidak mau melakukan pekerjaan rumah, mengenai adatpun saudara laki-laki ku pun kurang paham, semua hal dibawa becanda, padahal suami orang nya serius, tidak suka becanda bila tidak pada tempatnya. Jadi sewaktu di kampung itu suami banyak marah banyak protes, tetapi protes ke aku. Aku yang dalam keadaan berduka, seharusnya pengertian gimana kondisi ku saat ini, tidak seharusnya menunjukkan sifat tidak suka terhadap saudara laki-laki ku.
Terkadang menunjukkan kemarahan nya di depan orang banyak, aku pun tersulut emosi, juga terkadang tidak terima melihat tingkahnya. Mengapa suamiku tidak bisa menutupi kekesalan nya, secara dia berada di rumah orang tua ku. Harap di maklumi sajalah, sungguh tidak sikap yang bijaksana menurut ku.
Kami tidak ada keluar uang sedikit pun, untuk biaya resepsi adat hingga proses pemakaman bapak, karena semua biaya ditanggung dari uang duka yang diberikan perusahaan tempat ayah bekerja lumayan banyak. Artinya Hingga akhir hayat bapak, bapak tidak ada merepotkan kan anak anaknya. Padahal bapak begitu banyak membantu keadaan ekonomi kami.
Yang paling terpukul atas meninggalnya bapak yang kulihat adalah ibu dan adikku Andi, Andi yang kondisinya hanya mengurung diri di kamar, setelah jenazah ayah tiba di rumah dia hanya melihat datang ke ruang tamu sebentar tidak mau ikut bergabung dengan kami.
Aku kasian kepada Andi, bagaimana masa depannya, sewaktu bapak ada, bapak membelikan nya hp, membeli tempat tidur yang nyaman kepadanya juga membelikan baju dan celana supaya Andi bisa bersemangat dan tidak malu untuk berinteraksi dengan teman temannya, awalnya kalau temannya lagi ada di kampung dia masih mau bernyanyi di warung dan bergabung dengan teman nya, sekarang teman temannya sudah berumah tangga teman temannya sudah pada merantau ke kota.
Bila aku menghubungi mencoba berkomunikasi bertelepon kepada Andi, Andi tidak pernah mau mengangkat telepon ku. Tidak ada gunanya pikirnya mungkin dalam hati. Aku pun tidak banyak, bahkan tak ada yang bisa kuperbuat untuk menolong nya.
Liburan sekolah tiba akupun tetap berkunjung ke rumah orang tuaku, aku harus memberi semangat kepada ibu, setelah bapak meninggal ibu harus bekerja keras mengerjakan sawah dan ladang, selain untuk biaya hidup, ibu juga harus memberikan uang kepada Andi untuk biaya rokok.
Andi melampiaskan kebosanan nya dengan mengkonsumsi rokok bahkan bisa menghabiskan 2 bungkus rokok sehari, karena diapun sering begadang, dan kupikirpun Andi susah untuk tidur malam, dia malah tidur di pagi hingga sore hari. Andi sering memaksa ibu untuk memberikan nya uang, sekalipun ibu hanya punya 10.000 itupun pasti akan dipaksa Andi untuk diberikan kepada nya. Andi tidak mau membantu ibu di ladang maupun di sawah.
Oh Seandainya aku punya banyak uang, punya penghasilan sendiri sudah ku boyong ibu ke kota tinggal bersama ku, tetapi apa daya, suamiku pasti tidak setuju ibu tinggal bersama ku, Suami tempramental kepada anak anak, ibu akan suntuk dan stres melihat kalau anak anak dipukul suami, bahkan ke aku sendiri pun suami selalu ngomong ketus, tidak memikirkan aku sakit hati atau tidak. Ibu mana tahan melihatku diejek begitu. Oh Ibu semoga Tuhan memberi ibu kekuatan, kesehatan, dan umur panjang dan semoga aku bisa kelak membahagiakan ibu dengan jerih payah ku, buka kan pintu rezeki ku ya Tuhan, kabulkan lah doa hamba mu ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments