Enam tahun sudah usia pernikahan kami, apa apa pun tidak ada, kendaraan sepeda motor tidak punya selain karena suami tidak bisa mengendarai sepeda motor, suami kalau ke kantor ada mobil antar jemput dari perusahaan itulah yang menyebabkan suami santai tidak mau nyicil sepeda motor, kalau tidak ada mobil antar jemput kerja, daripada berat di ongkos, mungkin sudah di paksakan untuk nyicil sepeda motor.
Rumah masih ngontrak, anak sudah 3 orang putri, yang masih berusia 6 tahun, 5 tahun, dan 1tahun, memang untuk biaya sekolah belum terlalu mahal, karena anak 1,2 ku sekolah kan di PAUD negeri dengan biaya uang sekolah masih terbilang murah, pergi sekolah diantar dengan berjalan kaki, tidak memerlukan uang untuk biaya transportasi.
Harusnya keadaan saat ini, karena belum banyak biaya untuk kebutuhan anak sekolah, saat ini lah untuk memikirkan untuk nyicil rumah (KPR), tetapi mau dapat uang booking fee, uang DP dari mana?, secara kami tidak punya tabungan. Warisan dari orang tua pun tidak ada, pinjaman uang dari keluarga pun tidak ada.
Akupun mencoba menyarankan kepada suami, "maunya kita nyicil rumah sekarang, kalau tidak saat ini kapan lagi. karena kebutuhan biaya anak sekolah masih rendah, gimana kalau mereka sudah SMP, lain lagi ceritanya, kebutuhan mereka pun pasti akan lebih tinggi dibanding sekarang yang masih SD. suami diam dan agak marah, tidak tahu apa pura pura marah "uang DP darimana, memangnya mengharapkan kan siapa" katanya dengan penuh amarah. Maksudnya entah Minjam uang kepada temannya, untuk DP uang rumah, ambil KPRnya tidak usah yang luas tentunya uang cicilan perbulan harus yang murah. Suami pun diam, entah dia memikirkan kan apa yang kubilang atau tidak mau tahu. Saat ini aku tidak tahu jalan pikirannya.
Takut memicu pertengkaran. Akupun menyudahinya dan mencoba membuka topik pembicaraan yang lain. Di tempat kerjaan suami ada temannya yang memberi kredit hp atau barang apa saja sesuai permintaan, dan yang memberikan pinjaman berupa uang pun ada dengan besar bunga pinjaman sebesar 4%.
Dalam berumah tangga Kalau kita sudah mempunyai rumah sudah bersyukur, setidaknya kita tidak ngontrak lagi. Walaupun tidak rumah mewah. itu lah harapan dan doaku dari dulu, "Semoga Tuhan mengabulkan doaku"harap ku dalam hati.
Kondisi mertua perempuan sudah semakin memburuk, sebelumnya 10 tahun yang lalu adik ipar laki laki mengalami kecelakaan disekitar rumah di kampung itu terjadi sebelum aku dan suami menikah, saat itu kami masih tahap berpacaran, kecelakaan terjadi ketika pulang dari sekolah, luka luar tidak ada pendarahan, tetapi kondisinya sendiri tidak sadarkan diri, sehingga di rujuklah ke rumah sakit di kota, tetapi diperjalanan adik ipar menghembuskan napas terakhirnya nya, sejak saat itu kondisi mertua perempuan mulai sering sakit-sakitan karena masih belum bisa terima atas kepergian anak laki lakinya. Ibu mertua tidak bisa di Bebani dengan pikiran atau masalah masalah yang berat, karena akan menjadi beban pikiran nya sehingga bisa memicu penyakit nya.
Karena kurang hati hati, dan jatuh di kamar mandi, ibu mertua mengalami struk, separuh badan mati sebelah, tidak bisa digerakkan, hanya bisa digerakkan sebelah kanan saja. Ayah mertua mengeluh "Aku tidak bisa merawat mama kalian ini, tidak ada tenaga ku untuk mengangkat dia ke kamar mandi, mengurus keperluan dia sehari hari seorang diri, bapak tidak sanggup" kata ayah mertua kepada semua kami anak anaknya."sebulan di rumah anak 1, sebulan lagi di rumah anak 2, 3 begitu seterusnya berganti gantian, begitu aja cara mengurusnya".
Kami semua setuju.
Keperluan ibu mertua bukan hanya keperluan makan, tetapi butuh popok yang selalu harus di pakai kan untuk mengurangi agar tidak ngompol di celana, dan mengurangi beban supaya tidak terlalu sering membawa ke kamar mandi, karena memang berat, lelah juga kalau cuma ngurus mertua aja, masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus di kerjakan. Semua adik adik dari suami sepakat ibu mertua untuk bulan pertama ini dirawat di rumah kami, mereka juga membantu kami berupa uang untuk membeli popok, karena kebutuhan popok sehari bisa menghabiskan 2-3 buah popok, kami sangat mensyukuri atas bantuan itu, secara kami pun masih belum mapan, untuk kebutuhan sehari-hari masih tidak tercukupi, kadang di Minggu terakhir masih harus cash bon sama teman suami.
Setelah anak anak pergi sekolah, gantian ibu mertua yang harus di beresi, mandi, memakaikan baju, memberi kan makan, untuk melatihnya berjalan kadang sempat kadang tidak, kalau ibu mertua disuruh berlatih berjalan kulihat dari raut mukanya, sangat tidak suka, lebih baik baginya duduk di kursi roda daripada harus memakai tongkat, lebih hina baginya berjalan memakai tongkat daripada memakai kursi roda. Jadi semangatnya untuk sembuh tidak ada. Sudah banyak segala usaha pengobatan kami lakukan, ya secara pengobatan Cina, pengobatan secara kusuk dan meminum ramuan jahe jahean setiap pagi dan malam, dan pengobatan secara medis pun sudah dilakukan. Tetapi kondisi ibu mertua tidak ada perubahan sama sekali.
Kami pun hanya bisa pasrah, dan tidak melakukan pengobatan apa pun, hanya mengurus ganti ganti popok, dan memberi kebutuhan makan, membawa nya untuk berjalan jalan berwisata, kami tidak ada kendaraan. Saya dan anak anak tidak pernah bepergian lagi, karena tidak ada yang menjaga ibu mertua, kalau kami pergi sedangkan ibu mertua tinggal di rumah, dia pun akan menangis karena tinggal sendirian di rumah. 3 bulan ibu mertua tinggal bersama kami, bermaksud untuk ganti suasana agar dia juga tidak jenuh, kami bermaksud membawa ibu mertua ke rumah adik ipar yang lain. kami pun sesekali pergi menjenguknya nya.
Aku yang Dominan menjaga dan mengurus segala sesuatu keperluan ibu mertua, suami tidak pernah membantu. Aku pun ikhlas tidak mungkin aku menolaknya, aku masih memikirkan kan perasaan dan tanggapan ayah mertua, adik ipar yang lain seandainya aku menolaknya, hubungan ku pun pasti tidak akan baik ke depannya.
Apakah suamiku masih ingat saat adikku tinggal bersama kami?, adikku yang masih bayar uang sewa rumah, dan bayar makan, masih cuci piring, tetapi suami banyak protes, entah apa apa saja kesalahannya. Sekarang ibu mertua masih harus kurawat, kotoran nya aku yang beresin, suami saja tidak pernah mau peduli.
Adakah dia merasa bersalah?, secara Andi adik ku, Sekarang kondisinya seperti banyak mengurung diri di kamar, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain, Boro boro mau cari kerja, dia sudah pernah kerja sebagai buruh angkut di perusahaan ekspedisi tempat ayah bekerja, tetapi Andi banyak melamun, dia bekerja harus di perintah, Andi banyak diam dan tidak melakukan apa apa. Masa depan nya sudah hancur, tak ada semangat bagi nya untuk melakukan aktivitas yang lain. Akhirnya dia disuruh balik ke kampung. Aku prihatin dengan kondisi Andi yang seperti itu, Bawa berobat tidak ada uang, dia pun tidak mau dibawa kemana mana. Sudahlah aku hanya bisa pasrah, pasti ayah dan ibu pun kecewa, suami mana berpikir jauh kedepan, aku tidak mengerti jalan pikirannya. Kiranya Tuhan yang memberi kekuatan kepada ku dan kepada ayah dan ibuku, agar bisa menerima keadaan ini dan tidak dendam kepada suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments