Kesuksesan dalam rumah tangga bukan semata diukur dari berapa banyak kekayaan yang di dapat, pertengkaran ku dengan suami bukan semata karena kurang nya uang belanja, tetapi karena aku seperti tak dianggap, suami sering ambil keputusan sendiri, suami seperti tidak ikhlas keluar uang untuk membeli keperluan diri ku, tetapi untuk keperluan dan kepuasan nya sangat cepat sekali. Oh ya suami juga sangat royal kepada teman atau orang lain, kepada saudaranya sendiri, dari pada royal kepada istri dan anaknya. Pernah dia kemarin pulang kerja ketika shift pagi, pulang kerja sore harinya, datang ke rumah bersama teman, dan membawa burung beserta sangkarnya nya, ketika sampai di rumah bersama temannya aku berusaha tersenyum. Suami langsung menjelaskan asal muasal burung tersebut tanpa kutanyakan terlebih dahulu.
"Temanku Suranta sangat butuh uang, istrinya sakit, makanya dia menjual salah satu koleksi burung nya, supaya ada bantu bantu untuk nutupi kebutuhan nya", kata suami berusaha menjelaskan nya kepada ku. Aku hanya diam, dalam hati. Memang kamu selalu begitu. terkadang tidak peduli, kurang kah kebutuhan dapur, dalam hati mu cukup yang telah kau berikan, bahkan mungkin lebih, suamiku terkadang curiga bahwa aku ada memberi kepada orang tuaku.
Dirumah Sekarang suami sudah mengkoleksi 2 ekor burung cutcer, 1 burung lama dan 1nya burung yang baru di beli. Burung baru ini bersiul lumayan merdu, beda sama yang burung lama, hanya mampu bersalto salto ria, bersiul hanya seadanya saja.
Setelah beberapa bulan ada teman suami yang bernama Egi datang ke rumah, untuk tunjukkin tukang untuk renovasi rumah, kami bermaksud untuk merenovasi dapur, memasang keramik lantai dapur, membuat atap dapur, dan sekalian memplester dinding, dapur hanya berukuran 1*12 m, hanya cukup untuk kegiatan memasak, untuk memasang meja makan tidak muat karena sempit. Tetapi kami undur dulu keinginan merenovasi, karena biaya tukang yang diminta jauh dari target kami, artinya saat ini belum mencukupi dananya. Lain kali aja tunggu uangnya cukup dulu.
Burung yang baru dibeli, bersiul lumayan merdu. teman suami Egi merasa tertarik dan bermaksud untuk membeli burung tersebut. Entah suami merasa sudah cinta sama burung tersebut, tawaran Egi ditolak. Dalam benakku kenapa tidak mau terima penawaran nya, kan lumayan ada untung, 100rb dari harga beli kemarin. Sudah lah aku malas menanyakan kenapa suami tidak mau terima tawaran Egi, suami selalu berpikiran yang dalam otak ku selalu duit duit saja.
Didalam benakku selalu menanyakan"Untuk apa suami untuk memelihara burung?", biaya makan setiap bulan menghabiskan dana yang lumayan, beli ulat, jangkrik saja 2 kali seminggu dengan nominal 5.000/ons. belum lagi pelet, semprot obat supaya memperindah bulunya katanya, aku terkadang kesal dibuatnya. Toh suami tidak pandai melatih supaya suaranya merdu, tidak pernah ikut lomba.
Padahal ada seorang putriku, yang memang sulit sekali makan, tetapi kalau minum susu kupikir dia suka, tetapi karena tidak sanggup beli susu, berat badan anakku sangat kurang, jadi bisa dibilang cungkring, kurus dan tinggi dianya. Kalau suamiku bisa mikir, seharusnya dia lebih mengorbankan hobby nya harusnya, nanti kalau keadaan sudah membaik kan bisa akhirnya, entah apa yang ada dibenaknya, mungkin dia berpikiran urusan anak anak ya urusan ku, tetapi dia kan tahu berapa uang belanja yang diberikan, cenderung kurang. Entah lah aku tidak tahu jalan pikirannya, harusnya memang suami saja yang beli semua keperluan supaya dia tahu berapa pengeluaran ku. Aku pernah menyuruh nya seperti itu, "apa guna nya kamu, ya pintar pintar lah memakai nya", begitu katanya kepadaku.
Setelah aku tidak lagi merawat ibu mertua, liburan sekolah aku dan anak anak kubawa liburan ke kampung ayah dan ibuku. Bersama ibu aku merasa nyaman, lumayan selama hampir sebulan liburan bisa mengurangi uang makan, hanya memikirkan uang makan suami karena dia sendirian di rumah. Kami pun hanya memerlukan ongkos pergi saja, ongkos pulang ayah yang memberinya, ada salam tempel juga yang di berikan ayah kepada anak anak. Karena ini adalah liburan kenaikan kelas, artinya akan masuk tahun ajaran baru setelah liburan ini. Akan butuh buku baru, tas baru, sepatu baru. Karena ibu ada uang dari hasil panen, sebagain uang ibu diberikan ke anak anak untuk beli buku baru, tas baru, dan sepatu baru. Terkadang aku sedih minta minta kepada ayah ibu, seharusnya aku lah yang memberi kepada mereka, padahal aku tidak pernah memberi apapun, bahkan untuk ongkos pulang ibu kalau ibu datang ke rumah ku tak pernah ku beri, karena memang aku tak pernah pegang uang lebih aku hanya di jatah oleh suami ku.
"Sudahlah, kalian datang dengan membawa cucu cucuku, kami pun sudah senang", kata ayah, karena ayah bisa membaca pikiran ku, aku sedih tidak bisa kasih apa apa. Anak anak pun senang kalau pulang kampung, suasana kampung, ada sawah ladang, sungai dan hewan hewan seperti kerbau, ayam, bebek dan anjing, hampir tidak pernah mereka lihat. makanan juga banyak, ada kacang rebus, jagung rebus, ubi dibuat kudapan, selalu ada setiap hari. sedangkan di kota, hanya bisa makan saja 3* sehari sudah syukur.
Setelah liburan ke rumah ayah dan ibu, kami juga singgah ke rumah adik ipar Moria, adik ipar ku ini adik ipar pertama dari suami, keadaan ekonominya lumayan, Moria sering membantu kami, kalau kami pergi ke kampungnya kami sering dibawa ke tempat tempat wisata, Moria juga membelikan anak anak pakaian, tak ketinggalan aku juga di beri, kalau ada bajunya yang tak terpakai dan masih layak diberikan kepada ku.
Kalau sudah pulang kampung tas yang tadinya cuma satu, sekarang menjadi dua. Banyak sekali pakaian tambah buat ku dan anak anak. Moria juga memberikan salam tempel kepadaku dan anak anak. Salam tempel yang diberikan cukup sudah untuk ongkos balik kami ke kota.
Bantuan baju yang diberikan kepadaku dan anak anak sungguh sangat di syukuri, karena memang baju ku dan anak anak sangat minim, bahkan kelihatan seperti baju tua, karena warnanya sudah pudar. Kami jarang membeli baju, beli baju hanya saat akhir tahun pas terima THR itupun cuma 2 pasang/orang.
Aku bersyukur masih banyak orang orang baik disekitar ku. Kami memang tidak kalah gaya dengan tetangga walaupun bisa dibilang kami lah orang dikomplek yang paling miskin, dan kami usahakan tidak pernah mau berutang dan berkeluh kesah kepada tetangga. Karena bagaimanapun kita tidak tahu hati seseorang. Bisa saja tetangga kita menjelek jelekkan kita dengan orang lain.
Setelah tiba di rumah suami bercerita kalau burung yang dibeli terakhir sudah di makan tikus, suami menggantungnya di dapur, padahal didapur belum ada atapnya. Entah bagaimana caranya tikus menjangkau burung itu, pagi pagi setelah bangun pagi mencoba memberinya makan, hanya ada beberapa bulu di dalam sangkar, dan sangkar kondisi ada beberapa tetes darah. Lagi lagi aku hanya diam, hanya Tuhan lah yang tahu perasaan ku ketika burung itu di beli suami. Dan lagi lagi suami belum menyadari betapa pentingnya nya ridho istri, seandainya suamiku lebih peka perasaan ku, dan ikhlas untuk membahagiakan aku, pasti rezekinya akan melimpah. Seperti nya suami belum menyadari itu. Dan kuharap suatu saat nanti suamiku bisa ikhlas memberi kepadaku. Aku tidak mengharapkan lebih, toh kita pun sudah melalui bahtera rumah tangga ini dari titik nol, dari tidak ada apa apa.
Akhirnya kami merenovasi Dapur, itupun di paksakan pada saat terima THR dia akhir tahun, kalau tidak di cicil sedikit demi sedikit kapan lagi. Lagian kondisi dapur yang tidak direnovasi membuat tikus banyak, aku terkadang jijik banyak taik tikus dibawah kompor, sebelum memasak aku memang harus membersihkan kompor terlebih dahulu, tetapi esok harinya kotor lagi, karena malam hari tikusnya beraksi.
Rak piring, kulkas yang tadinya ada di ruang tamu sekarang sudah bisa di pindah ke dapur, suasana rumah jadi kelihatan lapang. tidak ada lagi bau kencing atau taik tikus. Kiranya kami bisa merenovasi bagian rumah yang lain. Semoga ditambah kan rezekinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments