Aku yang selalu salah

Rasa ini terkadang hilang kepada suami, sedikit demi sedikit berkurang atas sifatnya yang kurang menghargai aku dan sangat tidak pengertian kepada ku, setiap hari hanya merasa ketakutan, takut memulai obrolan takut salah ngomong, mengenai berita di Tv pun bisa juga jadi topik pertengkaran kami. Terkadang suamipun mau mengait ngaitkan kesarjanaan ku "percuma kau sarjana", "dimana logikamu", begitu suami selalu ngomong, sifatnya selalu mau menunjukkan keburukan kita, supaya ia terlihat pintar, baik di muka umum ataupun orang banyak selalu ia melakukan itu, aku hanya bisa senyum senyum kesal.

Setelah bapak meninggal dunia, tidak ada lagi yang membantu keuangan kami. Tanpa hutang rasanya tidak mungkin, karena untuk menabung pun susah, mau coba ditabung selalu saja ada pengeluaran. Setelah cicilan Hp lunas, lanjut nyicil untuk beli sofa, karena malu juga Kalau rumah keadaan melompong, saat ini adalah saat yang tepat, mumpung anak anak masih duduk di tingkat Sekolah dasar, belum butuh biaya besar, nanti kalau mereka sudah duduk di tingkat sekolah menengah atas pastilah membutuhkan biaya banyak.

"Kita buat lah Kanopi", kata suami kepada ku"boleh juga, tetapi biaya nya pasti mahal"jawab ku

"Kemarin aku tanya tetangga, mereka memang bikin sendiri total biaya hingga 3 juta lebih" kata suami melanjutkan obrolan kami

"memang bapak tahu?", jawabku dengan penuh tanda tanya.

Suami memang punya basic pendidikan di bidang mesin, metode design gambar dia sudah kuasai, mungkin tidak sulit lagi ia terapkan di gambar nyata nya. Akupun lantas menyetujui nya.

"Terserah bapak aja, manalah yang paling bagus", jawabku

"Kalau kita buat sendiri, memang sih kita masih harus beli mesin bor, alat potong, setidaknya nya kita sudah punya alat, itu bisa kita pakai untuk buat perlengkapan yang lain" kata suami menjelaskan

"Iya sih, ya sudah kita buat sendiri aja" aku terus memberinya semangat.

Dibalik suami yang bersifat tempramental masih ada Sifat positif nya, suami tidak lagi merokok setelah kecelakaan kerja jatuh dari lift, dia jarang bahkan hampir tidak pernah nongkrong di warung bersama teman, tiba waktu pulang kerja dia selalu langsung pulang ke rumah, kalau ada pergi jenguk teman sakit, atau ada kepentingan yang mendadak dia selalu menginformasikannya melalui hp bahwasanya ia agak telat pulang. Nilai akademik suami mulai dari SD hingga universitas selalu tinggi, bahkan dia bisa lulus cumlaude di universitas tinggi negeri bagian keguruan.

Mungkin karena dia merasa pintar suami jadi sombong, suka meremehkan orang lain bahkan tidak mau di kritik.

Akhirnya nya proses pembuatan kanopi selesai kami kerjakan, kalau orang lain yang sudah profesi nya pembuat kanopi mungkin bisa di selesaikan selama 2 hari. Suami menyelesaikan nya hampir 1 bulan, karena kendala waktu, kalau suami kerja shift pagi, hampir tidak pernah di kerjain karena tanggung suami pulang kerja sudah sore, kalau suami kerja shift siang dikerjain cuma bisa dari jam 10- jam 14, kalau suami kerja shift malam, suami bisa total mengerjakan nya pagi hingga sore. Kalau di bayangkan sewaktu proses pembuatan nya aku dan suami sering bertengkar, harus buru-buru minta maaf supaya Proses nya tidak panjang. Yang tidak bisa ku kendalikan adalah sakit hatiku bila suami ngomong ketus, "ambil dulu ini, masa' kamu tidak tahu ini, pake otak lah, pake logika lah, pasang mata lah", banyak lagi kata kata kasarnya yang keluar dari mulut nya kalau yang kita kerjakan tidak sesuai keinginannya. padahal bisa jadi karena ketidak Tahuan kita, lagian mana bidang kita juga tahu bagian pertukangan.

Syukurnya semua sudah lewat, kalau aku karyawan nya suami, sudah buru buru mengundurkan diri aku, karena tidak tahan kata kata makiannya. Kanopi yang dibuat suami tidak kalah bagus sama yang dibuat kalau kita suruh ahlinya. Selain irit biaya, bisa menambah peralatan tukang/inventaris kita akhirnya.

Suami sih menurut ku kalau belajar hal yang baru cepat tahu dia, waktu luang suami sebenarnya banyak, karena suami kerja nya shift shift an. Harusnya dia bisa buat rak piring, lemari ikan, tempat sepatu, tempat helm dan lain sebagainya, tetapi alasan nya banyak terkendala uanglah, tidak ada uang untuk beli bahan, punggung ku sakit lah, aku malas ribut dengan suami. Sudahlah terserah dia saja guman ku dalam hati, kalau kuingat kan, suami malah pikiran negatif, dia pikir kupaksa kerja, padahal di tempat kerja dia sudah capek. Pernah aku sekali mengingat kannya lantas dia langsung marah " kau pikir aku ditempat kerjaan tenang tenang aja". Jadi ngawur menurut ku, segera ku tinggalkan suami, tetapi dia marah. minta kejelasan kenapa aku ngomong seperti itu. Apapun penjelasan aku, tetap dia akan sulit untuk move on, jadi aku minta maaf "

Maniak gamenya suami menurut ku sudah mendarah daging, baik game di komputer maupun game di hp. Tidur selalu kemalaman hingga subuh, tidur sudah pukul 1 dini hari, tiba tiba bangun untuk lanjutin bermain game jam 4 pagi, posisi badan duduk hingga Berjam jam, sehingga sekarang suami menderita sakit pinggang, susah untuk berdiri tegak dan duduk tegak, dia selalu mengeluhkan sakit pinggang nya, aku mengingat kan" itu karena terlalu lama duduk, kurang kurangi lah duduk berjam jam", dia lantas ngomong sambil berapi api" bukan karena itu, karena kecelakaan kerja yang jatuh dari lift.".

Aku pun hanya diam, suami tidak sadar dan tidak ingat sebelum dia kecelakaan jatuh dari lift, suami pun sudah menderita sakit pinggang, bahkan sudah pernah kusuk karena tidak bisa ngapa-ngapain. Sebelum kawin saja suami pun sudah maniak game, berlama lama duduk di depan komputer untuk bermain game.

Aku takut kami jadi bertengkar hebat akupun langsung buru-buru ambil topik pembicaraan yang lain. suami tidak bisa di kritik.

Kebiasaan suami yang berlama lama bermain game, di tiru anak anak, suami pun tidak sadar kalau dia sudah memberikan contoh yang tidak baik, lagi lagi dia menyalahkan anak anak dan aku yang tidak bisa mengontrol anak, padahal dia sendiri yang menginstal game game itu di hp nya anak anak. Bukannya memberikan game berupa edukasi pelajaran atau hal hal yang bermutu malah memberikan game game perang, padahal anaknya perempuan. jadi terbentuk lah mental anak yang pemberontak, gampang marah, pemalas, dan kurang bersosialisasi.

Lagi lagi suami menyalahkan aku mengajari anak, terlalu lembek.

Padahal mau diteriaki mau diingatkan pun anak anak, agar tidak terlalu banyak main hp. sama aja sesaat saja dilaksanakan nanti beberapa saat kemudian atau besoknya sudah di ulangi lagi. Aku cuma bisa pasrah dan berdoa, semoga Tuhan yang mengubahkan pikiran anak-anak menjadi lebih baik, lebih bijak, dan lebih dewasa. Hanya itu yang bisa kuperbuat daripada Suami malah marah marah dan menyalahkan aku.

Dengan sikap yang seperti itu membuat, suasana hatiku dingin kepada suami, sudahlah, Perbuatlah apa mau, aku juga perbuat apa yang bisa kuperbuat. Biarlah mengalir dan berjalan apa adanya.

#hampa dan kosong. Karena semua yang kuperbuat seolah olah salah di mata suami, mengelola keuangan aku dianggap tidak becus, padahal menurut ku aku sudah seirit iritnya, bahkan lauk berupa tempe tahu, sudah di katain, "itu itu aja", "aku yang terlalu pelitlah".

Harusnya suami menghitung hitung, membuat perincian berapa yang dia berikan dengan pengeluaran ku, aku berkeluh kesah mengenai kenaikan sembako di pasar suami rasanya tidak peduli.

Kalau aku hitung hitungan berapa pengeluaran dia untuk biaya pakan burung, beli ulat, dan jangkrik kalau di total sebulan. Sebesar itupun tak pernah ku nikmati sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!