Mengertilah sedikit saja perasaan ku

###

Setelah punya momongan ada pahit manisnya, pahitnya ya ketika tengah malam disaat mata ini lagi ngantuk-ngantuknya si kecil merengek, minta minumlah, lagi ngompol lah, lagi gerah atau lagi kurang nyaman, sebagai ibu harus jeli dan cekatan untuk putar otak. Suami mana peduli boro boro bantuin, sikecil merengek terus malah kita yang di marahin, situasi yang seperti ini justru malah buat kita makin panik dan jadi gaduh, gimana tidak gaduh, bentakan suami justru buat si anak makin nangis, kita makin tidak bisa ngontrol anak. Bagusnya ya mendingan di biarin aja, kalau si ayah juga tidak ada kesabaran. Kalau si ayah punya kesabaran si anak dengan sendirinya akan tenang, ada hubungan batin. Itulah yang tidak kudapatkan dari suamiku.

Tok..tok..tokk, kuintip dari kaca. Ada ayah nya anakku. Krek....k pintu di buka.

"Dinar..", suamiku terus memanggil manggil, anaknya masih terus melotot dengan ekspresi datar. Diusia Dinar yang masih 3 bulan ayah nya selalu menyempatkan diri untuk mau menggendong sepulang kerja, hanya beberapa menit. Segera cuci muka, ganti baju, terus duduk depan komputer bermain game. Aku sibuk di dapur menyiapkan kan makan malam, tadi siang Dinar agak rewel, aku tidak bisa beres beres rumah, cucian numpuk, pakaian Dinar hampir habis (kotor semua), dipikiran cuma bisa berpikir mudah mudahan Dinar tidak rewel, jadi aku bisa cuci pakaian.

" U.eek.uuekkk", Dinar menangis. "tengok ini", dengan penuh kemarahan. "bentar, gendong aja dulu, aku lagi repot", 'dikit lagi', kata ku sambil ngaduk ngaduk masakan ku.

di pegang bentar, Dinar masih tetap menangis

"Tidak mau diam dia. Gendong ini, tinggalkan aja itu. Kemarin ada adik ipar sok sok an kamu suruh balik, sekarang kerepotan sendiri, tahan kan" suamiku membentak ku, mengungkit masa lalu. Padahal dia tidak tahu, mungkin pun adiknya merasa senang balik ketempat kosan karena tidak harus repot repot lagi, lagian mana cukup gajinya untuk nambah 1 orang untuk biaya makan, secara suamiku masih tahap training kerja, gajinya belum naik, belum lagi suami langsung kredit hp, karena hp lama di curi maling, hp sangat penting, untuk komunikasi di tempat kerja suamiku.

Suami yang masih saja mengungkit masa lalu membuat aku jadi sedih, dan menangis dalam hati. Segitu negatif nya dia menilai aku. Segera ku tinggalkan masakan ku dan langsung ku gendong Dinar, ku susui dan ku ayun ayun, bermaksud agar dia cepat tidur. Supaya aku bisa melanjutkan masakan ku. Akhirnya selesai juga kerjaan ku. Kusuruh suamiku makan, " ya, duluan aja". katanya. Kami tidak pernah makan bersama karena dia terlalu asik bermain game, hingga tengah malam jam 3 subuh, aku tidak tahu dia makan malam jam berapa lama, segera ku tinggalkan dia setelah aku selesai makan, kucoba komunikasi dengannya tanya gimana di tempat kerja an, di jawab dengan se adanya" ya, tidak, kurang Taulah" begitu dia menjawab ku. Lagi fokus pikirku dalam hati, dan segera ku tinggalkan, aku masuk ke kamar ku bawa Dinar. Akupun segera pulas tertidur sesekali terbangun karena rengekan Dinar.

Adik ipar ku yang pernah tinggal serumah dengan ku, akan menikah, Dinar berusia 7bulan tepatnya, aku sudah isi anak ke 2. Aku memang tidak atur jarak (mungkin karena tidak ngerti, tidak ada yang ajari, baik mertua atau ibuku. Karena memang 1 tahun aku kosong tidak langsung isi setelah menikah, dengan pengalaman itu aku tidak Suntik KB). Untung lah kehamilan ke 2 ini tidak banyak keluhan seperti anak pertama kemarin, bawaan lemas, tidak suka cium bau bawang, tidak semua makanan bisa di makan. Hamil anak ke 2 ini, tidak ada mual, atau muntah, semua di makan, bebas bergerak pokoknya. Walaupun begitu tetap saja aku kerepotan secara Dinar belum bisa berjalan, kemana mana harus di gendong.

"Kita kasih kado apa nanti sama Nosta?, kata suamiku kepadaku. "Terserah", jawabku. Sebagai Kakak dari 6 bersaudara, suamiku juga harus menunjukkan tanggung jawab nya, walaupun belum mampu secara ekonomi memang yah, harus di paksakan. " Kasih HP aja, kredit lagi lah, karena untuk beli cash atau beli kado lainpun dengan uang cash mana ada", kataku kepada suamiku. Secara adat pesta dari pihak perempuan harus kasih Ulos, beras minimal 5kg, 2 item ini ajapun menurut ku sudah lumayan belum lagi cicilan Hp nantinya tiap bulan. Bukan tidak ikhlas begitu lah suamiku kalau hal memberi dengan keluarga, kalau memberi kepada pihak keluarga ku , di tunjukkan kesusahannya (tidak pernah bisa) dan memang sampai sekarang pun, belum pernah sepersen pun suamiku ada memberi ke pihak ku (dengan alasan kamu pihak perempuan, perempuan yang sudah menikah seutuhnya jadi urusan suaminya), bahkan sebelum lahiran kemarin aku minta uang untuk beli tempat tidur kepada Ayah, dengan alasan supaya setelah lahiran bisa buat terapi arang, agar si ibu cepat sembuh begitu printah orangtua. Suamiku tahu aku minta uang itu kepada Ayah.

Tibalah hari yang ditunggu tunggu pernikahan Nosta adik iparku, segala sesuatu sudah disiapkan mertua datang begitu juga ibuku. Ibuku kujemput ke loket bis, aku senang. Ibu tahu kesusahan ku, ibu datang bawa beras dari kampung, bisa kugunakan untuk serahanku di pesta jadi aku tidak usah beli, lumayan menghemat pengeluaran, aku juga harus riasan seperti pengantin, karena posisi suamiku sebagai anak pertama juga penting di prosesi adat itu. Kami semua berangkat ke rumah pihak Laki laki termasuk ibuku, mertua ku berangkat langsung dari kampung dengan semua rombongan pihak keluarga mereka berangkat malam sebelum hari pesta.

"Kamu jangan jauh jauh, dekat dekat aku aja, Dinar titip dulu sama Asti, Friska, atau sama ibumu", begitu printah suamiku. " Tidak mau dia", jawabku. Suamiku melotot marah. Jelas aja Dinar tidak mau sama Asti, Friska atau ibuku, karena ya memang mereka jarang dilihat Dinar bahkan baru pertama ini. Suamiku benar benar tidak mengerti Tapi sok yang paling tahu, malah marah marah pulak.

Dia tidak tahu sudah dari tadi pagi hingga tengah hari aku menggendong Dinar, bahu rasanya lecet, punggung lelah banget, belum lagi hamil 2 bulan untuk ke kamar mandi aja susah, kan masih 7 bulan di titip ke orang nangis, diterpaksain nangis karena sudah kebelet banget memang harus di keluarkan, makan pun buru buru, belum lagi aku harus sapa sapa tamu keluarga tanya udah makan, bilang terima kasih, urusin ibuku udah makan atau belum, karena posisi ibu jauh dari aku tidak 1 tempat. Ingin nangis rasanya. Waktu pacaran dulu, suamiku adalah tempat curhat ku aku enak dan plok menyampaikan segala keluh kesah ku, kami berpacaran selama 7 tahun.

Sekarang beban ini seperti kutanggung sendiri, suami juga menjatah keuangan ku, mau belanja ikan sayur, ya dikasih untuk beberapa hari, tidak di beri untuk 1 bulan, padahal untuk rokok dia wajib ada, bahkan di stok di rumah, karena ada yang beri kredit rokok di tempat kerjaannya, bayar nya habis gajian. Bukan masalah kurangnya uang belanja atau keadaan ekonomi yang belum mapan sebenarnya yang jadi permasalahan ku, tapi ke egoisan dan kurang pengertian suamikulah yang membuat aku sangat sedih. Seandainya suamiku sedikit mengerti dan welcome dengan keluarga ku, tidak perhitungan. Apa yang bisa kuperbuat aku hanya bisa pasrah, biarlah mengalir seiring waktu berjalan.

Terpopuler

Comments

Lily Megawaty Butar-butar

Lily Megawaty Butar-butar

👍😍

2022-11-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!