Jenuh Rasanya

Kejenuhan dalam pernikahan sering sekali kualami, bagaimana tidak. Mengingat perlakuan suami yang kurang peduli dengan keluarga ku, jangan kan untuk beli baju baru, pakaian dalam aja sudah 4 tahun menikah tak pernah ganti. Boro boro untuk keperluan pakaian, minta untuk keperluan dapur saja harus ditanya, " sudah habis kah yang kuberikan kemarin?", sedih sekali kalau ditanya seperti itu. Belum lagi bila melihat kehidupan dari teman teman 1 kampus, mereka wanita pekerja sedangkan aku hanya sebagai ibu rumah tangga, kehidupan mereka boleh dibilang sangat layak. Ada juga memang teman kampus Yang sebagai ibu rumah tangga seperti aku, tetapi dia enak. Selain kehidupan nya boleh dibilang sangat layak suaminya juga perhatian dan pengertian kepada nya. Ingin rasanya punya penghasilan sendiri.

Bagaimana caranya?. Mau melamar pekerjaan, wanita yang sudah menikah akan menjadi pertimbangan bagi perusahaan. Mereka beralasan kalau wanita yang sudah menikah apalagi kalau sudah punya anak, akan sering absen kerja, alasan anak sakit lah, tidak ada jaga anak lah, dan lain sebagainya. Karena aku juga sudah pernah mencoba melamar pekerjaan dan setelah di interview mereka menanyakan apa aku sudah menikah atau belum. Kujawab dengan jujur, langsung mereka mengatakan alasan tersebut.

Kalau membuka usaha, modal tidak ada, bingung juga mau buka lapak usaha bidang apa?

Aku berpikir, Seandainya aku punya mesin jahit.

" Ada tawaran pinjaman tanpa agunan dari tempat kerjaan dengan cicilan tiga ratusan selama 3 tahun, bagaimana kira-kira", tanya suami kepada ku. "Boleh juga itu, setujui aja lah", Kata ku kepada suami (dalam benak ku mungkin ini adalah jalan, bagaimana kalau kuminta untuk membeli mesin jahit supaya aku bisa buka usaha menjahit di rumah, ku searching google, mesin jahit portabel sudah bisa bordir, jahit pinggir, dan lain sebagainya harganya mencapai 2 jutaan). Suami Urus berbagai perlengkapan KTP dan segala macam.

Beberapa minggu kemudian Duit pinjaman cair kerekening suami dengan nominal 9 juta rupiah. Aku senang dan kuutarakan maksud ku, berharap suami setuju. Apa yang kudapatkan Sangat jauh dari harapan. Suami ragu, nanti sia sia saja pikir nya mungkin dalam hatinya, dia meragukan kemampuan ku, singkat nya suami tidak mendukung aku.

Selama 1 bulan saja uang pinjaman itu habis, entah beli beli apa aja, yang jalan jalan lah, beli kipas angin, kuminta beli rak piring itupun dengan berbagai alasan, agak berat seperti nya, hingga akhirnya setuju. Hanya itu barang yang bisa nyata ada wujudnya.

Itulah mungkin sangat tidak berkah kalau istri tidak ridho. Uang pinjaman sudah habis, cicilan 3 tahun kedepan baru selesai. Apa mau dikata, mau tidak mau harus di jalani.

Kring..kring..kring Telpon dari mertua kalau adik ipar Asti mau menikah. Seperti biasa, harus memberikan serahan ulos, beras dan kado. Suami tanya " kasih kado apa kita", " biasa, nyicil hp" jawabku. Suami setuju.

Harga HP dengan mesin jahit sepertinya tidak jauh jauh amat, suami cepat untuk menyetujui nya, untuk keperluan ku sepertinya susah untuk masuk logika suamiku. Akupun tidak bisa berkata kata lagi, mungkin karena suamiku yang mencari uang jadi untuk keputusan apapun untuk keluarga sangat cepat dan mau berkorban, kalau untuk keperluan istri sangat susah untuk berkorban. Padahal aku tidak pernah menuntut dan memaksa apapun kepada suami.

Tibalah waktunya proses pernikahan, Dinar dan July putri ku sudah berumur 5 tahun dan 4 tahun, aku juga dalam kondisi hamil 5 bulan, mereka sangat lengket kepadaku tidak mau sama siapapun bahkan ke ayah nya sendiri (tak jarang mereka juga terkadang dengar dan lihat, pertengkaran kami), mungkin itu yang membuat mereka takut kepada ayahnya.

Kehamilan ke 3, ni juga membuat ku agak kuatir, kuatir jangan jangan lahir lagi anak perempuan, sedangkan aku sangat ingin anak lagi lagi. Belum lengkap rasanya kalau tidak punya anak laki laki, tidak ada penerus marga ayahnya begitu istilahnya. suami juga pernah menyinggung saat kami bertengkar, apa yang bisa kubanggakan, anak laki laki aku belum punya, seolah olah dalam hal ini aku yang salah, kalau serius mau anak laki laki program dong, harusnya konsultasi sama dokter kandungan, mana sanggup suami, uang untuk biaya hidup aja susah. Tetapi harusnya suami tahu diri jangan lantas menyalahkan aku sepenuh nya.

Bulan 1-3 kehamilan ku sangat sulit kulalui, mual muntah, pusing, makanan pun sulit masuk, apa yang dimakan muntah, perut sering kosong, kuatir juga dengan kondisi janin yang kurang dapat asupan makanan bergizi. Untung nya memasuki bulan ke 4, mual muntah hilang. Sekarang seperti nya mau balas dendam. Malah pengen mau makan saja. Kalau kontrol ke dokter kandungan aku tidak pernah, hanya kontrol ke bidan desa saja, minum susu hamil juga tidak rutin. Tetapi syukur anak anakku dari anak 1-2, semua lahir normal dan sehat dengan bobot lahir 3.5 dan 4 kg.

Tibalah waktunya proses lahiran berjalan dengan normal, tanpa di temani ayahnya, karena harus kerja. Aku juga tadi ragu, bilang sama suami mungkin entah sore lahiran nya, mungkin suami masih sempat pulang dari kerjaan. Ada Friska yang menemani, karena ku panggil suruh dia datang ke rumah, karena mau lahiran.

Friska tidak lulus masuk test perguruan tinggi negeri, dia sekarang kuliah di perguruan tinggi swasta dengan biaya yang sangat tinggi, ada yang menjamin adik paling bungsu suami Krista namanya yang sudah bekerja, punya penghasilan yang lumayan tinggi dan belum menikah. Dia yang akan bantu bantu biaya perkuliahan Friska, kalau dari kami sendiri masih belum mampu.

Setelah menunggu bukaan, akhirnya aku melahirkan anak ke 3 kami, normal dan tidak terlalu membuat aku kesakitan. Ada tanda mau lahir, aku langsung teriak ke bidan nya" sus aku mau BAB," langsung saja mau ku edannya, akhirnya bidan panik, langsung teriak "dah keliatan, kepalanya", kata suster dengan panik, dengan sigap langsung di bantu oleh bidan yang lain.

Lahir lah anak ke 3 bagi kami seorang anak perempuan. Mau dibilang kecewa ya memang kecawa, Tetapi mau gimana lagi, apa aku harus benci pada putri kami yang baru lahir?, sebagai seorang ibu yang punya hati nurani tentu saja aku tetap menyayangi putri ku yang baru lahir, karena itu murni bukan kesalahannya. Dia tidak bisa memilih orang tua yang melahirkan, dilahirkan sebagai orang kaya atau orang miskin. Aku juga memilih untuk menginap lebih lama di rumah sakit, supaya aku bisa istirahat total, karena ada suster yang merawat bayiku di ruang baby. Tidak seperti waktu lahiran anak kedua, ada mertua.

Aku lebih suka mertua tidak usah turut campur dalam hal merawat anak, karena terkadang sungguh sangat berbeda kebiasaan dulu dengan kebiasaan sekarang, dulu harus dibedong ketat, Sekarang tidak boleh dibedong ketat, Ibunya juga tidak boleh menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri, padahal Sekarang boleh.

Pengalaman Waktu lahiran anak pertama, seminggu setelah lahiran anak pertama aku pendarahan, mertua ku marah besar. Aku dituduh banyak bergerak dan beraktifitas. Kenyataan nya aku pendarahan karena dokter yang menangani aku tidak bersih mengeluarkan plasenta ku. Padahal malah bagus sebenarnya harus keluar, kalau tidak keluar mungkin aku sudah tidak ada lagi saat ini. karena itu akan menjadi tumor bagiku. Sampai sekarang pun mertuaku tidak paham mengenai itu. Setelah melahirkan dia selalu mengingatkan ku "jangan banyak bergerak nanti perdarahan lagi", aku hanya mengangguk dan diam.

Dengan kelahiran anak ketiga ini, tidak lantas membuat aku untuk berhenti melahirkan, masih ada rencana melahirkan lagi, cuma waktunya tidak tahu. Sebelum aku ada melahirkan anak laki laki, aku membayangkan untuk hamil dan melahirkan lagi sebenarnya lelah, sudah cukup harusnya 3, karena biaya kuliah saat ini sangat mahal, ketiganya bisa disekolahkan sudah syukur karena suami hanya sebagai karyawan swasta saja.

Nanti lah dipikirkan lagi gumanku dalam hati, pokoknya 2 atau 3 tahun ini untuk hamil lagi jangan dululah, repot banget, tunggu gaji suami sudah agak naik lah, begitulah rencana ku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!