Kalau aku berselisih paham dengan suami dia selalu menyinggung aku, " Apa yang kuharap kan dari pernikahan ini, anak anakku tidak bisa ku banggakan (tidak ada pintar pintar nya, padahal aku dulu mulai dari SD sampai kuliah selalu ranking 1), istri pun tidak bekerja, cuma mengandalkan gajiku saja, tidak ada usaha, mau hidup lebih baik mana bisa hanya mengandalkan gaji, pasti hanya begini begini saja pastinya, anak laki laki tidak ada, menyenangkan suami pun tidak tahu.
Bagaimana mungkin suami tahu masa depan anak anak nantinya, maksudnya kalau sekarang akademik anak biasa biasa saja, apa sudah besar mereka pun akan biasa biasa saja, memangnya dia Tuhan, harusnya dia berdoa mudah mudahan nanti anak anaknya bisa lebih baik kehidupan nya dibandingkan kehidupan orang tua sekarang, orang yang tidak optimis menurut ku, lagian proses kematangan anak kan berbeda beda, ada memang SD sudah matang jadi nya bisa lebih mandiri, lebih terkontrol, tidak harus di suruh suruh sudah merupakan keinginan sendiri, ada juga kematangan anak di tingkat SMP, SMA, atau pada tingkat perguruan tinggi.
Kemampuan setiap anak tentu berbeda-beda, setiap anak tidak boleh disamakan.
Itu merupakan sebagian caci maki suami yang di lontarkan kepada ku.
Ya Tuhan seolah olah itu semua adalah kesalahan ku. Aku menangis dalam hati. Padahal dari awal menikah aku ingin kursus menjahit, modal mesin jahit aku minta pun tidak mau beli, padahal waktu itu suami ada dapat pinjaman tanpa agunan, dia merasa tidak rela uangnya keluar untuk ku.
Suami pernah menyuruh ku untuk kuliah lagi mengambil Akta IV untuk supaya bisa mengajar jadi guru maksudnya nya, tetapi aku tidak mau. karena maksud suami orang tuaku yang membiayai. Aku tidak mau karena aku sudah menikah, aku tidak mau lagi membebani orang tua ku. begitu prinsip ku kemarin, tetapi tidak kuberitahu alasan ku kepada suami.
Untung lah aku tidak mau membebani orang tua ku, seandainya ku mau, sama saja suamiku tidak peduli kepada keluarga ku.
Sungguh aku masih berharap bisa punya penghasilan sendiri, suatu waktu aku ingin mencari pekerjaan. Tunggulah anak anak sedikit lagi lebih besar, setidaknya mereka sudah mandiri bisa memasak dan mau ditinggal di rumah.
Umur sudah hampir mau kepala empat, untuk melahirkan anak mungkin akan sangat beresiko prematur atau si ibu bisa tidak selamat. Aku pun bermaksud untuk hamil lagi dan ternyata langsung di berikan, aku langsung hamil, bulan ini aku sudah terlambat datang bulan. aku bermaksud untuk test kehamilan ternyata benar aku hamil.
Dari bulan pertama hingga sekarang memasuki bulan kedua aku selalu kurang enak badan, selalu mual muntah, bawaan selalu kedinginan, dan aku selalu mandi dengan air hangat, tidak tahan rasanya dengan air dingin.
Mungkin karena terbebani dengan pikiran maunya yang lahir harus laki laki, bagaimana nanti kalau perempuan lagi. itu saja yang ada di otak ku. sehingga aku jadi tidak rileks, penuh rasa khawatir.
Memasuki usia kehamilan dua setengah bulan, aku ada keluar darah. aku periksa ke klinik, dianjurkan untuk bedrest total.
aku sudah bilang kondisi ku untuk bedrest, tetapi suami sepertinya tidak peduli, tetap mengharapkan supaya aku yang masak, nyapu dan mencuci. Akupun mengerjakan rutinitas seperti biasa, sebentar sebentar aku istirahat.
Suami memang selalu menanyakan "kamu kenapa", "tidak apa apa" jawabku.
menurut ku dia sudah tahu kondisi ku, kalau memang pengertian diambil alih semua pekerjaan ku harus nya, bukan selalu bertanya seperti itu.
Dia pun selalu mengeluhkan pinggang nya, pinggang nya sakit itu karena dia terlalu banyak duduk, dia lebih penting bermain game dari pada memikirkan kesehatan nya, tetapi kalau di ingatkan, kamu sakit pinggang karena terlalu banyak duduk, makanya jangan terlalu banyak main game, dia selalu marah dan membentak ku" itu bukan karena bermain game, tetapi karena efek dari kecelakaan waktu jatuh dari lift". Itu saja alasannya, terkadang kalau suami sudah mengeluhkan sakit pinggang nya bosan aku menanggapi, aku jadi cuek, suami saja tidak peduli dengan kesehatan nya bagaimana aku dituntut untuk peduli. Aku pun diam saja tidak menanggapi.
Karena aku mungkin terlalu banyak bergerak, jam 11 malam, harusnya suami kerja, karena kena shift malam berangkat jam 11.
"pak tidak usah masuk kerja lah, kayak nya aku keguguran, tadi di kamar mandi ketika mau buang air kecil, ada darah menggumpal keluar dari kemaluanku" aku bicara pada suami.
Padahal anak anak sudah tidur.
"kemana kita harus berobat?" tanya suami kepada ku
"bawa ke rumah sakit dekat adik ipar Nosta tinggal aja. Antar saja dulu aku ke rumah sakit sekarang, nanti telepon adik ipar Nosta suruh datang untuk mengurus berkas.
Bapak langsung pulang saja, supaya ada yang jaga anak anak, bingung juga mereka nanti kalau dilihat aku tidak ada, malah menjerit pula nanti" mencoba menjelaskan secara detail kepada suami.
"ya sudah, kamu beresin segala perlengkapan pakaian mu, supaya berangkat kita" balas suami.
"ok" jawabku
Tiga hari lamanya aku dirawat di rumah sakit, kemudian aku sudah boleh balik ke rumah. Kondisi ku saat ini adalah seperti melahirkan sebenarnya karena aku di kuret supaya bersih, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, misal tumor rahim, dan lain sebagainya.
Aku rebahan, karena pinggang dan punggung ku memang terasa sakit, perut serasa turun dan pengen jatuh.
Suami lantas menyindir ku, rebah rebahan lah dulu kamu, masih belum pulih ya?. ucap suami.
Maksudnya apa, bertanya seperti itu, memangnya suami tidak tahu apa yang sedang menimpa ku, dia pikir mungkin aku sedang berakting, pura pura memanfaatkan situasi ku.
Ya Tuhan. aku sedih dan terdiam. Memang kain kotor sudah menumpuk di mesin cuci, karena sudah tiga hari tidak nyuci.
Harusnya dengan kondisi ku yang keguguran suami harusnya menghibur ku, karena saat ini aku sangat sensitif gampang sakit hati.
Akupun tidak mau di sindir terus, memang akhirnya suami yang mencuci pakaian kotor itu. Akupun langsung bersiap mengambil pekerjaan memasak, menyapu, walaupun sebenarnya aku masih agak pening pening, sesekali aku istirahat. aku tidak tahan berdiri terlalu lama.
Anak anak belum bisa melakukan aktivitas memasak dan mencuci pakaian. kalau menyapu anak anak sudah bisa, tetapi mereka harus disuruh dulu terlebih dahulu, tidak atas keinginan mereka. terkadang harus teriak teriak.
Harus terus mengarahkan anak, mengajari, bukan secara instan mereka langsung dewasa, harus terus mendoakan, Hanya Tuhan yang mampu mengotak atik pikiran orang.
Padahal suami pun bandal sering tidak tidur di rumah, jadi kennek supir angkutan sehingga sekolah terbengkalai. Waktu masa SMA, tetapi di kuliah dia sudah lebih terarah dan terkontrol emosinya. Sudah bisa memilih untuk masa depan nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments