Malam semakin larut mengiringi langkah Alingga yang mengendap-endap dalam kegelapan, meskipun ada beberapa hal yang masih menggangu namun saat ini ia memiliki kewajiban yang sangat penting.
Hatinya berkecamuk menentang kesimpulan dari implus otaknya, Ada yang tidak biasa dari sikap nya saat ini, seolah olah hanya raga nya yang nyata sedangkan roh nya berkelana entah kemana.
"Mas Ali, Saya cuma bisa antar sampe sini." Ucap seorang wanita yang mengenakan kebaya.
Alingga tersentak, ia berusaha menguasai diri yang sedari tadi tidak karuan. Ia menatap tajam mbak rina, siluetnya tak terlihat jelas terhalang gelap.
"Kapan ritualnya selesai?"
"Ritual mencapai puncak saat bulan bersinar terang tanpa tertutup awan, Tidak lama lagi mereka akan selesai. Sampean gak punya banyak waktu, Bawa mereka pergi sekarang juga atau tidak sama sekali." jawab mbak rina tegas.
"Bagaimana cara mengakhiri lingkaran ini? mustahil, melawan lasmi saja aku masih kuwalahan."
"Gerbang Segoro harus ketutup! bukan sampean yang harus nutup gerbang Segoro, tapi bolo pathi dan bolo laru. Bayi iku mas!!"
"Itu mustahil mbak, bayi itu bahkan belum lahir. berapa lama lagi menunggu."Alingga terus-terusan ragu.
"Sampean gak perlu nunggu bayi itu dewasa, Dia akan melakukan kewajiban nya ketika lahir." Rina tersenyum menjawab keraguan dalam diri Alingga.
"Maksudnya?"
"Jangan bilang bayi itu harus di korban kan? Ini gila, apa bedanya dengan Wijaya yang merenggut nyawa yang tidak seharusnya."
"Itu kewajiban nya mas Ali, ia lahir dari darah para pengabdi. wes suratane ngono kui, sampean mau bilang gak waras, atau gimanapun takdir dia seperti itu."
"Pasti ada cara lain, Mantra mungkin atau pakai sajen?"
Rina tersenyum kecut, ia menatap Alingga nanar. Sedari tadi perdebatan nya masih belum membuka kesadaran lawan nya. Ia tahu benar Alingga tidak akan setuju dengan hal ini, bagaimana mungkin tidak Alingga pada dasarnya seseorang yang begitu lembut.
"Sampean berdebat sama saya disini waktu sampean terus berkurang mas, Mereka akan segera selesai tidak ada waktu lagi untuk memperdebatkan mana yang benar mana yang salah." ucap mbak rina berusaha menyadarkan Alingga.
"Wijaya pasti tau saya membantu kalian kabur, Dia akan segera menghabisi nyawa ku. pergilah jangan biarkan aku mati sia sia, tutup gerbang Segoro, putus kan simpul pati alas Ruwah."
Alingga masih belum menerima, namun ia sadar ia tak punya banyak waktu jika tidak bisa pergi sekarang maka tidak akan ada kesempatan lagi.
Sekarang ia sadar keputusan nya datang ke tempat ini adalah salah, namun jika ia tidak datang maka mereka tak akan pernah tau kebenaran nya, dan mahluk mahkluk alam sebelah akan selalu menggangu mereka yang telah ditandai untuk di tumbal kan.
"Njenengan bisa ikut kami, tidak perlu mengorbankan nyawa!"
Rina lagi lagi tersenyum, ia menggeleng kan kepala tanda tak setuju dengan ucapan Alingga.
"Saya abdi keluarga ini, Sampean tidak bisa menolong saya. nyawa seorang abdi ada pada tuan nya, kemanapun saya pergi Wijaya bisa menemukan saya."
Alingga tidak bisa berbuat apa apa mendengar kematian yang sudah di tentukan, padahal pemilik nyawa hanya sang pencipta, namun sayang nya manusia begitu dangkal. Ia menatap Rina yang semakin menjauh, hanya ia seorang diri diantara semak melati di halaman bunga.
Disisi lain paviliun jati tampak sunyi, lampu lampu di halaman padam tertiup angin malam, hanya ada satu cahaya di balik jendela berukir dari kayu jati. Alingga masih ragu kemana ia harus melangkah, salah mengambil keputusan semuanya berakhir.
Ia mengendap sebisa mungkin bergerak dengan tenang. Sebenarnya ia tak pernah sendirian, di sekeliling nya terdapat banyak mahluk berbagai bentuk tersebar asal di segala penjuru, Terutama mahluk di bawah pohon beringin yang begitu menarik perhatian Alingga.
Bukan iblis wanita pada umumnya, seorang pria yang kaki dan tangan nya di rantai, luka luka menganga termasuk sayatan lebar di lehernya menetes kan darah hitam. Ia di kelilingi banyak wanita yang kondisi nya tak jauh berbeda dengan nya, lelaki itu tak bisa pergi dari pohon beringin, jiwa nya terikat dengan sesuatu yang tertanam disana, menunggu seseorang dapat membebaskan nya dari penyiksaan.
Lelaki itu menatap Alingga, Meskipun luka luka di tubuhnya cukup kentara namun Alingga masih bisa mengenali wajah itu, wajah seorang Wijaya yang selalu angkuh kini nampak kacau.Ini bukan lah Wijaya yang sebenarnya, tetapi jiwanya yang telah lama ia gadaikan dengan iblis.
Alingga berlalu tidak memperdulikan tatapan kebencian dari mahkluk yang jiwanya tidak tenang, langkahnya ia percepat meskipun suasana ngeri masih menyelimuti setiap sudut tempat ini.
Paviliun jati masih sepi, lorong nya pekat dengan bau amis yang cukup kuat. Alingga sadar perjalanan nya akan sangat panjang, Hawa di sekitar sini lebih kelam di bandingkan halaman bunga, ia berharap bau amis ini bukan berasal dari darah Zainal.
Pintu besar perlahan terdorong tekanan, bau amis semakin kuat ketika pintu mulai terbuka. Alingga melangkah maju menelusuri lorong menuju cahaya kecil salah satu pintu ruangan, jalan nya terkadang tersendat tersandung sesuatu yang entah apa itu ia benar-benar tidak bisa melihat nya.
Alingga sebisa mungkin menahan diri, apapun yang ada dibawah sudah pasti tak bernyawa lagi.
Pintu yang memantulkan cahaya mungil sudah di depan mata, Alingga tidak segera masuk, ia berdiam sebentar memejamkan matanya memeriksa apa yang ada di dalam sana. Ketika ia telah yakin ia membaca mantra yang dahulu pernah di ajarkan gurunya, sebuah mantra untuk membuka Perisai darah.
Tidak heran lagi dari mana perisai ini berasal, nyawa nyawa tak berdosa dipintu masuk jawabannya. Alingga semaksimal mungkin memusatkan pikirannya mencoba membuka Perisai dengan tenaga yang hampir habis, ia hanya punya satu pilihan, meskipun tidak bisa ia harus tetap berusaha.
Brukk!!!
Alingga terpental, tenaganya tak cukup kuat untuk membuka Perisai darah, tubuhnya menghantam dinding di seberang lorong, serasa remuk mendapat penolakan dari perisai, ia mencoba berdiri mencoba lagi dengan segala nya yang tersisa.
Kali ini ia mencoba untuk lebih fokus, satu hentakan dari tangan nya ia kepal kan, perlahan ia merasakan perisai yang mulai melemah. Alingga cukup senang dengan pencapaiannya ia sebelumnya selalu gagal, setidaknya ini adalah kali pertama ia menggunakan mantra ini.
Alingga menghela nafas panjang, ia tersenyum meskipun masih menahan sakit.
Ketika ia hendak masuk, ia baru menyadari bukan hanya dia yang ada di lorong ini. Matanya mencoba melirik ke sudut kanan nya, ia yakin sosok putih yang berdiri tegak itu bukan hanya sekedar tiang penyangga.
Alingga menahan diri mencoba mengabaikan apapun itu, ia melangkah membuka perlahan pintu ruangan yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Tutokno le!"
Alingga tersentak secara spontan ia melihat ke arah mahkluk di sebelahnya, wanita bergaun putih tanpa bola mata.
"Laras!"
Alingga bergidik ngeri, wujud laras sudah tak bisa dijelaskan lagi. Bagaimana mungkin wijaya tega melakukan ini pada adik kandungnya sendiri, lalu apa maksudnya ia menamai putri ki sedo dengan nama laras juga. Apakah bentuk penyesalannya, atau karena ia akan melakukan hal yang serupa terhadap Laras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Wherr Latajan
mulai panas dingin
2022-08-09
1
🤗🤗
lanjut
2022-08-09
1